Tag Archive: Ulang Tahun


Sajak Sepotong Lilin

Sajak Sepotong Lilin
: @susyillona

Dua cangkir teh
sepasang mata memejamkan cahaya
sebuah kehilangan datang begitu saja—
ketika kita sadar
di masa depan
: segala hal pasti berlalu.

Pemandangan di lepas jendela, begitu jelas
menyiratkan segalanya
: senja telah padam, dan rindu
hanya siluet tak berujud
di redup hidup.

Namun, selama harum musim
tak pernah mampu
dihapus jarak
usia selalu tabah
menziarahi masa lalunya sendiri.

Sekarang
biarlah aku menyala, tanpa memikirkan
apa jadinya nanti
aku hanya ingin, mencintaimu lebih jauh
dan menuliskanmu
sebagai puisi — sebagai aksara
di lengang udara.

Sebelum waktu merengut
kata-kata dalam jiwaku
dan usia — kembali memeluk kesepian
: di rahim ibu.

Selamat meniup lilin
biarkan cahayaku jatuh di dadamu
sebagai doa
dan kita.

8 Maret 2012

Iklan

LANGIT SENJA DI BULAN SEPTEMBER
: Ama Achmad

Matahari sudah condong ke barat
perlahan-lahan mulai terbenam.
Aku berdiri di pinggir jembatan. Sendirian.
Di balik bukit, awan menari —
kabut-kabut menuruni lembah
— angin kecil menyentuh bentangan sawah.
Aku terhanyut, bagaimana senja dapat
menyandingkan rindu dan semesta, teramat mesra.

Tiba-tiba aku ingin bulan muncul
dan kita bisa bersama di malam purnama,
lantas terpukau
menatap indah langit di bulan September.
Aku tahu selembar tangis pernah
terpecah di satu hari lahir
Ketika kebahagiaan begitu lanut melingkupi semesta.

Di tepian cakrawala, aku pun termenung.
Pada sebuah doa
kita memandang indahnya perjalanan.
Di sanalah aku bertemu dan mengabadikan
perjumpaan denganmu.

Maka biar kutitipkan senjaku pada bunga padma
lewat baris-baris sajak
sebagai doa-doa sederhana
sebab aku tak pandai berkata banyak.

Aku hanya ingin
menenteramkan senyum dan air mata
dan melihatmu bahagia.
Senantiasa.

Senja sudah terbenam — malam meninggi
aku beranjak pulang, berharap bisa menulis
sajak tentang langit di bulan September
: tentang rindu
dan kamu.

=)

Rafael Yanuar (4 September 2011)

Happy Birthday, Amalia Achmad
Wish you all the best =).

_@_

Tambahan:

Happy (belated) Birthday, Ama Achmad. Maaf terlambat (seharusnya tanggal 03 September 2011, ‘kan?) Sebagai kado — dan hanya itu yang bisa aku beri, aku tuliskan sebuah sajak untukmu, tentang langit di bulan September — yang (bukan) kebetulan, sangat indah dan menawan. Mungkin, bulan September memang dapat menambah keceriaan — sekaligus menumbuhkan rasa rindu di benak.

Di negara empat musim, sekarang sedang masa transisi, dari musim gugur ke musim dingin, jadi langit terlihat lebih cerah, tinggi dan bersih. Udara pun demikian sejuknya. Meski sebenarnya, aku belum pernah mengalami musim lain, selain kemarau dan hujan. He-he.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, Amalia, bagaimanapun klise, aku suka doa ini, wish you all the best =).

Lilin di Kue Ulang Tahunmu

LILIN DI KUE ULANG TAHUNMU
: @daprast

Nyala lilin di sudut ruang
cukuplah menjadi penanda
ada harapan — di setiap jeda napas
sedang aksara
biarlah menampung segenap arti dan langkah
: dan menjadi kata-kata yang paham
akan makna.

Waktu ialah angin — yang mencoba memadamkan lilin
di sepanjang usia
ingatan ialah sumbu
memaknai tiap larik yang menemui tetesan api
menyulut tubuh dalam kobaran sepi.
Sedang semakin jauh bara menjalar
terangnya semakin riuh
membuatnya sadar
— pada gerak laku dan kata.

Sebatang lilin — silakan kau tiup
sebagai penanda ulang tahunmu
namun nanti, jagalah selalu
sebab masih dapat kau nyalakan kembali
: menampung sisa tubuhnya yang setengah utuh.

Rafael Yanuar (31 Juli 2011)

Selamat ulang tahun, Kak Daniel o(^_^)o.

Akhirnya puisi ini jadi juga. Pada kue ulang tahun, lilin selalu menjadi penanda bertambahnya usia. Saya bingung — kalau dijadikan tanda usia, mengapa ditiup dan dipadamkan? Seharusnya, lilin itu tetap menyala. Baru di tahun yang baru, biarlah baranya mengabu sampai benar-benar habis, karena telah disediakan lilin baru untuk usia yang baru. Tapi, terlepas dari pemikiran “aneh” saya tersebut, selamat ulang tahun, Kak Daniel, wish you all the best =).

Rekah Mawar dalam Sajak

REKAH MAWAR DALAM SAJAK
: @yulialiman

Kilau kuncup di depan jendela
dibasahi hujan kala senja
perlahan-lahan, dalam rintik mengembun
sepucuk daun menjelma kuntum
: kuntum mawar, belum tumbuh durinya.

Detik demi detik berlalu, kelopaknya merekah
: mengaliri sekujur tubuh indahnya.

Perlahan-lahan, aku pun memetik mawar itu —
dan menaruhnya dalam huruf-huruf.
Lalu mulai memilah-milah
mencari senyum pada semburat rindu.
Seandainya bisa, aku juga ingin merangkainya sebagai doa
— yang mengetuk pintu hatimu.

Sampai akhirnya, aku menemukan abjad yang hilang
dalam setiap jejak waktu
ialah namamu.
Sebagai penyempurna sajak ini.

Selamat Ulang Tahun, Yulia
mawar sudah terbungkus kata.
Hidup pun, telah memilih usia
: sebagai jawaban doa-doamu.

Dan tugasmu sekarang
tinggal tersenyum.

=)

Rafael Yanuar (31 Juli 2011)

Saya tulis sajak ini buat pecinta mawar yang sekarang berulang tahun, Mbak Yulia. Berhubung mawar asli sulit dicari –dan, kalaupun ada, bakal susah mengirimkannya (mulai pandai berkilah), jadi saya membungkusnya dalam sajak saja. Semoga dapat terbaca, dan semoga dapat pula diterima. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Mbak Yulia, pokoknya wish you all the best, baik di hari ulang tahun, ataupun bukan. Salam =).

Sajak yang Sama

SAJAK YANG SAMA
: @Bemz_Q

Hanya ada secangkir teh di atas meja
dan sepiring kesedihan — menjadi santap senjakala
Kini, kau dan aku duduk dalam diam paling relung
di hari ulang tahunmu.
Ada ingatan demikian mesra
di sudut kesunyian, tempat kita menceritakan
betapa tabah air mata
menjadi pemetik
: luka-lukamu.

Sekarang, aku sengaja menyiapkan pesta
dengan nuansa demikian sepi
: barangkali kita dapat menangkap ihwal
dalam tiap jeda percakapan
dan mengubahnya menjadi kado terindah.
Bukankah butir demi butir kata ialah bukti
kita masih bisa menemukan harapan
: dalam kerumunan kesunyian?

Maka, Selamat Ulang Tahun, Sahabat
sepotong kue tart di tepi meja
secangkir teh panas — pun, sepiring kesedihan
telah menjadi padanan sempurna
: kebahagiaan
dan engkau pun tahu, namamu kini menjelma doa
— dalam pejamku.

Rafael Yanuar (30 Juli 2011)

*peluk Om Bambang yang hari ini berulang tahun*

Alih-alih menghadirkan hingar dan bingar dalam suasana pesta ulang tahun, aku malah menuliskan sunyi yang demikian relung. Bukankah, semakin bertambahnya usia, semakin bertambah pula, kesunyian kita? Sekali lagi, selamat ulang tahun, Om Bemz, biar terkesan klise, tapi wish you all the best =).