Tag Archive: Syair_pagi


Himpunan Syair Pagi

Baca lebih lanjut

Himpunan Syair Pagi

Himpunan Syair Pagi
5 April 2012

♠ @TataLetak: Bahkan sebuah kota yang demikian besar, awalnya tak memiliki penerangan lain, selain langit yang terbuka.

♠ @TataLetak: Peluk aku, sebelum kematian membuat tubuhku dingin dan tak nyaman lagi kausentuh. Biarkan hangatku mengalir dalam darahmu.

♠ @TataLetak: Kau mungkin tak tahu, ketika kau mendoakanku, ada hangat memeluk tubuhku, dengan lembut.

♠ @TataLetak: Kenangan adalah kehidupan kecil yang kita ciptakan, dalam pikiran kita.

♠ @TataLetak: Aku letakkan lilin di sisi meja dan mulai membaca buku pemberianmu. Dalam benak, aku bayangkan kaubercerita, dan menemaniku.

♠ @sigit_pam: Pagi menjelmakan rindu menjadi embus angin di rerimbun perdu; lembut mendayu

♠ @keanufathona: di kedalaman matamu, Al; telah kutemukan cahaya paling pagi yang merekah sebelum fajar dan keindahan diciptakan.

♠ @keanufathona: Bahagia itu sederhana, Al. Seperti bangun pagi-pagi dan dihadiahi sepotong bibir merahjambu; milikmu.

♠ @semut_nungging: SURAT BUAT IBU — Ibu, pinjami aku airmatamu untuk belajar menampung segala kepedihan tanpa menaruh dendam.
Tertanda, anakmu

♠ @semut_nungging: ada suara dengung yang asing, ada sisa darah di dinding. ada yang menyalakan lilin, ada yang bercermin: sepi enggan berpaling

♠ @fajar_arcana: Kupikir sungai yang menderu sejak semalam. Mimpi tentang kamu, selalu jadi pengingat pagi yang memanggil.

♠ @PemujaPlato: Aku di kepalamu, ialah sebuah manuskrip tua yang tak terjamah pengunjung di sudut perpustakaan

♠ @bait_sederhana: Jadikan aku lilin yang memijar di jantung puisimu, setiap kata terpendar dengan semu, tanpa ragu; aku mengabadikannya

♠ @pemujaplato: Cintamu, kekasihku, ialah atsiri yang mengharumkan jubah sepiku

♠ @pemujaplato: Matamu, pedang tajam yang membelah angan-angan dan keraguanku akan cinta

Himpunan Kopi Pagi

♠ @yulialiman: Hangatnya kopi temani pagi, terlupa semua buruknya mimpi. Kopi, teman setia yang tak butuh dipuji.

♠ @RiksaRosaG: Pertemuan kita bagaikan kopi pagi. Selalu hangat dan diharapkan.

♠ @Keshakeshi: Pada secangkir kopi, ada rindu yang menari untukmu.

♠ @sesat_timur25: Kopi, asapmu mengepulkan kenangan, di kesendirianku, kamu: enggan hilang

♠ @aksara_sajak: Tersenyumlah, sayang. Kopi ini masih terasa pahit

♠ @uswah_: Ada yang lebih dalam kusesap tiap pagi; secangkir kopi instan sachetan dan rindu yang tak habis kukuras semalam.

♠ @lampah_hening: “Jangan lekas mengaduh, jangan cepat mengeluh.” Untukmu Ayah; secangkir kopi terseduh, seteko memori tumpah ruah.

♠ @eagle___eyes: sulit kupastikan, bahwa sesapan terakhir kopiku adalah ucapan selamat tinggal darimu.

♠ @momo_DM: Adalah segelas kopi pahit kusesap, begitulah caraku menyembunyikan kehilangan yang senyap.

♠ @bait_sederhana: Kopiku pagi ini; kenangan dan semua kesedihan yang membuncah ke telaga pikiran

♠ @momo_DM: Aroma kopi menjelma kenangan tentangmu, bangkitkan birahi pada hati yang perlahan sunyi.

♠ @TataLetak: Sambil menyeruput kopi panas, kauterus membaca bait-bait dalam mataku, sementara dadaku, kian hangat mendenyutkanmu.

♠ @semut_nungging: air panas dituang dalam cangkir seperti kata-kata. aku sesendok kopi, melarut, menghitamkan segalanya

♠ @aksara_sajak: Pada suatu fajar yang memar, kauantar secangkir kopi, sebakul cinta. Saat itu, aku rasakan, rindu begitu hambar

♠ @JatrifiaOngga: Kurayakan cinta yang berakhir dengan segelas kopi hitam di cangkir merah. Serupa hati yang pekat berdarah.

♠ @tresnabening_: kekasih, aku beruntung memilikimu. Kerap bangun lebih dulu, demi menyiapkan secangkir kopi hangat untukku.

♠ @uswah_: Kopi hitam milikmu, cappuccino milikku — dan kita, yang berebut sepotong roti bakar; tak mengerti kabar perpisahan.

♠ @dedyhear: Mampirlah lagi, kubuatkan kau secangkir kopi tanpa sepi.

♠ @marsshmalloow: Dalam larut ampas kopi kausesapkan perih; kini kumerngerti, cintamu tak ada lagi.

♠ @bagustianiskndr: Meski cintaku sehambar kopi tanpa gula: kau tetap meyakini, pelukanku lebih kopi dari hangat tiap teguknya

♠ @its_kayu: Aku tidak suka kopi, dan kau mengerti itu–dengan mengalihkan seluruh indera perasaku, hanya kepadamu.

♠ @bahasakata: Tak perlu kau beri gula di dalam cangkir kopiku, sebab dengan menatapmu saja, rasa pahit sama sekali tak kurasa.

♠ @dhehusnan: KENANGAN. antara hujan dan sesapan aroma kopi; engkau mengaduk pikiranku, entah dengan rintik atau kepul asap

♠ @aksara_sajak: Pagi ini, aku seduh dua cangkir kopi; untuk kunikmati berdua, bersama sepi

♠ @sutheha: Ibu cerita tentang eli. Pagi disesapi kopi. Sadarkan diri dari mimpi.

— 5 April 2012 —

Himpunan Syair Pagi
3 April 2012

♠ @radithirsyad: Dari semua yang pagi, kamu adalah kehangatan.

♠ @keanufathona: kecup keningku, Al; serupa cahaya paling pagi yang membangkitkan debar-debar rindu, memfajarkan langit jiwa yang merona karena rasa.

♠ @lampah_hening: Malam beringsut kian senyap. Bulan susut redup. Rindu tak jua lelap, enggan lenyap #1

♠ @lampah_hening: Sepi. Kangen ngilu nyeri. Denting jam kian runcing merobek nadi #2

♠ @lampah_hening: Senyummu lalu lalang dalam kenang. Serupa embun, merangsang mekar rindu yang kuntum meranum #3

♠ @lampah_hening: Mengingatmu Dinda, adalah nafas. Merinduimu semacam bibir melafadz #4

♠ @lampah_hening: Dan memelukmu ialah gembiranya kanvas menari-nari ditubuh kertas #5

♠ @lampah_hening: pada sejengkal waktu menjelang shubuh. Meleleh rindu, luruh dalam doa-doa terlabuh #6

♠ @lampah_hening: bagaimana kupeluk ragamu, bila jarak mendepak kepak sayapku? #7

♠ @lampah_hening: Pulanglah Dinda. Lelakiku mengiba. Ke langit kugaungkan gema; #8

♠ @lampah_hening: Aku merindumu, dalam rindu sakit menjerit. Dalam luluh rapuhku tanpamu #9

♠ @_bianglala: Daendelion kutiup, bawakan doa bagimu, hanya serupa asa pada gelisah jiwa, mengharapkan bahagia.

♠ @_bianglala: adalah ketidakpastian kala embun berkumpul beku, lalu sendiri mendekap hampa hati tak bernyali

♠ @_bianglala: Ada terik mentari kubawa, membiarkannya bersuka pada tubuhku dan tak hendak kuhapus tetes peluh.

♠ @duaatujuh: Rindu, adalah segala yang gugur dari ingatan, di jantung sepi ia kembali bermekaran.

♠ @duaatujuh: Kucukupkan rinduku, kugenapkan sepiku; di dadaku, kesedihan telah menemukan jalannya sendiri.

♠ @duaatujuh: Sajak-sajakku adalah rindu, yang tak henti menuliskan namamu.

♠ @duaatujuh: Di matamu yang pagi, segala kepedihan luruh, menjadi surga-surga kecil yang kusebut rindu.

♠ @RiksaRosaG: Penyair sedang duduk di tengah hutan, ketika aku berlari menapaki tebing, menikmati bait demi bait syairnya.

♠ @ama_achmad: di ujung jalan itu, kita berakhir. punggungku dan punggungmu bersitatap, menerka-nerka adakah hujan di sebaliknya

♠ @sabdaliar: Kecuplah aku sekali, cukup sekali, maka waktu akan berhenti, lalu terciptalah kenangan mahaabadi.

♠ @ama_achmad: engkaulah puisi, tuan. seluruh kata, semua bait, segala rima yang dilafalkan degubku sebagai cinta.

♠ @_bianglala: Secangkir kopi kutinggalkan di #rumahpelangi, berharap rindu bertamu. Doakan impianku.

♠ @_bianglala: Letakkan lelapmu tinggalkan doa asa pada #rumahpelangi. Tak hendak tepikan rindu penuhkan ingatan luka patahannya

♠ @ichal_elnad: Aku dalam sepi, kau dalam hati, kita menyatu dalam puisi.

♠ @rifkidho: Tanamlah sebatang pohon cinta yang berdaun kesetiaan, berbunga ketulusan, berakar kejujuran — lalu, siramlah dengan kepercayaan

♠ @rifkidho: Senandung syair terbawa angin, nada menari di sela reranting, bersuara merdu bak perindu.

♠ @rifkidho: Wahai Tuhanku, tabahkanlah hatiku, tentramkanlah jiwaku, disaat aku merindu, dari serpihan kasih sang ibu.

♠ @sesat_timur25: bibirmu yang pagi, menyuam gigil rinduku yang sepi

♠ @_bianglala: Tak ada lagi seikat rindu tanpa tuan diletakan di beranda #rumahpelangi. Mungkin sang pengirim telah tahu kemana harus menuju.

♠ @dedyhear: Aku ingin melukis pelangi di matamu, yang mendung, agar airmata tak melulu, menangis pilu.

♠ @dsanggalangit: Tiada pagi lagi yang lebih membahagiakan selain menemukan dan mendapati kembang-kembang rindu kian bertumbuhan ke engkau.

♠ @ciyecci: sungguh ini melelahkan, mengeja kita pada angin yang berhembus pelan, lalu samar menyulam memar pada tiap desirannya

♠ @marsshmalloow: De javu itu #A, adalah aku, yang diam-diam melindapkan rindu.

♠ @marsshmalloow: Barangkali, cinta hanyalah sebuah kebetulan, yang tak sengaja ciptakan Tuhan – di antara kita.

♠ @ciyecci: KITA. huruf-huruf yang bernafas, tanpa ditulis pun, takdir telah melekatkannya di ingatan, tak terhapus waktu

♠ @tresnabening_: Kekasih, tak perlu kau gelisah; sebab jarak akan merenta dan waktu akan kembali mempertemukan kita.

♠ @ichal_elnad: Di pundak kiriku, masih membekas sebuah kehangatan yang terus mengisahkan kita.

♠ @bagustianiskndr: aku ini seorang fakir: ketika kehilangan bertamu, aku hanya mampu menyuguhkan air mata dan lambaian tangan

♠ @bait_sederhana: Di kerumunan debar jantung puisi, aku dan diksiku tertindih mimpi, terhimpun huruf-huruf rindu yang datang bersama pagi

♠ @HamdaniEva: Hiduplah, seluruh akar yang memekarkan cinta, di halaman hatiku. Yang tak gentar tersapu badai airmata, duka pun luka.

♠ @aksara_sajak: Duka hanyalah es yang mencair, di sepasang bola matamu

— 3 April 2012 —

Sehimpun Syair Pagi

Himpunan Syair Pagi tanggal 1 April 2012

♠ @duaatujuh: Mari sejenak saling mencintai, berbagi birahi; sebelum esok Tuhan mengetuk pintu, menawarkan akhir yang tak kita pahami.

♠ @duaatujuh: Sebab cinta adalah segala yang ganjil, maka genapkan aku, sempurnakan aku dalam ketiadaanmu.

♠ @ichal_elnad: Pagi ini aku akan mendoakanmu lebih awal, sebab rindu, telah membangunkanku mendahului adzan di kotamu.

♠ @semut_nungging: dari mana datangnya hari. dari malam berganti pagi. darimana datangnya revolusi, dari perlawanan itu pasti.

♠ @ama_achmad: di ranting puisi, sebuah rindu hinggap. istirah sejenak, sebelum akhirnya berpelukan dengan air mata.

♠ @AmijayaLifeon: Selepas shalat, matahari pagi yang hangat akan menumbuhkan semangatmu.

♠ @its_kayu: Bagi wajah-wajah murung, pelangi hanya hitam-putih yang melengkung. tersenyumlah, sayang. beri ia warna.

♠ @lampah_hening: Setiap kali mentari pagi, di kepalaku gaduh riuh resepsi. Angkuh pagelaran dimaknai; Jamuan Kerinduan. #1

♠ @lampah_hening: Angkuh sebab pergimu tak meninggalkan luruh. Nyeri ngilu mengenangmu tapi butuh #2

♠ @lampah_hening: Kau tau; Tanpamu digdaya kalbu lusuh? #3

♠ @lampah_hening: Sepiring ingatan terhidang tlah kulahap. Berharap lekas lesap. Tapi kenangan serupa skop yang menimbun rindu bagai gudang bulok #4

♠ @lampah_hening: Betapapun perih suapan kenangan, aku takkan merintih menelan. #5

♠ @lampah_hening: Sebab segala yang pergi bersamamu bidadari, adalah hal indah yang kusyukuri #6

♠ @ama_achmad: mari piknik ke langit, naik sepeda bersayap. biar kusiapkan cemilan, permen kapas merah jambu, sepotong rindu bersalut gula

♠ @semut_nungging: darimana datangnya getah, dari kulit pohon yang terluka. darimana datangnya susah, dari rezim SBY yang masih berkuasa.

♠ @_bianglala: Seharusnya bunyi hujan memercik keras menghantam tepian jalan, tapi sunyi terus mengalir di sudut kenangan.

♠ @HamdaniEva: Tetaplah di sampingku; sebagai embun yang penuh kelembutan, sebagai cinta yang mengabadikan getaran rindu.

♠ @rudy_cintaikan: Di bukit cinta nan permai, rindu membelai-belai, meninabobo hati yang terburai, nurani alangkah damai.

♠ @yulialiman: Relung hati alangkah senang, para malaikat bernyanyi riang. Aku bersyukur tiada henti, bisa menghirup udara pagi.

♠ @iduyhawrun: Karena rindu punya rumah untuk pulang: debarmu yang tak lalai mengingatkan.

♠ @bait_sederhana: Pagi tumpah, dedaunan mulai rekah, embunpun menari indah, namun, aku mulai lelah, mengejar cintamu yang tak tahu arah

♠ @chaca_yp: aku, menggenggam asa sejak fajar menyapa dengan merahnya. berharap pelukmu masih hangat terasa. salam pagi, cinta @yudayas_

♠ @HamdaniEva: Barangkali fajar adalah engkau, sesuatu yang bercahaya untuk memulai pagi dengan segenap cinta.

♠ @yuriistantrii: Dalam khusyuk aku berdoa, menggengam cinta seerat kubisa. Selamat hari jadi kita, @atmajadimas.

♠ @chaca_yp: Secangkir kopi tanpamu, @yudayas_, sejuta rindu memeluk pagi.

♠ @marsshmalloow: Singgahlah sebentar #A, sembari kaunikmati secangkir kenangan, biar kuringkas pertemuan kita dalam bait-bait kecil.

♠ @JatrifiaOngga: Terkadang aku ingin waktu serupa foto yang bisa membekukan pertemuan kita, dan menghapus rindu yang melanda

♠ @marsshmalloow: Mengingatmu, adalah berdamai dengan sepi, sebab rindu memang tak seharusnya diingkari.

♠ @marsshmalloow: Di suatu hari baik nanti, kita akan duduk berhadapan, mengisahkan kenangan; dan cinta, tak perlu lagi dipertanyakan.

— 1 April 2012 —

Syair Pagi

Selamat berakhir pekan, para penyair SP. Pagi sempurna tanpa secangkir kopi, hanya ada dalam puisi.

Telah aku tinggalkan tanda kehadiranku di hatimu. Kelak, setiap kau melihatnya, kau akan merindukanku.
— @sabdaliar

Lidahmu, embun yang selalu pagi, menyajakkan sejuk di telingaku, yang daun.
— @ChalanRedRock

Selepas pergimu, aku hanyalah sekujur pagi tanpa mentari, menggigil dalam kerinduan, meremang dalam kesendirian.
— @AdyBL

Cukuplah rindu merajuk senguk di fajar dingin, hangatnya cinta ada di setiap regukan kopi.
— @telukjingga

Kau rumah terindah tempat segala rasaku berpulang.
— @Keshakeshi

Di bawah teduh akasia, aku menukar suaramu dengan angin.
— @ama_achmad

Bunyi gelas beradu memecah hening rindu. Satu sendok kopi, dua sendok gula dan kenangan pun terhidu.
— @ama_achmad

pagi ini adalah hujan yang sepi. cinta demam lagi. rindu menikam-nikam ulu hati.
— @semut_nungging

Mendung bergelayut manja, mencari teman selepas hujan, adakah senyum pelangi terukir untuk kita?
— @Susi_SmileKitty

Cuap mesra embun pagi, menetes melunturi syahdu pilu.
— @katapuisi

Tiada yang lebih hangat dari airmatamu, Ibu, aku terlalu basah untuk merindukanmu pagi ini.
— @mikemustamu

Aku suka di sini, di dada bagian kiri, tempat segalanya dapat kulakukan, di mana namamu selalu kudenyutkan.
— @Om_Kelana

Tak ada yang hilang sedikitpun. Bahkan dalam ketiadaan, kau tetap ada bagiku, dalam setiap desiran sunyi aku mencatat namamu.
— @ciyecci

Pagi adalah lengan-lengan rindu, tak terjangkau pelukan, namun setia mendoakan
— @ciyecci

Kan kunamakan kau mentari, agar kelak cahayamu menuntunku dari sepi yang meniadakan tepi.
— @penatapbulan

Sementara mentari masih sibuk menyibak mendung pagi, rindu mulai menghapus pilu yang tak mau pergi.
— @yulialiman

Sebegitu dekat sebegitu erat, seperti itulah kita. Yang kelak diabadikan waktu hingga senja, menua.
— @Om_Kelana

Berlarilah ke arahku dengan segera, ada cinta yang perlu kita selamatkan, mungkin dalam sebentuk pelukan
— @indiejeans

seperti pagi-pagi sebelumnya, sepenuh semesta aku merindukanmu.
— @duniakecil_ku

Secawan embun tak lelah menyambut pagi, walau mentari mengusirnya pergi. Esok ia pasti kembali, mengawali hari
— @KimiWidya

Akulah lautan yang menguap; meninggalkan asin kenang, melupakan bentang nan kemilau, agar dapat menemuimu, langitku.
— @AdyBL

Lalu aku berkaca pada telaga, di sana kulihat riak-riak rindu mengembun pada langit-langit mata.
— @tresnabening_

Dirangkum pada 7 Januari 2012

Selamat siang. Selamat mengitari cahaya! Sekarang SP mengambil topik KAYU.

Sebentuk cinta telah melekat di jemari, satukan rindu yang tak pernah lelah kujaga, hingga tongkat kayu temani langkah.
— @HamdaniEva

Terpesona aku menatap pujaan hati, dibalik bingkai kayu antik, dia demikian indah, bagai tak terjamah mentari.
— @citra_cantika

Sebelum cinta memperkenalkan kita, pada kayu meranti sudah kuukir dua nama dalam simbol hati melingkar sempurna. Kita.
— @namjulsawa13

Seperti jamur di musim hujan, besandarlah pada bahuku, sebatang kayu yang rebah tak kuasa menahan pertengkaran waktu.
— @indiejeans

Sarapan tertata di atas nampan kayu. Kegelisahan perempuan menunggu yang pantas ditunggu. Sebentar lagi ia tiba. Rindu.
— @ThiyaRenjana

Sepotong kayu terjatuh dari pohon, hatiku layu terbawa olehnya.
— @uswah_

Kayu menguning, rinduku mengering.
— @fairyz3

Haruskah aku bermuka kayu untuk mendapatkan rindumu, kemana hangat rengkuhan pedulimu berlalu?
— @yulialiman

Seperti kayu, pada akhirnya, rindu pun lapuk diremas waktu.
— @iyanbiyan

Benalu merayapi kayu, tiap jalarnya meninggalkan kisah sendu, meratapi rindu semu, sadar takkan pernah lagi bersua.
— @fairyz3

Kayu jati, di linggar jati. Cintaku sejati, takkan mungkin ingkar janji.
— @ChalanRedRock

Cinta adalah kokohya kayu pada hutan basah, setianya hujan adalah nyanyian semusim pelipur rindu.
— @telukjingga

Kayu-kayu meronta menghiba hujan turun menangisinya, kini kaki bumi tak lagi ramah, kerap membakarnya dalam kekeringan.
— @telukjingga

Milikilah cinta sekuat jati. Semakin tua, semakin kokoh — tak lapuk dimakan waktu.
— @bagustianiskndr

Pada dipan kayu kurebahkan jasad tubuh yang mulai renta, aku tersenyum karena disampingku masih ada nama yang kusebut cinta
— @namjulsawa13

Pada hutan perawan rinduku tumpah bersemak-semak, cinta kupatri pada kokoh kayu raksasa, takkan tumbang tersapu badai.
— @telukjingga

Di hutan hatimu, harapanku telah menempel pada kayu-kayu kering, hendak patah tak tersisa.
— @arriany42

Sepotong kayu pasti tahu kemana ia berlabuh, tak hanya sekadar mengapung lalu mengikuti arus sungai.
— @arriany42

Akulah kayu rapuh, menghendaki kau sebagai tetes hujan yang luluh basahi aku.
— @mikemustamu

Asa kita, pepohonan di hutan tanpa nama, hujan melapukkan kayu, menggugurkan daun-daun harapan, menyisakan serakan kenangan.
— @alithdqueen

Dan kanopi peraduan kita, kayu yang melapuk ditempa waktu, di setiap poles pernis yang meretak, doa-doa beranakpinak.
— @alithdqueen

Aroma kayu manis mengingatkanku pada kebersamaan kita merajut cinta, sebelum kau tinggalkan aku merenungi rindu yang meranggas
— @RobiHerianto

Engkaulah jamur hujan di punggungku. sementara akulah kayu yang menyerahkan segala kerapuhanku, menghidupimu.
— @semut_nungging

Hujan. Kayu-kayu pun basah melengkapi dingin pagi. Kristal bening di sudut mata, membasahi kenangan kita.
— @Susi_SmileKitty

Aku ingin mencintaimu tak seperti kayu, bercabang ke semua tubuh tanpa malu-malu.
— @bait_sederhana

Dirangkum pada 6 Januari 2012

Kolaborasi Syair Pagi

Salam! Selamat mengitari cahaya =).

Subuh tadi, aku sengaja menghimpun sajak-sajak di @Syair_pagi menjadi sajak utuh. Aku membaginya sesuai tema, dan ternyata, dapat dijadikan dua sajak nan indah. Sebenarnya sudah aku tweet-kan berurutan, tapi ada baiknya aku tulis lagi di sini.

/1/

Setiap pagi, ketika kabut menyelimuti,
aku teringat engkau yang menjelma mentari
: memelukku dengan lengan-lengan api.
Pun ketika pagi menjadi hujan,
engkau berlari di antara rintik-rintik
pada tumpukan daun-daun kering
dalam pikiranku.

Pada akhirnya,

Seberapa jauh waktu melangkah,
cinta masih di tempat yang sama.
Sedangkan rindu,
terlanjur membakar dada.

Pagi pun membuka pintu,
langit menanam seribu tangkai hujan
tumbuh bersisian
dengan sulur-sulur rinduku.
Namun, culas cahaya merenggut pejam,
memecah mimpi, mencacah rindu
: menghantarkan sepi
untukku.

Seperti janji batu
: diam-diam memeluk sunyinya waktu.
Rinduku
: mendekap bayang senyap wajahmu.

Kolaborasi bersama
@dhehusnan, @oqhik_, @ama_achmad, @sabdaliar.

/2/

Etika matahari kepada pagi,
embun dibiarkan lahir dan menyapa daun-daun
yang masih menarik-embuskan mimpi.

Dari balik rindang pepohonan pinus
sinar pagi hangat menyapa.
Di hatiku masih terhunus
panas rindu yang membara.
Aku pun menghirup segar pagi
sambil menatap luasnya doa
menyambut harapan.

Kudapati dua hujan pagi ini
di luar jendela, dari bintik langit,
dan rinai rindu, yang jatuh di dadaku.
Maka pagi kehilangan senyumnya.
Aspal basah, daun mengayun.
embun berlindung di ketiak hujan.

Selamat pagi, Bidadari. Aku masih di luar.
Menanti kau membukakan pintu
di malam sekian tahun silam.
Telah aku titipkan rindu, pada embun pagi
semoga angin tak menyembunyikannya
di balik awan.

Kolaborasi bersama:
@hurufa, @embunbeningpagi, @baracoedaz, @teatrikal.

Ini sebuah sajak kolaborasi yang disusun secara tak sengaja, bahkan para penulisnya pun tak tahu. Jika berkenan, sila ditengok. Aku mohon maaf buat kelancangannya. Jika dirasa mengganggu, postingan ini siap dihapus. Jika suka, silakan tentukan judulnya supaya dapat dijadikan sajak utuh =).

Sekuntum pagi merekah
Tuhan jatuh cinta

Dingin ini mengingatkanku pada hangatmu, hening ini mengingatkanku pada merdu suaramu.
— @omrtw

Jemari fajar mengetuk jendela, kicau murai menyiulkan dongeng tentang harapan yang menggantung di ranting-ranting cahaya
— @ama_achmad

Butiran embun menapak pada daun jendela, terlihat jelas di sana, rindu menggoda dalam tiap titiknya
— @imbycoffecholic

Mawar merekah cantik, kupu-kupu riang menggelitik. Indahnya pagi hari, matahari hangat tanpa hujan merintik.
— @yulialiman

Tuhan sedang jatuh cinta, bulanpun berbentuk hati.
— @aiirsunyie

Aku mengintip cendela fajar, siluet samar cahaya hangat, dan aku terperangah; inikah surga? Sejuk tatapanmu, Ibu.
— @oqhik_

Semburat matamulah yang memekarkan kembali embun di rumpun perdu, tempat segala cinta menentukan takdirnya
— @rizkytp

Gerimis terluka dan sendu bulan. Tuhan ciptakan pagi.
— @aiirsunyie

Fajar telah kembali, namun tak jua mimpi bergegas, ia mengekalkanmu, dalam harmoni pagi.
— @tengahsenja

Kereta malam, kota tua sebelum fajar. Cuma peron lengang menyambut kami yang pulang.
— @7HujanPagi

Kepulan asap rokok membumbung, menyatu dengan udara, menyatu bersama luka. Lelah penat di mata, telan mentah begitu saja.
— @aksarasendja

Bekas hujan semalam, basah di jalanan, dingin menyentuhku. Pagi setia bawa semua keindahan, hilang mimpi buruk semalam.
— @yulialiman

Sebaris embun sekilau warna secerah mentari, semua tersimpul dalam senyummu, menandai dimulainya kehidupan indah hari ini.
— @raffikeave

Mengapa masih menekuri mimpi? Bangunlah, lihatlah pagimu terbengkalai.
— @ratnalaila

Selamat pagi, selamat menunaikan ibadah puisi, Tuan, Puan.
— @MunajatKIRI

Hujan semalam menyisakan dingin, aku pun berselimut rindu, masih tak ada kamu disampingku.
— @miss_heni

Selalu kurindu gerimis, berharap ia mampu melumerkan bayanganmu selamanya!
— @ippang_az

Kuhidangkan sepiring rindu, dan segelas kenangan pagi ini–nikmati saja, lalu sampaikan padaku rasanya
— @ivanriskyy

Tetesan embun menyadarkanku, ada rindu yang teramat indah, bersamamu.
— @ciiputraa

Dibalik dinding malam yang sepi, aku telah menyelipkan sepucuk rindu untukmu, semoga kamu membacanya.
— @nugroho_penyair

Duhai subuh penahbis pagi, butirbutir cahaya telah mengecupku, kabutkabut kian mendekat untuk mengatup kembali hatiku.
— @rizkytp

Aku berjanji, akan mencintaimu sepagi mungkin. Bila ingkar, Sayang, aku rela kau tampar.
— @_priabaik

Pagi datang dengan kesetiaannya menyapa, aku harap ada yang seperti kamu.
— @iimamf

Syair-syairmu bagai secangkir kopi, membuat denyut cinta bergejolak dalam nadi.
— @matthewsevan

Dia adalah kata yang bersajak dalam rindu. Bukan bait, hanya rembulan yang bertarung dalam senja. Dialah kamu!
— @nugroho_penyair

Sampai jumpa mimpi, kunjungi aku lagi malam nanti. Dan kamipun berjabat tangan, berpisah meniti jalan yang tak bersisian.
— @ilalang_biru

Rangkaian puja-puji dan panjatan doa, membuatku terjaga. Matahari menyapa lewat malaikat yang mengetuk kaca jendela.
— @miyaa

Habis malam terbitlah terang. Saat itulah aku merasakan cintamu yang begitu hangatnya.
— @chuaberry

Secangkir kopi tersedia di atas meja. Kamu mengecupku dengan mesra sambil mengucapkan, selamat pagi, kekasih.
— @chuaberry

Mungkin rinduku kepala batu, bahkan dalam udara pagi yang basah, aku masih mencarimu dengan resah.
— @ilalang_biru

Kutitipkan luka pada langit malam, hingga cahaya pagi melebur dan menggantinya dengan ribuan asa baru bersama tetes embun.
— @Flute_Asa

Pagimu membuatku lupa mimpi semalam, hanya embun rindu yang terlihat menetes dan mengalir, di dedaunan cinta.
— @rudykoz

Aku selalu merindu pagi. Hangat sinarnya mendekapku bersama butiran-butiran cintamu
— @Flute_Asa

Mimpipun berlalu, hanya menyisakan rindu yang tak berujung. Semoga nanti malam kita bertemu lagi, dalam angan.
— @miss_heni

Hanya kepadamu, aku sengaja membasahi kembali anak sungai di hatiku, yang bermusim-musim telah mengering oleh teriknya cinta
— @rizkytp

Kenapa mesti pagi? Karena disanalah rindu memecah keheningan dalam cinta yang maha bening.
— @_priabaik

Setiap pagi rindu selalu kembali, sebagai suatu pertanda cintamu masih tersimpan di hati
— @UnguViolet_

Kuracik secangkir kopi dengan hangat rindu, asa, serta kecupan di dalamnya.
— @Flute_Asa

Malam telah menggulung, sabitan mentari samarkan embun. Titian mimpi telah usai, secercah harap kan kusambut.
— @Ar__One

Tuhan menghadirkanmu, dalam hujan semalam; mendekapku hingga pagi kembali, tersisa rindu mendera dalam dada.
— @itsme_thya

Mencintaimu; adalah sinar pagi yang tak pernah redup. Tak lekang oleh waktu.
— @chuaberry

Kan kusambut hangat dekapmu. Melengkapi indahnya pagiku diakhir minggu.
— @VieRe_252

Ini rinduku, ditelan keagungan pagi dari kecemasan-kecemasan fatamorgana.
— @danileinad

Rasanya nyaman melihat dua cangkir bersisian di pagi hari. Satu beraroma teh, satunya beraroma kopi, milikmu
— @ilalang_biru

Liarnya malam, glamour-nya gelap tersucikan dengan datangnya agung pagi.
— @danileinad

Hanya tetesan hujan yang mampu membawaku menyelami kenanganku padamu, saat itulah aku merindukanmu.
— @dheesywhidya

Maaf, Kasih. Sepagi ini aku telah menera keindahanmu dalam sajak. Mengertilah! Hanya seperti itu caraku merayakan rindu.
— @momo_DM

Pagi datang tanpa dibuat-buat, pun dengan rinduku padamu yang datang tanpa harus diminta.
— @momo_DM

Sekuntum embun jatuh tepat di kepalamu, Tuan Rindu — mengaburkan luka satusatu ketika Tuhan merekahkan fajar.
— @keanufathona

Berat rasanya meninggalkan ranjang, tempatku bergulat bersama mimpi. Entah, semesta memaksaku untuk berdiri.
— @danileinad

Di getar nadiku yang terluka, kurasakan matahari mengulurkan tangan hangatnya lebih lama dari sebelumnya
— @rizkytp

Kepadamu, ingin kusampaikan sepucuk surat dalam kotak pensil. Di hadapanmu, hanya kesunyian yang dapat kupanggil.
— @Om_Kelana

Lihat, Sayang. Jemariku liar menari, ingin tunjukkan rindu yang tak terjamah olehmu
— @Flute_Asa

Pagi tak pernah sepi, anak-anak langit berkelana memburu rindu. Mentari belum tinggi, aku terus mereka wujudmu tanpa malu.
— @keanufathona

Tak malukah kau dengan mentari? Sepagi ini dia sudah memberi. Ayo bangkit dan berlari kejar mimpi!
— @namjulsawa13

Mentari mengulum senyum menawan, membangunkan lelapku perlahan. Hangatnya masih sama, meski pagi kemarin ia menangis terluka
— @Aya_zahir

Kasih, umpama daun-daun, rindu dibelai embun, aku ingin melihat senyummu, membasuh kalbuku.
— @edith_tian

Pagiku sempurna memandang gemuruh ombak berkejaran lalu berpelukan di bibir pantai cintamu.
— @VieRe_252

Pagi telah meniup setiap kelabu menjadi hujan yang menggenangi kalbu; seribu rindu yang kutitipkan pada langit malam.
— @Ady_S_Lesmana

Ibu, apa jadinya bila langit itu runtuh? Seperti hatiku yang hancur berkeping-keping, bila kamu menangis, Nak.
— @nugroho_penyair

Cumbui aku, seolah esok tak ada. Biarkan surya cemburu, sebab dekapmu, melebihi hangat sinarnya.
— @VieRe_252

Ada sisa hujan, menggenangkan kenangan di pagi yang lengang. Dan aku memahat bayangmu di langit yang terang.
— @sigit_pam

Tak ada yang lebih puisi dari mentari; mendegupkan debar dalam dada, celupkan asa di getar jiwa, menjiwai pagi tanpa luka.
— @keanufathona

Seperti pagipagi sebelumnya, aku meneteskan embun pada dedaun. Pertanda kehadiranku tetap ada, pelepas dahaga.
— @Aya_zahir

Ada sisa mimpi semalam tercetak di langit-langit kamar, tentang kau dan aku memadu kasih di puncak gunung selumar.
— @namjulsawa13

Malam membisikkan padaku, betapa ia merindukan pagi, sebuah cinta yang tak mungkin terpeluk, seperti juga kita.
— @a_metta

Seolah surya aku ingin mencintaimu, kehangatan yang penuh seluruh, mendekap hati kita penuh keluh.
— @amresza

Kali ini aku yang membangunkan pagi, karena mimpiku masih panjang, takkan kugenggam jika hanya berdiam
— @iyanbiyan

Aku angin yang meniupkan angan saat pagi, dan embun menjadi saksi atas semua angan yang aku tuju padamu.
— @amresza

Sebelum cahaya matahari mengecup kornea mataku, rindumu lebih dahulu menyentuh bibir kesedihanku pagi ini.
— @bagustianiskndr

Masih seperti pagi sebelumnya, secangkir teh hitam dan selepas tawamu dalam ingatan.
— @falafu

Kelak pagi akan terbangun lebih akhir, saat matamu terlalu isak menangisi kepergianku, dari mimpimu semalam.
— @amresza

Kita; sepasang pipit yang terbang menghinggapi reranting takdir, lalu memilih menetap di dahan yang sama, berdua meraya cinta
— @ama_achmad

Hujan November akan sering menyapa, ngiluku akan tersiksa. Sapamu penuh senyum tulus bantu asa selalu bahagia
— @yulialiman

Aku melihat perempuan pagi ini. Dengan semangat, dia hadapi hangatnya mentari. Perempuan itu adalah ibuku.
— @Angz_Abbadie

Setiap hari, jejakjejak kaki yang kukenali menghiasi serambi pagi, rindu masih mencari.
— @biru__langit

Kerinduan adalah dahaga yang tiada terpuaskan oleh larutan apa pun, baik teh maupun kopi. Kecuali ketika mata bertemu mata.
— @MunajatKIRI

Seperti November membasuh wajahku, kubasuh bibirmu dengan lembut doa di bibirku. Tak ada sentuhan seindah gerimis.
— @puisikekasih

Embun mungkin tak pernah tahu, setiap pagi, rinduku lebih dulu menghias daun-daun.
— @biru__langit

Aku suka kau mencintaiku saat pagi, ketika mimpi-mimpi berevolusi suci, dan menawan segala rindu didalam birahi
— @bait_sederhana

Pagi yang dengan sendu kau tangisi, adalah pagi yang dengan rindu kuhiasi.
— @biru__langit

Kubacakan puisi untukmu, tiba-tiba suaraku merdu, seakan burung-burung menitipkan kicaunya padaku.
— @puisikekasih

Pagi dan mentari kita sama, hanya saja kau mencumbu mimpi, sedang aku memeluk nyata.
— @iyanbiyan

Sepasang doa-doa kecil berburu cinta, menelusuri langit sejuk yang mulia, hingga berziarah pada mentari yang sangat bergelora
— @bait_sederhana

Alangkah sejuk, suara sungai dan pohon bambu tertiup angin, namun mengapa, sendu daun-daun, terus berguguran, di sudut hatiku?
— @adityaputu

Sebening embun sesejuk selimut kabut, seperti itulah rindu didadaku, bergejolak untuk kau sambut
— @oomkalis

Disela embun kuselipkan secarik puisi, yang dihiasi sinar mentari, agar ragu tak dapat menelusuri menyamar menjadi sepi
— @bait_sederhana

Tak ada lukisan seindah gerimis. Maka ketika kau tersenyum padaku, aku tahu, siapa bidadari di celah pelangi itu.
— @puisikekasih

Kenangan bagai pohon merangas kena panas, lalu hilang tak berbekas
— @RidaAstuti

Desah gerimis membuka pagi, meniupkan rindu di dada–penyair membangunkan kata, memahat rasa dalam puisi
— @ama_achmad

Tuan, aku menyaru kabut, datang mengendap-endap mengetuk pejammu, mengabarkan pagi, memberitahu masih ada cinta yang terlalu.
— @ama_achmad

Pagi adalah sebait puisi bisu. Ketika embun rindu saling bertemu.
— @ar__one

_@_

Syair Pagi

KUIS SYAIR PAGI

/1/
@Randi_herl

♠ @Randi_herl: Terik matahari memancarkan sinar yang begitu panas. Tapi panas terikmu begitu menyejukkanku.

♠ @Randi_herl: kecupan pagimu membangunkaku. Membuka mataku. Dan mulai memelukku, dengan cinta. http://lockerz.com/s/151583086

♠ @randi_herl: Ketika aku rindu akan kasih sayang. Sebuah hati datang memberiku lebih dari rasa sayang. Yaitu, Cinta. http://lockerz.com/s/151585990

♠ @randy_herl: tak rela semua musnah. Tak ingin semua hilang. Cinta ini tetap aku simpan dengan aman dibalik sejuknya embun rindu.

/2/
@teruus

♠ @teruuus: melihatmu seorang diri, ada hasrat untuk menghampiri. selamat pagi, @mimonomori.

♠ @teruuus: aku mengepalkan tangan, antara menahan nafsu makan dan ingin terus melihat senyum dalam wajah @ramizman.

♠ @teruuus: aku tidak pernah mengerti tentang lima huruf yang bernama cinta itu, aku hanya merasakannya ketika kamu bersamaku.

♠ @teruuus: ketukan para pembenci itu tak akan pernah sekuat dan selaras ketukan cinta kita, Sayang.

♠ @teruuus: tak akan ada kalimat yang kau sebut gombal itu keluar dari bibirku, karena aku hanya mengungkapkan keindahan di dirimu.

/3/
@bagustianiskndr

♠ @bagustianiskndr: Aku dengan sepenuh iya dan seluruh amin, mencintaimu dalam pagi siang sore dan malam.

♠ @bagustianiskndr: Aku tak sepuitis Anji, tak seluarbiasa lagunya. Tapi kau masih setia tepuk tangan di saat aku, lagukan rindu untukmu.

♠ @bagustianiskndr: Sebelumnya aku takut cinta akan datang dengan kesakithatiannya lagi. Namun setelah kau kecup bibirku, semua berubah.

♠ @bagustianiskndr: Aku mencium wangi surga di telapak kakimu: aku yakin disitulah tempat anak-anakku nanti mendoakanmu.

♠ @bagustianiskndr: Demi cinta, kau datang sebagai dewi fortuna, yang membawa keluarbiasaan pada jemarimu yang menawarkan rindu. http://twitter.com/bagustianiskndr/status/130502925607907328/photo/1.

/4/
@Sir_Andiz

♠ @sir_andiz: Akulah nyiur daun yang melambai dipagimu, yang kuanggap embun dan kau lebih dari itu.

♠ @Sir_Andiz: Menandakan detik yang menunggumu seperti satu bulan aku melangkah maju, kau membuatku hidup terasa lebih lama.

♠ @Sir_Andiz: Sebening zam-zam kau menyuguhkan kedamaian, dari haus saat aku berjalan di padang pasir cinta.

♠ @Sir_Andiz: Ada surga yang diselipkan di manis senyummu, ada telaga kautsar yang menjelma pelukanmu.

/5/
@RidaAstuti

♠ @RidaAstuti: Pada teduh sepasang mata, menengadah kasih, kutuang disitu untuk cintaku, belahan jiwaku. http://lockerz.com/s/151579530

/6/
@rudykoz

♠ @rudykoz: Aroma wangi cintamu, menyusup dari cela jendela, saat kubuka di pagi yang indah, rindu mengalun bak kicau burung murai.

♠ @rudykoz: Deru ombak di laut lepas, mengantar rinduku padamu, dewi, kasih tautan hatiku, dekap cintaku segenap hati.

♠ @rudykoz: Kicau burung kenari, mendayu-dayu bak sebuah simfoni, merdu mengantar janji rindu, merajut cinta tak pernah luruh.

/7/
@baby_ngepet

♠ @baby_ngepet: Aku merasa jauh lebih baik saat kau ada di hidupku. Suatu hal kecil yang luar biasa kau titipkan di sini, dihatiku.

♠ @baby_ngepet: Terima kasih, pagi, kau telah hembuskan nafas surga di balik bibirnya. Bibirnya yang membangunkanku dari lelapku pagi ini.

♠ @baby_ngepet: Ada doa di sudut bibirku, doa yg tak pernah usai. Doa yang diiringi embun di sudut mataku. Doa yang selalu menyertaimu.

♠ @baby_ngepet: Ketika untaian tanganku mendapat lambaian tanganmu, aku paham betapa aku membutuhkanmu. Kau bagian terpenting di hidupku.

♠ @baby_ngepet: Sejuknya nafas pagi, melantukan syair kasih yang merindu. Kamu yang luar biasa, yang menyinggahi singasana hatiku.

/8/
@iyanbiyan

♠ @iyanbiyan: Cinta; bak hamparan luas padang ilalang, sedang kita adalah sepasang merpati, yang tak henti meriuhkan hari.

♠ @iyanbiyan: Dan begitulah cinta, bak hujan yang dikirimkan awan pada kemarau, hanya agar bunga-bunga bermekaran.

/9/
@Delune

♠ @Delune: Surga kecil itu adalah pagi, ketika kusaksikan puisi berlompatan dari matamu yang jingga. http://twitter.com/Delune/status/130518280187281408/photo/1

♠ @Delune: Kelak, kita akan mendekap kesepian abadi, sembari melantunkan ayat mentari pagi, dengan lengan sehangat senja.

♠ @Delune: Bagai helai dandelion yang dilangitkan angin sejuk, ucapan kangenmu, mengawan dan menjelma doa — bersahaja.

♠ @Delune: Kesenyapan ranggas, dari bibirku, saat rinai di matamu tandas, dan langit usai melagukan sajak-sajak rindu.

/10/
@miss_heni

♠ @miss_heni: Mencintaimu. Izinkan aku melakukannya dengan segala ketidaktahuanku tentang luka yang mungkin akan aku dapat.

♠ @miss_heni: Bersamamu adalah kesunyian yang kurindukan. Tak perlu apapun, hanya ada cinta dan kita yang menyatu.

♠ @miss_heni: Senja dan seorang perempuan yang ucapannya adalah doa bagiku. Aku mencintai keduanya.

/11/
@Prof_Venom

♠ @Prof_Venom: Di gugurnya dedaunan dan riuhnya angin seperti itulah kenangan kita menggenang ~ @raraseptiara. http://mypict.me/mg2z3

♠ @Prof_Venom: Janjiku pada bidadari kecilku ialah, membesarkannya dengan cinta. Dan membahagiakanya dengan kasih sayang @raraseptiara

♠ @Prof_Venom: Remah rindu bernanar dengan sendirinya, merusuk ke ujung hari yang suram. pelangi dari senyum bibirmu memberiku rindu.

♠ @Prof_Venom: Aksara luka masuk kedalam palungnya. Usapan rindu melekat pada secangkir teh di gelasku.

♠ @Prof_Venom: Aku punya hati yang harus kau jaga. Bila nanti aku mati di hatimu. Tusukanlah rindu dan sendu ini dengan belati.

/12/
@aim_road

♠ @aim_road: itukah kamu? biru yang menjalar cepat menakar malam yang begitu kasar.

♠ @aim_road: Menangislah, ini pundakku tempat air matamu biasa mengadu.

/13/
@cancerrika

♠ @cancerrika: aku sedang berdongeng tanpa satupun tokoh, hanya aku dan kamu terbang berputar di atas danau cinta.

♠ @cancerrika: kasih, kenangan yang tak kering, seperti seruling, menari di bawah panas aksara lama yang terukir berkarat di hati.

♠ @cancerrika: apa itu cinta? yang datang bersamamu menggetarkan hatiku hingga malam aku bermimpi.

♠ @cancerrika: kasih, di sunyiku ini, aku bepikir, berapa aksara lagi yang harus kutulis untuk bukti cintaku.

♠ @cancerrika: izinkanlah aku, kasih, memenjarakan diri di hatimu, agar dapat kunikmati tiap langkah hidupmu.

/14/
@Om_Kelana

♠ @Om_Kelana: Cintaku, cinta yang sederhana. Dengan rindu di setiap debarnya.

♠ @Om_Kelana: Aku suka pagi, pun senja. Tempat dimana aku menikmati cinta, tanpa harus bersuara.

♠ @Om_Kelana: Sebab cinta ialah akar pohon yang menopang hidup. Ia kan menopang hidupmu dikala redup, sayang.

/15/
@oomkalis

♠ @oomkalis: Pagiku adalah kamu yang selalu hadir dan menjelma dalam helai tiap hembusan nafas; sayangku.

♠ @oomkalis: Senyummu bagai seribu taman bunga dan aku terbuai dengan seribu pesona, cintaku; kamu sungguh sempurna.

♠ @oomkalis: Dan burung pipit di reranting, menari bersama embun bening, sementara hatiku menggemakan rindu ditiap jam berdenting.

♠ @oomkalis: Lalu kuhitung tiap langkahku, tak pernah ku temukan jejak rindumu, di sini; dijantungku aku menunggumu.

♠ @oomkalis: Lalu kuhitung tiap langkahku, tak pernah ku temukan jejak rindumu, disini; dijantungku aku menunggumu.

/16/
@Penyair_Unyu

♠ @PenyairUnyu: Pada sepasang mata, surga tampak nyata, senyummu mendekap bahagia; kita jatuh cinta. http://lockerz.com/s/151637000

♠ @PenyairUnyu: Di ujung malam kau dan aku selalu mengeja kegalauan; tetiba bahagia berakhir dipelaminan.

♠ @PenyairUnyu: Ketidakberdayaanku adalah kau; mengeja bahagia tanpa airmata.

♠ @PenyairUnyu: Hadirmu tak hanya dalam mimpi; diujung pagi kau menjelma pada bait puisi, bahagia itu kau; yang lalu, kini bahkan nanti.

/17/
@amresza

♠ @amresza: Dekapanmu; ialah surga yang paling ramah, tiada gelisah. Kenyamanan yang tak pernah bisa aku bantah.

♠ @amresza: Saat kita saling merasa berkecukupan, saat itulah kita mengerti mengapa kita diciptakan.

♠ @amresza: Kita, tiada definisi yang mampu untuk menggambarkannya. Kita berdua hanya sekedar; cinta.

♠ @amresza: Sungguh aku temukan kejujuran dalam pelukanmu sayang, janji yang berbutir-butir tentang hidup dan mati.

♠ @amresza: Lekukan senyummu, tempat cintaku bersemayam, menyembah kesetian untuk saling menjaga.

/18/
@uswah_

♠ @uswah_: di bening matamu, aku tenggelam. di lekuk senyummu, aku terbenam. dan di pelukmu, aku terbungkam. http://twitpic.com/784j4x

♠ @uswah_: di dadamu, aku berlabuh — menikmati hati yang bertabuh. dan cintaku, semakin tumbuh.

♠ @uswah_: di tiap detak, hatiku berdegup hebat. mengikuti alunan cinta yang menjebak. oh, rindu, di dadaku, bergejolak.

♠ @uswah_: meski, kasih, kisah cinta kita tak sepanjang usia. namun, mencinta, tak pernah sia-sia.

♠ @uswah_: di bening matamu, aku tenggelam. di lekuk senyummu, aku terbenam. dan di pelukmu, aku terbungkam. http://twitpic.com/784j4x

/19/
@oqhik_

♠ @oqhik_: Telah kucipta puisi, bukan untuk mengetuk hati, pun masa lalu, hanya sebagai selimut kecemasanmu.

♠ @oqhik_: Telah kucipta puisi, bukan untuk mengetuk hati, pun juga masa lalu, hanya sebagai; selimut kecemasan cintamu.

♠ @oqhik_: Engkau adalah detak, degup, desir yang hidup di jantungku; sebagai cinta, akan terus kujaga, hingga tutup usia.

♠ @oqhik_: Saat kau terpejam, doaku akan menjelma malaikat rindu; menjaga dari kecemasan mimpimu. http://lockerz.com/s/151713226

/20/
@tiikaaa

♠ @tiikaaa: Hujan kini mengulang sebuah haru, tetesannya menghitung mundur waktu-saat aku masih denganmu

♠ @tiikaaa: Cobalah kau pejamkan matamu, rasakan suara rintikannya, begitu sendu, itulah rinduku.

/21/
@marsshmalloow

♠ @marsshmalloow: Bagaimana kuberhenti mempuisikanmu, jika rindu selalu datang sewaktu-waktu – tanpa mengetuk pintu.

♠ @marsshmalloow: Diamlah sayang, biarkan bibir yang saling bercerita, dalam bungkam aksara kita.

♠ @marsshmalloow: Ketika pandangan kita beradu, dalam hati aku dan kamu bercumbu, menguraikan simpul rindu.

♠ @marsshmalloow: Sepertinya rinduku salah alamat, tersesat, tak bisa menemukan jalan pulang — ke hatimu.

♠ @marsshmalloow: Senja itu kamu, semburat jingga yang mengekalkan rindu.

/22/
@iduyhawrun

♠ @iduyhawrun: matamu adalah kunang – kunang, yang cahayanya paling benderang, menepis segala sepi dalam keheningan.

♠ @iduyhawrun: pada senyummu terdapat kupu – kupu, yang selalu mengajari aku terbang disekitar bibirmu. http://mypict.me/mg4SJ

♠ @iduyhawrun: Tuhan memberikan senja untuk kita, agar pelukan – pelukanmu selalu ada, dan mendekap dalam jiwa. http://mypict.me/mg4V2

♠ @iduyhawrun: aku ingin mencintaimu lebih dari waktu, agar ciumanmu tak dapat tersapu oleh ragu.

♠ @iduyhawrun: mentari tampak tersenyum dan mengindahkan dunia, namun cukup kecupanmu; memberiku keindahan yang mesra.

/23/
@Ady_S_Lesmana

♠ @Ady_S_Lesmana: Kasih, biarkan rindu kita berpendar beriringan; menjadi syahdu, melodi malam yang tabah menahan laju sepi.

/24/
@ciyecci

♠ @ciyecci: Pada keteduhan matamu, kutemukan samudera, melampaui birunya langit, dan dalamnya bumi.

♠ @ciyecci: Aku hanya ingin mencintaimu seperti ini, menjadi gerbang bagi rumah doamu, dan menjadi nafas dalam tiap denyut ingatanmu.

♠ @ciyecci: Ada cinta yang tak berhenti tumbuh, sejak waktu berkarib denganku, sampai jarak yang menepikanku, lebih panjang dari usiaku.

♠ @ciyecci: Kau abaikan pagi yang lelah merangkul sepi, malam yang menjelma sunyi itu sendiri, hatimu memahami lebih dari cinta itu sendiri.

/25/
@momo_DM

♠ @momo_DM: Kutitipkan rindu di teduh matamu, kembalikan saat tatapmu membunuh waktu di pelukku.

♠ @momo_DM: Percayalah kasih. Diantara jarak dan waktu telah kubentangkan kesetiaan menunggumu.

♠ @momo_DM: Setialah padaku! Seperti jarak yang setia menemani waktu, berjanji bertemu dalam satu titik temu; hatiku dan hatimu.

/26/
@RizkyWijayaYP

♠ @RizkyWijayaYP: kunamai kamu dengan pagi, alasanku setiap kali terjaga.

♠ @RizkyWijayaYP: kunamai kamu dengan pagi, alasanku setiap kali terjaga.

/27/
@dhika_dps

♠ @dhika_dps: Pagi ini separuh nyawaku berkelana, mencari separuh nafasku yang entah kemana. Aku sangat membutuhkanmu.

♠ @dhika_dps: Aku begitu mendambakan kekasih, berkelana dalam doa. Tanpa ku sadari sejak lama doa itu terjawab, kamu.

♠ @dhika_dps: Panah yang kau tancapkan di hatiku, tak terasa perih nya. Panah yang ku nanti sekian lama darimu, panah asmara.

♠ @dhika_dps: Panah yang kau tancapkan di hatiku, tak terasa perihnya. Panah yang kunanti sekian lama darimu, panah asmara.

♠ @dhika_dps: Ketika aku berdusta telah melupakanmu, sesungguhnya aku ingin kau memohonku kembali.

♠ @dhika_dps: Terkadang benci itu mampu dikalahkan rasa kasih yang tulus. Tersadar dari kemunafikan, aku masih mengharapkanmu.

/28/
@ivanok_

♠ @ivanok_: Rindu hanya sepotong jarak yang tak sanggup diukur; seperti panjangnya pelangi, begitu indah tapi tak akan bisa bertamu.

♠ @ivanok_: penuh warna menghiasi kisah,ada kelabu tentang halhal tak terselesaikan,jingga tentang kenangan,ada biru seperti cinta

♠ @ivanok_: Satu hal; ada malaikat bermandikan cahaya pada telaga cinta di ujung pelangi — bernama Malaikat Rindu

/29/

♠ @bait_sederhana: aku telah merajut doa dipipimu, untuk menuntun ciumanku yang lugu.

♠ @bait_sederhana: aku telah menaruh ciumanku pada sayap angsa, yang kukirim melewati awan untuk membalas rindumu yang tersisa.

♠ @bait_sederhana: kau lelehkan aku dengan asamu, hingga menjadi serpihan abu, yang akan kau simpan dilubuk cintamu.

♠ @bait_sederhana: dadamu adalah istana yang megah, dimana aku kuasai dengan cinta yang gagah.

♠ @bait_sederhana: sepertinya rindu ini telah tersampaikan, setelah kau siram dengan pelukan – pelukan.

_@_

Boleh kukatakan malam ini adalah malam yang menyenangkan. Ada kebahagiaan ketika sajakku terpilih sebagai pemenang buku Aku dan Hujan oleh modearator @Syair_pagi (- ah, siapapun engkau, aku berterima kasih padamu). Aku tak menyangka, karena sajak-sajak yang masuk banyak sekali, dan semuanya bagus-bagus. Bahkan aku merasa terinspirasi membacanya.

Jujur, ketika menulisnya, aku tak tahu kalau @Syair_pagi sedang mengadakan sayembara, aku sekadar ikut-ikutan. Dan ketika namaku disebut, aku baru tahu ternyata sajak tersebut memenangkan hadiah buku! Benar-benar di luar dugaan! Padahal waktu itu aku spontan menulisnya (meski sempat membuat coretan di kertas sebelum diserahkan ke moderator)

Sajak yang kutulis berjudul HUJAN. Sebenarnya merupakan cerminan kegundahanku dengan Yang Ada — tentang bagaimana aku hidup di dunia ini. Benarkah aku ini jiwa yang nyata, dan bukan sekadar produk mimpi? Terkadang hal-hal semacam itu mengganggu pikiranku. Itulah sebabnya aku banyak menulis sajak-sajak serupa. Nanti aku tulis sajaknya di sini 🙂

Ada satu lagi yang istimewa dari sajak HUJAN. Inilah sajak pertamaku yang menghasilkan! Berkali aku mengirim sajak ke majalah dan koran, tapi belum ada satu pun yang dimuat. Kalau tak salah sejak tujuh tahun lalu aku aktif mengirimkan karya ke berbagai media, yang ketika kubaca lagi, aku bisa tertawa sendiri. Akhirnya pencapaian terbesarku adalah dimuatnya sajak-sajakku di mading sekolah. Itu pun karena aku sendiri yang menyusunnya (— ditimpuk sedunia)

Berikut sajak HUJAN yang kutulis waktu itu. Kusampaikan tanpa pembenahan — versi dengan pembenahan akan aku posting di pertemuan selanjutnya :-).

_@_

HUJAN

Sementara pagi terjaga dalam sebuah tanya, lantas dengan apa harus kuterjemahkan rindu yang datang tanpa tanda-tanda.

Hujan menghablur dalam sekali pukul, tiba-tiba angin beranjak pergi dan kembali, dan memporak-porandakan ingatan, kenangan

Gemeretak kaca semakin kencang seiring deru penghujan, membuatku gemetar membayangkan seperti apa kematian.

Apatah mungkin rasanya sama seperti sebuah kecupan yang coba kau panjatkan bersama doa-doa, sebelum kita meregang nyawa.

Hujan semakin deras dan cangkir di atas meja bergetar-getar seiring gemuruh, aku tak bisa melihat bayangan di cermin.

Mendadak langit menjadi atap rumahku, genting-genting terbang entah kemana, duniaku hilang entah kemana, kau masih tak ada.

Aku terhuyung-huyung menegak hujan dalam sekali minum, mabuk dalam kenangan yang tak dapat kita lupakan, kenangan bahagia.

Dalam keadaan tak tentu, kucari-cari engkau, kucari-cari, kucari dalam gemuruh doa, sampai kutemukan pada ketiadaan dunia.

Lantas semua hilang, tak ada pagi, tak ada hujan, tak ada awan, tak ada tanah, tak ada, tak lagi ada, tempatku berpijak.

Semua lesap ketika kau terjaga dan melupakan mimpi panjangmu, aku tiada, sebab aku tak lebih dari sebuah khayal di matamu.

Maret 2011

Sekali lagi, terima kasih moderator @Syair_pagi. Penghargaan ini benar-benar luar biasa 🙂