Tag Archive: Senja


Kota Sunyi

KOTA SUNYI

Pada daun yang gugur di halaman rumah
ajari aku keindahan yang lebih indah
dari kejatuhan yang pelan dan pasrah
sebab aku ingin segalanya tak berubah
– meski santun kuasa semesta
membuatnya terlupakan

Pada hujan yang turun menuruni angkasa
– ajari aku ketabahan yang lebih tabah
dari kejatuhan yang cepat dan terburu
hingga tak lagi kubaca sendu dengan segala bisu
seperti airmata yang lelah
membangun jalan kenangan

Pun pada angin yang berhembus syahdu
– biarkan aku memaknai kejatuhan dengan peluk
dalam rajutan napas sejuk
seperti tanah di malam bersalju.
Penuhi aku kekuatan untuk dapat menghibur
dengan kembara selembut bulu
– pelan dan teratur
berbaris di palataran rindu

Hingga saat aku berpulang ke kota-Mu
setelah kelana yang jauh itu
aku bisa menikmati pagut yang dulu
tak terengkuh.

Rafael Yanuar (19 April 2011) 21.16

Aku hanya teringat pada kejatuhan yang indah – yang sering kita maknai sebagai hujan dan daun gugur, lembut seperti angin yang menerbangkan dan menidurkannya dalam jatuh yang pelan / terburu, dan aku ingin setabah mereka! Barangkali – ketika kejatuhan itu bukan lagi sesuatu yang menakutkan, pasti kita bisa bangkit dengan senyum kelegaan. Aku ingin mencari keindahan dari setiap kejatuhan, agar dapat lebih tabah memaknai kehidupan. Doakan semoga aku berhasil 🙂

Di Penghujung Saujana

Malam rubuh di tengah kota
memeluk sepi
hening, mencekam

Sayup mendayu nyanyian bayu
memecah lamun
hujan tumpah meruah
mengoyak jari jemari bumi
mengubur renta momen usia
, terbuai lena rembulan

Waktu…
selimut hidup
selam jiwa
tabir salam pada raga nan lunta
di hamparan mayapada
mesra

Hitam luruh di sudut waktu
mendera sunyi
melepas senja
mengantar deru kereta
menyeberang samudera hidup

Pada detak, tersisa
rindu
kenang

Nisan tua
, berukir nama

Gereja di tengah Ladang


Kulangkahkan kaki menuju gereja
tempat di mana benih-benih menuncup
dan kami biasa menanam gandum
persis seperti bertahun lalu


Tuhan, aku ingin bertemu
rindu ini sangat mengganggu

Sore


Aku berjalan melenggang angin yang tenang, kala burung-burung pulang ke barat. Mereka mencari kehangatan di sekujur tubuh – meski musim penghujan masih jauh. Aku senang melihat senja dalam keremangan lampu kota, kala malam mulai menanjak. Dan di antara kabel-kabel listrik pembingkai ingatan, kulihat wajahmu bersua. Kakimu melangkah di bentangan jalan, ketika semua lelap dalam pitur bintang. Di relung kamar, kutemukan secarik puisi – berisikan dongeng masa kanak. Lama terpagut debu di kolong meja, berteman kardus pengeja masa.


Itu puisimu, kau tulis dalam lusuh kertas