Tag Archive: @sajak_cinta


Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sejumlah epigram tentang cinta

Baca lebih lanjut

Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sehimpun epigram tentang cinta

Januari 2012

/1/

Menyadari detik tak pernah berhenti, aku selalu takut pada waktu.

/2/

Doa mestinya menjadi rahasia yang tak mampu dijangkau kata-kata.

/3/

Teman, meskipun kaubersihkan berkali-kali, warna arang tetaplah hitam.

/4/

Kamu, seperti halnya cinta, tak akan tiada.

/5/

Jika aku boleh dilahirkan kembali, aku ingin menjadi puisi yang kamu tulis.

/6/

Jika langit adalah waktu, aku ingin menjadi hujan yang turun di kotamu.

/7/

Setiap melihat jam, aku selalu bertanya, pada siapa waktu sebenarnya berdetak?

Februari 2012

/8/

Aku ingin rumah kita dibangun menghadap laut, di mana kita bisa mendengar gemuruh ombak, berdenyut bersama nadi kehidupan.

/9/

Kau tahu, Sayang, ada embun di setiap sajak tentangmu.

/10/

Rindu hanyalah embun di sekuntum lili, yang setiap pagi selalu kaubasuh, sambil memandang sesuatu yang jauh.

/11/

Cinta terindah tidak bertindak dalam tindakannya.

/12/

Meski tak pernah mampu membukanya, cahaya bulan tetap menembus jendela. Di dalamnya, seorang penyair, tegar menuliskan sajak.

/13/

Aku ingin mencintaimu sehari lebih lama dari apa yang kita sebut selamanya.

/14/

Dalam cinta, Kekasih, kehidupan hanyalah perjalanan yang berangkat dari diri kita sendiri — menuju diri kita sendiri.

/15/

Aku ingin merindukanmu lebih lama, melebihi segala kesadaran, akan ketiadaan.

/16/

Sejak purba, langit tak pernah berubah, selalu membentangkan cinta, di manapun kita berada.

14 Februari 2012 (Durable Love)

/17/

Salam, Penyair, ajari aku menuliskan keindahan, dengan kebenaran.

/18/

Dalam hidup, ada begitu banyak cara meraih kebahagiaan, dan aku memilih menjadi orang yang selalu kaucintai.

/19/

Aku ingin mencintaimu, Kekasih, lebih dari apa yang bisa aku janjikan, pada hidup.

/20/

Dalam cinta, satu-satunya hal yang tak pernah bisa kita miliki, adalah ketiadaan

/21/

Aku ingin memiliki jiwa yang selalu mencintaimu.

/22/

Aku karang, karam dalam samuderamu. Aku langit, hanyut dalam semestamu.

/23/

Sebelum bertemu kamu, aku bahkan tak tahu, doa ternyata memiliki wujud.

/24/

Begitulah, bila rumput merindukan langit, ia tak pernah bisa menggapai apa-apa, selain perasaan sepi, dan sia-sia.

/25/

Kelak, cinta membuatmu mengerti, bagaimana rasanya berjalan di atas jembatan, yang tak pernah menghubungkan apa-apa.

/26/

Terkadang, ketika merindukanmu, aku merasa bagaikan tukang kebun, yang bekerja di rumah tanpa bunga.

— Maret 2012 —

/27/

Embun yang tak ditangkap matahari, hanya akan jatuh ke tanah. Hidup seringkali tak memberikan pilihan apa-apa, selain kalah.

/28/

Yang memeluk kita sebelum cinta, adalah sunyi.

/29/

Cinta adalah segala hal yang dapat kaudengar, kecuali dengan telinga — segala hal yang dapat kaulihat, kecuali dengan mata.

/30/

Dalam ciuman kita, Sayang, aku membayangkan sebuah tempat, di mana cinta tak perlu mempertanyakan keberadaannya.

/31/

Pada suatu tahun yang embun, ada sepasang mata, yang buta, karena melihat cinta.

/32/

Ketika segalanya menjadi terlalu sedikit, bagi cinta — maka, selamanya akan menjadi terlalu singkat, bagi kita.

/33/

Pagi, sepanjang usianya, telah melihat segalanya.

/34/

Penyair yang kesepian itu tahu bagaimana caranya menuliskan Tuhan, tanpa kata-kata.

/35/

Sebab, Sayang, di bawah langit yang selalu baru, segala sesuatu–termasuk cinta, tak pernah lelah memperbaiki dirinya sendiri.

/36/

Adakah yang lebih sunyi dari kematian seorang penyair yang puisi dan bukunya, tak pernah lagi dibaca dan diingat?

/37/

Seorang perempuan merasakan teduhnya sebatang pohon ketika ia menyadari — puisi, bukan hanya milik penyair.

/38/

Bahkan, untuk menciptakan semesta, Tuhan harus lebih dulu membentuk ketiadaan, kehampaan.

/39/

Hanya dengan menyentuh temboknya, kita bisa memahami perasaan sunyi sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

/40/

Kelak, di Padang Asphodel, kita kan mengerti, pagi adalah segala sesuatu yang tumbuh, tanpa harus dipermainkan cuaca.

— 20 Maret 2012 —
Ulang Tahun ke-72 Sapardi Djoko Damono

/41/

Sebab waktu adalah jalanan berbatu, Tuan. Tanpa darah, kita tak dapat meninggalkan jejak apa-apa, ketika berjalan di atasnya.

/42/

Sebenar-benarnya hidup, Sapardi, adalah cahaya yang tak pernah mampu dilumpuhkan usia.

/43/

Dalam kerja yang sederhana, Sapardi, aku mengenal cinta.

21 Maret 2012 (Lomba Puisi)

/44/

Sebab hidup adalah dongeng besar, Hans, yang tak pernah lelah menulis dirinya sendiri.

/45/

Di stasiun tempat penantian subway itu, Du Fu, hujan yang baik jatuh membasahi benih yang kautanam.

/46/

Kini, rinduku seperti benang pendek yang ingin menerbangkan layang-layang melampaui batas dirinya.

/47/

Di rumah itu, tinggal seorang penyair yang hidup sendiri, semenjak matanya buta, ia tak pernah lagi merasa kesepian.

/48/

Sejak kenangan menjadi asing bagimu, Orpheus, masihkah kaupercaya, cinta dapat tumbuh, meski dunia tak lagi memiliki musim?

/49/

Di padang Asphodel, Eurydike, cinta hanyalah keadaan tak terbatas, di mana hidup tak lagi mendenyutkan apa-apa, selain lupa.

/50/

Tersenyumlah, Eurydike, sebab rindu membuatku paham: betapa indah kematian itu.

/51/

Pukul 17.00, aku membayangkanmu sebagai awan, yang lebih abadi dari senja itu sendiri.

/52/

Malam yang sendiri lebih angin dari dingin di musim apapun, begitu pun rindu.

/53/

Rumah tanpa jendela adalah penjara, begitu pun rindu.

/54/

Adakah yang mesti diingat, dari genang air di sawah yang baru ditanami, selain sesuatu yang kelak harus dikenang, dengan senyuman?

— 1 April 2012 —