Tag Archive: Sajak kepada


Sajak Sepotong Lilin

Sajak Sepotong Lilin
: @susyillona

Dua cangkir teh
sepasang mata memejamkan cahaya
sebuah kehilangan datang begitu saja—
ketika kita sadar
di masa depan
: segala hal pasti berlalu.

Pemandangan di lepas jendela, begitu jelas
menyiratkan segalanya
: senja telah padam, dan rindu
hanya siluet tak berujud
di redup hidup.

Namun, selama harum musim
tak pernah mampu
dihapus jarak
usia selalu tabah
menziarahi masa lalunya sendiri.

Sekarang
biarlah aku menyala, tanpa memikirkan
apa jadinya nanti
aku hanya ingin, mencintaimu lebih jauh
dan menuliskanmu
sebagai puisi — sebagai aksara
di lengang udara.

Sebelum waktu merengut
kata-kata dalam jiwaku
dan usia — kembali memeluk kesepian
: di rahim ibu.

Selamat meniup lilin
biarkan cahayaku jatuh di dadamu
sebagai doa
dan kita.

8 Maret 2012

Iklan

Melamunkan Senja

: Kepada Amresza di Jakarta

Aku selalu mengenal
senja di kotamu
meski musim sedang hujan,
seperti pula
kenangan di hati kita.

Aku senang menengadah,
menangkap cahayanya
di mana rindu biasa berguguran
lalu hinggap di telapak tangan kita

Aku bahagia
bilamana
engkau menjadi kenangan kecil
seperti juga hal-hal lainnya
dan kita, mengabadi dalam
rindu sederhana.

Namun, Tuhan
bagaimana aku bisa mencari
segala yang kini disembunyikan waktu?

— 8 Februari 2012 —

Teringat waktu hujan turun di kotaku
langit terlihat basah seolah sedang berduka
ada setetes doa dalam teduhnya hening
di mataku.

Dan kala hujan reda, benang air mataku
mengembun sampai langit dan menjelma bianglala —
di sana kau melihat, rasa rindu
terurai penuh warna.

Pelangi pun tersulam dengan indah di tepi ufuk.

Seusai hujan
senja menjadi begitu teduh berhias lembayung
aku tahu kau pasti menyukainya.

Andaikan rindu
hanya seperti sekuntum lili di depan jendela
di mana engkau selalu hadir sebagai embun
hingga lemah tubuhku, pelukmu selalu.

— 19 Februari 2012 —

• Lagu dan Syair oleh Rafael Yanuar
• Tautan unduh ada di sini

Catatan

• Lagunya direkam hanya dengan gitar, semoga nanti bisa direkam di studio juga.

• Harap maklum bila suaranya terdengar lemah, soalnya dinyanyikan sambil ditemani flu dan demam =|.

• Aku tuliskan teruntuk sahabatku, Kak Lala dan Kak Lily. Coba perhatikan, ada embun, bunga lili dan bianglala dalam liriknya.

• Semoga berkenan dan bisa dinikmati. Salam =).

SECANGKIR KOPI UNTUK SAUDARAKU DI BALI

Kepada kakak, guru sekaligus saudaraku di Bali, @daprast.

Masih hangat dalam ingatan ketika kakak menyeduhkan secangkir kopi di hari ulang tahunku, dan aku begitu menikmati sesap demi sesapnya dalam diam, dalam renung. Mungkin benar, ada waktunya kita harus bernapas dan meminum secangkir kopi tanpa memikirkan penat usia–seolah dalam hidup hanya ada kita berdua, di mana tak ada kebahagiaan lain selain berbagi. Mungkin ada baiknya kita mengatur jadwal dan bertemu, sekadar membicarakan puisi, membuat Tuhan tersenyum melihat keakraban kita.

Masih hangat dalam ingatan, ketika kakak menepuk pundakku dan menyuruhku melepaskan seluruh beban dalam jenak. Tepukan kakak membuatku sadar–ada baiknya sesekali aku membuka jendela, dan merasakan udara segar menyentuh penat pikiran. Tiba-tiba saja hatiku dipenuhi rasa lega, dan matahari, bersinar lebih ramah.

Kakak, aku belum pernah ke Bali, sudah lama aku ingin menikmati panorama mistis di Ubud dan suasana ceria di Kuta. Aku juga ingin mengajak istriku berbelanja banyak sekali di Denpasar. — mungkin ketika kesibukan mulai mengendur, aku bakal terbang mendatangi rumahmu di sana. Sekalian memaksamu memberitahu tempat makan yang enak.

Kakak, aku tak bisa menulis panjang dulu. Entah kenapa, ketika terserang flu, aku kesulitan merangkai kata. Namun izinkanlah aku mengutip kembali puisi yang kakak tulis di blog. Aku tak pernah berhenti terharu ketika membacanya.

Kopi Ulang Tahun untuk @opiloph

Sahabat, kemarilah;
temani aku duduk menikmati fajar yang masih hangat di teras rumah;
kita urai bersama mimpi-mimpi yang belum terjamah;
sambil menikmati kopi pagi dan biskuit beremah.

Sahabat, duduklah;
mentari memang ‘kan meninggi lalu merekah;
sudah takdirnya harus hangatkan hamparan ladang dan sawah;
yang oleh hujan semalam dan embun sepagi, dibuat basah.

Sahabat, tunggulah;
senja tetap ‘kan menyapamu di ufuk barat, tak usah resah;
sejuta angan dan seribu ingin, tak bisa semua terejawantah;
sudah, buang saja semua gelisah.

Sahabat, teguklah;
cangkir kopi keberapa ini akupun entah;
lihat saja pagi esok yang masih mentah;
teriknya akan keringkan segala gundahmu yang resah.

Sahabat, rebahlah;
karena kita tahu muasal kita: tanah;
karena kita sadar sejati kita: lemah;
pada Sang Empunya jagad kita mestilah pasrah.

Selamat ulang tahun, Rafael Yanuar!

Terima banyak kasih, Kakak =).

— 20 Januari 2012 —
Dengan memanggil kakak, sepertinya aku terlihat lebih muda dan imut. Benar kan, Kak? (Diblender)

DARTH VADER DI SUATU BUKIT BATU

Kepada @Dhanzo, dokter, pendongeng dan serigala penunggang angin.

Benar. Ada banyak padanan kata jahat. Beberapa di antaranya — kejam, keji, menakutkan, mengerikan, psikopat, berperilaku selayak psikopat dan terakhir, tentu saja, Darth Vader. Selain menjadi salah satu tokoh sentral di serial Star Wars, Darth Vader juga dikenal sebagai tokoh antagonis paling fenomenal di dunia perfilman. Aku tak pernah benar-benar menyukai Star Wars seperti Ted Mosby dan kelompoknya di drama komedi How I Met Your Mother, tapi skena Darth Vader menghancurkan planet biru dengan satu tembakan tentu masih terngiang-ngiang di benak! Namun, di balik topeng hitam dan takdir pilihannya, ia tetaplah seorang ayah. Ia rela mati demi menatap dengan mata-kepalanya sendiri, bagaimana sosok putra kesayangannya, Luke Skywalker (spoiler). Barangkali benar kata pepatah, sekejam-kejamnya harimau, toh ia tak mungkin mencelakakan darah dagingnya sendiri.

Bertahun-tahun setelah demam Star Wars mulai mereda di hati dan pikiranku (uopo), tiba-tiba saja kamu memakai avatar tersebut–Darth Vader tengah berdiri di suatu bukit batu sedang memayungi seorang bocah. Di sana, suasana terlihat begitu tenang dan bersahaja. Namun juga unik. Di mana lagi kita bisa melihat, salah satu manusia terkejam di seluruh jagat raya, sedang menemani anak kecil melihat bunga-bunga? Caramu meramu lukisan tersebut benar-benar membuaiku, sampai rasanya penting untuk meminta gambarnya dengan resolusi penuh. Jadi, beginilah jika surat dicampuri dengan keinginan pribadi penulisnya. Pamrih? Biarin! Minta gambarnya, dong! (=_=)V

Aku juga ingat bagaimana kamu menuliskan dongeng tentang buku gambar dan keajaibannya, sampai aku benar-benar menganggapmu seorang ‘pendongeng’–seperti salah satu cita-citaku. Pendongeng selalu mampu membuatku terkagum, karena ia bisa menjembatani khayalan dan kenyataan dengan sangat menakjubkan. Lagipula, sedari kecil aku selalu menyukai dongeng–dan hal tersebut membuatku ingin menulis dan menerbitkan buku dongengku sendiri. Aku juga bisa menebak, kamu pasti menyukai serigala, seperti julukan kerenmu, ‘Serigala Penunggang Angin’.

Terakhir, aku terlambat menyadari bahwa kamu seorang dokter dan hal tersebut benar-benar membuatku tertegun, karena berarti kamu luar biasa dan serba bisa! Kamu lihai berfiksimini, menulis cerpen, bersajak, mendongeng, bercerita hangat, lelucon, bahkan mengadministrasi salah satu akun termoderasi paling terkenal di Twitter, @Syair_malam. Mau tidak mau, boleh tidak boleh, aku pun menjadi pengagum (sekarang bukan lagi) rahasiamu.

Oh, kamu pasti kecewa karena penulis suratnya laki-laki, tapi gambar Darth Vader di tengah bukit batunya boleh kan aku pinta? =P

Salam,

Raf

— 19 Januari 2012 —
Katanya, karena topengnya, Darth Vader tak bisa melihat sampai bagian dada. Aku jadi mengerti betapa tersiksanya dia.

Akhir Zaman

AKHIR ZAMAN

Hai, Amalia, aku mau menceritakan satu hal padamu. Kau boleh membacanya, boleh mengabaikannya. Namun aku harap kau mau membaca baris terakhirnya, jika ternyata paragraf pertama saja sudah dapat membuatmu mengantuk. Sebelum kaujenuh membaca basa-basinya, aku mulai saja suratnya =).

Oh, aku juga menyelipkan dua sajakmu sebagai inspirasi.

/1/

aku mungkin hanya ingatan samar di kepalamu, potret buram di pigura kenangmu–kau pahami sebagai cinta yang gegas.
— @ama_achmad

Aku bayangkan. Di masa depan, ada virus mematikan dan hanya menyerang manusia. Saking hebatnya virus tersebut, hanya dalam satu hari, Homo sapiens mengalami kepunahan. Bumi pun menjadi kota mati tanpa kehadiran kita–manusia. Bangunan-bangunan, meskipun masih berdiri tegak, terlihat begitu menyedihkan–temboknya lembab, rumput menyembul di keramiknya, di sudut-sudut ruangan, kecoak, tikus dan laba-laba membangun bahtera keluarga. Rumah-rumah menjadi bongkahan fosil dipenuhi ngengat dan ular, kolam renang lambat laun mengering dan dipenuhi rumput liar. Hanya dalam hitungan abad (mungkin satu abad saja), tiba-tiba ada hutan rimba di seluruh bumi. Kota besar dan segala kemewahannya tak lagi tersisa, benda-benda an-organik–seperti kaca, plastik dan sebagainya, meskipun memakan waktu berabad-abad, pada akhirnya toh terurai lagi menjadi komponen tak berbahaya seperti muasalnya.

Lantas, bagaimana kita bisa menandakan, bahwa kita pernah ada? Kita–manusia, selalu merasa sebagai spesies tercerdas dan terpandai, namun kenyataannya seringkali terbalik, spesies terlemah justru dapat bertahan lebih lama. Sudah berjuta-juta tahun dinosaurus punah, sementara kecoak masih ada sampai sekarang, bukan? Lalu, bagaimana aku bisa mempertahankan abadinya cinta jika aku sendiri begitu sementara?

/2/

senja lindap di peron stasiun, menyisa aku di bangku tua bersama sebuah tunggu purba–kereta yang dinanti tak kunjung tiba
— @ama_achmad

Barangkali, Amalia, ketika manusia punah, hanya dalam hitungan tahun, peron tempatmu menunggu sudah dipenuhi pohonan rimbun. Di sana, ada dua anak sungai mengalir jernih, menemani rel-relnya. Sementara kereta tua di sudut stasiun sudah dipenuhi burung-burung dan laba-laba, rumputan dengan cepat merambat di trotoarnya, dan bangku tempatmu duduk sudah melapuk dimakan rayap–bahkan deritnya tak lagi terdengar. Seketika, tercipta taman firdaus mini di sana, di mana surga seakan mengabadikan segala penantianmu–selaksa rindumu.

Namun, Amalia, aku selalu percaya, meskipun alam semesta kelam dan peradaban punah, pasti ada sudut-sudut abadi di balik setiap kehilangan. Sebab, akhirnya aku mengerti, — kamu, seperti halnya cinta, tak akan pernah tiada =).

Salam,

Raf

— 18 Januari 2012 —
Sebagian terganti, sebagian tak terganti. Sebagian menghilang, sebagian abadi

More Than Lemonade

MORE THAN LEMONADE

Pada @falafu.

Hujan sedang menderaskan sunyi ketika aku menulis surat buatmu. Rinainya mengabur bersama lampu kota, mungkin beberapa rintiknya bersembunyi di dalam lembaran kertas. Entahlah. Hanya ada kata-kata di sudut hati, membisiki.

Salam kenal, Falafu.

Kau mungkin tak mengenalku, meski aku begitu akrab dengan karya-karyamu. Puisimu sering hadir dalam linimasaku, meski dalam bentuk retweet. Setiap membacanya, aku merasa kecil sekali. Bagiku, syair-syairmu bagaikan jendela, menghubungkan luar dan dalam, di mana hati dan pikiran menjadi pemandangannya. Terkadang, aku melihat hujan mengembun di sana, menyajikan suasana buram di seluruh halaman–dan setelahnya, bunga-bunga pasti tumbuh, menjelma kuntum dan rekah, dalam senyummu.

Selebihnya, aku hanya tahu, kamu menyukai langit. Ruang tanpa batas tempat ingatan berkelebat dalam bentangan sunyi, tempat rindu tak lagi memiliki tepi. Kini, setiap kali memandangnya, aku selalu teringat padamu, dan seketika, waktu pun menjadi senyap melebihi puisi.

Tadi pagi, aku baru saja mengunjungi blog-mangkukmu. Ada fotomu di situ. Ternyata, hanya seperti mimpi-mimpi dalam tidurku, senyumanmu hangat begitu saja. Sementara di matamu, pertemuan-pertemuan menjelma puisi paling sunyi, di mana setumpuk kenangan, seolah mengendap di dalamnya. Kau tahu, aku punya satu lagu kesayangan, dan liriknya mungkin dapat melukiskan indah mata dan senyummu =).

I really love your smile
tender and bright like an ice cream melting on lips
I really love your eyes
bracing my heart like a lemonade and in summer day falling rain

T-Square featuring Suh Young Eun – More Than Lemonade

Falafu–aku harus memanggil Fa atau Fu?–berhubung ditulis di tengah jam kerja, aku tak bisa berkata banyak tentangmu. Tapi, seperti batu-batu di musim kemarau, pun daun-daun digurauan bayu, ada yang tak dapat diucapkan kata, bukan? Dan aku yakin, kau pasti lebih tahu–melebihi siapapun, bahkan aku. Maka, berikan saja satu senyummu padaku, tanpa ragu. Biar ingatanku dapat terus menjangkau hadirmu, menuliskan bait-bait rindu, di hatiku =).

Salam,

Raf

— 17 Januari 2012 —
Bait terakhir rasanya terlalu emosional.

Gembala

GEMBALA

Di dalam puisimu, Sahabat
kau selalu ikhlas
memandang sebuah cinta
dan menanamkan waktu, di setiap baitnya.

Di sana, aku hendak meneteskan embun
— sampai tangan-tanganmu menyiratkan cahaya
dan menangkap perasaan santun
di selembar hatiku.
Semoga engkau tak hendak berhenti menulis
supaya aku, tak habis-habisnya membaca
: baitbait cinta, di sudutsudut puisi.

Selamat ulang tahun, Sahabat
engkaulah gembala, di lapang jiwa
— menuntun jejak rindu menjadi doa
menunjukan ranah sehijau zamrud
di mana rerumput menjelma ranum.
Engkaulah penunjuk mata angin
bersiup kemerisik sunyi —
di mana doa-doa
khusyuk memazmurkan cinta.

— 22 Desember 2011 —

Puisi ini aku tulis buat sahabatku Kevant Sanders @pembuatmimpi yang hari ini berulangtahun. Karena sekarang (juga) hari ibu, puisinya jadi terbawa suasana haru =|. Well, bagaimanapun klisenya, aku suka doa ini –> Wish you all the best. Tuhan memberkati! =D

Angin

tentang rindu, aku mengenalinya dari sepoi angin yang mengecup ubun-ubunku lalu meletakkan embun di sudut-sudut mata.
— @ama_achmad

ANGIN
: Ama Achmad

Aku Angin, dan memang benar-benar angin, lebih ingin memandangnya di kejauhan, menikmati indahnya tanpa perlu memilikinya, membelai rambutnya tanpa harus menyentuhnya. — aku hidup dalam bayang-bayang perasaanku sendiri, dan merasakan jantungku berdenyut karenanya.

Namanya Rumput, ia biasa menghabiskan senja di padang ilalang. Pandangnya begitu telaga, mengalirkan jernih selendang cahaya. Hanya dengan mengedipkan mata, dia sanggup memberi lebih banyak debar di dadaku. Taman-taman asri pun tercipta, menjelma rumah bertabur cahaya, karena kehadirannya.

Di tengah kami, sepasang anak sungai paling jernih, mengalirkan puisi.

Rumput tak pernah mengenalku, meski aku tak habis-habisnya terkesima, menyebut namanya. Sebuah pekik kagum berhembus bersama bisik napas. Tatap penuh kenang, membawaku pada bianglala alam semesta. Di tepian senja, aku melabuhkan puisi, sebelum rindu memaksaku berjalan pergi.

Sedang di atas sana, langit pernah tak peduli, siapa di antara kami yang sebenarnya tak ada.

— 12 Desember 2011 —

Laurel

LAUREL
: Teresia Lily

Pohon salam tumbuh di tepi telaga
daun-daunnya berjatuhan di jalanan
di sampingnya, sungai pantulkan cahaya bulan
putih salju bagai tatanan tata surya.

Jernih pandang selendang sungai
cerlang bintang tebas gulita.
Engkaukah, turun sebagai kenang
menjelma sunyi, di hening semesta?

Kemarilah, temani aku menulis cinta
sebelum daun-daun
menjelma tumpukan rindu, di hati kita.

Datanglah, bantu aku menulis cinta
sebelum waktu
menyimpannya di lubuk semesta.

09 Desember 2011