Tag Archive: Rindu


Sore


Aku berjalan melenggang angin yang tenang, kala burung-burung pulang ke barat. Mereka mencari kehangatan di sekujur tubuh – meski musim penghujan masih jauh. Aku senang melihat senja dalam keremangan lampu kota, kala malam mulai menanjak. Dan di antara kabel-kabel listrik pembingkai ingatan, kulihat wajahmu bersua. Kakimu melangkah di bentangan jalan, ketika semua lelap dalam pitur bintang. Di relung kamar, kutemukan secarik puisi – berisikan dongeng masa kanak. Lama terpagut debu di kolong meja, berteman kardus pengeja masa.


Itu puisimu, kau tulis dalam lusuh kertas

Renjana


Hari ini pun merupakan lingkaran janji yang semakin gamang


Vi, Ingatkah aku pernah menuliskan risau demi menekur rindu di dada, padamu? Sebagai anak sepi yang tak pernah lelah mendaki. Alangkah sunyi pendakian itu, aku takut tak bisa menafsirkan kegetiran batin – saat diam menuju ketiadaan. Tanpamu.


Vi, gerimis kini mengaliri batinku, demi sekembang senyum aku menentang dingin. Ingin kulantunkan lagu selain rindu, melepas ragu sekedar ingin bertemu, bukan mematung memunguti puisi yang terserak di halaman kalbu.


Vi, Hujan semakin ranum laik panah sepi yang tak henti menghujam. Tapi kuingin kau sedia berbagi – meski hanya lewat secarik balas. Aku ingin mendengar janji itu sekali lagi, saat kau dan aku berdiri di lintang gerimis, dan kita saling berbisik


Dalam remang ingatan – hatimu hatiku tetap terkait.


Tak ada yang lebih mesra
: dari ranahati
saat kosong mengisi tiap sisi

sampai sayup Kau datang
bertutur sapa seperti napas
senja nan ramah


Tak ada yang lebih indah, Tuhan, tak ada!
dari pelukan sepi saat aku berkata “rindu”
bersama nanar kelopak mata
terkikis sapuan angin kerontang


Sampai Kau tutup senja dengan peluk
: aku dan hatiku


Rafael Yanuar (7 Januari 2010)