Tag Archive: Masa Kanak


di trotoar yang berkilau sehabis hujan,
aku melihat kita berjalan
meski tidak bergandeng tangan,
karena kau dua langkah di depan,
kau memegang tas yang mengapit di pundak,
dan tersenyum padaku,
seolah baru saja berhasil menyelesaikan
kisah-kisah lucu yang setiap hari kita jumpa.
aku lupa membicarakan apa,
tapi hari-hari yang kita lalui bersama
masih membekas,
menjadi harta yang tak tergantikan.

meski berpaling, aku tahu kau tak ada
tapi aku yakin sekilas mendengar suaramu,
mungkin hanya masa lalu yang membisiki hatiku.
kini, sisa-sisa hujan membuat seluruh kota
memancarkan aroma sunyi yang berasal
dari angin yang berembus
melewati jalan-jalan lengang.

saat pepohonan, begitu juga senja,
membuat seluruh kota berubah sepia,
aku menyadari tak ingin beranjak.
biarlah pemandangan di depanku
menjadi kenangan yang mengabadikan
seperti daun-daun merah di bangku halaman,
di samping ayunan ban bekas
yang mustahil kita mainkan. lagi.

Desa Tukdana
Senin, 10 Oktober 2016

Baca lebih lanjut

Pohon Jambu Liar

ingatkah kau dengan pohon jambu liar
yang tumbuh di halaman sekolah,
yang buahnya kita petik saat libur kenaikan kelas?
adakalanya aku ingin kembali
pada masa-masa itu,
mengulang segala hal yang lebih sederhana
dari yang mampu dibisikkan angin
pada gemerincing lonceng di depan gereja
pinggiran kota.

kadang, jika dipikirkan lagi
masa lalu terasa sendu,
seolah kita hidup di dunia
yang hanya memantulkan warna sepia,
seperti potrait yang kita simpan
di buku harian masing-masing—
meski aku sudah lama menghilangkannya
bersama seluruh kenang yang tercatat
di lembar yang kauberi.

pohon jambu itu kini tampak tua
dan aku tak pernah mendatanginya lagi,
apalagi memanjatnya,
memikirkan ulat bulu
yang menempel di rantingnya saja
aku sudah geli—
padahal dulu kita jadikan mainan,
aku membayangkanmu berkelakar.

ia masih juga liar
setelah tahun-tahun yang kita lewati,
juga hari-hari yang kita jelang sendiri.
tapi mungkin tidak,
dalam relung hatinya yang terdalam,
ia pernah merasa kita miliki?

Jatibarang,
Minggu, 9 Oktober 2016
—mendung, habis hujan.

Baca lebih lanjut

1.
Markas Rahasia

jika kauberjalan ke arah selatan
di belakang sekolah yang catnya
sudah mulai mengelupas
akan kautemukan sebuah bukit
ditumbuhi ilalang setinggi lutut,
dan aliran sungai
yang suaranya semerdu tawa kanak-kanak
ketika bermain petak umpet
di antara baris pepohonan.
tentu, jika kau mau bersabar
dan melangkah sedikit lebih jauh
tersembunyi di antara ranting-ranting rendah
sebuah markas rahasia
tempatku biasa berkumpul
bersama teman-teman.

tak ada yang istimewa sebenarnya,
kadang kami hanya bermain gameboy
dan bertukar stiker kartun
yang diam-diam kami ambil dari rumah.
tapi rasanya menyenangkan sekali!
meski hanya gudang beratapkan seng,
di sana, kami tak perlu memusingkan
pr dan ujian.

jika jenuh dan kebetulan cuaca tak terlalu terik
kami biasa berjalan menyusuri jembatan
sambil meramalkan
apakah goku bisa mengalahkan frieza
di episode dragon ball berikutnya?
lalu, tanpa sengaja, kami sudah menirukan gaya “kamehameha”
dan menentukan siapa kawan siapa lawan.
bahagia meski hanya kami yang berada di kota
selama libur sekolah.

kini, tahun-tahun telah berlalu
ada rasa segan ketika melangkahkan kaki
memasuki kusen tak berpintu
dan menjenguk kenang-kenangan di dalamnya.
tetap saja, seberapa keras usahaku
masa lalu tak mungkin kembali.
langit perlahan-lahan berubah merah
seiring suara angin yang berbisik di kejauhan.

karena selalu ada baris tak tercatat
rahasia yang mengekal bersama usia—
kotak kenangan yang mustahil dibuka,
aku duduk memandang langit,
tanpa merisaukan banyak hal yang tak lagi
mampu kujangkau.

2011

Baca lebih lanjut

Bermain Petak Umpet

masih ingatkah kau
pada permainan petak umpet
di halaman sekolah dasar?
bila mengenangnya,
aku dapat melihat lagi
barisan forget me not
yang tumbuh di belakang jendela ruang guru
—tempatku biasa bersembunyi.  

pernah kita duduk bersisian di sana.
sambil menunggu ditemukan
kita membicangkan cita-cita
         janji bersama saat libur kenaikan kelas
         meskipun pada akhirnya kau sendiri, pergi
.
tetap saja tak ada yang datang
meski lonceng telah berdentang
dan kita lambat menyadarinya.  

berjalan tanpa suara di lorong kosong dan senyap
bergetar membayangkan hukuman apa
yang kelak kita terima
belum apa-apa, matamu sudah berkaca-kaca.  
lalu, ketika guru menjewer telinga kita
seisi kelas terkikik pelan
membuat pipimu semerah udang.

ah, mengenangnya kembali
aku jadi bertanya-tanya,
apa kabarmu sekarang?
masih ingatkah padaku?
pada semua hal bodoh yang kita lakukan?
entah kenapa
memikirkannya membuatku sedih dan terluka.
seolah di antara tahun-tahun yang berlalu,
juga segala hal yang tak lagi kita miliki
masih ada pertemuan yang harusnya bisa kita jelang,
seandainya saja egoku tak terlalu besar
tuk sekadar mencari, dan mengawali langkah.

namun, semenjak tak menemukanmu
di hari pertama tahun ajaran baru,
aku sudah menyerah
dan melupakan kita,
tanpa menyadari,
mungkin saja di sana
kau menunggu ditemukan.
mungkin saja kau tak pernah
benar-benar bersembunyi?

15 Januari — 20 April 2016

Baca lebih lanjut

Rumah Sahabatku

kemarin,
aku mengunjungi rumah sahabatku
ia tinggal di sebuah desa
di ujung jalan kota,
hanya butuh berjalan sebentar
hutan kecil dengan sungai sejernih kaca
terbentang luas bagaikan tanpa tepi
—dulu, kami sering memancing hingga senja tiba perlahan.

rupanya warna kenangan tetap sama
sejak terakhir aku berkunjung
(kalau tak salah Januari sepuluh tahun lalu)
dinding depan rumahnya masih dipenuhi pepohonan
di balik jendelanya aku melihat
rak buku cokelat tua.

sahabatku datang membawa dua cangkir teh
begitu aku memasuki pagar rumahnya
di bangku halaman, kami berbincang lama
—ia masih sendiri, namun tak pernah sunyi,
sebab mataku
dekat dengan masa lalu
, ia berkelakar.

matahari tengah payah menuruni bukit ketika
kami terkenang masa kanak,
dia berhasil memancing banyak ikan
sementara aku tak mendapatkan apapun
(sejak dulu aku memang tak pandai memancing)
di sekitar kami,
pohon-pohon sedang khusyuk
menangkupkan dedaunan, dan rerumputan
seperti hendak mendengarkan percakapan.

ketika aku pamit pulang
dia berpesan padaku supaya lebih sering datang
sebab kenangan tak mungkin habis
dibahas dalam semalam
namun langit sudah hitam, dan lampu jalan
sebentar lagi pendar —
aku harus pulang, dan istirah, kataku,
sebab di kota, malam tak pernah panjang.

ketika hendak terjaga, aku melihat—
seorang lain masuk dapurnya
lalu memasak makan malam
dan mencuci cangkir-cangkir kotor,
aku pun tertegun
sudah lama aku merindukan
suasana damai tanpa merisaukan
tanggal esok merahkah?

aku pun meletakkan jaketku lagi, dan bertanya,
“sahabat, boleh aku menginap semalam?”
Ia tertawa, seolah berkata,
“kau pasti tahu apa jawabku.”

— 29 Maret 2012 —

Cita-cita

Aku tengah duduk di beranda
ketika angin sore mengalir hangat
dan lampu kota
membiaskan bara kenangan di benak,
entah mengapa,
aku dapat mengingat lagi
cita-cita lama
dulu terurai.

Aku nelayan tua dengan kanak-kanak lucu,
satu lelaki, dan satu perempuan
tawa selalu renyah setiap kali
aku pulang dengan ikan sekeranjang.

Kau istri dengan senyum paling hangat
sambutmu selalu mampu menenangkan
manakala tubuhku lelah
seharian bertahan dalam hempas gelombang.

Kelak, rumah kita dibangun menghadap laut
dalam peluk, kita dengar gemuruh
berdenyut bersama nadi-nadi hidup,
seolah ingin mengekalkan
setiap jeda peristiwa
dan perjalanan panjang,
kita rangkum kenangan ketika usia tua datang.

Sayang,
bila anak-anak telah rantau di pulau seberang,
aku ingin kau ada di sisi
memandang segalanya
dengan senyuman.

1 Mei 2012

Aroma Musim Panas

sampai selamanya
aku tak mungkin melupakan
pemandangan bunga rumput di balik pagar sekolah
kita biasa duduk dan menghabiskan jam istirahat
seraya berbagi kisah, berdua.

di sana, ada banyak cita-cita kita terbangkan
dengan kapal-kapalan kertas
meski sayapnya sering tersesat
dan tak pernah turun lagi.

kau pun tersenyum ketika menyadari
aku tak menulis apa-apa
selain sebaris ungkapan sayang
dengan namamu di dalamnya.

kini, setelah banyak tahun berjalan, adakah kaubertanya,
pada siapa waktu sebenarnya berdetak?

02 Februari 2012

Pemandangan di Jendela

sesekali,
aku ingin mengulang
masa kecilku kembali,
ketika bulan melindungi malam
dengan cahaya selembut pualam,
kau bersandar di lingkar lenganku.

kita kenang liku dan persimpangan,
di sepanjang jalan pulang,
daun-daun basah berkilauan
—seolah tiada apa pun
selain damai di kalbu.

lalu kau bergeming,
dan memutus langkah,
mendengar jangkrik dan cicada,
bertukar cerita.

kini, tak ada kunang-kunang,
apalagi dia dewi purnama,
hanya lampu-lampu beku,
dan kelam semata
menghias langit di kota.

di bawah mendung kelabu,
di detik-detik mengabu
di terik malam membiru,
lihatlah,
hidupku baik-baik saja tanpamu
namun tetap lebih baik
bila kau bersamaku.

mei, mari kita lalui lagi
jalan setapak menuju rumah
tempat kenangan terhampar
bersama rekah bunga
di setiap perhentian.

dan andai nanti kau mendengar,
angin berbisik di lerai daunan basah,
ingatlah kita pernah memiliki
malam selembut suara hujan.

ricik jernih sungai di bawah jembatan
juga deru kereta di perbatasan desa
masih pilu merindukan kau, mei,
bagai hening kersik rerumputan di senja jauh
ketika langit mendekatkan kau
pada kenangan.

mei, masihkah kauselipkan kisah kita
di kelopak bunga-bunga?
sungguh aku ingin bertukar tanya
meskipun duka
menanti di ujung kisah.

_@_

Kota Cirebon
1 Juni 2012

Kota Putih

dalam ingatanku
di kotamu, hujan senantiasa turun,
bila rintiknya menembus jalusi,
kaurangkai di halaman rumah
bunga-bunga kertas
dan sepucuk perahu
—hanyut di seberang
jalan setapak.

tujuh tahun berlalu,
semenjak lambai tanganmu
mengantarku pergi.
aku tersadar segalanya sudah terlambat.
tak ada rambut cokelatmu di sini.
hangatnya senja tak lagi mampu
menyinari senyummu.

aku juga tak mengerti
kenapa bisa begini bebal, dan bodoh,
selalu menunda langkah
menemuimu?

namun,
ketika hujan berhenti,
setelah rindu membuka waktu kembali,
mungkinkah sekuntum bunga tumbuh,
di telapak tanganmu
dan menjelma kupu-kupu,
dengan sayap
seindah matahari?

bukankah kau malaikat,
kini?

2012