Tag Archive: Kolaborasi


Bisikan Terindah

BISIKAN TERINDAH

Terkenang aku pada barisan bunga-bunga
berjejer rapi di tepi taman
Langit bulan September mengiringi langkah kita
dan bumi masih saja menangis.

Anehnya, aku terbiasa pada mendung, gerimis, hujan
bahkan pada umpatan-umpatan alam
Seperti sejarah yang tertuang
dalam kenangan kita.

Pada rekah musim
kata-kata seperti ingin menangkap segalanya:
kupu-kupu di rindang pepohonan
cericit burung di tepian kolam
dan senyumanmu — rekah dalam kerangka ingatan.

Di sanalah, kita mampu menembus waktu
dan menghalau jarak.
Meski terkadang, hanya ada ritme suara lesat air
menghantam bumi
namun, begitulah bisikan terindah pernah aku dengar.

Dan ketika waktu merenggut kita dengan banyak cara
takdirku sempurna sudah
cinta dapat membutakan mata —
untuk sekadar melihat
dalam sinaran samar
: semesta.

Husnan dan Rafael Yanuar (27 September 2011)

Rintikan Rinduku

RINTIKAN RINDUKU

Hatimu adalah batu, berlubang sedikit demi sedikit
oleh rinduku
di waktu, yang entah kapan akan bertamu.

Hatiku yang batu
telah ditumbuhi lumut nan lembut
sebab engkau seolah hujan — yang membuatnya hidup.

Hujan
rintiknya telah menyamarkan air mata
meski musim menggugurkan seluruh dahan
yang menopang kerinduan ini.

Tahukah, aku ingin menghadiahkan hujan padamu
dan kita, berlindung di bawah payung.
Membiarkan hati — saling bersentuhan.

Tapi, apalah arti sebuah sentuhan,
bila bisikan cintamu saja
mampu luruhkan segala resah
pada hati — yang tak lagi lelah menanti.

Maka tersenyumlah
tikam hatiku dengan pisau rindu
biarkan darah menetes di batu
sebagai tanda, betapa keras aku menantimu.

Kolaborasi bersama
Olga Leodirista dan Rafael Yanuar (02 September 2011)

Kolaborasi dadakan dengan @Olga_imoet di twitter, ternyata hasilnya apik. Sila dinikmati =).


Kisah terangkai pada cengkrama malam
di bawah semburat purnama dan kemilau bintang
canda tawa menutup jejak tapak nestapa
: lukisan indahnya persahabatan


Seberkas sinar melintasi perbukitan
mengecup mesra rerumputan dan padang ilalang
menghalau bayang bayang
Siluet tercetak:
Kuda putih menggeliat, merentang sayap-sayap perak
membagi asa dalam kepak
Serupa kilau tajam pena sang samurai, menggugah ikrar
Terpatri pada senyum tulus teratai ; sempurna


Kemilau surai emas sang singa menyimpan bijak laksana
Kucing gurun sembunyikan cakar, matanya memancar tegar
Terpukau hening bening permukaan danau khazanah
Alirkan kesejukan


Pada satu belahan daratan
jiwa jiwa tertanam; teguh
Pada biru gelombang lautan
ada hati terikat; erat


Malam berlalu
Cahaya mengalir memendam kilau bintang
mengubah kelam menjadi terang
memadu syahdu simfoni persahabatan


Pada mereka, jiwajiwa kelana langit
Bertuliskan nasib seperti bintang
Bersama mengitari hutan jagat raya
Sampai pada fajar, berderap langkah bersama


Mendekatlah, ulurkan tangan
satukan genggam menuju singgasana matahari
tempat cahaya membiaskan warnawarni pelangi pada gemericik tirta
dari Hippocrena hingga Paviliun Naga


tempat kisah bersuanya jiwa terangkai di bawah lampion jingga
terukir abadi dengan tinta emas, cemerlang serupa petir
menyampaikan salam, nun dari Koria
saat bisikan angin sabana terhampar mengalun lembut
jauh menjangkau tanah semenanjung, menyapa Jawadwipa,
Celebes hingga Andalas
Di sisi Mahakam seorang gadiskecil menguntai senyum
padanya terukir jejak kebahagiaan jiwa kelana


Dengar….. dengarlah, ….rasakan…
nyanyian kodok menemani musim penghujan
nyanyian unggas membawa warta
Pada musim semi abadi, satu kata tumbuhkan seribu nyawa
Floresence….musim bunga!
Ketika tanda-tanda baca menghunjam isyarat makna
dari kelopaknya kudengar nyanyian indah persahabatan
memacu melodi rasa hingga tercipta harmoni mesra
kala khilaf dan maaf saling melengkapi
tinta cerita terangkai bagai pelangi


Kemarilah…ulurkan tanganmu, sobat,
yang jauh … yang dekat…yang tinggi atau rendah
dimanapun dan kapanpun berada…
Kita bersama melayang, menyapa buana
Berkalung butir tasbih parahamba
Meliuk sukma ikut alunan angin ke mana membawa
Sebab bersamamu
Jiwa takkan pernah sendiri


Pada daratan, pada lautan dan atmosfer baka
Menyelam dalam satu lentera; Cinta!
Mengantar daras puja dan doa, hanya padaNya
– pada akhirnya…


180409

Kolaborasi bersama:
Ika, Micka, Mitsu, Nalda, Resa, Yanuar
Balikpapan – Surabaya – Jakarta – Medan – HK – Cirebon