Tag Archive: keluarga


Surat Kecil (30 – 31)

30
hai, istriku.

aku bertanya-tanya apa yang kaupikirkan saat memandang langit pukul tujuh pagi, di beranda kecil kita. mungkinkah kau tengah melukis awan, dalam kalbumu? mencari tenang di sela-sela embus bayu? aku tak tahu. namun, aku selalu rindu memandang matamu yang senja—yang membuatku menemukan masa silam, sebagai kehangatan yang menyertai hidupku.

tanpa terasa, pohon yang pernah menjadi tempat kita bertemu, kini tampak tua dan bijaksana. kenangan yang tertanam di rantingnya tetap mekar seolah tak pernah beranjak dewasa—sepertinya, hanya ia saksi kita yang tersisa, saat dunia beranjak renta.

bagaimanapun, aku bersyukur kau masih di sisi. setelah banyak tahun kita lalui, perasaanku tak berubah sedikitpun. kau masih secantik pertama jumpa. senyummu tetap memesona berapa kali pun aku pandang.

istriku,
bolehkah aku tetap menjadi pundak bagimu bersandar? menyanyikan lagu bila kau termenung duka?

31
bila raga menua, dan rambut memutih, aku harap kau dan aku tetap saling memiliki. kau ada bagiku. aku ada bagimu. bertukar senyum dan pelukan. bahkan saat hari-hari tak lagi memandang kita. dan dunia seolah-olah mendiamkan kita.

kaulah alasan bagiku bertahan.

ada kalanya waktu bagai malas berdetak saat kita coba melangkah. tapi cinta mampu membuat raga yang membisu kembali bicara. takdir adalah cara semesta menyediakan ruang kosong di roda kehidupan—yang membuat kita bergerak.

Cirebon,
26 Oktober 2008

Baca lebih lanjut

Senja di Karangampel

di kilometer menuju pulang
saat itu pukul enam sore
di atas roda yang melaju
melintasi jalan-jalan sunyi,
aku saksikan
senja turun perlahan
menyapa tanpa suara,
mungkin padu antara
biru pada langit
dan merah matahari
ia violet, bagai sumire.

di ufuk sebelah barat
bulan sabit mungil
muncul malu-malu.
seperti pohon apel
ketika musimnya berbuah
: ia putih cemerlang
seindah senyummu di kenang.

“di langit mana rindu
kausimpan?” kau beringsut,
dekat padaku.
“aku tak menyimpannya, sayang.
aku membawanya. bersama seluruh senja
yang kaujaga dalam jantungmu.”

_@_

Dalam Perjalanan
Karangampel — Jatibarang
Hari Kedua Idulfitri, 2 Syawal 1437
Kamis, 7 Juli 2016

Baca lebih lanjut

apakah titik-titik yang menyala
dan bergerak di jalanan kota itu
adalah lampu kendaraan
yang berlalu di senyapnya malam

atau kunang-kunang
yang menyamar sebagai pendar
yang menolak pudar saat yang lain
beranjak padam?

_@_

Malam Iduladha 1437 H
Kota Harapan Indah, Bekasi Barat
Minggu, 11 September 2016

Baca lebih lanjut

Perihal Berduka

luka tetaplah luka
sekalipun ditikam dengan pisau permata
namun air mata kadangkala
tak mampu membedakan
mana emas mana tembaga,
kilaunya sama, katanya
sulit mengenalinya.

terkadang kita berduka
karena hal-hal sepele
putus asa dan lepas harapan
karena kecewa semata
namun, putraku
ada baiknya kau lebih dulu
memahami sebab-musabab hidup
dan belajar bersyukur
semata biar air matamu
tak gugur percuma.

Pohon

Coba tengok, ada apa di sebatang ranting?
Kupu-kupu menari di sela daunan lenting
burung-burung bernyanyi riang
ulat-ulat, tenang bersantap siang.

Lihat, bukankah pohon selalu tabah memeluk
setiap makhluk?
Tanpa pernah berusaha mengusik
rantingnya tak bergetar—biarpun sedetik.

Bahkan jika musim kering datang
dan tubuhnya tak lagi elok ditumbuhi buah
sebatang pohon tetap tenang
dan memberi teduh bagi tanah.

Bagiku, pohon telah menjadi
guru terbaik — sahabat memaknai tanda
pun, teman terdekat dalam memahami
hidup tak melulu, senang dan duka.

(31 Juli 2011)

“Setelah lama mengarungi hidup bersama, tentu Anda mengenal pasangan hidup Anda. Menurut Anda, apa kekurangan suami Anda? Dan seberapa banyak?”

Perempuan di hadapanku tertawa. Keriput sudah menghiasi pipi dan matanya. Tapi, ia masih cantik, apalagi dengan busana sederhana berwarna putih yang saat ini ia kenakan, dan senyumannya masih mampu membuat siapapun yang memandangnya, merasakan damai.

“Kekurangannya? O, banyak sekali,” ia mengerdipkan matanya. “Saking banyaknya, saya tak mampu menghitungnya. Bagaikan bintang di langit!” Ia menjawab dengan nada bergetar.

“Lagipula—”

Sebelum ia berkata lebih lanjut, aku memotong kata-katanya, “Dan kelebihannya?”

Ia mendesah, lalu menukas, “Selama bersamanya, saya baru menemukan satu. Seperti matahari.”

“Lalu, bagaimana Anda bisa bertahan?”

Perempuan di hadapanku melipat tangannya, dan aku menatapnya takzim.

“Bintang-bintang di langit memang banyak,” ia berbisik. “Namun, saat matahari muncul, tak satu pun terlihat,” ujarnya, dengan sorot mata bangga.

Aku berdiri, menghampirinya, lalu memeluknya lembut. Ia selalu saja berhasil membuatku jatuh cinta. Bahkan setelah tahun-tahun yang kami lalui. Saat menatapnya — mendengar suaranya, aku masih merasakan debar yang sama.

Ia istriku.

Rumah

besar kecilnya rumahku,
tidak diukur
dengan tumpukan bata, keramik, pun
banyak sedikitnya lemari bisa diletakkan di dalamnya,
melainkan dengan
berapa sering istriku tersenyum
dengan binar mata selembut embun.

nyaman tidaknya rumahku,
tidak dihitung
dengan pajangan, jumlah kamar, pun
berapa banyak lukisan bisa dipajang di dindingnya,
melainkan dengan
napas lelap putra kecilku
di lingkar lenganku ia tertidur.

6 Juli 2013

Baca lebih lanjut