Tag Archive: Curhat


Tiba-tiba aku terpikir tentang gadis kecil pembawa kaleng kecil, pemilik bulan merah jambu – yang tiap malam selalu tersenyum kepada siapa yang tabah menelusuri sunyi di kotanya. Kisah gadis itu pernah tersusun dalam puisi Gadis Peminta-minta, karya Toto Sudarto Bahtiar. Betapa dalam penuturan beliau, hingga sosok sang gadis menjadi begitu mulia di mata pembaca

Gadis Peminta-minta

Setiap kali bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

(Toto Sudarto Bahtiar)

Tapi aku mungkin memiliki kisah serupa, meski gadis yang kukenal tak memegang kaleng kecil – tak jua pemilik bulan merah jambu, tetap saja ketakhadirannya menjadikan kota ini – yang kau tak akan tahu namanya – menjadi tak memiliki tanda, tepatnya tanda untukku kembali.

Mungkin tulisan ini sekadar curhat – tapi biarlah, bukankah siapapun boleh memiliki pengalaman pada setiap ihwal yang ia lihat, dengar dan rasakan?

Meski sebenarnya aku tak mengerti, mengapa gadis kecil berkaleng kecil masih harus kurindukan di kota yang tak (lagi) nyaman ini? – di kota yang aku sendiri tak pernah merasa pulang meski berkali-kali menjejakan kaki – dan beranjangsana, pada ingatan tak kembali.

Biarlah. Toh aku hanya ingin mengenangmu lebih jelas di kota ini.

=)

Menuntas Rindu

Dari balik jendela
masih jelas terdengar
nada cinta berbisik syahdu


Menuntas Rindu


Usai dongeng itu,


Lamunanku melayang
tentang rindu yang masih tersisa
pada bilik kecil, berpagar indah lembah
bermandikan dian mungil kunang-kunang
pelita bagi malamku


: aku
ingin sejenak pulang
menuntas rindu
ke tempat di mana kita
biasa berbagi kisah


Rafael Yanuar (16 Juli 2009)