Tag Archive: Celoteh Kecil


Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sejumlah epigram tentang cinta

Baca lebih lanjut

Iklan

Himpunan Syair Pagi

Himpunan Syair Pagi
5 April 2012

♠ @TataLetak: Bahkan sebuah kota yang demikian besar, awalnya tak memiliki penerangan lain, selain langit yang terbuka.

♠ @TataLetak: Peluk aku, sebelum kematian membuat tubuhku dingin dan tak nyaman lagi kausentuh. Biarkan hangatku mengalir dalam darahmu.

♠ @TataLetak: Kau mungkin tak tahu, ketika kau mendoakanku, ada hangat memeluk tubuhku, dengan lembut.

♠ @TataLetak: Kenangan adalah kehidupan kecil yang kita ciptakan, dalam pikiran kita.

♠ @TataLetak: Aku letakkan lilin di sisi meja dan mulai membaca buku pemberianmu. Dalam benak, aku bayangkan kaubercerita, dan menemaniku.

♠ @sigit_pam: Pagi menjelmakan rindu menjadi embus angin di rerimbun perdu; lembut mendayu

♠ @keanufathona: di kedalaman matamu, Al; telah kutemukan cahaya paling pagi yang merekah sebelum fajar dan keindahan diciptakan.

♠ @keanufathona: Bahagia itu sederhana, Al. Seperti bangun pagi-pagi dan dihadiahi sepotong bibir merahjambu; milikmu.

♠ @semut_nungging: SURAT BUAT IBU — Ibu, pinjami aku airmatamu untuk belajar menampung segala kepedihan tanpa menaruh dendam.
Tertanda, anakmu

♠ @semut_nungging: ada suara dengung yang asing, ada sisa darah di dinding. ada yang menyalakan lilin, ada yang bercermin: sepi enggan berpaling

♠ @fajar_arcana: Kupikir sungai yang menderu sejak semalam. Mimpi tentang kamu, selalu jadi pengingat pagi yang memanggil.

♠ @PemujaPlato: Aku di kepalamu, ialah sebuah manuskrip tua yang tak terjamah pengunjung di sudut perpustakaan

♠ @bait_sederhana: Jadikan aku lilin yang memijar di jantung puisimu, setiap kata terpendar dengan semu, tanpa ragu; aku mengabadikannya

♠ @pemujaplato: Cintamu, kekasihku, ialah atsiri yang mengharumkan jubah sepiku

♠ @pemujaplato: Matamu, pedang tajam yang membelah angan-angan dan keraguanku akan cinta

Himpunan Kopi Pagi

♠ @yulialiman: Hangatnya kopi temani pagi, terlupa semua buruknya mimpi. Kopi, teman setia yang tak butuh dipuji.

♠ @RiksaRosaG: Pertemuan kita bagaikan kopi pagi. Selalu hangat dan diharapkan.

♠ @Keshakeshi: Pada secangkir kopi, ada rindu yang menari untukmu.

♠ @sesat_timur25: Kopi, asapmu mengepulkan kenangan, di kesendirianku, kamu: enggan hilang

♠ @aksara_sajak: Tersenyumlah, sayang. Kopi ini masih terasa pahit

♠ @uswah_: Ada yang lebih dalam kusesap tiap pagi; secangkir kopi instan sachetan dan rindu yang tak habis kukuras semalam.

♠ @lampah_hening: “Jangan lekas mengaduh, jangan cepat mengeluh.” Untukmu Ayah; secangkir kopi terseduh, seteko memori tumpah ruah.

♠ @eagle___eyes: sulit kupastikan, bahwa sesapan terakhir kopiku adalah ucapan selamat tinggal darimu.

♠ @momo_DM: Adalah segelas kopi pahit kusesap, begitulah caraku menyembunyikan kehilangan yang senyap.

♠ @bait_sederhana: Kopiku pagi ini; kenangan dan semua kesedihan yang membuncah ke telaga pikiran

♠ @momo_DM: Aroma kopi menjelma kenangan tentangmu, bangkitkan birahi pada hati yang perlahan sunyi.

♠ @TataLetak: Sambil menyeruput kopi panas, kauterus membaca bait-bait dalam mataku, sementara dadaku, kian hangat mendenyutkanmu.

♠ @semut_nungging: air panas dituang dalam cangkir seperti kata-kata. aku sesendok kopi, melarut, menghitamkan segalanya

♠ @aksara_sajak: Pada suatu fajar yang memar, kauantar secangkir kopi, sebakul cinta. Saat itu, aku rasakan, rindu begitu hambar

♠ @JatrifiaOngga: Kurayakan cinta yang berakhir dengan segelas kopi hitam di cangkir merah. Serupa hati yang pekat berdarah.

♠ @tresnabening_: kekasih, aku beruntung memilikimu. Kerap bangun lebih dulu, demi menyiapkan secangkir kopi hangat untukku.

♠ @uswah_: Kopi hitam milikmu, cappuccino milikku — dan kita, yang berebut sepotong roti bakar; tak mengerti kabar perpisahan.

♠ @dedyhear: Mampirlah lagi, kubuatkan kau secangkir kopi tanpa sepi.

♠ @marsshmalloow: Dalam larut ampas kopi kausesapkan perih; kini kumerngerti, cintamu tak ada lagi.

♠ @bagustianiskndr: Meski cintaku sehambar kopi tanpa gula: kau tetap meyakini, pelukanku lebih kopi dari hangat tiap teguknya

♠ @its_kayu: Aku tidak suka kopi, dan kau mengerti itu–dengan mengalihkan seluruh indera perasaku, hanya kepadamu.

♠ @bahasakata: Tak perlu kau beri gula di dalam cangkir kopiku, sebab dengan menatapmu saja, rasa pahit sama sekali tak kurasa.

♠ @dhehusnan: KENANGAN. antara hujan dan sesapan aroma kopi; engkau mengaduk pikiranku, entah dengan rintik atau kepul asap

♠ @aksara_sajak: Pagi ini, aku seduh dua cangkir kopi; untuk kunikmati berdua, bersama sepi

♠ @sutheha: Ibu cerita tentang eli. Pagi disesapi kopi. Sadarkan diri dari mimpi.

— 5 April 2012 —

Himpunan Syair Pagi
3 April 2012

♠ @radithirsyad: Dari semua yang pagi, kamu adalah kehangatan.

♠ @keanufathona: kecup keningku, Al; serupa cahaya paling pagi yang membangkitkan debar-debar rindu, memfajarkan langit jiwa yang merona karena rasa.

♠ @lampah_hening: Malam beringsut kian senyap. Bulan susut redup. Rindu tak jua lelap, enggan lenyap #1

♠ @lampah_hening: Sepi. Kangen ngilu nyeri. Denting jam kian runcing merobek nadi #2

♠ @lampah_hening: Senyummu lalu lalang dalam kenang. Serupa embun, merangsang mekar rindu yang kuntum meranum #3

♠ @lampah_hening: Mengingatmu Dinda, adalah nafas. Merinduimu semacam bibir melafadz #4

♠ @lampah_hening: Dan memelukmu ialah gembiranya kanvas menari-nari ditubuh kertas #5

♠ @lampah_hening: pada sejengkal waktu menjelang shubuh. Meleleh rindu, luruh dalam doa-doa terlabuh #6

♠ @lampah_hening: bagaimana kupeluk ragamu, bila jarak mendepak kepak sayapku? #7

♠ @lampah_hening: Pulanglah Dinda. Lelakiku mengiba. Ke langit kugaungkan gema; #8

♠ @lampah_hening: Aku merindumu, dalam rindu sakit menjerit. Dalam luluh rapuhku tanpamu #9

♠ @_bianglala: Daendelion kutiup, bawakan doa bagimu, hanya serupa asa pada gelisah jiwa, mengharapkan bahagia.

♠ @_bianglala: adalah ketidakpastian kala embun berkumpul beku, lalu sendiri mendekap hampa hati tak bernyali

♠ @_bianglala: Ada terik mentari kubawa, membiarkannya bersuka pada tubuhku dan tak hendak kuhapus tetes peluh.

♠ @duaatujuh: Rindu, adalah segala yang gugur dari ingatan, di jantung sepi ia kembali bermekaran.

♠ @duaatujuh: Kucukupkan rinduku, kugenapkan sepiku; di dadaku, kesedihan telah menemukan jalannya sendiri.

♠ @duaatujuh: Sajak-sajakku adalah rindu, yang tak henti menuliskan namamu.

♠ @duaatujuh: Di matamu yang pagi, segala kepedihan luruh, menjadi surga-surga kecil yang kusebut rindu.

♠ @RiksaRosaG: Penyair sedang duduk di tengah hutan, ketika aku berlari menapaki tebing, menikmati bait demi bait syairnya.

♠ @ama_achmad: di ujung jalan itu, kita berakhir. punggungku dan punggungmu bersitatap, menerka-nerka adakah hujan di sebaliknya

♠ @sabdaliar: Kecuplah aku sekali, cukup sekali, maka waktu akan berhenti, lalu terciptalah kenangan mahaabadi.

♠ @ama_achmad: engkaulah puisi, tuan. seluruh kata, semua bait, segala rima yang dilafalkan degubku sebagai cinta.

♠ @_bianglala: Secangkir kopi kutinggalkan di #rumahpelangi, berharap rindu bertamu. Doakan impianku.

♠ @_bianglala: Letakkan lelapmu tinggalkan doa asa pada #rumahpelangi. Tak hendak tepikan rindu penuhkan ingatan luka patahannya

♠ @ichal_elnad: Aku dalam sepi, kau dalam hati, kita menyatu dalam puisi.

♠ @rifkidho: Tanamlah sebatang pohon cinta yang berdaun kesetiaan, berbunga ketulusan, berakar kejujuran — lalu, siramlah dengan kepercayaan

♠ @rifkidho: Senandung syair terbawa angin, nada menari di sela reranting, bersuara merdu bak perindu.

♠ @rifkidho: Wahai Tuhanku, tabahkanlah hatiku, tentramkanlah jiwaku, disaat aku merindu, dari serpihan kasih sang ibu.

♠ @sesat_timur25: bibirmu yang pagi, menyuam gigil rinduku yang sepi

♠ @_bianglala: Tak ada lagi seikat rindu tanpa tuan diletakan di beranda #rumahpelangi. Mungkin sang pengirim telah tahu kemana harus menuju.

♠ @dedyhear: Aku ingin melukis pelangi di matamu, yang mendung, agar airmata tak melulu, menangis pilu.

♠ @dsanggalangit: Tiada pagi lagi yang lebih membahagiakan selain menemukan dan mendapati kembang-kembang rindu kian bertumbuhan ke engkau.

♠ @ciyecci: sungguh ini melelahkan, mengeja kita pada angin yang berhembus pelan, lalu samar menyulam memar pada tiap desirannya

♠ @marsshmalloow: De javu itu #A, adalah aku, yang diam-diam melindapkan rindu.

♠ @marsshmalloow: Barangkali, cinta hanyalah sebuah kebetulan, yang tak sengaja ciptakan Tuhan – di antara kita.

♠ @ciyecci: KITA. huruf-huruf yang bernafas, tanpa ditulis pun, takdir telah melekatkannya di ingatan, tak terhapus waktu

♠ @tresnabening_: Kekasih, tak perlu kau gelisah; sebab jarak akan merenta dan waktu akan kembali mempertemukan kita.

♠ @ichal_elnad: Di pundak kiriku, masih membekas sebuah kehangatan yang terus mengisahkan kita.

♠ @bagustianiskndr: aku ini seorang fakir: ketika kehilangan bertamu, aku hanya mampu menyuguhkan air mata dan lambaian tangan

♠ @bait_sederhana: Di kerumunan debar jantung puisi, aku dan diksiku tertindih mimpi, terhimpun huruf-huruf rindu yang datang bersama pagi

♠ @HamdaniEva: Hiduplah, seluruh akar yang memekarkan cinta, di halaman hatiku. Yang tak gentar tersapu badai airmata, duka pun luka.

♠ @aksara_sajak: Duka hanyalah es yang mencair, di sepasang bola matamu

— 3 April 2012 —

Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sehimpun epigram tentang cinta

Januari 2012

/1/

Menyadari detik tak pernah berhenti, aku selalu takut pada waktu.

/2/

Doa mestinya menjadi rahasia yang tak mampu dijangkau kata-kata.

/3/

Teman, meskipun kaubersihkan berkali-kali, warna arang tetaplah hitam.

/4/

Kamu, seperti halnya cinta, tak akan tiada.

/5/

Jika aku boleh dilahirkan kembali, aku ingin menjadi puisi yang kamu tulis.

/6/

Jika langit adalah waktu, aku ingin menjadi hujan yang turun di kotamu.

/7/

Setiap melihat jam, aku selalu bertanya, pada siapa waktu sebenarnya berdetak?

Februari 2012

/8/

Aku ingin rumah kita dibangun menghadap laut, di mana kita bisa mendengar gemuruh ombak, berdenyut bersama nadi kehidupan.

/9/

Kau tahu, Sayang, ada embun di setiap sajak tentangmu.

/10/

Rindu hanyalah embun di sekuntum lili, yang setiap pagi selalu kaubasuh, sambil memandang sesuatu yang jauh.

/11/

Cinta terindah tidak bertindak dalam tindakannya.

/12/

Meski tak pernah mampu membukanya, cahaya bulan tetap menembus jendela. Di dalamnya, seorang penyair, tegar menuliskan sajak.

/13/

Aku ingin mencintaimu sehari lebih lama dari apa yang kita sebut selamanya.

/14/

Dalam cinta, Kekasih, kehidupan hanyalah perjalanan yang berangkat dari diri kita sendiri — menuju diri kita sendiri.

/15/

Aku ingin merindukanmu lebih lama, melebihi segala kesadaran, akan ketiadaan.

/16/

Sejak purba, langit tak pernah berubah, selalu membentangkan cinta, di manapun kita berada.

14 Februari 2012 (Durable Love)

/17/

Salam, Penyair, ajari aku menuliskan keindahan, dengan kebenaran.

/18/

Dalam hidup, ada begitu banyak cara meraih kebahagiaan, dan aku memilih menjadi orang yang selalu kaucintai.

/19/

Aku ingin mencintaimu, Kekasih, lebih dari apa yang bisa aku janjikan, pada hidup.

/20/

Dalam cinta, satu-satunya hal yang tak pernah bisa kita miliki, adalah ketiadaan

/21/

Aku ingin memiliki jiwa yang selalu mencintaimu.

/22/

Aku karang, karam dalam samuderamu. Aku langit, hanyut dalam semestamu.

/23/

Sebelum bertemu kamu, aku bahkan tak tahu, doa ternyata memiliki wujud.

/24/

Begitulah, bila rumput merindukan langit, ia tak pernah bisa menggapai apa-apa, selain perasaan sepi, dan sia-sia.

/25/

Kelak, cinta membuatmu mengerti, bagaimana rasanya berjalan di atas jembatan, yang tak pernah menghubungkan apa-apa.

/26/

Terkadang, ketika merindukanmu, aku merasa bagaikan tukang kebun, yang bekerja di rumah tanpa bunga.

— Maret 2012 —

/27/

Embun yang tak ditangkap matahari, hanya akan jatuh ke tanah. Hidup seringkali tak memberikan pilihan apa-apa, selain kalah.

/28/

Yang memeluk kita sebelum cinta, adalah sunyi.

/29/

Cinta adalah segala hal yang dapat kaudengar, kecuali dengan telinga — segala hal yang dapat kaulihat, kecuali dengan mata.

/30/

Dalam ciuman kita, Sayang, aku membayangkan sebuah tempat, di mana cinta tak perlu mempertanyakan keberadaannya.

/31/

Pada suatu tahun yang embun, ada sepasang mata, yang buta, karena melihat cinta.

/32/

Ketika segalanya menjadi terlalu sedikit, bagi cinta — maka, selamanya akan menjadi terlalu singkat, bagi kita.

/33/

Pagi, sepanjang usianya, telah melihat segalanya.

/34/

Penyair yang kesepian itu tahu bagaimana caranya menuliskan Tuhan, tanpa kata-kata.

/35/

Sebab, Sayang, di bawah langit yang selalu baru, segala sesuatu–termasuk cinta, tak pernah lelah memperbaiki dirinya sendiri.

/36/

Adakah yang lebih sunyi dari kematian seorang penyair yang puisi dan bukunya, tak pernah lagi dibaca dan diingat?

/37/

Seorang perempuan merasakan teduhnya sebatang pohon ketika ia menyadari — puisi, bukan hanya milik penyair.

/38/

Bahkan, untuk menciptakan semesta, Tuhan harus lebih dulu membentuk ketiadaan, kehampaan.

/39/

Hanya dengan menyentuh temboknya, kita bisa memahami perasaan sunyi sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

/40/

Kelak, di Padang Asphodel, kita kan mengerti, pagi adalah segala sesuatu yang tumbuh, tanpa harus dipermainkan cuaca.

— 20 Maret 2012 —
Ulang Tahun ke-72 Sapardi Djoko Damono

/41/

Sebab waktu adalah jalanan berbatu, Tuan. Tanpa darah, kita tak dapat meninggalkan jejak apa-apa, ketika berjalan di atasnya.

/42/

Sebenar-benarnya hidup, Sapardi, adalah cahaya yang tak pernah mampu dilumpuhkan usia.

/43/

Dalam kerja yang sederhana, Sapardi, aku mengenal cinta.

21 Maret 2012 (Lomba Puisi)

/44/

Sebab hidup adalah dongeng besar, Hans, yang tak pernah lelah menulis dirinya sendiri.

/45/

Di stasiun tempat penantian subway itu, Du Fu, hujan yang baik jatuh membasahi benih yang kautanam.

/46/

Kini, rinduku seperti benang pendek yang ingin menerbangkan layang-layang melampaui batas dirinya.

/47/

Di rumah itu, tinggal seorang penyair yang hidup sendiri, semenjak matanya buta, ia tak pernah lagi merasa kesepian.

/48/

Sejak kenangan menjadi asing bagimu, Orpheus, masihkah kaupercaya, cinta dapat tumbuh, meski dunia tak lagi memiliki musim?

/49/

Di padang Asphodel, Eurydike, cinta hanyalah keadaan tak terbatas, di mana hidup tak lagi mendenyutkan apa-apa, selain lupa.

/50/

Tersenyumlah, Eurydike, sebab rindu membuatku paham: betapa indah kematian itu.

/51/

Pukul 17.00, aku membayangkanmu sebagai awan, yang lebih abadi dari senja itu sendiri.

/52/

Malam yang sendiri lebih angin dari dingin di musim apapun, begitu pun rindu.

/53/

Rumah tanpa jendela adalah penjara, begitu pun rindu.

/54/

Adakah yang mesti diingat, dari genang air di sawah yang baru ditanami, selain sesuatu yang kelak harus dikenang, dengan senyuman?

— 1 April 2012 —

Himpunan Syair Pagi tanggal 1 April 2012

♠ @duaatujuh: Mari sejenak saling mencintai, berbagi birahi; sebelum esok Tuhan mengetuk pintu, menawarkan akhir yang tak kita pahami.

♠ @duaatujuh: Sebab cinta adalah segala yang ganjil, maka genapkan aku, sempurnakan aku dalam ketiadaanmu.

♠ @ichal_elnad: Pagi ini aku akan mendoakanmu lebih awal, sebab rindu, telah membangunkanku mendahului adzan di kotamu.

♠ @semut_nungging: dari mana datangnya hari. dari malam berganti pagi. darimana datangnya revolusi, dari perlawanan itu pasti.

♠ @ama_achmad: di ranting puisi, sebuah rindu hinggap. istirah sejenak, sebelum akhirnya berpelukan dengan air mata.

♠ @AmijayaLifeon: Selepas shalat, matahari pagi yang hangat akan menumbuhkan semangatmu.

♠ @its_kayu: Bagi wajah-wajah murung, pelangi hanya hitam-putih yang melengkung. tersenyumlah, sayang. beri ia warna.

♠ @lampah_hening: Setiap kali mentari pagi, di kepalaku gaduh riuh resepsi. Angkuh pagelaran dimaknai; Jamuan Kerinduan. #1

♠ @lampah_hening: Angkuh sebab pergimu tak meninggalkan luruh. Nyeri ngilu mengenangmu tapi butuh #2

♠ @lampah_hening: Kau tau; Tanpamu digdaya kalbu lusuh? #3

♠ @lampah_hening: Sepiring ingatan terhidang tlah kulahap. Berharap lekas lesap. Tapi kenangan serupa skop yang menimbun rindu bagai gudang bulok #4

♠ @lampah_hening: Betapapun perih suapan kenangan, aku takkan merintih menelan. #5

♠ @lampah_hening: Sebab segala yang pergi bersamamu bidadari, adalah hal indah yang kusyukuri #6

♠ @ama_achmad: mari piknik ke langit, naik sepeda bersayap. biar kusiapkan cemilan, permen kapas merah jambu, sepotong rindu bersalut gula

♠ @semut_nungging: darimana datangnya getah, dari kulit pohon yang terluka. darimana datangnya susah, dari rezim SBY yang masih berkuasa.

♠ @_bianglala: Seharusnya bunyi hujan memercik keras menghantam tepian jalan, tapi sunyi terus mengalir di sudut kenangan.

♠ @HamdaniEva: Tetaplah di sampingku; sebagai embun yang penuh kelembutan, sebagai cinta yang mengabadikan getaran rindu.

♠ @rudy_cintaikan: Di bukit cinta nan permai, rindu membelai-belai, meninabobo hati yang terburai, nurani alangkah damai.

♠ @yulialiman: Relung hati alangkah senang, para malaikat bernyanyi riang. Aku bersyukur tiada henti, bisa menghirup udara pagi.

♠ @iduyhawrun: Karena rindu punya rumah untuk pulang: debarmu yang tak lalai mengingatkan.

♠ @bait_sederhana: Pagi tumpah, dedaunan mulai rekah, embunpun menari indah, namun, aku mulai lelah, mengejar cintamu yang tak tahu arah

♠ @chaca_yp: aku, menggenggam asa sejak fajar menyapa dengan merahnya. berharap pelukmu masih hangat terasa. salam pagi, cinta @yudayas_

♠ @HamdaniEva: Barangkali fajar adalah engkau, sesuatu yang bercahaya untuk memulai pagi dengan segenap cinta.

♠ @yuriistantrii: Dalam khusyuk aku berdoa, menggengam cinta seerat kubisa. Selamat hari jadi kita, @atmajadimas.

♠ @chaca_yp: Secangkir kopi tanpamu, @yudayas_, sejuta rindu memeluk pagi.

♠ @marsshmalloow: Singgahlah sebentar #A, sembari kaunikmati secangkir kenangan, biar kuringkas pertemuan kita dalam bait-bait kecil.

♠ @JatrifiaOngga: Terkadang aku ingin waktu serupa foto yang bisa membekukan pertemuan kita, dan menghapus rindu yang melanda

♠ @marsshmalloow: Mengingatmu, adalah berdamai dengan sepi, sebab rindu memang tak seharusnya diingkari.

♠ @marsshmalloow: Di suatu hari baik nanti, kita akan duduk berhadapan, mengisahkan kenangan; dan cinta, tak perlu lagi dipertanyakan.

— 1 April 2012 —

Dokumentasi Syair Pagi tanggal 31 Maret 2012.

Baca lebih lanjut

Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sejumlah epigram tentang cinta

— November 2011 —

/1/

Konon, di antara rekah bunga, ada air mata Aphrodite. Kekasih, selain cinta, kesedihan mana, mampu menciptakan musim semi?

/2/

Dalam sunyi, aku merasa, engkau hadir dalam setiap helai daun, dan waktu, tak lagi mampu, menghalau apapun dalam hidup.

/3/

Di atasmu, Orpheus, langit malam, tumpah dalam butiran salju. Lalu, haruskah dingin, membangun kembali rasa kehilanganmu?

/4/

Eurydike, pada sisi tenang telaga, aku mengenangmu — namun rindu, masih terus mencari, di mana pagiku, kau sembunyikan.

/5/

Namun, Eurydike, mampukah maut mengalahkan cinta? Kini, meski tak ada cahaya di Hades, jiwaku, alangkah bahagia, menemukanmu.

/6/

Di padang hijau, di mana pepohonan tumbuh dengan rindang, ada seekor burung, mati kelaparan.

/7/

Kekasih, aku ingin merindukanmu lebih lama — melebihi lantunan ombak pada rembulan, melebihi biru danau, pada hijau pohonan.

/8/

Kekasih, percayalah, dari sebagian yang hilang, Tuhan selalu menyisakan, sebagian yang abadi, dan tak tergantikan.

/9/

Evy, aku takut, rinduku hanya seperti sehelai daun — tumbuh hanya untuk dilupakan, bahkan oleh pohon yg dulu merawatnya.

/10/

Sayang, tak ada satupun kenangan yang pantas dilupakan. Bukankah karena ada masa lalu, tidur memiliki mimpinya sendiri?

/11/

Kekasih, kausering kukenang, di antara celah reranting, bagaimana matahari menitipkan pagi, di cerlang embun dan daun-daun.

/12/

Setelah hujan, langit tampak lebih bersih. Seolah hati kita ikut dibasuh, ketika memandangnya.

/13/

Tak seperti mata dan telinga, kau tak bisa menutup hati untuk hal-hal yang tak ingin kau rasakan.

/14/

Seekor camar mengira, di permukaan laut ada kembaran bulan, ia pun terbang merendah. Namun sayapnya merusak mimpinya sendiri.

/15/

Kunang-kunang, cahayanya diliputi fajar. Di tapal batas hidupnya, ia bersyukur tak mati, dalam gelap dan sendiri.

/16/

Setelah nyaris setahun mendekam dalam tanah, kunang-kunang hanya punya waktu seminggu di dunia
: tulus, memberi cahaya.

/17/

Di telapak tanganku, kunang-kunang, kehabisan cahaya. Namun sisa hangatnya, masih terasa, di dada.

/18/

Di tepi jembatan tua, seorang puan menanti tuannya. Di sudut senja, waktu meneteskan air mata, untuk janji yang terlalu fana.

— Desember 2011 —

/19/

Pertemuan memiliki jiwa, dan kita menyebutnya cinta.

/20/

Setelah lelah berkicau di banyak cabang, burung-burung pasti kembali, berumah di satu dahan. Keluarga — tempat ternyaman.

/21/

Adakah yang lebih setia dari bayang-bayang, selalu siap memberi teduh, pada cahaya, tanpa peduli betapa rapuh, keberadaannya.

/22/

Aku mata, menghendaki kau sebagai cahaya, jernih pandang bagai selendang sungai, menangkap adamu, sejak purba.

/23/

Aku butuh kau, sebagai suara, mengisi seluruh sunyi dalam jiwaku. Aku butuh kau, sebagai cahaya, menebang gulita, tiadaku.

/24/

Aku pucuk mendamba pagi, membutuhkanmu sebagai doa, ketika lengan-lenganku lelah, luruh dalam kesia-siaan, menyentuh cahaya.

/25/

Aku ingin duduk di atas bukit, memandang bintang, mencoba merenungi degup jantungku sendiri, dan merasakanmu.

/26/

Dalam puisi, Kekasih, cintaku bergema, menyuarakan sedihnya, menguduskan kebahagiaannya, melipatgandakan rindunya.

/27/

Aku ingin memahami suka-dukamu, supaya kau tak lagi kesepian, ketika bahagia; dan tak pernah sendiri, ketika bersedih.

/28/

Sumur di belakang rumah, sudah lama tak berair. Pada akhirnya, hidup tak pernah menjanjikan apa-apa, selain waktu.

/29/

Senja tersenyum, di sebuah taman, angin dan rumput tak pernah peduli, siapa di antara mereka yang sebenarnya tak ada.

— Epigram Dongeng dan Natal —

/30/

Di sebuah bangku taman, seorang kakek menyanyikan lagu Natal, pada cinta pertamanya. Di sanalah, cinta tak pernah menua.

/31/

Seperti pendongeng, langit selalu mampu, mempertahankan nyala kenangan, di benak kita.

/32/

Di dalam gereja, Patrasche, ada hal-hal tak terkatakan, terbaca di matanya. Nello — hanya padanyalah, waktu, melintas sunyi.

/33/

Gadis kecil, boleh aku pinjam korek apimu, sekadar membakar mimpi dan harapan, di mana waktu, tak pernah menjadi sia-sia.

/34/

Seperti Peter Pan dan serbuk bintangnya, dengan dongeng, kita mampu melampaui waktu, di mana rahasia, mengekal bersama usia.

/35/

Kita tak hidup dalam dongeng, di sini tak ada pembatas di penghujung kisah, dan kenangan, tetaplah karunia meski menyakitkan.

/36/

Di matanya, ada malam Natal abadi, di mana doa memancar bagai bintang, dan langit, menjadi penghayatan hidup tiada batas.

/37/

Langit pendongeng tua, menghendaki kita mengisi sepetak kisah, di lembar-lembar dunia — dan waktu, menjadi tintanya.

/38/

Di balik jendela, sehelai daun tertegun memandang cahaya bulan — aku pun mengerti, selalu ada alasan untuk percaya, pada doa.

/39/

Kau tak sedang membicarakan dongeng, Rosemary, melainkan harapan — yang hidup melampaui keterbatasan manusia.

/40/

Gadis kecil, aku ingin lebur dalam nyala korek api di tanganmu — untuk meyakini, kebahagiaan yang padam, bisa dinyalakan kembali

/41/

Jadilah daun, di batang pohon menjadi rimbun, di liat tanah menjadi yang menghidupkan

/42/

Aku membenci perpisahan sebesar aku mencintai pertemuan.

— Natal —

/43/

Malam kudus, sunyi senyap — damai Natal tumpah dalam butiran hujan, membasahi daun-daun di ranting cemara.

/44/

Di pucuk cemara, satu bintang bersinar terang, membinarkan hangat kenangan — dan malam, terpuisikan dalam bait-bait nan kudus.

/45/

Di sebuah Gereja tua, di mana pintunya berderit ketika kau buka, Natal hadir, di tengah kebersahajaan nan sederhana.

— Januari 2012 —

/46/

Mungkin hanya pohon tua mampu pahami, bagaimana rasanya berada di dasar sunyi, di mana waktu, menjadi senyap melebihi puisi.

/47/

Musim hujan tahun lalu, bertanya pada sumur kering di pekarangan, “Seberapa dalam dapat kau timba, waktu dan kenangan?”

/48/

Aku jam tua, menghendaki kau sebagai jarum, mendetik dalam detak hidupku — sementara waktu, terus menjaga kepurbaan kita.

/49/

Kekasih, pada mendung tengah hari, ketika rindu berada di luar waktu dan kata-kata, hujan pun menjadi sederas sunyi.

/50/

Musim hujan tahun lalu, membasahi kuntum kecil di halaman, hingga berkas matahari pertama, mengawali hangat di kelopaknya.

/51/

Aku membenci perpisahan sebesar aku mencintai pertemuan.

/52/

Meski tubuh kita fana, jiwa tak bermula, tak pula berakhir. Begitulah cinta, jika memiliki Jiwa.

/53/

Di bukit bunga, lampu-lampu menjaga bangku taman tetap hangat, sementara kota hujan, terhampar hening di bawah sana.

/54/

Aku ingin jadi orang yang selalu kaudoakan kebahagiaannya.

/55/

Cara terbaik berdamai dengan rindu, adalah mencintaimu.

Rafael Yanuar — Dirangkum pada 8 Januari 2012

Sekuntum pagi merekah
Tuhan jatuh cinta

Dingin ini mengingatkanku pada hangatmu, hening ini mengingatkanku pada merdu suaramu.
— @omrtw

Jemari fajar mengetuk jendela, kicau murai menyiulkan dongeng tentang harapan yang menggantung di ranting-ranting cahaya
— @ama_achmad

Butiran embun menapak pada daun jendela, terlihat jelas di sana, rindu menggoda dalam tiap titiknya
— @imbycoffecholic

Mawar merekah cantik, kupu-kupu riang menggelitik. Indahnya pagi hari, matahari hangat tanpa hujan merintik.
— @yulialiman

Tuhan sedang jatuh cinta, bulanpun berbentuk hati.
— @aiirsunyie

Aku mengintip cendela fajar, siluet samar cahaya hangat, dan aku terperangah; inikah surga? Sejuk tatapanmu, Ibu.
— @oqhik_

Semburat matamulah yang memekarkan kembali embun di rumpun perdu, tempat segala cinta menentukan takdirnya
— @rizkytp

Gerimis terluka dan sendu bulan. Tuhan ciptakan pagi.
— @aiirsunyie

Fajar telah kembali, namun tak jua mimpi bergegas, ia mengekalkanmu, dalam harmoni pagi.
— @tengahsenja

Kereta malam, kota tua sebelum fajar. Cuma peron lengang menyambut kami yang pulang.
— @7HujanPagi

Kepulan asap rokok membumbung, menyatu dengan udara, menyatu bersama luka. Lelah penat di mata, telan mentah begitu saja.
— @aksarasendja

Bekas hujan semalam, basah di jalanan, dingin menyentuhku. Pagi setia bawa semua keindahan, hilang mimpi buruk semalam.
— @yulialiman

Sebaris embun sekilau warna secerah mentari, semua tersimpul dalam senyummu, menandai dimulainya kehidupan indah hari ini.
— @raffikeave

Mengapa masih menekuri mimpi? Bangunlah, lihatlah pagimu terbengkalai.
— @ratnalaila

Selamat pagi, selamat menunaikan ibadah puisi, Tuan, Puan.
— @MunajatKIRI

Hujan semalam menyisakan dingin, aku pun berselimut rindu, masih tak ada kamu disampingku.
— @miss_heni

Selalu kurindu gerimis, berharap ia mampu melumerkan bayanganmu selamanya!
— @ippang_az

Kuhidangkan sepiring rindu, dan segelas kenangan pagi ini–nikmati saja, lalu sampaikan padaku rasanya
— @ivanriskyy

Tetesan embun menyadarkanku, ada rindu yang teramat indah, bersamamu.
— @ciiputraa

Dibalik dinding malam yang sepi, aku telah menyelipkan sepucuk rindu untukmu, semoga kamu membacanya.
— @nugroho_penyair

Duhai subuh penahbis pagi, butirbutir cahaya telah mengecupku, kabutkabut kian mendekat untuk mengatup kembali hatiku.
— @rizkytp

Aku berjanji, akan mencintaimu sepagi mungkin. Bila ingkar, Sayang, aku rela kau tampar.
— @_priabaik

Pagi datang dengan kesetiaannya menyapa, aku harap ada yang seperti kamu.
— @iimamf

Syair-syairmu bagai secangkir kopi, membuat denyut cinta bergejolak dalam nadi.
— @matthewsevan

Dia adalah kata yang bersajak dalam rindu. Bukan bait, hanya rembulan yang bertarung dalam senja. Dialah kamu!
— @nugroho_penyair

Sampai jumpa mimpi, kunjungi aku lagi malam nanti. Dan kamipun berjabat tangan, berpisah meniti jalan yang tak bersisian.
— @ilalang_biru

Rangkaian puja-puji dan panjatan doa, membuatku terjaga. Matahari menyapa lewat malaikat yang mengetuk kaca jendela.
— @miyaa

Habis malam terbitlah terang. Saat itulah aku merasakan cintamu yang begitu hangatnya.
— @chuaberry

Secangkir kopi tersedia di atas meja. Kamu mengecupku dengan mesra sambil mengucapkan, selamat pagi, kekasih.
— @chuaberry

Mungkin rinduku kepala batu, bahkan dalam udara pagi yang basah, aku masih mencarimu dengan resah.
— @ilalang_biru

Kutitipkan luka pada langit malam, hingga cahaya pagi melebur dan menggantinya dengan ribuan asa baru bersama tetes embun.
— @Flute_Asa

Pagimu membuatku lupa mimpi semalam, hanya embun rindu yang terlihat menetes dan mengalir, di dedaunan cinta.
— @rudykoz

Aku selalu merindu pagi. Hangat sinarnya mendekapku bersama butiran-butiran cintamu
— @Flute_Asa

Mimpipun berlalu, hanya menyisakan rindu yang tak berujung. Semoga nanti malam kita bertemu lagi, dalam angan.
— @miss_heni

Hanya kepadamu, aku sengaja membasahi kembali anak sungai di hatiku, yang bermusim-musim telah mengering oleh teriknya cinta
— @rizkytp

Kenapa mesti pagi? Karena disanalah rindu memecah keheningan dalam cinta yang maha bening.
— @_priabaik

Setiap pagi rindu selalu kembali, sebagai suatu pertanda cintamu masih tersimpan di hati
— @UnguViolet_

Kuracik secangkir kopi dengan hangat rindu, asa, serta kecupan di dalamnya.
— @Flute_Asa

Malam telah menggulung, sabitan mentari samarkan embun. Titian mimpi telah usai, secercah harap kan kusambut.
— @Ar__One

Tuhan menghadirkanmu, dalam hujan semalam; mendekapku hingga pagi kembali, tersisa rindu mendera dalam dada.
— @itsme_thya

Mencintaimu; adalah sinar pagi yang tak pernah redup. Tak lekang oleh waktu.
— @chuaberry

Kan kusambut hangat dekapmu. Melengkapi indahnya pagiku diakhir minggu.
— @VieRe_252

Ini rinduku, ditelan keagungan pagi dari kecemasan-kecemasan fatamorgana.
— @danileinad

Rasanya nyaman melihat dua cangkir bersisian di pagi hari. Satu beraroma teh, satunya beraroma kopi, milikmu
— @ilalang_biru

Liarnya malam, glamour-nya gelap tersucikan dengan datangnya agung pagi.
— @danileinad

Hanya tetesan hujan yang mampu membawaku menyelami kenanganku padamu, saat itulah aku merindukanmu.
— @dheesywhidya

Maaf, Kasih. Sepagi ini aku telah menera keindahanmu dalam sajak. Mengertilah! Hanya seperti itu caraku merayakan rindu.
— @momo_DM

Pagi datang tanpa dibuat-buat, pun dengan rinduku padamu yang datang tanpa harus diminta.
— @momo_DM

Sekuntum embun jatuh tepat di kepalamu, Tuan Rindu — mengaburkan luka satusatu ketika Tuhan merekahkan fajar.
— @keanufathona

Berat rasanya meninggalkan ranjang, tempatku bergulat bersama mimpi. Entah, semesta memaksaku untuk berdiri.
— @danileinad

Di getar nadiku yang terluka, kurasakan matahari mengulurkan tangan hangatnya lebih lama dari sebelumnya
— @rizkytp

Kepadamu, ingin kusampaikan sepucuk surat dalam kotak pensil. Di hadapanmu, hanya kesunyian yang dapat kupanggil.
— @Om_Kelana

Lihat, Sayang. Jemariku liar menari, ingin tunjukkan rindu yang tak terjamah olehmu
— @Flute_Asa

Pagi tak pernah sepi, anak-anak langit berkelana memburu rindu. Mentari belum tinggi, aku terus mereka wujudmu tanpa malu.
— @keanufathona

Tak malukah kau dengan mentari? Sepagi ini dia sudah memberi. Ayo bangkit dan berlari kejar mimpi!
— @namjulsawa13

Mentari mengulum senyum menawan, membangunkan lelapku perlahan. Hangatnya masih sama, meski pagi kemarin ia menangis terluka
— @Aya_zahir

Kasih, umpama daun-daun, rindu dibelai embun, aku ingin melihat senyummu, membasuh kalbuku.
— @edith_tian

Pagiku sempurna memandang gemuruh ombak berkejaran lalu berpelukan di bibir pantai cintamu.
— @VieRe_252

Pagi telah meniup setiap kelabu menjadi hujan yang menggenangi kalbu; seribu rindu yang kutitipkan pada langit malam.
— @Ady_S_Lesmana

Ibu, apa jadinya bila langit itu runtuh? Seperti hatiku yang hancur berkeping-keping, bila kamu menangis, Nak.
— @nugroho_penyair

Cumbui aku, seolah esok tak ada. Biarkan surya cemburu, sebab dekapmu, melebihi hangat sinarnya.
— @VieRe_252

Ada sisa hujan, menggenangkan kenangan di pagi yang lengang. Dan aku memahat bayangmu di langit yang terang.
— @sigit_pam

Tak ada yang lebih puisi dari mentari; mendegupkan debar dalam dada, celupkan asa di getar jiwa, menjiwai pagi tanpa luka.
— @keanufathona

Seperti pagipagi sebelumnya, aku meneteskan embun pada dedaun. Pertanda kehadiranku tetap ada, pelepas dahaga.
— @Aya_zahir

Ada sisa mimpi semalam tercetak di langit-langit kamar, tentang kau dan aku memadu kasih di puncak gunung selumar.
— @namjulsawa13

Malam membisikkan padaku, betapa ia merindukan pagi, sebuah cinta yang tak mungkin terpeluk, seperti juga kita.
— @a_metta

Seolah surya aku ingin mencintaimu, kehangatan yang penuh seluruh, mendekap hati kita penuh keluh.
— @amresza

Kali ini aku yang membangunkan pagi, karena mimpiku masih panjang, takkan kugenggam jika hanya berdiam
— @iyanbiyan

Aku angin yang meniupkan angan saat pagi, dan embun menjadi saksi atas semua angan yang aku tuju padamu.
— @amresza

Sebelum cahaya matahari mengecup kornea mataku, rindumu lebih dahulu menyentuh bibir kesedihanku pagi ini.
— @bagustianiskndr

Masih seperti pagi sebelumnya, secangkir teh hitam dan selepas tawamu dalam ingatan.
— @falafu

Kelak pagi akan terbangun lebih akhir, saat matamu terlalu isak menangisi kepergianku, dari mimpimu semalam.
— @amresza

Kita; sepasang pipit yang terbang menghinggapi reranting takdir, lalu memilih menetap di dahan yang sama, berdua meraya cinta
— @ama_achmad

Hujan November akan sering menyapa, ngiluku akan tersiksa. Sapamu penuh senyum tulus bantu asa selalu bahagia
— @yulialiman

Aku melihat perempuan pagi ini. Dengan semangat, dia hadapi hangatnya mentari. Perempuan itu adalah ibuku.
— @Angz_Abbadie

Setiap hari, jejakjejak kaki yang kukenali menghiasi serambi pagi, rindu masih mencari.
— @biru__langit

Kerinduan adalah dahaga yang tiada terpuaskan oleh larutan apa pun, baik teh maupun kopi. Kecuali ketika mata bertemu mata.
— @MunajatKIRI

Seperti November membasuh wajahku, kubasuh bibirmu dengan lembut doa di bibirku. Tak ada sentuhan seindah gerimis.
— @puisikekasih

Embun mungkin tak pernah tahu, setiap pagi, rinduku lebih dulu menghias daun-daun.
— @biru__langit

Aku suka kau mencintaiku saat pagi, ketika mimpi-mimpi berevolusi suci, dan menawan segala rindu didalam birahi
— @bait_sederhana

Pagi yang dengan sendu kau tangisi, adalah pagi yang dengan rindu kuhiasi.
— @biru__langit

Kubacakan puisi untukmu, tiba-tiba suaraku merdu, seakan burung-burung menitipkan kicaunya padaku.
— @puisikekasih

Pagi dan mentari kita sama, hanya saja kau mencumbu mimpi, sedang aku memeluk nyata.
— @iyanbiyan

Sepasang doa-doa kecil berburu cinta, menelusuri langit sejuk yang mulia, hingga berziarah pada mentari yang sangat bergelora
— @bait_sederhana

Alangkah sejuk, suara sungai dan pohon bambu tertiup angin, namun mengapa, sendu daun-daun, terus berguguran, di sudut hatiku?
— @adityaputu

Sebening embun sesejuk selimut kabut, seperti itulah rindu didadaku, bergejolak untuk kau sambut
— @oomkalis

Disela embun kuselipkan secarik puisi, yang dihiasi sinar mentari, agar ragu tak dapat menelusuri menyamar menjadi sepi
— @bait_sederhana

Tak ada lukisan seindah gerimis. Maka ketika kau tersenyum padaku, aku tahu, siapa bidadari di celah pelangi itu.
— @puisikekasih

Kenangan bagai pohon merangas kena panas, lalu hilang tak berbekas
— @RidaAstuti

Desah gerimis membuka pagi, meniupkan rindu di dada–penyair membangunkan kata, memahat rasa dalam puisi
— @ama_achmad

Tuan, aku menyaru kabut, datang mengendap-endap mengetuk pejammu, mengabarkan pagi, memberitahu masih ada cinta yang terlalu.
— @ama_achmad

Pagi adalah sebait puisi bisu. Ketika embun rindu saling bertemu.
— @ar__one

_@_

Celoteh Kecil

CELOTEH KECIL
Sejumlah epigram tentang cinta

/1/

Aku ingin menulis sajak bahagia, tentang bulan di balik celah daunan, tentang kedamaian, ketika hujan mulai turun. Tentangmu.

I want to write a serene poem, about the moon peeking through leaves, about how peaceful the drizzle drops, about you.

/2/

Bertahanlah semusim lebih lama, dan biarkan aku memelukmu lagi, hujanku.

/3/

Seperti tanah memeluk bijian, dan hujan menumbuhkannya, demikianlah kami ingin menjagamu, Nathaniel.

/4/

Aku ingin kau tak mengenalku, hingga ketika aku menangis, kau datang dengan ketulusan paling murni.

/5/

Sejak ada kamu, embun tak lagi membutuhkan daun, ia jatuh teramat lembut, di kedua bolamatamu.

/6/

Sekalipun engkau melemparinya dengan batu, telaga tak pernah menaruh dendam padamu.

/7/

Pada sebuah tahun yang senja, aku saksikan, benih yang kita tanam di halaman, telah menjadi rumah, bagi burung-burung.

/8/

Di halaman rumah, di kotamu, tanamlah pohon pemikat burung-burung, dan kau akan tahu, musim-musim tak pernah menua.

/9/

Lihat, Kekasih, selendang tipis kabut yang menyentuh pucuk pohonan, membuat senja tak lagi takut, kehilangan matahari.

/10/

Akar, kecuali menumbuhkan pohon, tak pernah peduli pada cuaca, musim dan dunia.

/11/

Kolam kecil di sudut taman bagai selendang cahaya, tirai lembut senja, berkilauan di dalamnya. Begitulah aku melukis matamu.

/12/

Nak, sebentar lagi keluarga kita bertambah, sudah dua Minggu burung di pohon halaman rumah, mengeram telurnya dengan sabar.

/13/

Anak rusa mengambil air di sungai, burung kecil mencelupkan sayapnya, kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Begitu beda, begitu mesra.

/14/

Seperti sepasang anak yang duduk bersisian di pematang sawah — cinta pernah muda dan tak menuntut banyak.

/15/

Di pematang, dalam kerinduan masa kanak, kita menerbangkan baling-baling, dan berharap sayapnya mampu, memutar balik waktu.

/16/

Di pematang, kita menangkap sepasang kupu dan belalang. Alangkah lega, ketika menjelang senja kita, melepaskannya.

/17/

Pohon tak pernah menolak takdirnya, ia tumbuh tanpa menghitung usia, mengalami begitu banyak kehilangan dan peristiwa.

/18/

Ucapkanlah terima kasih pada Ia yang memberimu telinga, bukan hanya pada mereka yang menyanyikan musik untukmu.

/19/

Sunyi. Jika di depan rumahmu ada pohon besar, dan kau hanya mampu melihatnya merekah, tanpa bisa menyentuh buahnya.

/20/

Bagaimanapun keras usahamu, kau tak pernah bisa mengembalikan buku menjadi kayu.

/21/

Aroma wangi merayap di udara, dan aku bahagia — meski bunga itu, tak tumbuh di kebunku.

/22/

Di tengah kolam, ada bulan, bulat seperti mochi, kodok pun tergoda, ia melompat. Plung! — dan tak pernah kembali.

/23/

Kekasih, ketika napasku memanggil, adakah hatimu mendengarnya?

/24/

Percayalah, Ia memberimu bahagia, karena kau, berhak memilikinya.

/25/

Terkadang, harapan seperti biji tumbuhan di mulut burung-burung. Lepas dan jatuh di tanah, hanya untuk, dipermainkan cuaca.

/26/

Penghiburan yang baik, justru datang tanpa kesengajaan. Seperti nyanyi burung-burung, di halaman rumah kita.

/27/

Kau memungut sehelai daun, dan memakainya, sebagai pembatas buku. Aku pun sadar, begitulah hidup, menyiasati pertemuan.

/28/

Di sini, kau merelakan seseorang pergi, di sebuah kota, ada yang menyambutnya datang. Hidup hanya soal, menerima dan melepaskan.

/29/

Pesan apakah disampaikan Tuhan pada kita? Hanya dia, yang mampu mendengar bisik embun di tepi daun, dapat memahaminya.

/30/

Senja membuatku mengerti, ternyata kenangan, memiliki jiwanya sendiri.

/31/

Perlahan, aku menutup halaman terakhir sebuah buku, kemudian, aku memulai hidup, dengan membuka pemahaman baru.

Slowly, I closed the final page of a book, instantly, I started living with a new understanding.

Rafael Yanuar (dirangkum pada 29 Oktober 2011)

Celoteh Kecil

CELOTEH KECIL
Sekumpulan sajak kecil tentang cinta

/1/

Tahan dulu dukamu
rasakan angin segar masuk
dari jendela yang sudah lama tak pernah kita buka.

/2/

Kau menatap rembulan di tenang telaga
sebelum ranting-ranting memancingnya —
dan engkau, menemukan aku.

/3/

Sebab pada suatu malam
cahaya bulan lumer di matamu.
Dan aku tak mau kehilangannya
dengan membuatmu menangis.

/4/

Puisi seolah pasir —
membawa kata-kata, ke kedalaman laut yang misteri.

/5/

“Jika semesta hanya hitam, mengapa langit berwarna biru?” tanyamu, suatu hari.
“Sebab kau membuka mata, Sayang,” kataku.

/6/

Setiap senja adalah pertemuan.
Itulah sebabnya, aku suka memandang senja
dengan senyuman.

/7/

Kau berjanji akan menceritakankan sebuah kisah padaku.
Sebuah kisah tentang hujan.
Tentang kehilangan yang tak pernah kita miliki.

/8/

Aku mencintaimu — seolah tangan-tangan waktu
menjaga usia dengan lembut.

/9/

Setelah berciuman
kita ditakdirkan untuk memilih pedih kita sendiri.

/10/

Ada sebuah sajak yang hanya bisa dibaca jika kita bersama —
sajak yang ditulis di lembar takdir kita sendiri.

/11/

Lonceng kecil di depan pintu, bergoyang tertiup angin.
Menangkap hangat musim kemarau —
dan berhembuslah hari baru.

/12/

Sebelum matahari terbit, aku sudah terjaga —
sebab mengingatmu dengan pikiran segar
selalu membuat hariku lebih tabah.

/13/

Aku menatap langit untuk sesuatu yang tak ada.
Sesuatu yang tak pernah ingin kulupakan.

/14/

Sebuah batu — yang kita lempar
akan berhenti di udara, betapapun singkat.
Begitulah hidup mengartikan harapan.

/15/

Keabadian milik perjumpaan, bukan perpisahan —
dengan itu aku akan mulai menulis sebuah buku
tentang kita.

/16/

Pucuk pohon tak pernah sengaja menjauhi sayap serangga —
begitulah cara cinta memahami takdirnya.

/17/

Cinta — selalu lebih kuat dan kekal dari maut
itulah sebabnya, ia tak pernah bersembunyi dari kematian.

/18/

Seolah batu aku mencintaimu, dengan keyakinan —
angin mampu membantuku menyentuh telaga.

/19/

Pada hujan tengah hari, kita belajar menyendiri.

/20/

Di puncak tertinggi menara katedral —
sebongkah lonceng lupa pada fajar.

/21/

Rindu dapat mengelabui waktu —
bahkan untuk sesuatu yang belum pernah ada.

/22/

Celupkanlah jarimu
pada telaga tempat daun berjatuhan.
Di sana, Tuhan telah menguraikan
luasnya sunyi pada hangat sentuhan.

/23/

Pada tanah tempat daun berjatuhan
aku mencelupkan rindu pada butir embun di dahan
andai Kau mau menyentuhnya, Tuhan.

/24/

Kita bertanya cinta —
seperti burung camar di balik awan
merenungkan bagaimana
langit bisa menyentuh samudera.

/25/

Ada hal — yang kita ingin pahami dari waktu
adalah tahun di mana batu —
yang mengeras di benak kita
pecah oleh setetes maaf.

/26/

Yang mendekatkan kita pada hangat, bukan pelukan
tapi cinta.

/27/

Pada daun jatuh, Tuhan telah menyiapkan musim gugur
— agar segalanya menjadi indah, dan tak sia-sia.

/28/

Dengan menengok masa lalu
kamu tengah membangun jawaban.
Sebab semua pertanyaan
selalu bertolak pada pengalaman.

/29/

Nak, coba tengok, ada burung membangun sarang.
Jika kau tak sabar menunggu
kau tak mungkin mendengarnya bernyanyi.

/30/

Seolah kabut, kau datang menyentuh langit hatiku
dengan lembut ingatan.

/31/

Seolah sejuk pagi, demikianlah udara yang kuhirup
saat mengingatmu.

/32/

Demikian sunyi, birahi pohon-pohon
pada tanah sehabis hujan.
Sedang daun-daun, masih lelap dalam kabut —
kabut pagi.

/33/

Seorang anak yang tersipu pada senja
mungkin serupa jendela yang bahagia menerima
siraman cahaya.

/34/

Jika senja bukan jembatan bagi kesedihan
mungkin sekarang, kita tak pernah berdiri
di seberang ingatan.

/35/

Satu-satu bintang pergi, rindu berdiam menjaga pagi.

/36/

Di larik sajak terakhirmu, kau telah, menyentuh riwayatku.

/37/

Sebuah rindu demi rasa sakit, kumohon tahan dulu senjamu.

/38/

Kata-kata tak pernah abadi
karena itu, aku menuliskannya.

Dirangkum pada 09 September 2011