Tag Archive: Catatan


Celoteh Kecil

CELOTEH KECIL
Pengisi draft ponsel

/1/

Kau tak akan letih kucari, meski harus menggali mimpi
tempat kita menatap wajah sendiri

/2/

Jika manusia bisa bermetamorfosis, kita tak perlu takut pada kematian
– seandainya kita tahu, kemana jasad setelah dikuburkan

/3/

Lagu-lagu yang dinyanyikan gadis kecil itu
dijemput angin sebelum sempat tersampaikan
hanya Tuhan
tersenyum tabah mendengarkannya

/4/

Sebelum sampai di muara
sebuah daun lebih dulu berkelana
pun tak sudah-sudah memburu kenangan

/5/

Sebelum sampai di muara, kita bukanlah satu

/6/

Akulah kelana yang selalu merindukan kota sunyimu, Kekasih
hanya di sanalah aku merasa punya tempat berpulang

/7/

Karena selalu ada yang tak terbaca, di keluasan puisi

/8/

Kenangan, barangkali, seperti arang yang meninggalkan bara di sekujur tubuh

/9/

Aku ingin duduk memandang hujan di halaman rumahmu
lalu kau tiba-tiba datang dan memelukku dari belakang

/10/

Ada gadis kecil menari di tengah hujan
di tangan kanannya kenangan menyala-nyala
tangan kirinya rembulan binar-binar

/11/

Katamu, puisi barulah puisi
jika sunyi telah menikamnya dengan kata-kata
lalu menancapkannya ke jantung terdalam semesta

/12/

Kesunyian itu, kekasih, pelan-pelan membentuk senja
dan menjadikannya puisi

/13/

Sebuah kisah, bagiku, adalah lautan
– tempat waktu menulis rindu pada pasir-pasirnya

/14/

“Kebahagiaan – seringkali, seperti kedipan mata
merasuk lewat sebaris mimpi
(dan kau tak pernah mau menyadarinya)

/15/

Pada siluet awan senja, kita merajut mimpi bersama

/16/

Aku tak pernah setabah ini memandang hujan – setelah dikabarkannya pesan
: engkau baik-baik saja di sana

/17/

Kesunyian, kawan, seringkali lebih puitis dari apa pun
bahkan sajak paling indah
tak pernah lupa berdoa padanya

/18/

Senja seperti kehilangan sesuatu
: rindu yang kucari di kedua matamu

/19/

Selalu kurasakan keteduhan, di jiwaku.
Aku ingin hujan turun, di halaman rumahmu

/20/

Aku tinggalkan sajak-sajak ini untukmu
– agar saat aku tak ada
kau tak pernah merasa sendiri

/21/

Aku seringkali lupa
ujian terbesar cinta adalah kerinduan, bukan kehilangan

/22/

Tak pernah ada luka seteduh cintamu

/23/

Getah di batang pohon selalu mengeras seiring waktu;
hatiku, kau tahu, tak lebih tabah dari itu

/24/

Senja, bagiku, adalah tempat yang tinggi, tinggi sekali,
mungkin itu sebabnya – kesedihan kita tak pernah mencapainya

/25/

Barangkali senja adalah bukti, Tuhan tak setegar yang kita kira

/26/

Aku mencoba mengingat hal-hal yang semestinya bisa kita lakukan bersama
sekedar membuatku dapat lebih mudah melupakanmu

/27/

Di lepas jendela, padi hijau menghampar
dengan kilau embun segar
seperti rindu padamu
: selalu pagi, selalu pagi

/28/

Saat kau kecup bibirku, Tuhan tahu
hidupku tak akan lagi sama

/29/

Jika mimpiku tak telah mencapai tepian
maka biarkan kudebarkan gemuruh di lautan hatimu yang penuh kerinduan

/30/

Kau seperti tangan kiri
diam-diam menopang tangan kanan tanpa perlu dipuji

/31/

Ia selalu datang tiap pagi,
menyapa cahaya berbinar-binar di lepas jendela
kami biasa menyebutnya rindu, mata-rindu

/32/

Ketika kita menuliskan sajak-sajak tentang luka
kenangan selalu mampu menerjemahkannya kembali
menjadi kelakar-kelakar panjang

/33/

1 sheep, 2 sheep, 3 sheep

Puri


Kau pernah piturkan hidup adalah kekacauan, sebuah ihwal demi akhir paling tabah. Lalu kau sematkan kearifan pada aksara, menjadi sebuah jawab akan tanya. Kau memang pujangga, menggariskan arti seperti puisi, pun filosof, laksana inginmu, hadirkan rindu pada tetes makna. Entah kapan bisa kau tuntas dahaga, mencari kearifan lewat berbuku-buku waktu, meski hidup kadang tak tak mampu membendung ingatmu, kau tetap seorang bijak
: bagiku


~ Hehe, sekadar oretan kangen. Semoga bisa tersampaikan 😉

Malam


perlahan bintang datang menjadi pelambang
Kau tunjuk tanda malamnya kan tiba

Catatan Akhir Tahun I


Ruang kosong di antara perbatasan tahun, adalah tempat di mana kita bisa menikmati kebersahajaan dan meresapi ruang jeda untuk (sebentar) melupakan hiruk pikuk dunia. Dan aku selalu senang berdiam di ruang di mana musik mengalun dengan sangat perlahan, seakan-akan diciptakan untuk malam


Kadang aku mengira waktu akan segera berakhir seiring menipisnya lembar Desember, dan merasa gentar memasuki putaran baru yang masih bersih dari kesalahan. Tapi, waktu bukanlah keabadian, ia terus berputar seiring lembar-lembar pertemuan, dan menghitung lahan perlahan. Mungkin hal itulah yang mendorong kita untuk sigap menyiasati perubahan dan membangkitkan perasaan, semangat dan harapan baru pada tahun 2011.


Maka, Selamat Menjelang Tahun Baru, teman-teman. Semoga di perbatasan tahun ini, selaksa doa diuji dan ditanam demi sebuah kembang nan ranum dan mekar =)


May the year that is about to start be filled with happiness =)

Malam Kudus


Ada senyuman di Malam nan Kudus
, dimana langkah kaki
tertuju pada rembang keharuan
Di sana, terpasang figura yang membingkai
kenangan sepanjang malam masih perak

1 Desember 2010


Rasanya baru kemarin merayakan tahun baru, tiba-tiba lembaran kalender sudah menipis lagi. Tapi, mengapa airmataku selalu rindu, endapkan rasa
, gamang dan ragu?


Sebentar lagi, tahun 2010 akan menutup bukunya
, semoga tidak
tinggalkan sepi di pojokan tempat

Pada Pagi


Bertahun lalu, saat bunga-bunga masih bermekaran di kota ini, aku menemukan cinta di teduh matamu. Ia datang seperti mimpi, bersenandung hening pada segar angin pagi.