Tag Archive: @ama_achmad


Akhir Zaman

AKHIR ZAMAN

Hai, Amalia, aku mau menceritakan satu hal padamu. Kau boleh membacanya, boleh mengabaikannya. Namun aku harap kau mau membaca baris terakhirnya, jika ternyata paragraf pertama saja sudah dapat membuatmu mengantuk. Sebelum kaujenuh membaca basa-basinya, aku mulai saja suratnya =).

Oh, aku juga menyelipkan dua sajakmu sebagai inspirasi.

/1/

aku mungkin hanya ingatan samar di kepalamu, potret buram di pigura kenangmu–kau pahami sebagai cinta yang gegas.
— @ama_achmad

Aku bayangkan. Di masa depan, ada virus mematikan dan hanya menyerang manusia. Saking hebatnya virus tersebut, hanya dalam satu hari, Homo sapiens mengalami kepunahan. Bumi pun menjadi kota mati tanpa kehadiran kita–manusia. Bangunan-bangunan, meskipun masih berdiri tegak, terlihat begitu menyedihkan–temboknya lembab, rumput menyembul di keramiknya, di sudut-sudut ruangan, kecoak, tikus dan laba-laba membangun bahtera keluarga. Rumah-rumah menjadi bongkahan fosil dipenuhi ngengat dan ular, kolam renang lambat laun mengering dan dipenuhi rumput liar. Hanya dalam hitungan abad (mungkin satu abad saja), tiba-tiba ada hutan rimba di seluruh bumi. Kota besar dan segala kemewahannya tak lagi tersisa, benda-benda an-organik–seperti kaca, plastik dan sebagainya, meskipun memakan waktu berabad-abad, pada akhirnya toh terurai lagi menjadi komponen tak berbahaya seperti muasalnya.

Lantas, bagaimana kita bisa menandakan, bahwa kita pernah ada? Kita–manusia, selalu merasa sebagai spesies tercerdas dan terpandai, namun kenyataannya seringkali terbalik, spesies terlemah justru dapat bertahan lebih lama. Sudah berjuta-juta tahun dinosaurus punah, sementara kecoak masih ada sampai sekarang, bukan? Lalu, bagaimana aku bisa mempertahankan abadinya cinta jika aku sendiri begitu sementara?

/2/

senja lindap di peron stasiun, menyisa aku di bangku tua bersama sebuah tunggu purba–kereta yang dinanti tak kunjung tiba
— @ama_achmad

Barangkali, Amalia, ketika manusia punah, hanya dalam hitungan tahun, peron tempatmu menunggu sudah dipenuhi pohonan rimbun. Di sana, ada dua anak sungai mengalir jernih, menemani rel-relnya. Sementara kereta tua di sudut stasiun sudah dipenuhi burung-burung dan laba-laba, rumputan dengan cepat merambat di trotoarnya, dan bangku tempatmu duduk sudah melapuk dimakan rayap–bahkan deritnya tak lagi terdengar. Seketika, tercipta taman firdaus mini di sana, di mana surga seakan mengabadikan segala penantianmu–selaksa rindumu.

Namun, Amalia, aku selalu percaya, meskipun alam semesta kelam dan peradaban punah, pasti ada sudut-sudut abadi di balik setiap kehilangan. Sebab, akhirnya aku mengerti, — kamu, seperti halnya cinta, tak akan pernah tiada =).

Salam,

Raf

— 18 Januari 2012 —
Sebagian terganti, sebagian tak terganti. Sebagian menghilang, sebagian abadi

Angin

tentang rindu, aku mengenalinya dari sepoi angin yang mengecup ubun-ubunku lalu meletakkan embun di sudut-sudut mata.
— @ama_achmad

ANGIN
: Ama Achmad

Aku Angin, dan memang benar-benar angin, lebih ingin memandangnya di kejauhan, menikmati indahnya tanpa perlu memilikinya, membelai rambutnya tanpa harus menyentuhnya. — aku hidup dalam bayang-bayang perasaanku sendiri, dan merasakan jantungku berdenyut karenanya.

Namanya Rumput, ia biasa menghabiskan senja di padang ilalang. Pandangnya begitu telaga, mengalirkan jernih selendang cahaya. Hanya dengan mengedipkan mata, dia sanggup memberi lebih banyak debar di dadaku. Taman-taman asri pun tercipta, menjelma rumah bertabur cahaya, karena kehadirannya.

Di tengah kami, sepasang anak sungai paling jernih, mengalirkan puisi.

Rumput tak pernah mengenalku, meski aku tak habis-habisnya terkesima, menyebut namanya. Sebuah pekik kagum berhembus bersama bisik napas. Tatap penuh kenang, membawaku pada bianglala alam semesta. Di tepian senja, aku melabuhkan puisi, sebelum rindu memaksaku berjalan pergi.

Sedang di atas sana, langit pernah tak peduli, siapa di antara kami yang sebenarnya tak ada.

— 12 Desember 2011 —

LANGIT SENJA DI BULAN SEPTEMBER
: Ama Achmad

Matahari sudah condong ke barat
perlahan-lahan mulai terbenam.
Aku berdiri di pinggir jembatan. Sendirian.
Di balik bukit, awan menari —
kabut-kabut menuruni lembah
— angin kecil menyentuh bentangan sawah.
Aku terhanyut, bagaimana senja dapat
menyandingkan rindu dan semesta, teramat mesra.

Tiba-tiba aku ingin bulan muncul
dan kita bisa bersama di malam purnama,
lantas terpukau
menatap indah langit di bulan September.
Aku tahu selembar tangis pernah
terpecah di satu hari lahir
Ketika kebahagiaan begitu lanut melingkupi semesta.

Di tepian cakrawala, aku pun termenung.
Pada sebuah doa
kita memandang indahnya perjalanan.
Di sanalah aku bertemu dan mengabadikan
perjumpaan denganmu.

Maka biar kutitipkan senjaku pada bunga padma
lewat baris-baris sajak
sebagai doa-doa sederhana
sebab aku tak pandai berkata banyak.

Aku hanya ingin
menenteramkan senyum dan air mata
dan melihatmu bahagia.
Senantiasa.

Senja sudah terbenam — malam meninggi
aku beranjak pulang, berharap bisa menulis
sajak tentang langit di bulan September
: tentang rindu
dan kamu.

=)

Rafael Yanuar (4 September 2011)

Happy Birthday, Amalia Achmad
Wish you all the best =).

_@_

Tambahan:

Happy (belated) Birthday, Ama Achmad. Maaf terlambat (seharusnya tanggal 03 September 2011, ‘kan?) Sebagai kado — dan hanya itu yang bisa aku beri, aku tuliskan sebuah sajak untukmu, tentang langit di bulan September — yang (bukan) kebetulan, sangat indah dan menawan. Mungkin, bulan September memang dapat menambah keceriaan — sekaligus menumbuhkan rasa rindu di benak.

Di negara empat musim, sekarang sedang masa transisi, dari musim gugur ke musim dingin, jadi langit terlihat lebih cerah, tinggi dan bersih. Udara pun demikian sejuknya. Meski sebenarnya, aku belum pernah mengalami musim lain, selain kemarau dan hujan. He-he.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, Amalia, bagaimanapun klise, aku suka doa ini, wish you all the best =).