Tag Archive: #30harimenulissuratcinta


Bunga-bunga Kecil

BUNGA-BUNGA KECIL

Teruntuk penjual bunga.

Di depan jendela, aku melihat sebatang pohon tua, berdiri kokoh tak berdaun, di mana kenangan masih hinggap pada rantingnya–dan kanak, bernyanyi riang bagai anak burung belajar terbang. Aku tersenyum membayangkan kaupernah memendam banyak memori di sana–dan melukis bunga-bunga kecil di jiwaku nan senyap.

Putri kecil kini beranjak dewasa, bagai kuntum merekah, di dekat sungai mengalir. Waktu menjelma langit, air perlahan membutir di balik gugusan awan–hujan turun meski musim telah berganti. Kau pun berteduh di tudung pohon akasia dan menarik kembali layang-layangmu–meski sayapnya sedikit mengembun karena hujan. Di bawah mendung , kau teringat kembali pada ia, tuan pendongeng, di mana tutur katanya begitu sederhana dan tak terduga. Barangkali sama sepertiku, merindukan mata ayahku. Namun pendongeng dalam kenangmu tentu aku, bukan? Kau hanya tak tahu, kau bagian terindah dalam dongeng ciptaanku.

Hingga pada suatu malam, bintang sudah berganti arah–barangkali engkaulah pendongeng terbaik, teruntuk anak-anakmu kelak. Di mana tutur katamu, menjanjikan matahari terbit, menjadi selimut hangat di malam-malam sembab–dan jemari lembutmu menari di jendela, melukis bunga-bunga kecil–di jiwa nan lindap. Barangkali kita tak pernah lagi bertemu. Aku tak tahu, aku hanya punya doa dan engkau harus bahagia di dalamnya.

Semoga kau dapat membacanya, di manapun kau berada. Aku merindukanmu.

— 25 Januari 2012 —
Hujan pun reda, pada lengkung pelangi, aku mengenang matamu nan jelita.

Iklan

SECANGKIR KOPI UNTUK SAUDARAKU DI BALI

Kepada kakak, guru sekaligus saudaraku di Bali, @daprast.

Masih hangat dalam ingatan ketika kakak menyeduhkan secangkir kopi di hari ulang tahunku, dan aku begitu menikmati sesap demi sesapnya dalam diam, dalam renung. Mungkin benar, ada waktunya kita harus bernapas dan meminum secangkir kopi tanpa memikirkan penat usia–seolah dalam hidup hanya ada kita berdua, di mana tak ada kebahagiaan lain selain berbagi. Mungkin ada baiknya kita mengatur jadwal dan bertemu, sekadar membicarakan puisi, membuat Tuhan tersenyum melihat keakraban kita.

Masih hangat dalam ingatan, ketika kakak menepuk pundakku dan menyuruhku melepaskan seluruh beban dalam jenak. Tepukan kakak membuatku sadar–ada baiknya sesekali aku membuka jendela, dan merasakan udara segar menyentuh penat pikiran. Tiba-tiba saja hatiku dipenuhi rasa lega, dan matahari, bersinar lebih ramah.

Kakak, aku belum pernah ke Bali, sudah lama aku ingin menikmati panorama mistis di Ubud dan suasana ceria di Kuta. Aku juga ingin mengajak istriku berbelanja banyak sekali di Denpasar. — mungkin ketika kesibukan mulai mengendur, aku bakal terbang mendatangi rumahmu di sana. Sekalian memaksamu memberitahu tempat makan yang enak.

Kakak, aku tak bisa menulis panjang dulu. Entah kenapa, ketika terserang flu, aku kesulitan merangkai kata. Namun izinkanlah aku mengutip kembali puisi yang kakak tulis di blog. Aku tak pernah berhenti terharu ketika membacanya.

Kopi Ulang Tahun untuk @opiloph

Sahabat, kemarilah;
temani aku duduk menikmati fajar yang masih hangat di teras rumah;
kita urai bersama mimpi-mimpi yang belum terjamah;
sambil menikmati kopi pagi dan biskuit beremah.

Sahabat, duduklah;
mentari memang ‘kan meninggi lalu merekah;
sudah takdirnya harus hangatkan hamparan ladang dan sawah;
yang oleh hujan semalam dan embun sepagi, dibuat basah.

Sahabat, tunggulah;
senja tetap ‘kan menyapamu di ufuk barat, tak usah resah;
sejuta angan dan seribu ingin, tak bisa semua terejawantah;
sudah, buang saja semua gelisah.

Sahabat, teguklah;
cangkir kopi keberapa ini akupun entah;
lihat saja pagi esok yang masih mentah;
teriknya akan keringkan segala gundahmu yang resah.

Sahabat, rebahlah;
karena kita tahu muasal kita: tanah;
karena kita sadar sejati kita: lemah;
pada Sang Empunya jagad kita mestilah pasrah.

Selamat ulang tahun, Rafael Yanuar!

Terima banyak kasih, Kakak =).

— 20 Januari 2012 —
Dengan memanggil kakak, sepertinya aku terlihat lebih muda dan imut. Benar kan, Kak? (Diblender)

DARTH VADER DI SUATU BUKIT BATU

Kepada @Dhanzo, dokter, pendongeng dan serigala penunggang angin.

Benar. Ada banyak padanan kata jahat. Beberapa di antaranya — kejam, keji, menakutkan, mengerikan, psikopat, berperilaku selayak psikopat dan terakhir, tentu saja, Darth Vader. Selain menjadi salah satu tokoh sentral di serial Star Wars, Darth Vader juga dikenal sebagai tokoh antagonis paling fenomenal di dunia perfilman. Aku tak pernah benar-benar menyukai Star Wars seperti Ted Mosby dan kelompoknya di drama komedi How I Met Your Mother, tapi skena Darth Vader menghancurkan planet biru dengan satu tembakan tentu masih terngiang-ngiang di benak! Namun, di balik topeng hitam dan takdir pilihannya, ia tetaplah seorang ayah. Ia rela mati demi menatap dengan mata-kepalanya sendiri, bagaimana sosok putra kesayangannya, Luke Skywalker (spoiler). Barangkali benar kata pepatah, sekejam-kejamnya harimau, toh ia tak mungkin mencelakakan darah dagingnya sendiri.

Bertahun-tahun setelah demam Star Wars mulai mereda di hati dan pikiranku (uopo), tiba-tiba saja kamu memakai avatar tersebut–Darth Vader tengah berdiri di suatu bukit batu sedang memayungi seorang bocah. Di sana, suasana terlihat begitu tenang dan bersahaja. Namun juga unik. Di mana lagi kita bisa melihat, salah satu manusia terkejam di seluruh jagat raya, sedang menemani anak kecil melihat bunga-bunga? Caramu meramu lukisan tersebut benar-benar membuaiku, sampai rasanya penting untuk meminta gambarnya dengan resolusi penuh. Jadi, beginilah jika surat dicampuri dengan keinginan pribadi penulisnya. Pamrih? Biarin! Minta gambarnya, dong! (=_=)V

Aku juga ingat bagaimana kamu menuliskan dongeng tentang buku gambar dan keajaibannya, sampai aku benar-benar menganggapmu seorang ‘pendongeng’–seperti salah satu cita-citaku. Pendongeng selalu mampu membuatku terkagum, karena ia bisa menjembatani khayalan dan kenyataan dengan sangat menakjubkan. Lagipula, sedari kecil aku selalu menyukai dongeng–dan hal tersebut membuatku ingin menulis dan menerbitkan buku dongengku sendiri. Aku juga bisa menebak, kamu pasti menyukai serigala, seperti julukan kerenmu, ‘Serigala Penunggang Angin’.

Terakhir, aku terlambat menyadari bahwa kamu seorang dokter dan hal tersebut benar-benar membuatku tertegun, karena berarti kamu luar biasa dan serba bisa! Kamu lihai berfiksimini, menulis cerpen, bersajak, mendongeng, bercerita hangat, lelucon, bahkan mengadministrasi salah satu akun termoderasi paling terkenal di Twitter, @Syair_malam. Mau tidak mau, boleh tidak boleh, aku pun menjadi pengagum (sekarang bukan lagi) rahasiamu.

Oh, kamu pasti kecewa karena penulis suratnya laki-laki, tapi gambar Darth Vader di tengah bukit batunya boleh kan aku pinta? =P

Salam,

Raf

— 19 Januari 2012 —
Katanya, karena topengnya, Darth Vader tak bisa melihat sampai bagian dada. Aku jadi mengerti betapa tersiksanya dia.

Akhir Zaman

AKHIR ZAMAN

Hai, Amalia, aku mau menceritakan satu hal padamu. Kau boleh membacanya, boleh mengabaikannya. Namun aku harap kau mau membaca baris terakhirnya, jika ternyata paragraf pertama saja sudah dapat membuatmu mengantuk. Sebelum kaujenuh membaca basa-basinya, aku mulai saja suratnya =).

Oh, aku juga menyelipkan dua sajakmu sebagai inspirasi.

/1/

aku mungkin hanya ingatan samar di kepalamu, potret buram di pigura kenangmu–kau pahami sebagai cinta yang gegas.
— @ama_achmad

Aku bayangkan. Di masa depan, ada virus mematikan dan hanya menyerang manusia. Saking hebatnya virus tersebut, hanya dalam satu hari, Homo sapiens mengalami kepunahan. Bumi pun menjadi kota mati tanpa kehadiran kita–manusia. Bangunan-bangunan, meskipun masih berdiri tegak, terlihat begitu menyedihkan–temboknya lembab, rumput menyembul di keramiknya, di sudut-sudut ruangan, kecoak, tikus dan laba-laba membangun bahtera keluarga. Rumah-rumah menjadi bongkahan fosil dipenuhi ngengat dan ular, kolam renang lambat laun mengering dan dipenuhi rumput liar. Hanya dalam hitungan abad (mungkin satu abad saja), tiba-tiba ada hutan rimba di seluruh bumi. Kota besar dan segala kemewahannya tak lagi tersisa, benda-benda an-organik–seperti kaca, plastik dan sebagainya, meskipun memakan waktu berabad-abad, pada akhirnya toh terurai lagi menjadi komponen tak berbahaya seperti muasalnya.

Lantas, bagaimana kita bisa menandakan, bahwa kita pernah ada? Kita–manusia, selalu merasa sebagai spesies tercerdas dan terpandai, namun kenyataannya seringkali terbalik, spesies terlemah justru dapat bertahan lebih lama. Sudah berjuta-juta tahun dinosaurus punah, sementara kecoak masih ada sampai sekarang, bukan? Lalu, bagaimana aku bisa mempertahankan abadinya cinta jika aku sendiri begitu sementara?

/2/

senja lindap di peron stasiun, menyisa aku di bangku tua bersama sebuah tunggu purba–kereta yang dinanti tak kunjung tiba
— @ama_achmad

Barangkali, Amalia, ketika manusia punah, hanya dalam hitungan tahun, peron tempatmu menunggu sudah dipenuhi pohonan rimbun. Di sana, ada dua anak sungai mengalir jernih, menemani rel-relnya. Sementara kereta tua di sudut stasiun sudah dipenuhi burung-burung dan laba-laba, rumputan dengan cepat merambat di trotoarnya, dan bangku tempatmu duduk sudah melapuk dimakan rayap–bahkan deritnya tak lagi terdengar. Seketika, tercipta taman firdaus mini di sana, di mana surga seakan mengabadikan segala penantianmu–selaksa rindumu.

Namun, Amalia, aku selalu percaya, meskipun alam semesta kelam dan peradaban punah, pasti ada sudut-sudut abadi di balik setiap kehilangan. Sebab, akhirnya aku mengerti, — kamu, seperti halnya cinta, tak akan pernah tiada =).

Salam,

Raf

— 18 Januari 2012 —
Sebagian terganti, sebagian tak terganti. Sebagian menghilang, sebagian abadi