Tag Archive: #15harimenulisdiblog


Jeda

JEDA

Meski kata-kata ini hanya hiasan tak pasti tentang rasa
namun percayalah
tak perlu ada jeda yang membuat kita bisu untuk saling
mencari
di pandang mata masing-masing
sebab ketidakpastian pasti hadir mengukir jalan yang terlampau
panjang berliku

Dan yakinlah pada ujung perjalanan
selalu ada senyum menunggu
atas keteduhan batin dan ketabahan jiwa
yang tak terkatakan oleh apapun jua
tak lekang dilesap zaman-zaman
di sanalah kita ukir prasasti janji pasti

: aku tak butuh jeda untuk mencintaimu

Rafael Yanuar (24 Januari 2010)

“Jeda” ditulis waktu istriku dan aku melangsungkan pernikahan, tahun 2010 silam =).

Iklan

Hijau

HIJAU

Sungai biru menadah rindu —
di pucuk-pucuk daun padma.
Sunyi pun, terkantuk-kantuk
di dekat rumpun bambu.

Air bulan, bergoyang-goyang
tertiup bayu.
Waktu, menadah purnama
mengalir di bening biru.

Riam sungai menuju bukit
terus berkelok
basahi batu-batu.
Mengalir lembut, menuju ranah
sehijau batu zamrud.

Begitulah cintaku mengalir
terus mencari hijau matamu.
Tempat rinduku berpulang, dan —
membangun rumahnya sendiri.

Rafael Yanuar (12 Oktober 2011)

Jakarta Dini Hari

JAKARTA DINI HARI

Kita tentu tahu, ketika waktu sudah
mendentangkan tengah malamnya
sebagai sunyi, hujan hanya mampu menari
kendati tak ada satupun —
mendengar keluhannya.

Namun, aku masih terjaga
mendengar ketukan berulang
di dalam telinga.
Seolah hujan mampu memanggil-manggil
hati kesepian.

Aku pun berjalan menuju jendela dan melihat.

Jalanan lengang, pertokoan belum buka
barik abu-abu tumpah dalam bentuk gerimis
di luar, berbaris rintik-rintik embun
dan malam, seolah mengerti, dingin hati.

Hembusan angin menerpa pucuk dedaunan
— rindu terdalam hanya ada dalam dada.
Aku pun berjingkat membuka jendela
mencoba memahami
bagaimana hujan mendatangkan kenangan
— bagaimana hujan melapangkan sesak kehilangan

Malam hanya hening.
Rinai nyanyi dalam getir sunyi.
Hujan kerap menampar kaca menanjak ke hati
merambat terbata
mengabarkan duka.

Kau tahu, malam itu —
Jakarta, lesap dalam bunyi hujan.

Rafael Yanuar (08 / 09 Oktober 2011)

LAVENDER

Bunga lavender tumbuh di pekarangan rumahmu
batang matahari, bakal leleh di kelopaknya
: harumnya ranum kenangan.

Di sampingnya aku tumpahkan kembang ziarah
Sebagai pengingat, pada lihainya waktu
menyiasati pertemuan
dan, ketika kau berkata —
kematian hanyalah tidur panjang
camar pun terbang membelah langit
dengan kesedihan serupa senja.

Bunga lavender tetaplah engkau.
Warni di antara ribuan kembang putih
sementara langit semakin berdarah
dan bayangmu hadir sebagai doa.

Tidurlah, Kasihku — lelaplah dalam hati.
Usah kau tunggu langit kemarau
: luruh dalam rintik gerimis.

Rafael Yanuar (09 Oktober 2011)

Kamatian adalah kado kehidupan — dengannya kita bisa mulai memahami, indahnya perjumpaan.

Jakarta di Balik Jendela

JAKARTA DI BALIK JENDELA

Malam sembab
lampu-lampu kota masih menyapa laju kendaraan
kilaunya berbaur dengan pantulan merah
langit Jakarta
membuatku berpikir
bulan dan bintang pasti merasa kalah
hingga memilih tak bersinar.

Kau tahu —
ada rasa sunyi, ketika aku
memandangnya.

Neon pada tubuh gedung-gedung
bagai bianglala dengan warna tak hanya tujuh.
Malam mengenangkanku pada tahun-tahun
ketika kita saling bertukar sapa di salah satu
sudut pertokoan.

Sekarang, setiap kali saksikan jalan-jalan
di kota Jakarta
aku selalu teringat pada sosok ramahmu
namun, masihkah kau, tinggal di kota
— yang dulu pernah jadi rumahmu?

Rafael Yanuar (Boutique 10Q, 07 Oktober 2011)

Hari pertama di Jakarta.

Di jendela rumah susun, aku mendekatkan hidung, dan membiarkan napasku mengembun di sana. Kota hanya hening, meski aku yakin, jika jendela dibuka, deru kendaraan pasti masih bising.

GADIS JERUK

Georg, aku punya cerita —

Ada sebuah dongeng, tentang cinta
dan kau bisa menyebutnya kehidupan.
Kita juga ada di dalamnya
terutama dia, Gadis Jeruk, sebagai tokoh utama.
Di sini, kau bakal tahu
cinta selalu memiliki caranya sendiri
untuk bersentuhan dengan rindu.

Jadi, pada suatu siang, langit musim dingin
menembus jendela trem tua
cahayanya menyentuh lembut anorak milik
gadis pembawa sekantung besar jeruk.
Dan aku, begitu mudah jatuh
pada pandangan pertama
: padanya.

Kemudian
seperti rasa penasaran ketika kau menera-nera
letak bintang dan rembulan
begitulah aku coba mencarinya.
Dan jika aku sudah mulai menyerah
semesta selalu tahu —
cara untuk menautkan takdir kami.

Tetapi, tak seperti dongeng lain
di sini, kata “selamanya” tak pernah ada
namun sebagai gantinya —
kita dapat mengabadikan banyak sekali pertemuan.
Hingga, ketika kita menutup halaman-halamannya
kau bakal sadar
kita tak sedang membicarakan apa-apa
selain harapan,
bukan?

Rafael Yanuar (Oktober 2011)

Sebenarnya Gadis Jeruk adalah draft kedua sajak kolaborasi saya dengan paman saya, Micka. Kita berencana membuat sajak tentang novel Gadis Jeruk karya Jostein Gaarder. Di sini, saya memakai sudut pandang Jan Olav (— seorang Ayah) yang mewariskan kisah cintanya dengan gadis jeruk pada anaknya (Georg) dalam bentuk buku. Kisah yang indah. Kau harus membacanya =).

Anne Nygaard

Telur Dadar

CARA MEMBUAT TELUR DADAR

Pertama-tama
tentu saja, pecahkan cangkang telurnya
kocoklah dalam mangkuk
tak lupa, beri sedikit garam dan merica bubuk
“Jangan. Jangan pakai pelezat makanan,” katamu.

Cincang bawang putih dan bawang bombay
lalu taburkan tumisannya
aduk rata.
“Tak boleh menangis,” katamu
— sambil tertawa.

Kemudian, panaskan margarin
masaklah telur dengan api sedang
“Supaya matangnya merata,” bisikmu.
“Coba cium, aroma bawangnya terasa, ‘kan?”
Aku pun mengambil napas dalam-dalam.
Harum!

Setelah dirasa matang,
sajikan dengan sepiring nasi hangat
dan siraman kecap manis.
“Tara! Omelette ala Chef Luna, sudah jadi!”
sorakmu.

Rasanya aku sudah mengikuti semua saranmu
namun, ketika mencicipinya
tetap saja aku tak bisa membuat telur dadar
senikmat buatanmu.
Padahal, aku hanya berharap,
dengan membuat telur dadar sepertimu
aku tak pernah benar-benar
: kehilanganmu.

Rafael Yanuar (06 Oktober 2011)

Fiktif. Nama Luna diambil dari tokoh Luna Lovegood di novel Harry Potter #dikeplak =P.

Mengejar Capung

MENGEJAR CAPUNG

Pukul sepuluh pagi
Taman Kanak-kanak belumlah sepi
masih ada anak-anak bermain
meski jam sekolah sudah berakhir
— pun, kita.

Ketika hari mulai siang
kita bermain di tengah sawah.
Kau ingin menangkap capung berwarna merah
sedang aku, belalang di sekitar ilalang.

Kita pun sepakat berangkat, dengan bekal
sepotong jaring dan kandang kecil
berharap dapat menangkap sebanyak-banyaknya
serangga di pohon mahoni.
Namun, pada akhirnya —
kita tak mendapat capung merah
tapi menangkap dua kupu-kupu bersayap indah
(dan, alangkah lega, ketika menjelang senja kita
melepasnya)

Sekarang, dalam kerinduan masa kanak, aku tahu
: cinta pernah muda
dan tak menuntut banyak.
Seperti sepasang bocah di tengah ladang
duduk bersisian di pondok pematang
setelah seharian, lelah menangkap serangga.

Di mata mereka kita tahu
musim-musim, tak pernah menua.

Rafael Yanuar (05 Oktober 2011)

Sepasang Kepodang

SEPASANG KEPODANG

Ingatkah, Kekasih,
tahun lalu, kita membeli sepasang kepodang
dan menaruhnya di dalam sangkar.
Setiap pagi, kicaunya terdengar mesra
— membuat kita, selalu jatuh cinta.

Namun, pada suatu hari, pasangannya sakit
dengan tabah, engkau mengurusnya
dan memberinya minum.
Meski akhirnya, ia pun terkapar
dan tak bernyawa.

Kemudian, kita sama-sama
menguburnya di bawah angsana.
Kita pun menanam benih
tepat di sebelahnya, dan berharap
semoga di makamnya bakal tumbuh sekuntum kembang
sebagai tanda, kenangan tak pernah mati.

Sekarang, kepodang tinggal seekor saja
cericitnya tak lagi seriang dulu.
Setiap kali mendengarnya
kita, hanya merasa, sangat sendiri.

Rafael Yanuar (4 Oktober 2011)

Garis Waktu Senja

GARIS WAKTU SENJA

Sejak mengenal twitter, saya tak pernah kehilangan senja.

Setiap pukul 16.00, di linimasa, banyak bertebaran potret dan sajak tentang senja. Meski di kota, gurat candhikala, selalu terhalang keramaian dan tertutup atap rumah. Siapapun tahu saya suka senja, namun kemampuan fotografi saya di bawah rata-rata, hingga seindah apapun obyeknya, hasilnya selalu, ehm, saya punya istilah sendiri — bleurgh!

Jadi, hanya di linimasa saya bisa memandang senja, sambil menyesap hangat puisi, dan mensyukurinya. Dan ketika saya pulang ke rumah, meski matahari sudah menambatkan senjanya pada dermaga malam, ada banyak jejak pelayaran senja di linimasa — ada dari Makassar, Jakarta, Yogyakarta, bahkan sampai di kota saya sendiri, Cirebon. Terima kasih, semoga tak pernah bosan berbagi senja di timeline. Saya sangat (bahagia) menikmatinya =).

03 Oktober 2011