Latest Entries »

Jendela Hujan

jika langit adalah waktu,
aku ingin jadi hujan yang turun di kotamu,
lalu diam-diam mengembun di jendela kamarmu

bila hujan turun malam nanti,
adakah kaubayangkan aku,
ketika dengan jemari, kaulukis embun di kaca?

Desa Tukdana
Minggu, 6 November 2016

View full article »

Iklan

MUNGKINKAH ada sesuatu di sekolah saat malan hari?
View full article »

Memandang Langit

hai, apa kabar?

lama juga kita tak bersua.
siapa sangka, sudah limabelas tahun silam.

bagaimana di sana?
semoga kau baik-baik saja,
tak kurang suatu apa.
sejujurnya, aku ragu kau masih mengingatku.

tahukah kau,
lapangan yang sering kita lewati
selepas pulang sekolah,
kini berubah
menjadi toko serba ada.

sore ini,
ketika melihat fotomu
terselip di halaman 94-95
pada sebuah buku harian,
aku bagai menemukan
benda berharga yang lama hilang
terlupakan karena khilafku semata,
lalu tiba-tiba,
aku ingin duduk di bangku panjang
di bawah pohon mangga,
tempat kita sering menghabiskan senja
setelah seharian bersama.

Kota Cirebon
Jumat, 4 November 2016

View full article »

Haiku

angin berhenti
selembar daun kering
melayang jatuh

Kota Cirebon,
Jumat, 4 November 2016

View full article »

di trotoar yang berkilau sehabis hujan,
aku melihat kita berjalan
meski tidak bergandeng tangan,
karena kau dua langkah di depan,
kau memegang tas yang mengapit di pundak,
dan tersenyum padaku,
seolah baru saja berhasil menyelesaikan
kisah-kisah lucu yang setiap hari kita jumpa.
aku lupa membicarakan apa,
tapi hari-hari yang kita lalui bersama
masih membekas,
menjadi harta yang tak tergantikan.

meski berpaling, aku tahu kau tak ada
tapi aku yakin sekilas mendengar suaramu,
mungkin hanya masa lalu yang membisiki hatiku.
kini, sisa-sisa hujan membuat seluruh kota
memancarkan aroma sunyi yang berasal
dari angin yang berembus
melewati jalan-jalan lengang.

saat pepohonan, begitu juga senja,
membuat seluruh kota berubah sepia,
aku menyadari tak ingin beranjak.
biarlah pemandangan di depanku
menjadi kenangan yang mengabadikan
seperti daun-daun merah di bangku halaman,
di samping ayunan ban bekas
yang mustahil kita mainkan. lagi.

Desa Tukdana
Senin, 10 Oktober 2016

View full article »

Pohon Jambu Liar

ingatkah kau dengan pohon jambu liar
yang tumbuh di halaman sekolah,
yang buahnya kita petik saat libur kenaikan kelas?
adakalanya aku ingin kembali
pada masa-masa itu,
mengulang segala hal yang lebih sederhana
dari yang mampu dibisikkan angin
pada gemerincing lonceng di depan gereja
pinggiran kota.

kadang, jika dipikirkan lagi
masa lalu terasa sendu,
seolah kita hidup di dunia
yang hanya memantulkan warna sepia,
seperti potrait yang kita simpan
di buku harian masing-masing—
meski aku sudah lama menghilangkannya
bersama seluruh kenang yang tercatat
di lembar yang kauberi.

pohon jambu itu kini tampak tua
dan aku tak pernah mendatanginya lagi,
apalagi memanjatnya,
memikirkan ulat bulu
yang menempel di rantingnya saja
aku sudah geli—
padahal dulu kita jadikan mainan,
aku membayangkanmu berkelakar.

ia masih juga liar
setelah tahun-tahun yang kita lewati,
juga hari-hari yang kita jelang sendiri.
tapi mungkin tidak,
dalam relung hatinya yang terdalam,
ia pernah merasa kita miliki?

Jatibarang,
Minggu, 9 Oktober 2016
—mendung, habis hujan.

View full article »

i.

kau bersorak, “akhirnya!”
ketika jendela menjadi sejuk
oleh gerimis pertama yang luruh
sejak kedatangan kita beberapa hari lalu.
aku tertawa memandangmu.
padahal hujan sama di semua kota,
bahkan di kampung halaman.
tiada beda.

“jelas beda,” katamu,
“ini ibukota!
presiden tinggal di sini,”
kaupamerkan baris gigi dalam sebait senyum,
tak lupa pose dua jari seraya berkata, peace
meskipun yang kudengar malah please.  

kau mengajakku duduk dekat rel
dan memilih satu di antara sederet bangku
lalu bersandar di bahu.
kau tertegun memandang kerikil tergenang hujan,
di antara jalan kereta, terendam dan kasat.

kau berpaling padaku, seraya berkata,
“bagaimana rasanya menanti sesuatu
yang mungkin tak ada?”

ii.

di kereta,
selagi aku khusyuk merenung tanya,
kau asyik mendengarkan lagu-lagu di walkman.
iwan fals, atau dewa 19?—aku menebak.
kau duduk bersandarkan kaca jendela,
dingin menyentuh pelipismu,
lalu tersentak ketika kereta api lain
lewat berlawanan.

aku tertawa
dan kau mengembungkan pipi.
merajuk.

tahukah kau, sampai sekarang,
aku masih menyimpan karcis itu,
terselip di antara buku yang kubaca
saat kau terlelap di separuh perjalanan.

aku masih menjaga seluruh pemandangan,
kabut-kabut kelam,
geletar gerbong dideru lebatnya hujan,
dan lampu-lampu yang menyala
saat langit berubah merah.  

sandaranmu pada bahuku,
aroma sampo dari rambutmu,
harum parfum yang kaukenakan,
juga suara samar yang kudengar
dari earphone di telingamu.
semua itu puisi,
yang tak jenuh-jenuhnya kutangisi.  

iii.

cinta kan membawamu kembali.

itu judul lagu kesukaanmu, bukan?
aku baru saja mendengarnya
dari bangku a-empat
di sebuah gerbong kereta api.
kenangan yang tersimpan
dalam setiap denting piano,
menjadi sejernih suara hujan,
saat melantunkan nada-nada sunyi.

sudah lama sejak kereta bergulir
dari perhentian terakhir,
langit yang menyimpan seluruh pertanyaan
tentang bagaimana-jika,
masih menyajikan hamparan kelam
yang sama sepanjang berpuluh-puluh kilometer—
meskipun yang kulihat (dan kuingat) saat ini
hanya sepasang mata kecil di wajahmu.  

kini, tak ada yang bisa diajak bicara.
tak ada yang bisa aku lakukan.
selain melepas rindu
dan bersandar pada pintu,
berserah pada segala yang sementara,
lalu memilih kenangan mana
yang ingin kuajak serta
dalam ruang yang sunyi ini.

View full article »

Beberapa Lirik Lagu

Berikut ini adalah beberapa lirik lagu yang saya cipta setahun belakangan.
View full article »

1.
Markas Rahasia

jika kauberjalan ke arah selatan
di belakang sekolah yang catnya
sudah mulai mengelupas
akan kautemukan sebuah bukit
ditumbuhi ilalang setinggi lutut,
dan aliran sungai
yang suaranya semerdu tawa kanak-kanak
ketika bermain petak umpet
di antara baris pepohonan.
tentu, jika kau mau bersabar
dan melangkah sedikit lebih jauh
tersembunyi di antara ranting-ranting rendah
sebuah markas rahasia
tempatku biasa berkumpul
bersama teman-teman.

tak ada yang istimewa sebenarnya,
kadang kami hanya bermain gameboy
dan bertukar stiker kartun
yang diam-diam kami ambil dari rumah.
tapi rasanya menyenangkan sekali!
meski hanya gudang beratapkan seng,
di sana, kami tak perlu memusingkan
pr dan ujian.

jika jenuh dan kebetulan cuaca tak terlalu terik
kami biasa berjalan menyusuri jembatan
sambil meramalkan
apakah goku bisa mengalahkan frieza
di episode dragon ball berikutnya?
lalu, tanpa sengaja, kami sudah menirukan gaya “kamehameha”
dan menentukan siapa kawan siapa lawan.
bahagia meski hanya kami yang berada di kota
selama libur sekolah.

kini, tahun-tahun telah berlalu
ada rasa segan ketika melangkahkan kaki
memasuki kusen tak berpintu
dan menjenguk kenang-kenangan di dalamnya.
tetap saja, seberapa keras usahaku
masa lalu tak mungkin kembali.
langit perlahan-lahan berubah merah
seiring suara angin yang berbisik di kejauhan.

karena selalu ada baris tak tercatat
rahasia yang mengekal bersama usia—
kotak kenangan yang mustahil dibuka,
aku duduk memandang langit,
tanpa merisaukan banyak hal yang tak lagi
mampu kujangkau.

2011

View full article »

Boleh dibilang tahun 2002 adalah tahun yang tenteram sekaligus kelam yang pernah terjadi dalam lintas hidup saya. Maka tak heran banyak puisi yang saya tulis seringkali berbicara seputar kematian, hidup, dan penyesalan. Bila dibandingkan dengan tahun 2009 yang rumit, dan tahun-tahun setelahnya yang sederhana, tulisan saya di tahun 2002 mungkin gabungan keduanya. Lima di antaranya saya temukan terserak di antara tumpukan kertas tua. Beberapa sudah masuk dalam tahap edit.

Semuanya tidak masuk dalam buku Serenada Hujan.

View full article »