Category: Uncategorized


Hujan yang Lain

hujan yang lain turun di kotamu. hujan dengan bahasa, kenangan, dan kerinduan yang berbeda. yang warnanya tak mampu ditangkap mata. yang muskil dibaca. yang lebih pilu dari air mata. hujan yang tak mau menunggu. hujan yang menetes tanpa suara.

dapatkah kau mendengarnya; kesunyian itu?

tanda maut itu?

kau mengenal baik jalan ini, bukan?
yang ditandai kunang-kunang,
yang mengisap sari embun di ranting.
saat melewatinya,
adakah kaudengar
langkah kaki peri yang samar,
yang tak sedikit pun menyentuh
daun-daun gugur di sunyi setapak?

ada kalanya, saat kau merindukan
mimpi-mimpi lama
yang tak kaudengar lagi
semenjak kau beranjak dewasa,
ada rindu yang tak terungkap
dari masa lalu

mungkin pertanda
yang berbisik tanpa suara,
yang mengembara sepanjang keabadian
(dan denyutnya disembunyikan telinga,
sesaat setelah mata terpejam)
mungkin firasat
yang menolak bicara
di dinihari yang senyap.

ah, inikah saat yang tepat
untuk membuka lagi
dongeng masa kanak kita
yang dikisahkan bunda
sesaat sebelum lelap?

barangkali ada yang tak terbaca
dari hal-hal yang kita lupakan

waktu yang hilang begitu saja
diremas lengan-lengan usia?

Sabtu, 1 Juli 2017

Jakarta Senja

halo.
apa kabar?

setiap kali aku kembali ke tempat ini,
aku selalu mengingatmu,
melebihi segala yang mampu kusimpan dalam benak.
entah mengapa, kenangan itu seperti keluar
dari tempat persembunyian,
menyapaku, dengan cara yang tak terduga.

rona senja yang hangat dan gerimis yang getir
kala magrib memudar, menuntunku untuk mengenali
getar yang pernah mengisi jemari,
juga sisa keheningan yang melingkupi seluruh pilu
dari kehilangan yang mungkin mendekatkan.

seperti lantun clair de lune atau serenade in b flat
di sebuah kafe yang terletak di dekat lampu merah,
terkadang, aku ingin kenangan itu menangkap nada-nada
yang melatari setiap sesap secangkir kopi.
dan kau menjelma rasa manis
yang tersisa di ujung lidah.

Minggu, 25 Juni 2017

karena tak mampu membeli kembang api
di malam satu syawal,
kita mencelupkan ilalang di sungai
berharap kunang-kunang sudi
meminum sisa tetes di helainya.
seperti tahun-tahun sebelumnya, bukan?
kau berbisik.
aku mengangguk mengiyakan.

langit berawan dan malam tanpa bintang
menudungi desa
mendung tak jua menjadi hujan.
tapi sesekali, terdengar jua derik jangkrik dan cicada
ditingkahi suara air.
dan risau dedaunan.

manakala gelap membuana tanpa kata
dan segala yang bergerak terlelap,
kunang-kunang bermunculan
satu pesatu. sedikit demi sedikit.
berkerumun di seberang kita.
tengoklah, permukaan sungai yang dalam
berpendar karenanya.

kita menanti dengan jari bergetar.
sudikah mereka mampir di lalang yang kita genggam?
malam semakin relung,
tapi kita tidak terburu-buru, bukan?

biarkan saja waktu berlalu
dan melewati kita.

kau tersenyum dan mengangguk,
air mata mengalir di pipi.

_@_

Minggu, 25 Juni 2017
1 Syawal 1438 H

Hei

hei,
adakah yang luput kulihat
sesuatu yang kautemukan namun tak kuhiraukan
sehingga kehidupan yang penuh duka ini
sanggup kautempuh dengan senyum yang teduh?    

hei,  
katakan padaku,
apa yang istimewa dari kota ini  
yang membuatmu tertawa bahagia
bahkan saat cahaya yang berguguran hanya memantulkan warna duka yang sama?

tapi kau tak menjawab  
hanya impian yang dipahat waktu
menjadi batu
—kenangan itu,
dan aku akan sendiri berjalan  
seperti hari-hari kemarin,
bersama segala hal yang akan kulupakan
sekali lagi.

hei,  
bagaimana caramu mengatasi kesedihan
saat mereka yang kausayangi
satu-persatu pergi—
jika yang tersisa hanya kesendirian  
dan dunia yang takkan mengerti aku
sebaik dirimu.

entah kenapa, ada perasaan haru dan sedih setiap kali saya berdiri di hadapan jendela, di malam pergantian tahun. kenangan-kenangan bagai berkelebat sejelas siang hari, ketika kembang api melesat, mekar, lalu layu ditelan senyap dan segala riuh menjelma kilasan singkat yang tak berarti di ujung mata.

sudah berapa kembang api yang saya lihat sepanjang hidup? barangkali setiap pendarnya merangkum banyak kenangan yang mewakili momen serupa di tahun-tahun yang lalu. tapi takdir, pada akhirnya, hanya letup kecil yang menyala sejenak setelah perayaan usai. kesadaran yang terlambat ada. mengingkari yang sejatinya telah.

_@_

Sabtu, 31 Desember 2016 —
Minggu, 1 Januari 2017
Dekat Jendela Kamar 727
Swiss-Belhotel, CSB Mall,
Kota Cirebon

(Ditulis sambil menyantap sisa popcorn sehabis menonton ‘Passengers’ di detik-detik terakhir tahun 2016)

BERKILAU
(Terjemahan bebas lagu Wacci – Kirameki
OST. Shigatsu wa Kimi no Uso
bisa dinyanyikan, lho)

bahkan saat aku bersedih
kau mampu membuatku tersenyum,
dunia jadi kembali bersemi
saat kita bertemu.

mari kita lalui lagi
jalan yang sudah mengenal
langkah yang kita bina,
saat hujan berhenti,
saat lembut angin menyapa kota.

bila kita bersama, aku selalu berharap
hari ini berlangsung selamanya.
tapi semua berubah,
saat aku menatap
sepasang matamu dan mengatakan:

aku ingin menyentuh lagi
hangat tanganmu yang kurindu,
bersama denganmu, menjalani hari
aku tak butuh apa pun lagi.

engkaulah satu yang kunanti
menghias relung mimpi-mimpi
bagaimana mungkin
aku mampu bertahan sendirian?

meski berpaling, aku tahu
kau tak mungkin ada di mana pun,
namun suaramu masih terdengar
menyentuh seluruh ruang
dalam hatiku.

andaikan aku mampu
mengulang hari-hari,
saat kita berjalan di musim semi.
kini, rimbun sakura serupa rona senja,
daunnya mulai berwarna lembayung.

lalu aku teringat lagi
kenangan lama bersamamu,
pipimu merona, rekah bagai bunga,
izinkanlah aku melihatnya mekar.

kini, harapanku melayang
bersama daun-daun jingga—
mampukah dengannya
kerinduan ini
tersampaikan?

bila malam beringsut sunyi
suaramulah yang kunanti
mendengarnya saja, hatiku seperti
terlindung dalam kehangatan peluk.

sebab kaulah yang membuat
hari-hari yang bersahaja
menjadi harta yang muskil tergantikan,
“terima kasih.”

Baca lebih lanjut

Ibu

suatu pagi.
aku menemukan musim gugur,
dalam secangkir teh
yang kauseduh.

pelan. perlahan.
aku mendengar suara daun
disapu di pelataran rumah.

burung-burung berkicau
di dahan-dahan rendah pohon pinus.

rerumputan pelan berdesir
ketika cangkir mendekat bibir.

bahkan suara kereta. ai, suara kereta,
bergesek dengan rel. samar di kejauhan.
terdengar juga.

di antara sesap, aku merasakan
lembut tanganmu, membelai pipi.

di ceruk yang kosong,
aku menyimpan
segala kenang
yang (mungkin)
pernah ada.

_@_

Baca lebih lanjut

1.
halo, penyihir.
apa kabar?
apa kabar hogwarts?
selepas harry dan teman-teman
mengalahkan voldemort,
tampaknya di balik peron 9 3/4
tak ada kekacauan lagi.
semoga selamanya begitu.

sesekali, ajaklah aku
ke diagon alley
aku ingin membeli tongkat sihir
dan belajar merapal mantra.
barangkali aku bisa menciptakan patronus
dari hal-hal sederhana,
seperti yang biasa kaulakukan
dengan senyummu.

Baca lebih lanjut

cintamu, benang-benang bening dirindu
remuk redam kering dahan, kalbuku.
rinduku, kemerisik pelan daun-daun
pendar-pendar ilalang di musim kelabu.
kita, cahaya lampai kunang-kunang
di sembap malam
luka resah kelam tanpa rembulan.

maka tersenyumlah, mata puisi,
seperti lukisan penyair, ketika daun-daun
basah di lansekap lampu malam,
dan bersukalah sepenuh hati,
bagai bintang tak lupa berkedip
memandang elok dan purna karya Tuhan.

Kota Cirebon,
Minggu, 9 Juni 2013.

_@_

Baca lebih lanjut