Category: Uncategorized


Di Terik Siang

kekasihku yang baik,
aku menulis puisi ini
saat menikmati keheningan
yang tiba-tiba menyelimuti
kota ini.

bayangkan,
deru kendaraan—mobil dan motor
yang sedari tadi berkejar-kejaran
terhenti begitu saja
tanpa menyisakan apa pun
di jalan raya.

namun, suara nyanyian
kicau burung yang indah,
yang mengisi udara
dengan syair yang tak kupahami,
membuatku hanyut
oleh rindu padamu.

maka, kekasihku,
untuk kali ini saja,
izinkan aku membayangkan diri
sebagai sekuntum bunga
yang menebar senyum
pada hatimu
yang musim semi.

(rabu, 26 juli 2017)

Iklan

Matahari Pagi

selamat pagi.

bahkan pagi ini pun
kau tak lupa menyapaku.

kaugenggam tanganku dan berkata,
“semua akan baik-baik saja,
percayalah,”
dan tahu-tahu, bibirmu yang hangat
mengecup keningku, mesra.

aku bersyukur, kau selalu setia
menjagaku dan semua yang kusayangi.

kaubuat berkilauan
rumput muda di tanah
dan memeluk tanpa suara
harapan yang dipanjatkan.

maafkan aku yang seringkali
melupakan kebaikanmu, yang lembut dan tulus.

padahal kaulah yang senantiasa
tersenyum
dan menungguku dengan sabar,
kau juga yang selama ini mengajariku
menyadari yang kekal
dan yang esok mungkin tak ada.

(jumat, 28 juli 2017)

2 Samuel 23:4

ia bersinar seperti fajar di waktu pagi, pagi yang tidak berawan, yang sesudah hujan membuat berkilauan rumput muda di tanah.

Kampung Halaman

di jalan ini
hingga sore datang menjelang
dan magrib berkumandang,
kita bercanda menghabiskan hari
dan mengenangkan segala hal
yang esok mungkin tak ada.

di setapak berbatu ini
tanpa sepatu kita berlari
setelah puas bermain air
di sungai sudut desa.

lama sudah tak pulang
aku tak banyak mengingat
hari-hari yang dulu terlewat.
masihkah waktu yang sama
berdetak di sana?

di rumah tua ini
pernah ada ribuan senja
yang kupandang tanpa suara
betapa, apa yang kini tinggal kenangan
sisakan hangat di sudut mata.

selasa 26 september 2017

puisi ini terinspirasi lirik lagu tradisional jepang yang berjudul furusato, ditambah kenangan indah—yang kini semakin samar, di kampung halaman. apa kabar, sahabat lama?

Hujan yang Lain

hujan yang lain turun di kotamu. hujan dengan bahasa, kenangan, dan kerinduan yang berbeda. yang warnanya tak mampu ditangkap mata. yang muskil dibaca. yang lebih pilu dari air mata. hujan yang tak mau menunggu. hujan yang menetes tanpa suara.

dapatkah kau mendengarnya; kesunyian itu?

tanda maut itu?

Jakarta Senja

halo.
apa kabar?

setiap kali aku kembali ke tempat ini,
aku selalu mengingatmu,
melebihi segala yang mampu kusimpan dalam benak.
entah mengapa, kenangan itu seperti keluar
dari tempat persembunyian,
menyapaku, dengan cara yang tak terduga.

senja yang hangat dan gerimis yang getir
kala magrib memudar, menuntunku untuk mengenali
getar yang pernah mengisi jemari,
juga sisa keheningan yang melingkupi seluruh pilu
dari kehilangan yang mungkin mendekatkan.

seperti lantun clair de lune atau serenade in b flat
di sebuah kafe yang terletak di dekat lampu merah,
terkadang, aku ingin kenangan itu menangkap nada-nada
yang melatari setiap sesap secangkir kopi.
dan kau menjelma rasa manis
yang tersisa di ujung lidah.

Minggu, 25 Juni 2017

karena tak mampu membeli kembang api
di malam satu syawal,
kita mencelupkan ilalang di sungai
berharap kunang-kunang sudi
meminum sisa tetes di helainya.
seperti tahun-tahun sebelumnya, bukan?
kau berbisik.
aku mengangguk mengiyakan.

langit berawan dan malam tanpa bintang
menudungi desa
mendung tak jua menjadi hujan.
tapi sesekali, terdengar jua derik jangkrik dan cicada
ditingkahi suara air.
dan risau dedaunan.

manakala gelap membuana tanpa kata
dan segala yang bergerak terlelap,
kunang-kunang bermunculan
satu pesatu. sedikit demi sedikit.
berkerumun di seberang kita.
tengoklah, permukaan sungai yang dalam
berpendar karenanya.

kita menanti dengan jari bergetar.
sudikah mereka mampir di lalang yang kita genggam?
malam semakin relung,
tapi kita tidak terburu-buru, bukan?

biarkan saja waktu berlalu
dan melewati kita.

kau tersenyum dan mengangguk,
air mata mengalir di pipi.

_@_

Minggu, 25 Juni 2017
1 Syawal 1438 H

Hei

hei,
adakah yang luput kulihat
sesuatu yang kautemukan namun tak kuhiraukan
sehingga kehidupan yang penuh duka ini
sanggup kautempuh dengan senyum yang teduh?    

hei,  
katakan padaku,
apa yang istimewa dari kota ini  
yang membuatmu tertawa bahagia
bahkan saat cahaya yang berguguran hanya memantulkan warna duka yang sama?

tapi kau tak menjawab  
hanya impian yang dipahat waktu
menjadi batu
—kenangan itu,
dan aku akan sendiri berjalan  
seperti hari-hari kemarin,
bersama segala hal yang akan kulupakan
sekali lagi.

hei,  
bagaimana caramu mengatasi kesedihan
saat mereka yang kausayangi
satu-persatu pergi—
jika yang tersisa hanya kesendirian  
dan dunia yang takkan mengerti aku
sebaik dirimu.

entah kenapa, ada perasaan haru dan sedih setiap kali saya berdiri di hadapan jendela, di malam pergantian tahun. kenangan-kenangan bagai berkelebat sejelas siang hari, ketika kembang api melesat, mekar, lalu layu ditelan senyap dan segala riuh menjelma kilasan singkat yang tak berarti di ujung mata.

sudah berapa kembang api yang saya lihat sepanjang hidup? barangkali setiap pendarnya merangkum banyak kenangan yang mewakili momen serupa di tahun-tahun yang lalu. tapi takdir, pada akhirnya, hanya letup kecil yang menyala sejenak setelah perayaan usai. kesadaran yang terlambat ada. mengingkari yang sejatinya telah.

_@_

Sabtu, 31 Desember 2016 —
Minggu, 1 Januari 2017
Dekat Jendela Kamar 727
Swiss-Belhotel, CSB Mall,
Kota Cirebon

(Ditulis sambil menyantap sisa popcorn sehabis menonton ‘Passengers’ di detik-detik terakhir tahun 2016)

Ibu

suatu pagi.
aku menemukan musim gugur,
dalam secangkir teh
yang kauseduh.

pelan. perlahan.
aku mendengar suara daun
disapu di pelataran rumah.

burung-burung berkicau
di dahan-dahan rendah pohon pinus.

rerumputan pelan berdesir
ketika cangkir mendekat bibir.

bahkan suara kereta. ai, suara kereta,
bergesek dengan rel. samar di kejauhan.
terdengar juga.

di antara sesap, aku merasakan
lembut tanganmu, membelai pipi.

di ceruk yang kosong,
aku menyimpan
segala kenang
yang (mungkin)
pernah ada.

_@_

Baca lebih lanjut

1.
halo, penyihir.
apa kabar?
apa kabar hogwarts?
selepas harry dan teman-teman
mengalahkan voldemort,
tampaknya di balik peron 9 3/4
tak ada kekacauan lagi.
semoga selamanya begitu.

sesekali, ajaklah aku
ke diagon alley
aku ingin membeli tongkat sihir
dan belajar merapal mantra.
barangkali aku bisa menciptakan patronus
dari hal-hal sederhana,
seperti yang biasa kaulakukan
dengan senyummu.

Baca lebih lanjut