Category: Semenjak


Saya sedang berada di Dalilea,
ketika Yesus datang dan melihat hasil tangkapan saya
sama sekali kosong
Ia pun bergegas menghampiri saya, dan bersabda
“Jika kau hendak mendengar Aku, ada sebuah teluk
di mana ikan-ikan berkumpul
dan jumlahnya sangat berlimpah.”

Saya pun terheran dengan perkataan-Nya.
“Guru, kami telah mengenal seluruh teluk di sini,
karena ombak alangkah besar
ikan-ikan pastilah mencari lubuk terdalam
di mana jala kami tak lagi mampu menjangkaunya.
Namun bila Engkau menyuruhnya, kami lakukan,”
sahut Andreas, saudara saya.

Yesus pun menuntun kami menuju laut lepas
dan menyuruh kami menebarkan jala di sana
benar saja, ikan-ikan berkumpul bak hujan
jala kami hampir koyak karenanya.

Saya pun memandang wajah-Nya
tepat ketika awan menggumpal tua —
nyala api pun memijar dalam jiwa
baranya berkobar
dalam darah menjadi debar.

“Maka, ikutlah dengan-Ku,
sebab Aku hendak menjadikanmu penjala manusia,
di mana jalamu tak pernah lagi
kan hampa.”

Rafael Yanuar
7 April 2012

/ Kenangan akan Yesus /

Musim Terakhir

Tuhan, maafkan aku,
ketika dunia tak lagi memiliki musim,
di mana aku harus menanam bibit pemberian-Mu?

Tanah di bumi telah menjadi bongkahan besi berkarat
rumah tak ubahnya makam-makam peradaban.
Langit tak lagi biru
waktu menciptakan ketakutan demi ketakutan baru.
Malam hanya imajinasi.

Lalu, berapa banyak peristiwa
mesti aku abaikan, Tuhan,
sementara Kau asyik berlama-lama
dengan air mata-Mu sendiri.

— 25 Maret 2012 —

Sajak Seringkali

Dengan cahaya
kau dapat melihat segalanya
kecuali dirimu sendiri.

Tanpa cahaya
kau dapat melihat dirimu sendiri
dan segala sesuatu
yang sebenarnya tak ada.

Namun
hanya di hatimu, aku dapat menemukan
segalanya
: menjadi tak ada.

— 7 Maret 2012 —

Akhir Zaman

AKHIR ZAMAN

Hai, Amalia, aku mau menceritakan satu hal padamu. Kau boleh membacanya, boleh mengabaikannya. Namun aku harap kau mau membaca baris terakhirnya, jika ternyata paragraf pertama saja sudah dapat membuatmu mengantuk. Sebelum kaujenuh membaca basa-basinya, aku mulai saja suratnya =).

Oh, aku juga menyelipkan dua sajakmu sebagai inspirasi.

/1/

aku mungkin hanya ingatan samar di kepalamu, potret buram di pigura kenangmu–kau pahami sebagai cinta yang gegas.
— @ama_achmad

Aku bayangkan. Di masa depan, ada virus mematikan dan hanya menyerang manusia. Saking hebatnya virus tersebut, hanya dalam satu hari, Homo sapiens mengalami kepunahan. Bumi pun menjadi kota mati tanpa kehadiran kita–manusia. Bangunan-bangunan, meskipun masih berdiri tegak, terlihat begitu menyedihkan–temboknya lembab, rumput menyembul di keramiknya, di sudut-sudut ruangan, kecoak, tikus dan laba-laba membangun bahtera keluarga. Rumah-rumah menjadi bongkahan fosil dipenuhi ngengat dan ular, kolam renang lambat laun mengering dan dipenuhi rumput liar. Hanya dalam hitungan abad (mungkin satu abad saja), tiba-tiba ada hutan rimba di seluruh bumi. Kota besar dan segala kemewahannya tak lagi tersisa, benda-benda an-organik–seperti kaca, plastik dan sebagainya, meskipun memakan waktu berabad-abad, pada akhirnya toh terurai lagi menjadi komponen tak berbahaya seperti muasalnya.

Lantas, bagaimana kita bisa menandakan, bahwa kita pernah ada? Kita–manusia, selalu merasa sebagai spesies tercerdas dan terpandai, namun kenyataannya seringkali terbalik, spesies terlemah justru dapat bertahan lebih lama. Sudah berjuta-juta tahun dinosaurus punah, sementara kecoak masih ada sampai sekarang, bukan? Lalu, bagaimana aku bisa mempertahankan abadinya cinta jika aku sendiri begitu sementara?

/2/

senja lindap di peron stasiun, menyisa aku di bangku tua bersama sebuah tunggu purba–kereta yang dinanti tak kunjung tiba
— @ama_achmad

Barangkali, Amalia, ketika manusia punah, hanya dalam hitungan tahun, peron tempatmu menunggu sudah dipenuhi pohonan rimbun. Di sana, ada dua anak sungai mengalir jernih, menemani rel-relnya. Sementara kereta tua di sudut stasiun sudah dipenuhi burung-burung dan laba-laba, rumputan dengan cepat merambat di trotoarnya, dan bangku tempatmu duduk sudah melapuk dimakan rayap–bahkan deritnya tak lagi terdengar. Seketika, tercipta taman firdaus mini di sana, di mana surga seakan mengabadikan segala penantianmu–selaksa rindumu.

Namun, Amalia, aku selalu percaya, meskipun alam semesta kelam dan peradaban punah, pasti ada sudut-sudut abadi di balik setiap kehilangan. Sebab, akhirnya aku mengerti, — kamu, seperti halnya cinta, tak akan pernah tiada =).

Salam,

Raf

— 18 Januari 2012 —
Sebagian terganti, sebagian tak terganti. Sebagian menghilang, sebagian abadi

LAGU YANG DINYANYIKAN TUHAN
DI HARI PENCIPTAAN

Lihat kebun-Ku
penuh dengan bunga
ada yang putih dan ada yang merah
setiap hari, Kusiram semua
mawar melati, semuanya indah.

Musim Gugur

MUSIM GUGUR
: Penjual Bunga

Musim gugur adalah
gadis kecil berambut merah
dengan ranum apel di pipi bulatnya
dan senja, begitu suka, rekah senyumnya.

Langit itu
sebuah taman dengan pijar lampu
tempat dia, selalu duduk dan terpaku
memandang jenjam jejak-jejak waktu.

Malam tiba
terang bulan mengalir di kolam renjana
pohon ingatan luruh dalam bentuk —
guguran rindu.

Gadis kecil pun terkantuk
ketika Tuhan membelai rambutnya
dengan lembut
di situ ada kedamaian bagi jiwa
di kedalaman lubuk kesunyian.

Rafael Yanuar (15 Oktober 2011)

LEGENDA ADAM, HAWA DAN KEMATIAN TUHAN

Konon —

Adam belum mati
meski jiwanya terkubur bersama pohon tua
matanya tak pernah terpejam.
Dengan kesedihan, ia menatap ketinggian
cari-cari, di mana tulang rusuknya, dipendam.

Namun —

Hawa dikutuk dalam bayang-bayang
Tuhan pun hidup dalam bayang-bayang
bukankah hidup tanpa ruang dan waktu hanya ada
dalam bayang-bayang?

Kini —

Adam sudah mati
Hawa tidur di sampingnya
dengan lega ia tutup matanya

Tuhan pun berbaring bersama dua napas-Nya,
bahkan mata-Nya sudah terpejam
semenjak dosa diciptakan.

Lantas, jika sekarang,
kau dan aku
hanya dapat melihat
bayang-bayang Tuhan
dan kehidupan.

Lantas
apa
— lah kita
sesungguhnya
?

Ular?

Rafael Yanuar (06 Oktober 2011)

Dolly

DOLLY

Di puncak tertinggi menara katedral
sebongkah lonceng lupa pada fajar
begitulah aku —
terlahir di rahim teknologi
berada di tubuh DNA somatik
: tuhanku, ilmu pengetahuan.

Di mataku
langit begitu tabah menyentuh bangunan tinggi
seakan dapat mencapai tangan Tuhan
dengan jemari.
Di sanalah — di sebuah pagoda sains
aku tercipta.

Sekarang aku tak tahu
harus bagaimana memulai sebuah doa.
Aku menghitung waktu
— dengan keping-keping paling fana
dan kadang, kenyataan terasa begitu jauh
jauh sekali.

Kreator menamaiku Dolly
rusuk-rusuk rapuh kehidupan
: muasalku.
Kau bilang aku pembuka kurung mitos-mitos purba.
Namun, kepada siapa
aku harus berdoa
pada akhirnya?

Tu(h)an?

Rafael Yanuar (20 September 2011)

Buku Harian 16/09/2011

16/09/2011

— 01

HUJAN

Kekasih
ketika hujan tumpah di kota-Mu
pohon-pohon menaruh suka, menaruh rindu
menaruh harapan menaruh sunyi
pada tiap rintik, tiap jatuh, tiap detik
dan luruh dan hinggap dan lesap
pada pucuk-pucuk tetumbuhan.

Dan ketika waktu dideretkan seperti kereta mainan
dan engKau menggerakkannya di atas rel-rel sunyi
aku malah diam sahaja, cari-cari
di mana engKau simpan rahasia?
Hingga aku, tak pernah terjaga dan terus
— merindui-Mu!

— 02

PUN

Sebagai kenang
— pada jalanan lengang
sebagai kenang
— pada rekahan petang
sebagai kenang
— pada segala ruang.
Aku berenang!
Dalam engKau, dalam tenang,
dalam lekang!

— 03

REDA

Tubuhku, lidah — menerjemahkan bahasa
terbaca sebagai doa
pada-Mu.

Rafael Yanuar (16 September 2011)

Pulang Pada-Mu

PULANG PADAMU

Rafael Yanuar (19 Agustus 2011)