Category: Cerita Kilat


Ada gadis belia, matanya langit hijau di malam purnama, hijaunya tak cerah, melainkan kelam mendekati hitam. Kantung bekas permen selalu ia dekap, katanya sebagai wadah rembulan. Setiap malam, ia merengek di pangkuan ibunya, dan memintanya memetik rembulan kemudian memeluknya mesra.

Ibunya hanya geleng-geleng kepala, “Nak, semenjak ayah pergi, Ibu sudah tak bisa menjala rembulan,” katanya. Gadis kecil hanya menangis, kemudian mengantuk dan terlelap di pangkuan ibunya. Dalam tidur, ia bermimpi memeluk rembulan dan memamerkannya pada anak-anak tetangga.

Ibu hanya tersenyum memandang putri semata wayangnya, wajah lelapnya demikian damai, tanpa sedikitpun menyisakan isak di pejam matanya. Di depan jendela, cahaya bulan memantul samar-samar, bundarnya dipotong antena-antena televisi — sebelum gerimis, menjadikannya berkeping-keping.

Matanya mengembun manakala melihat putrinya terlelap begitu jauh. Ia sudah berkali berusaha melupakan masa lalunya, namun setiap kali mencoba, ingatannya kembali mengabur dan menjadi jernih seperti pemandangan setelah kabut. “Kau perempuan penjala rembulan,” katanya, “Dan aku langit malam kehilangan.”

15 Maret 2012

“Halo!
Mau bunga?”

Seorang gadis kecil—usianya mungkin setahun-dua lebih muda dibanding aku, membangunkanku yang sedari pagi terlelap. Ia memiringkan kepalanya dan bersandar di samping tangan kananku yang dipasangi selang infus.

Aku melihat benda yang dibawanya. Sekuntum bunga, berkelopak putih, dengan tangkai berwarna hijau kecoklatan. Sepertinya mawar. Tapi entahlah.

Aku mendesah.

Dengan mata terkantuk—karena pengaruh obat bius belum benar-benar pupus, aku berkata, “Boleh. Berapa?”

Gadis di sampingku bergumam lama, lalu menjentikkan jarinya—meskipun gagal, karena aku tak mendengar bunyi ctak. Ia mundur beberapa langkah, sambil mengangkat telunjuknya, menyeringai, dan berkata, terlalu riang sebenarnya, “Gratis!”

Ia meletakkan bunga tersebut di dadaku. Aku menatap jendela, suara kepak hujan masih terdengar, mendung membuat suasana menjadi sendu, dan kelabu, percuma saja tadi—sebelum tidur—aku menyuruh perawat membuka tirai.

Aku tertawa. Lalu menaruh bunga pemberiannya di sebuah meja—yang terletak di samping kiriku, dan mengambil buku gambar, serta pensil, yang juga aku simpan di sana. Aku mulai menggerakan jari dengan sedikit bergetar karena menahan rasa nyeri yang berasal dari jarum infus.

“Ini,” kataku, sambil menyerahkan hasil lukisan sederhanaku. “Cukup, tidak?”

Ia mengambilnya, lalu duduk bersila di lantai, memandangnya takzim, kemudian menyipitkan mata dan tersenyum puas. “He’eh!” ia menatapku girang. “Terima kasih!”

Seusai berkata demikian, ia langsung melesat secepat angin dan menghilang di balik pintu. Aku tak pernah tahu siapa ia.

P.S.
Belakangan, aku menyadari ia mendapatkan bunga-bunga itu dari orang-orang yang menjenguknya. Ia juga pasien rumah sakit ini.

“Setelah lama mengarungi hidup bersama, tentu Anda mengenal pasangan hidup Anda. Menurut Anda, apa kekurangan suami Anda? Dan seberapa banyak?”

Perempuan di hadapanku tertawa. Keriput sudah menghiasi pipi dan matanya. Tapi, ia masih cantik, apalagi dengan busana sederhana berwarna putih yang saat ini ia kenakan, dan senyumannya masih mampu membuat siapapun yang memandangnya, merasakan damai.

“Kekurangannya? O, banyak sekali,” ia mengerdipkan matanya. “Saking banyaknya, saya tak mampu menghitungnya. Bagaikan bintang di langit!” Ia menjawab dengan nada bergetar.

“Lagipula—”

Sebelum ia berkata lebih lanjut, aku memotong kata-katanya, “Dan kelebihannya?”

Ia mendesah, lalu menukas, “Selama bersamanya, saya baru menemukan satu. Seperti matahari.”

“Lalu, bagaimana Anda bisa bertahan?”

Perempuan di hadapanku melipat tangannya, dan aku menatapnya takzim.

“Bintang-bintang di langit memang banyak,” ia berbisik. “Namun, saat matahari muncul, tak satu pun terlihat,” ujarnya, dengan sorot mata bangga.

Aku berdiri, menghampirinya, lalu memeluknya lembut. Ia selalu saja berhasil membuatku jatuh cinta. Bahkan setelah tahun-tahun yang kami lalui. Saat menatapnya — mendengar suaranya, aku masih merasakan debar yang sama.

Ia istriku.

KALAU kau mengetik kata “batu terang” pada mesin pencari Google, ia bakal mengantarkanmu pada bermacam-macam batu fosfor dan batu akik yang bentuknya unik dan menarik—asyik, berima. Tapi tidak, “batu terang” yang saya maksud di sini hanyalah batu biasa yang kalau diterawang di bawah sinar matahari terlihat tembus pandang. Batu-batu tersebut menggunung di depan ruko ketika saya masih tinggal di Jambi bersama keluarga yang mengadopsi saya.

Baca lebih lanjut

image

Putraku sayang, apakah kau tengah berbaring di dekat jendela saat membaca surat ini? Atau kau tengah duduk nyaman di ruang tamu, sambil sesekali menyantap kudapan yang ibumu belikan di minimarket sore tadi—oh, apakah minimarket itu masih berdiri di tempat yang sama? Apakah rumah kita masih berada di alamat yang aku ingat? Dulu—saat aku menulis ini, kau akan bersorak, dan tampak begitu gembira, setiap kali ibumu membelikanmu sebungkus Taro. “Buka! Buka!” begitulah yang kauucapkan, berkali-kali, dengan suara yang tak pelan. Kau juga senang bermain perosotan di Fun World, lalu menenggelamkan diri di lautan bola kecil berwarna-warni.  

Baca lebih lanjut

PERUMAHAN Citra Indah terletak di kecamatan Jonggol, kabupaten Cileungsi, Jawa Barat. Pada dekade 1990-an, bangunan di perumahan tersebut banyak yang belum rampung dan dibiarkan begitu saja. Beberapa proyek bahkan diabaikan tanpa ada kejelasan, apalagi tanda bakal diselesaikan—meskipun sudah separuh jadi dan bentuknya tampak layak dijadikan hunian.  
Baca lebih lanjut