Category: Celoteh Kecil


Potret

POTRET

Setidaknya, cinta pernah sederhana
pada sebuah potret
kau begitu senang, duduk menyantap jagung bakar
sementara bulan di langit Yogya
berpendar cerlang menyapa
menangkap senyum terindahmu
: malam itu.

Malam demikian cerah
terang bintang terpacak di langit — udara sejuk
: gemawan lembut seusai hujan
demikian silir labuhkan peluk.
Di depan kedai
lima orang musisi memakai rompi serupa koboi
menyanyikan lagu-lagu zaman dulu
: mulai dari Wonderful Tonight
sampai tembang Jikustik
era lagu Setia.

Cinta
ternyata sederhana
selaik senyum kekasih di malam purnama
di sebuah potret tua
begitu lembut dan menawan.

=)

Rafael Yanuar (20 Juli 2011 10.20)

Catatan:
Memang tidak nyambung, biasanya rompi koboi dipakai saat musisi ingin menyanyikan lagu country, bukan pop — apalagi blues. Tapi, itulah kenyataannya =P.

Celoteh Kecil

CELOTEH KECIL
Sekumpulan sajak kecil tentang cinta

/1/

Sebuah dunia yang terlahir ketika kita memejamkan mata
: adalah cinta

Sebuah dunia yang terlahir ketika kita jatuh cinta
: adalah rindu

/2/

Cinta adalah ribuan peristiwa
dalam satu kepakan sayap kupu

/3/

Aku merasakan ketabahan daun-daun gugur
ketika kelopaknya dibasahi embun

/4/

Jika kau bisa setabah pohon yang buahnya dicecap tupai dan serangga
maka kebahagiaanmu pasti akan berkembang bijak

/5/

Sudah sejak lama, sangat lama
kita saksikan langit luas di lintas senja
bertaut
: bagai percakapan tanpa kata

/6/

Siapa tahu, dalam jejak-jejak temaram di langit itu
rindu datang menyapa doa-doa
tapi, masihkah kau menemukan malamku?

/7/

Gerimis melintas di kota kecilmu, sedang rinduku
selintas mimpi, di sepi hatimu

/8/

Pada muram malam
lampu kota memancarkan sedu dan sedan
sedang bintang-bintang
selintas menghilang di tepi waktu

/9/

Seandainya bisa, aku ingin membaca sajak-sajakmu
dengan segenap sepi yang coba aku alami sendiri

/10/

Rekahan senja menyapa lelah pada lalu lalang kendaraan
sebelum senyap kembali datang
dan lampu-lampu kota mulai dinyalakan

/11/

Ada banyak hal yang membuatku jatuh cinta padamu
tapi sebagian besar adalah hal-hal sederhana

/12/

Aku ingin menjadi pendengar yang baik
saat kau membacakan cerita buat anak-anak kita nanti

/13/

Semalam aku bermimpi menjadi daun jatuh
di telapak tanganmu
dan merasakan betapa nyeri sebuah kehilangan

/15/

Di bangku kereta, seorang gadis terlelap di pundakku
rambutnya menyentuh leher, legam bagai malam
lembut sekali aromanya

/16/

Dalam sendirinya
sebatang pohon tetap bisa bertutur tentang keriangan daun-daun
tanpa pernah merasa sepi

/17/

Dingin dan sepi menaruh pena di sisi waktu
kemudian berharap ia mau menuliskan sajak
dengan kertas-kertas pemberianmu

/18/

Pada sajak, kata pertama adalah tunas
dan bait terakhir, akar penyerap segala daya
begitu menyayanginya

/19/

Di halaman rumahmu, ranting-ranting meluruhkan daunnya
sedang dzikir tak pernah berakhir di tepi pembaringan

/20/

Nyala lilin di pojok ruang
remang-remang membangun ingatan
tapi hujan di lepas jendela
menghancurkannya perlahan-lahan

/21/

Aku kembali menatap hujan di halaman rumahmu
tapi kapal kertasku
sudah hanyut dan tenggelam

/22/

Kau, terang bulan di malam bersalju
aku, ranting patah di dasar telaga

/23/

Langit menaungi rinduku.
Terima kasih, sekarang aku tak bisa melangkah kemanapun
tanpa mengingatmu

/24/

Pada pagi bulan Juni, hujan datang –
pohon-pohon menolak tumbuh
daun-daun menyesap rindu barang sekejap

/25/

Pada dasar telaga, sehelai daun terbaring
sedang terang bulan, menyusup celah air
: mencoba menyentuhnya

/26/

Ketika kau tertidur, ikan-ikan di akuarium seperti kehilangan
samudera di cerlang matamu

/27/

Rindu menumbuhkan sayap pada punggung-punggung waktu

/28/

Jika aku lampu minyak, maka yang menyala-nyala di dalamnya
adalah jiwamu – yang mulia

/29/

Jika tubuhmu dipasung di tanah seperti sebatang pohon
bagaimana kamu bisa menahan pilu ketika waktu beranjak meninggalkanmu?

/30/

Tuhan telah menanamtumbuhkan kesedihan dalam jiwa kita
agar waktu mampu memahami takdirnya
sebagai penyembuh yang ulung

/31/

Kepadaku semata, kekasih, rindu itu temaram
seperti doa mengekalkan peristiwa
: pada lubuk ingatan

/32/

Beginilah cara waktu menyiasati pertemuan
: dengan meletakkan embun di bawah sehelai daun
agar terhindar dari sinar matahari

/33/

Jika kau merindu sepasang sayap
maka mengepaklah bersama ingatan
menuju ruang-ruang
yang tak pernah terjangkau pikiran

/34/

aku seringkali lupa, ujian terbesar cinta adalah kerinduan
bukan kehilangan

/35/

Pagi kecil di balik jendela
: menemukan cahaya di pendar matamu

Dirangkum pada 14 Juli 2011

RUMAH LAMA

Kerap kali menemukan fotomu di saku baju
: ada haru
menyembul manis di relung ingatan
kau merekah sempurna bagai bunga menyapa pagi
aku menyayangimu – bagai daun menyulam sepi.

Dan pada akhir bulan Juni nanti
aku ingin menyempatkan pulang
sekadar nikmati senja di halaman rumah
sambil menyesap secangkir teh seduhanmu
relungi legitnya, menyusup nadi-nadi hidup.

Bukankah langit telah menanamtumbuhkan cinta
pada perjumpaan kita?

Sayang, ingatkah kau saat rumah ini
masih baru, dengan aroma cat memenuhi ruangan
: dan kita mengukir rancangan sederhana
pada tembok-temboknya?
Lalu mengukur undak-undakan
memilih keramik berwarna merah muda
: supaya suasana selalu ceria

Aku terdiam
benarkah segalanya tak berubah?

Rafael Yanuar (Jatibarang, 16 Juni 2011 – 09:27)

Di Pucuk Monas

DI PUCUK MONAS

Di pucuk monas
aku sehelai rambut mempersunting
rindu pada tunas senja.
Aku menanti sepasang tangan
menawar sepi secarik puisi.
Aku terus menahan diri
meski langkahku, sungguh sepijak mimpi

“Lihat, betapa lihai angin mengingkar sepi,”
Seru waktu

Di pucuk Monas, aku sehelai angin pada sepucuk daun
dihimpit kenang pada sepotong ranting.
Dia tak goyang meski aku mengajaknya pergi
meninggalkan masa silam dengan sepotong rindu.
Dia memintaku mengajari bahasa
yang biasa diucapkan waktu

“Lihat, betapa lugu sepucuk daun itu,”
Ujarmu.

Dan aku, menjadi ragu
untuk berhembus

Rafael Yanuar (22 Juni 2011 11:45)

Kekasih, kau menuntunku ke jalan kalbu, mengenalkan aku pada senyap suara, mengajarkan hati untuk bicara seutuhnya
: pada jiwa

_______________________________

JALAN KALBU
:papi

Perkamen tua di langit nan hitam
serupa matamu, kelabu — kelam, melebihi malam
seakan kau dapat menyentuh masa lalu
dan menenun ingatan, menjadi hiasan kalbu
meski aku tahu, kau terus menatap hidup
: sembunyi di ceruk waktu.

Bayang-bayang pohon dan lenting daun
menjadi ansambel
menyela jenjam pada isyarat
: menyulam rindu di lubuk-lubuk kecemasan.
Sementara kau terus menunjuk ruang-ruang
melantunkan gelisah di musim nan jauh
aku terhanyut mengurai asal-muasal pertemuan
menganai-anai rindu, merasakan pelukmu
: pada tanah berkabu-kabu.

Tapi, kepadaku semata, kekasih
: rindu itu temaram
seperti doa mengekalkan peristiwa
pada lubuk ingatan.

Kini, pada kelebat daun-daun
aku terpekur menyebut namamu.

Sampai aku lupa – pada kata-katamu

: rindu menumbuhkan sayap
pada punggung-punggung waktu
.

Rafael Yanuar (22 Juni 2011 – 10:12)

Air Hidup

AIR HIDUP

Jika jiwamu dahaga – oleh kebutuhan
maka berilah ia perbuatan
– dengan segenap hati, tanpa meminta imbalan
Sebab dengan satu tindakan,
Hidup telah memberimu sepotong harapan
dan mengambil segala resah
bersama hari kemarin
Sebab bumi tak pernah berputar ke masa lalu
– ia konstan, dan nyata
mendorong segala daya
menjadi kekuatan

Rafael Yanuar (20 Juni 2011 – 20:18)

Cavalcade of Stars

Merekam beberapa lagu dalam bentuk CD dan memutarnya kembali di masa-masa santai, kemudian mengenang banyak sekali pertemuan — ternyata dapat dijadikan hobi yang menyenangkan.

Kembali hadir kompilasi CD Jepang susunanku, namun dengan lebih jujur pada selera pribadi — tanpa peduli apakah musisi yang terpilih terkenal / tidak sama sekali. Bukan judul-judul terbaru, melainkan dari tahun-tahun terdahulu (sejak 2007).

Silakan diapresiasi =)

_@_

Menyenangkan akhirnya aku menemukan cinta lamaku, Orange Plankton dalam tubuh Yuyake Lamp — tetap indie dan melantunkan musik-musik nan teduh dan menenangkan. Vokal Yunn masih seperti dulu (sebelumnya bernama panggung Yumi) – dapat mencapai range nada tinggi dengan padu suara kekanak-kanakan. Ngomong-ngomong, ‘klung-klung’ pada akhir refrain di lagu Kibune no Uta itu suara angklung, bukan?

Masih di ranah indie, ada advantage Lucy dengan lagu cerianya, Windy Sunny Friday lalu Soutaisei Riron dan nada-nada ajaibnya. Kemudian D. W. Nichols, mencoba merekam jejak indah masa remaja dengan lagunya, Harukaze. Serta band rock the band apart — meski aku memilih tembang akustik moonlight stepper dalam kompilasi ini. Terakhir, noanowa beserta panggung sirkusnya pada Loop, Loop.

Kemudian, ada tembang teduh nan jenius milik Tomita Lab – Parallel (featuring Hata Motohiro), dan pop dinamis Yu Takahashi – Honto no Kimochi. Pun, lantun R&B dan balada milik SEAMO, FUNKY MONKEY BABYS dan TEE, serta melankolia Tsubakiya Quartette dalam menghayati Material. Ada Ken Hirai dengan pop romantisnya, Itoshiki Hibi Yo dan Kobukuro, dengan lagu Ano Taiyo Ga, Kono Sekai Wo Terashitsudukeru.

Sepertinya, bakal menjadi kompilasi yang memenangkan hati banyak orang =)

Berikut daftar lengkapnya:

_@_

Cavalcade of Stars
19 Juni 2011

01 – advantage Lucy – Windy Sunny Friday
02 – Yuyake Lamp – Tenohira
03 – D. W. Nichols – Harukaze
04 – SEAMO – Yakusoku
05 – Soutaisei Riron – Moonlight Ginga
06 – the band apart – Moonlight Stepper
07 – noanowa – Loop, Loop
08 – Ken Hirai – Itoshiki Hibi Yo
09 – Tsubakiya Quartette – Material
10 – Kobukuro – Ano Taiyo Ga, Kono Sekai Wo Terashitsudukeru
11 – TEE – Baby I Love You
12 – Yu Takahashi – Honto no Kimochi
13 – FUNKY MONKEY BABYS – Ato Hitotsu
14 – Tomita Lab – Parallel (featuring Hata Motohiro)
15 – Yuyake Lamp – Kibune no Uta

SAJAK DAUN
Sekumpulan sajak kecil tentang daun

/1/
Pada telapak sehelai daun
ada sepi ditulis embun
: pada waktu

Pada telapak sehelai daun
sepi dikabarkan angin
: pada rindu

/2/
Daun jatuh bukan lagi milik ranting, airmata
menangislah
: dan kesedihan tak lagi milikmu

/3/
Ranting-ranting menuliskan sajaknya
di lembar-lembar dedaunan
– lalu dikirimkan pada bunga-bunga
sebelum musim semi tiba

/4/
Dengan menggugurkan daunnya
: ranting telah menanam rindu

/5/
Aku merasakan ketabahan daun-daun gugur
ketika kelopaknya dibasahi embun

/6/
Kau terkesiap
: sehelai daun tertiup angin
kemudian jatuh
di halaman buku yang kau baca senja itu

/7/
Barangkali seperti inilah rindu itu, kekasih
: sehelai daun jatuh
– dan kita tak mendengar apa-apa
selain sunyi

/8/
Senja selalu dapat menjadi tempat,
di mana reranting
meluruhkan daunnya sepenuh lega

/9/
Jika kau merekatkan daun pada rantingnya lagi
ia hanya akan menjadi rindu yang semu
pada masa lalu, yang jauh

/10/
Setenang waktu, melintasi batas-batas hidup
demikian daun mempersiapkan musimnya

Dirangkum pada 10 Juni 2011

IHWAL HUJAN

Jika kau mendapati
Pada lantai terlihat titik gelap
Akibat hujan turun semalam
– maka kau tak lagi bermimpi
Berjalan di atas tanah lindap
Dengan segala sajak kelam

Bahkan jika kamu tak mendapati
Sehelai pun awan menaungi
Kita pasti paham
: dia jatuh dari tempat yang jauh lebih tinggi
Dari apa yang dapat
Kita duga

Perumnas Cirebon, 19 Mei 2011 22.43

ADA YANG TAK MAMPU AKU LUPA
: ns

Ada yang tak mampu kulupa
: bersamamu, melewati hari-hari
kau telah menorehkan kenang pada rindu yang membayang
di setiap kejadian – yang selalu
terngiang dalam benak.

Ada yang tak mampu kulupa
: tawa lepasmu, saat melewati
sepanjang jalan sisi kota berdua
sambil mengumpulkan ingatan
dan menyimpannya dalam cengkerama panjang.

Ada yang tak mampu kulupa
: pejam mata, saat kukecup keningmu
saat itu, malam menyembunyikan cahayanya
di relung bulan Desember
Pun kala hening dikumandangkan gerimis,
aku berbisik di telinga kananmu
“aku cinta kamu”
yang oleh hati, ditujukan untuk diucapkan

Dan seketika itulah
kita telah
– menciptakan rindu

Tegal Gubug, 10 Mei 2011 – 10:19