Category: Celoteh Kecil


Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sehimpun epigram tentang cinta

Januari 2012

/1/

Menyadari detik tak pernah berhenti, aku selalu takut pada waktu.

/2/

Doa mestinya menjadi rahasia yang tak mampu dijangkau kata-kata.

/3/

Teman, meskipun kaubersihkan berkali-kali, warna arang tetaplah hitam.

/4/

Kamu, seperti halnya cinta, tak akan tiada.

/5/

Jika aku boleh dilahirkan kembali, aku ingin menjadi puisi yang kamu tulis.

/6/

Jika langit adalah waktu, aku ingin menjadi hujan yang turun di kotamu.

/7/

Setiap melihat jam, aku selalu bertanya, pada siapa waktu sebenarnya berdetak?

Februari 2012

/8/

Aku ingin rumah kita dibangun menghadap laut, di mana kita bisa mendengar gemuruh ombak, berdenyut bersama nadi kehidupan.

/9/

Kau tahu, Sayang, ada embun di setiap sajak tentangmu.

/10/

Rindu hanyalah embun di sekuntum lili, yang setiap pagi selalu kaubasuh, sambil memandang sesuatu yang jauh.

/11/

Cinta terindah tidak bertindak dalam tindakannya.

/12/

Meski tak pernah mampu membukanya, cahaya bulan tetap menembus jendela. Di dalamnya, seorang penyair, tegar menuliskan sajak.

/13/

Aku ingin mencintaimu sehari lebih lama dari apa yang kita sebut selamanya.

/14/

Dalam cinta, Kekasih, kehidupan hanyalah perjalanan yang berangkat dari diri kita sendiri — menuju diri kita sendiri.

/15/

Aku ingin merindukanmu lebih lama, melebihi segala kesadaran, akan ketiadaan.

/16/

Sejak purba, langit tak pernah berubah, selalu membentangkan cinta, di manapun kita berada.

14 Februari 2012 (Durable Love)

/17/

Salam, Penyair, ajari aku menuliskan keindahan, dengan kebenaran.

/18/

Dalam hidup, ada begitu banyak cara meraih kebahagiaan, dan aku memilih menjadi orang yang selalu kaucintai.

/19/

Aku ingin mencintaimu, Kekasih, lebih dari apa yang bisa aku janjikan, pada hidup.

/20/

Dalam cinta, satu-satunya hal yang tak pernah bisa kita miliki, adalah ketiadaan

/21/

Aku ingin memiliki jiwa yang selalu mencintaimu.

/22/

Aku karang, karam dalam samuderamu. Aku langit, hanyut dalam semestamu.

/23/

Sebelum bertemu kamu, aku bahkan tak tahu, doa ternyata memiliki wujud.

/24/

Begitulah, bila rumput merindukan langit, ia tak pernah bisa menggapai apa-apa, selain perasaan sepi, dan sia-sia.

/25/

Kelak, cinta membuatmu mengerti, bagaimana rasanya berjalan di atas jembatan, yang tak pernah menghubungkan apa-apa.

/26/

Terkadang, ketika merindukanmu, aku merasa bagaikan tukang kebun, yang bekerja di rumah tanpa bunga.

— Maret 2012 —

/27/

Embun yang tak ditangkap matahari, hanya akan jatuh ke tanah. Hidup seringkali tak memberikan pilihan apa-apa, selain kalah.

/28/

Yang memeluk kita sebelum cinta, adalah sunyi.

/29/

Cinta adalah segala hal yang dapat kaudengar, kecuali dengan telinga — segala hal yang dapat kaulihat, kecuali dengan mata.

/30/

Dalam ciuman kita, Sayang, aku membayangkan sebuah tempat, di mana cinta tak perlu mempertanyakan keberadaannya.

/31/

Pada suatu tahun yang embun, ada sepasang mata, yang buta, karena melihat cinta.

/32/

Ketika segalanya menjadi terlalu sedikit, bagi cinta — maka, selamanya akan menjadi terlalu singkat, bagi kita.

/33/

Pagi, sepanjang usianya, telah melihat segalanya.

/34/

Penyair yang kesepian itu tahu bagaimana caranya menuliskan Tuhan, tanpa kata-kata.

/35/

Sebab, Sayang, di bawah langit yang selalu baru, segala sesuatu–termasuk cinta, tak pernah lelah memperbaiki dirinya sendiri.

/36/

Adakah yang lebih sunyi dari kematian seorang penyair yang puisi dan bukunya, tak pernah lagi dibaca dan diingat?

/37/

Seorang perempuan merasakan teduhnya sebatang pohon ketika ia menyadari — puisi, bukan hanya milik penyair.

/38/

Bahkan, untuk menciptakan semesta, Tuhan harus lebih dulu membentuk ketiadaan, kehampaan.

/39/

Hanya dengan menyentuh temboknya, kita bisa memahami perasaan sunyi sebuah rumah yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya.

/40/

Kelak, di Padang Asphodel, kita kan mengerti, pagi adalah segala sesuatu yang tumbuh, tanpa harus dipermainkan cuaca.

— 20 Maret 2012 —
Ulang Tahun ke-72 Sapardi Djoko Damono

/41/

Sebab waktu adalah jalanan berbatu, Tuan. Tanpa darah, kita tak dapat meninggalkan jejak apa-apa, ketika berjalan di atasnya.

/42/

Sebenar-benarnya hidup, Sapardi, adalah cahaya yang tak pernah mampu dilumpuhkan usia.

/43/

Dalam kerja yang sederhana, Sapardi, aku mengenal cinta.

21 Maret 2012 (Lomba Puisi)

/44/

Sebab hidup adalah dongeng besar, Hans, yang tak pernah lelah menulis dirinya sendiri.

/45/

Di stasiun tempat penantian subway itu, Du Fu, hujan yang baik jatuh membasahi benih yang kautanam.

/46/

Kini, rinduku seperti benang pendek yang ingin menerbangkan layang-layang melampaui batas dirinya.

/47/

Di rumah itu, tinggal seorang penyair yang hidup sendiri, semenjak matanya buta, ia tak pernah lagi merasa kesepian.

/48/

Sejak kenangan menjadi asing bagimu, Orpheus, masihkah kaupercaya, cinta dapat tumbuh, meski dunia tak lagi memiliki musim?

/49/

Di padang Asphodel, Eurydike, cinta hanyalah keadaan tak terbatas, di mana hidup tak lagi mendenyutkan apa-apa, selain lupa.

/50/

Tersenyumlah, Eurydike, sebab rindu membuatku paham: betapa indah kematian itu.

/51/

Pukul 17.00, aku membayangkanmu sebagai awan, yang lebih abadi dari senja itu sendiri.

/52/

Malam yang sendiri lebih angin dari dingin di musim apapun, begitu pun rindu.

/53/

Rumah tanpa jendela adalah penjara, begitu pun rindu.

/54/

Adakah yang mesti diingat, dari genang air di sawah yang baru ditanami, selain sesuatu yang kelak harus dikenang, dengan senyuman?

— 1 April 2012 —

Iklan

Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sejumlah epigram tentang cinta

— November 2011 —

/1/

Konon, di antara rekah bunga, ada air mata Aphrodite. Kekasih, selain cinta, kesedihan mana, mampu menciptakan musim semi?

/2/

Dalam sunyi, aku merasa, engkau hadir dalam setiap helai daun, dan waktu, tak lagi mampu, menghalau apapun dalam hidup.

/3/

Di atasmu, Orpheus, langit malam, tumpah dalam butiran salju. Lalu, haruskah dingin, membangun kembali rasa kehilanganmu?

/4/

Eurydike, pada sisi tenang telaga, aku mengenangmu — namun rindu, masih terus mencari, di mana pagiku, kau sembunyikan.

/5/

Namun, Eurydike, mampukah maut mengalahkan cinta? Kini, meski tak ada cahaya di Hades, jiwaku, alangkah bahagia, menemukanmu.

/6/

Di padang hijau, di mana pepohonan tumbuh dengan rindang, ada seekor burung, mati kelaparan.

/7/

Kekasih, aku ingin merindukanmu lebih lama — melebihi lantunan ombak pada rembulan, melebihi biru danau, pada hijau pohonan.

/8/

Kekasih, percayalah, dari sebagian yang hilang, Tuhan selalu menyisakan, sebagian yang abadi, dan tak tergantikan.

/9/

Evy, aku takut, rinduku hanya seperti sehelai daun — tumbuh hanya untuk dilupakan, bahkan oleh pohon yg dulu merawatnya.

/10/

Sayang, tak ada satupun kenangan yang pantas dilupakan. Bukankah karena ada masa lalu, tidur memiliki mimpinya sendiri?

/11/

Kekasih, kausering kukenang, di antara celah reranting, bagaimana matahari menitipkan pagi, di cerlang embun dan daun-daun.

/12/

Setelah hujan, langit tampak lebih bersih. Seolah hati kita ikut dibasuh, ketika memandangnya.

/13/

Tak seperti mata dan telinga, kau tak bisa menutup hati untuk hal-hal yang tak ingin kau rasakan.

/14/

Seekor camar mengira, di permukaan laut ada kembaran bulan, ia pun terbang merendah. Namun sayapnya merusak mimpinya sendiri.

/15/

Kunang-kunang, cahayanya diliputi fajar. Di tapal batas hidupnya, ia bersyukur tak mati, dalam gelap dan sendiri.

/16/

Setelah nyaris setahun mendekam dalam tanah, kunang-kunang hanya punya waktu seminggu di dunia
: tulus, memberi cahaya.

/17/

Di telapak tanganku, kunang-kunang, kehabisan cahaya. Namun sisa hangatnya, masih terasa, di dada.

/18/

Di tepi jembatan tua, seorang puan menanti tuannya. Di sudut senja, waktu meneteskan air mata, untuk janji yang terlalu fana.

— Desember 2011 —

/19/

Pertemuan memiliki jiwa, dan kita menyebutnya cinta.

/20/

Setelah lelah berkicau di banyak cabang, burung-burung pasti kembali, berumah di satu dahan. Keluarga — tempat ternyaman.

/21/

Adakah yang lebih setia dari bayang-bayang, selalu siap memberi teduh, pada cahaya, tanpa peduli betapa rapuh, keberadaannya.

/22/

Aku mata, menghendaki kau sebagai cahaya, jernih pandang bagai selendang sungai, menangkap adamu, sejak purba.

/23/

Aku butuh kau, sebagai suara, mengisi seluruh sunyi dalam jiwaku. Aku butuh kau, sebagai cahaya, menebang gulita, tiadaku.

/24/

Aku pucuk mendamba pagi, membutuhkanmu sebagai doa, ketika lengan-lenganku lelah, luruh dalam kesia-siaan, menyentuh cahaya.

/25/

Aku ingin duduk di atas bukit, memandang bintang, mencoba merenungi degup jantungku sendiri, dan merasakanmu.

/26/

Dalam puisi, Kekasih, cintaku bergema, menyuarakan sedihnya, menguduskan kebahagiaannya, melipatgandakan rindunya.

/27/

Aku ingin memahami suka-dukamu, supaya kau tak lagi kesepian, ketika bahagia; dan tak pernah sendiri, ketika bersedih.

/28/

Sumur di belakang rumah, sudah lama tak berair. Pada akhirnya, hidup tak pernah menjanjikan apa-apa, selain waktu.

/29/

Senja tersenyum, di sebuah taman, angin dan rumput tak pernah peduli, siapa di antara mereka yang sebenarnya tak ada.

— Epigram Dongeng dan Natal —

/30/

Di sebuah bangku taman, seorang kakek menyanyikan lagu Natal, pada cinta pertamanya. Di sanalah, cinta tak pernah menua.

/31/

Seperti pendongeng, langit selalu mampu, mempertahankan nyala kenangan, di benak kita.

/32/

Di dalam gereja, Patrasche, ada hal-hal tak terkatakan, terbaca di matanya. Nello — hanya padanyalah, waktu, melintas sunyi.

/33/

Gadis kecil, boleh aku pinjam korek apimu, sekadar membakar mimpi dan harapan, di mana waktu, tak pernah menjadi sia-sia.

/34/

Seperti Peter Pan dan serbuk bintangnya, dengan dongeng, kita mampu melampaui waktu, di mana rahasia, mengekal bersama usia.

/35/

Kita tak hidup dalam dongeng, di sini tak ada pembatas di penghujung kisah, dan kenangan, tetaplah karunia meski menyakitkan.

/36/

Di matanya, ada malam Natal abadi, di mana doa memancar bagai bintang, dan langit, menjadi penghayatan hidup tiada batas.

/37/

Langit pendongeng tua, menghendaki kita mengisi sepetak kisah, di lembar-lembar dunia — dan waktu, menjadi tintanya.

/38/

Di balik jendela, sehelai daun tertegun memandang cahaya bulan — aku pun mengerti, selalu ada alasan untuk percaya, pada doa.

/39/

Kau tak sedang membicarakan dongeng, Rosemary, melainkan harapan — yang hidup melampaui keterbatasan manusia.

/40/

Gadis kecil, aku ingin lebur dalam nyala korek api di tanganmu — untuk meyakini, kebahagiaan yang padam, bisa dinyalakan kembali

/41/

Jadilah daun, di batang pohon menjadi rimbun, di liat tanah menjadi yang menghidupkan

/42/

Aku membenci perpisahan sebesar aku mencintai pertemuan.

— Natal —

/43/

Malam kudus, sunyi senyap — damai Natal tumpah dalam butiran hujan, membasahi daun-daun di ranting cemara.

/44/

Di pucuk cemara, satu bintang bersinar terang, membinarkan hangat kenangan — dan malam, terpuisikan dalam bait-bait nan kudus.

/45/

Di sebuah Gereja tua, di mana pintunya berderit ketika kau buka, Natal hadir, di tengah kebersahajaan nan sederhana.

— Januari 2012 —

/46/

Mungkin hanya pohon tua mampu pahami, bagaimana rasanya berada di dasar sunyi, di mana waktu, menjadi senyap melebihi puisi.

/47/

Musim hujan tahun lalu, bertanya pada sumur kering di pekarangan, “Seberapa dalam dapat kau timba, waktu dan kenangan?”

/48/

Aku jam tua, menghendaki kau sebagai jarum, mendetik dalam detak hidupku — sementara waktu, terus menjaga kepurbaan kita.

/49/

Kekasih, pada mendung tengah hari, ketika rindu berada di luar waktu dan kata-kata, hujan pun menjadi sederas sunyi.

/50/

Musim hujan tahun lalu, membasahi kuntum kecil di halaman, hingga berkas matahari pertama, mengawali hangat di kelopaknya.

/51/

Aku membenci perpisahan sebesar aku mencintai pertemuan.

/52/

Meski tubuh kita fana, jiwa tak bermula, tak pula berakhir. Begitulah cinta, jika memiliki Jiwa.

/53/

Di bukit bunga, lampu-lampu menjaga bangku taman tetap hangat, sementara kota hujan, terhampar hening di bawah sana.

/54/

Aku ingin jadi orang yang selalu kaudoakan kebahagiaannya.

/55/

Cara terbaik berdamai dengan rindu, adalah mencintaimu.

Rafael Yanuar — Dirangkum pada 8 Januari 2012

Syair Pagi

Selamat berakhir pekan, para penyair SP. Pagi sempurna tanpa secangkir kopi, hanya ada dalam puisi.

Telah aku tinggalkan tanda kehadiranku di hatimu. Kelak, setiap kau melihatnya, kau akan merindukanku.
— @sabdaliar

Lidahmu, embun yang selalu pagi, menyajakkan sejuk di telingaku, yang daun.
— @ChalanRedRock

Selepas pergimu, aku hanyalah sekujur pagi tanpa mentari, menggigil dalam kerinduan, meremang dalam kesendirian.
— @AdyBL

Cukuplah rindu merajuk senguk di fajar dingin, hangatnya cinta ada di setiap regukan kopi.
— @telukjingga

Kau rumah terindah tempat segala rasaku berpulang.
— @Keshakeshi

Di bawah teduh akasia, aku menukar suaramu dengan angin.
— @ama_achmad

Bunyi gelas beradu memecah hening rindu. Satu sendok kopi, dua sendok gula dan kenangan pun terhidu.
— @ama_achmad

pagi ini adalah hujan yang sepi. cinta demam lagi. rindu menikam-nikam ulu hati.
— @semut_nungging

Mendung bergelayut manja, mencari teman selepas hujan, adakah senyum pelangi terukir untuk kita?
— @Susi_SmileKitty

Cuap mesra embun pagi, menetes melunturi syahdu pilu.
— @katapuisi

Tiada yang lebih hangat dari airmatamu, Ibu, aku terlalu basah untuk merindukanmu pagi ini.
— @mikemustamu

Aku suka di sini, di dada bagian kiri, tempat segalanya dapat kulakukan, di mana namamu selalu kudenyutkan.
— @Om_Kelana

Tak ada yang hilang sedikitpun. Bahkan dalam ketiadaan, kau tetap ada bagiku, dalam setiap desiran sunyi aku mencatat namamu.
— @ciyecci

Pagi adalah lengan-lengan rindu, tak terjangkau pelukan, namun setia mendoakan
— @ciyecci

Kan kunamakan kau mentari, agar kelak cahayamu menuntunku dari sepi yang meniadakan tepi.
— @penatapbulan

Sementara mentari masih sibuk menyibak mendung pagi, rindu mulai menghapus pilu yang tak mau pergi.
— @yulialiman

Sebegitu dekat sebegitu erat, seperti itulah kita. Yang kelak diabadikan waktu hingga senja, menua.
— @Om_Kelana

Berlarilah ke arahku dengan segera, ada cinta yang perlu kita selamatkan, mungkin dalam sebentuk pelukan
— @indiejeans

seperti pagi-pagi sebelumnya, sepenuh semesta aku merindukanmu.
— @duniakecil_ku

Secawan embun tak lelah menyambut pagi, walau mentari mengusirnya pergi. Esok ia pasti kembali, mengawali hari
— @KimiWidya

Akulah lautan yang menguap; meninggalkan asin kenang, melupakan bentang nan kemilau, agar dapat menemuimu, langitku.
— @AdyBL

Lalu aku berkaca pada telaga, di sana kulihat riak-riak rindu mengembun pada langit-langit mata.
— @tresnabening_

Dirangkum pada 7 Januari 2012

Selamat siang. Selamat mengitari cahaya! Sekarang SP mengambil topik KAYU.

Sebentuk cinta telah melekat di jemari, satukan rindu yang tak pernah lelah kujaga, hingga tongkat kayu temani langkah.
— @HamdaniEva

Terpesona aku menatap pujaan hati, dibalik bingkai kayu antik, dia demikian indah, bagai tak terjamah mentari.
— @citra_cantika

Sebelum cinta memperkenalkan kita, pada kayu meranti sudah kuukir dua nama dalam simbol hati melingkar sempurna. Kita.
— @namjulsawa13

Seperti jamur di musim hujan, besandarlah pada bahuku, sebatang kayu yang rebah tak kuasa menahan pertengkaran waktu.
— @indiejeans

Sarapan tertata di atas nampan kayu. Kegelisahan perempuan menunggu yang pantas ditunggu. Sebentar lagi ia tiba. Rindu.
— @ThiyaRenjana

Sepotong kayu terjatuh dari pohon, hatiku layu terbawa olehnya.
— @uswah_

Kayu menguning, rinduku mengering.
— @fairyz3

Haruskah aku bermuka kayu untuk mendapatkan rindumu, kemana hangat rengkuhan pedulimu berlalu?
— @yulialiman

Seperti kayu, pada akhirnya, rindu pun lapuk diremas waktu.
— @iyanbiyan

Benalu merayapi kayu, tiap jalarnya meninggalkan kisah sendu, meratapi rindu semu, sadar takkan pernah lagi bersua.
— @fairyz3

Kayu jati, di linggar jati. Cintaku sejati, takkan mungkin ingkar janji.
— @ChalanRedRock

Cinta adalah kokohya kayu pada hutan basah, setianya hujan adalah nyanyian semusim pelipur rindu.
— @telukjingga

Kayu-kayu meronta menghiba hujan turun menangisinya, kini kaki bumi tak lagi ramah, kerap membakarnya dalam kekeringan.
— @telukjingga

Milikilah cinta sekuat jati. Semakin tua, semakin kokoh — tak lapuk dimakan waktu.
— @bagustianiskndr

Pada dipan kayu kurebahkan jasad tubuh yang mulai renta, aku tersenyum karena disampingku masih ada nama yang kusebut cinta
— @namjulsawa13

Pada hutan perawan rinduku tumpah bersemak-semak, cinta kupatri pada kokoh kayu raksasa, takkan tumbang tersapu badai.
— @telukjingga

Di hutan hatimu, harapanku telah menempel pada kayu-kayu kering, hendak patah tak tersisa.
— @arriany42

Sepotong kayu pasti tahu kemana ia berlabuh, tak hanya sekadar mengapung lalu mengikuti arus sungai.
— @arriany42

Akulah kayu rapuh, menghendaki kau sebagai tetes hujan yang luluh basahi aku.
— @mikemustamu

Asa kita, pepohonan di hutan tanpa nama, hujan melapukkan kayu, menggugurkan daun-daun harapan, menyisakan serakan kenangan.
— @alithdqueen

Dan kanopi peraduan kita, kayu yang melapuk ditempa waktu, di setiap poles pernis yang meretak, doa-doa beranakpinak.
— @alithdqueen

Aroma kayu manis mengingatkanku pada kebersamaan kita merajut cinta, sebelum kau tinggalkan aku merenungi rindu yang meranggas
— @RobiHerianto

Engkaulah jamur hujan di punggungku. sementara akulah kayu yang menyerahkan segala kerapuhanku, menghidupimu.
— @semut_nungging

Hujan. Kayu-kayu pun basah melengkapi dingin pagi. Kristal bening di sudut mata, membasahi kenangan kita.
— @Susi_SmileKitty

Aku ingin mencintaimu tak seperti kayu, bercabang ke semua tubuh tanpa malu-malu.
— @bait_sederhana

Dirangkum pada 6 Januari 2012

Sekuntum pagi merekah
Tuhan jatuh cinta

Dingin ini mengingatkanku pada hangatmu, hening ini mengingatkanku pada merdu suaramu.
— @omrtw

Jemari fajar mengetuk jendela, kicau murai menyiulkan dongeng tentang harapan yang menggantung di ranting-ranting cahaya
— @ama_achmad

Butiran embun menapak pada daun jendela, terlihat jelas di sana, rindu menggoda dalam tiap titiknya
— @imbycoffecholic

Mawar merekah cantik, kupu-kupu riang menggelitik. Indahnya pagi hari, matahari hangat tanpa hujan merintik.
— @yulialiman

Tuhan sedang jatuh cinta, bulanpun berbentuk hati.
— @aiirsunyie

Aku mengintip cendela fajar, siluet samar cahaya hangat, dan aku terperangah; inikah surga? Sejuk tatapanmu, Ibu.
— @oqhik_

Semburat matamulah yang memekarkan kembali embun di rumpun perdu, tempat segala cinta menentukan takdirnya
— @rizkytp

Gerimis terluka dan sendu bulan. Tuhan ciptakan pagi.
— @aiirsunyie

Fajar telah kembali, namun tak jua mimpi bergegas, ia mengekalkanmu, dalam harmoni pagi.
— @tengahsenja

Kereta malam, kota tua sebelum fajar. Cuma peron lengang menyambut kami yang pulang.
— @7HujanPagi

Kepulan asap rokok membumbung, menyatu dengan udara, menyatu bersama luka. Lelah penat di mata, telan mentah begitu saja.
— @aksarasendja

Bekas hujan semalam, basah di jalanan, dingin menyentuhku. Pagi setia bawa semua keindahan, hilang mimpi buruk semalam.
— @yulialiman

Sebaris embun sekilau warna secerah mentari, semua tersimpul dalam senyummu, menandai dimulainya kehidupan indah hari ini.
— @raffikeave

Mengapa masih menekuri mimpi? Bangunlah, lihatlah pagimu terbengkalai.
— @ratnalaila

Selamat pagi, selamat menunaikan ibadah puisi, Tuan, Puan.
— @MunajatKIRI

Hujan semalam menyisakan dingin, aku pun berselimut rindu, masih tak ada kamu disampingku.
— @miss_heni

Selalu kurindu gerimis, berharap ia mampu melumerkan bayanganmu selamanya!
— @ippang_az

Kuhidangkan sepiring rindu, dan segelas kenangan pagi ini–nikmati saja, lalu sampaikan padaku rasanya
— @ivanriskyy

Tetesan embun menyadarkanku, ada rindu yang teramat indah, bersamamu.
— @ciiputraa

Dibalik dinding malam yang sepi, aku telah menyelipkan sepucuk rindu untukmu, semoga kamu membacanya.
— @nugroho_penyair

Duhai subuh penahbis pagi, butirbutir cahaya telah mengecupku, kabutkabut kian mendekat untuk mengatup kembali hatiku.
— @rizkytp

Aku berjanji, akan mencintaimu sepagi mungkin. Bila ingkar, Sayang, aku rela kau tampar.
— @_priabaik

Pagi datang dengan kesetiaannya menyapa, aku harap ada yang seperti kamu.
— @iimamf

Syair-syairmu bagai secangkir kopi, membuat denyut cinta bergejolak dalam nadi.
— @matthewsevan

Dia adalah kata yang bersajak dalam rindu. Bukan bait, hanya rembulan yang bertarung dalam senja. Dialah kamu!
— @nugroho_penyair

Sampai jumpa mimpi, kunjungi aku lagi malam nanti. Dan kamipun berjabat tangan, berpisah meniti jalan yang tak bersisian.
— @ilalang_biru

Rangkaian puja-puji dan panjatan doa, membuatku terjaga. Matahari menyapa lewat malaikat yang mengetuk kaca jendela.
— @miyaa

Habis malam terbitlah terang. Saat itulah aku merasakan cintamu yang begitu hangatnya.
— @chuaberry

Secangkir kopi tersedia di atas meja. Kamu mengecupku dengan mesra sambil mengucapkan, selamat pagi, kekasih.
— @chuaberry

Mungkin rinduku kepala batu, bahkan dalam udara pagi yang basah, aku masih mencarimu dengan resah.
— @ilalang_biru

Kutitipkan luka pada langit malam, hingga cahaya pagi melebur dan menggantinya dengan ribuan asa baru bersama tetes embun.
— @Flute_Asa

Pagimu membuatku lupa mimpi semalam, hanya embun rindu yang terlihat menetes dan mengalir, di dedaunan cinta.
— @rudykoz

Aku selalu merindu pagi. Hangat sinarnya mendekapku bersama butiran-butiran cintamu
— @Flute_Asa

Mimpipun berlalu, hanya menyisakan rindu yang tak berujung. Semoga nanti malam kita bertemu lagi, dalam angan.
— @miss_heni

Hanya kepadamu, aku sengaja membasahi kembali anak sungai di hatiku, yang bermusim-musim telah mengering oleh teriknya cinta
— @rizkytp

Kenapa mesti pagi? Karena disanalah rindu memecah keheningan dalam cinta yang maha bening.
— @_priabaik

Setiap pagi rindu selalu kembali, sebagai suatu pertanda cintamu masih tersimpan di hati
— @UnguViolet_

Kuracik secangkir kopi dengan hangat rindu, asa, serta kecupan di dalamnya.
— @Flute_Asa

Malam telah menggulung, sabitan mentari samarkan embun. Titian mimpi telah usai, secercah harap kan kusambut.
— @Ar__One

Tuhan menghadirkanmu, dalam hujan semalam; mendekapku hingga pagi kembali, tersisa rindu mendera dalam dada.
— @itsme_thya

Mencintaimu; adalah sinar pagi yang tak pernah redup. Tak lekang oleh waktu.
— @chuaberry

Kan kusambut hangat dekapmu. Melengkapi indahnya pagiku diakhir minggu.
— @VieRe_252

Ini rinduku, ditelan keagungan pagi dari kecemasan-kecemasan fatamorgana.
— @danileinad

Rasanya nyaman melihat dua cangkir bersisian di pagi hari. Satu beraroma teh, satunya beraroma kopi, milikmu
— @ilalang_biru

Liarnya malam, glamour-nya gelap tersucikan dengan datangnya agung pagi.
— @danileinad

Hanya tetesan hujan yang mampu membawaku menyelami kenanganku padamu, saat itulah aku merindukanmu.
— @dheesywhidya

Maaf, Kasih. Sepagi ini aku telah menera keindahanmu dalam sajak. Mengertilah! Hanya seperti itu caraku merayakan rindu.
— @momo_DM

Pagi datang tanpa dibuat-buat, pun dengan rinduku padamu yang datang tanpa harus diminta.
— @momo_DM

Sekuntum embun jatuh tepat di kepalamu, Tuan Rindu — mengaburkan luka satusatu ketika Tuhan merekahkan fajar.
— @keanufathona

Berat rasanya meninggalkan ranjang, tempatku bergulat bersama mimpi. Entah, semesta memaksaku untuk berdiri.
— @danileinad

Di getar nadiku yang terluka, kurasakan matahari mengulurkan tangan hangatnya lebih lama dari sebelumnya
— @rizkytp

Kepadamu, ingin kusampaikan sepucuk surat dalam kotak pensil. Di hadapanmu, hanya kesunyian yang dapat kupanggil.
— @Om_Kelana

Lihat, Sayang. Jemariku liar menari, ingin tunjukkan rindu yang tak terjamah olehmu
— @Flute_Asa

Pagi tak pernah sepi, anak-anak langit berkelana memburu rindu. Mentari belum tinggi, aku terus mereka wujudmu tanpa malu.
— @keanufathona

Tak malukah kau dengan mentari? Sepagi ini dia sudah memberi. Ayo bangkit dan berlari kejar mimpi!
— @namjulsawa13

Mentari mengulum senyum menawan, membangunkan lelapku perlahan. Hangatnya masih sama, meski pagi kemarin ia menangis terluka
— @Aya_zahir

Kasih, umpama daun-daun, rindu dibelai embun, aku ingin melihat senyummu, membasuh kalbuku.
— @edith_tian

Pagiku sempurna memandang gemuruh ombak berkejaran lalu berpelukan di bibir pantai cintamu.
— @VieRe_252

Pagi telah meniup setiap kelabu menjadi hujan yang menggenangi kalbu; seribu rindu yang kutitipkan pada langit malam.
— @Ady_S_Lesmana

Ibu, apa jadinya bila langit itu runtuh? Seperti hatiku yang hancur berkeping-keping, bila kamu menangis, Nak.
— @nugroho_penyair

Cumbui aku, seolah esok tak ada. Biarkan surya cemburu, sebab dekapmu, melebihi hangat sinarnya.
— @VieRe_252

Ada sisa hujan, menggenangkan kenangan di pagi yang lengang. Dan aku memahat bayangmu di langit yang terang.
— @sigit_pam

Tak ada yang lebih puisi dari mentari; mendegupkan debar dalam dada, celupkan asa di getar jiwa, menjiwai pagi tanpa luka.
— @keanufathona

Seperti pagipagi sebelumnya, aku meneteskan embun pada dedaun. Pertanda kehadiranku tetap ada, pelepas dahaga.
— @Aya_zahir

Ada sisa mimpi semalam tercetak di langit-langit kamar, tentang kau dan aku memadu kasih di puncak gunung selumar.
— @namjulsawa13

Malam membisikkan padaku, betapa ia merindukan pagi, sebuah cinta yang tak mungkin terpeluk, seperti juga kita.
— @a_metta

Seolah surya aku ingin mencintaimu, kehangatan yang penuh seluruh, mendekap hati kita penuh keluh.
— @amresza

Kali ini aku yang membangunkan pagi, karena mimpiku masih panjang, takkan kugenggam jika hanya berdiam
— @iyanbiyan

Aku angin yang meniupkan angan saat pagi, dan embun menjadi saksi atas semua angan yang aku tuju padamu.
— @amresza

Sebelum cahaya matahari mengecup kornea mataku, rindumu lebih dahulu menyentuh bibir kesedihanku pagi ini.
— @bagustianiskndr

Masih seperti pagi sebelumnya, secangkir teh hitam dan selepas tawamu dalam ingatan.
— @falafu

Kelak pagi akan terbangun lebih akhir, saat matamu terlalu isak menangisi kepergianku, dari mimpimu semalam.
— @amresza

Kita; sepasang pipit yang terbang menghinggapi reranting takdir, lalu memilih menetap di dahan yang sama, berdua meraya cinta
— @ama_achmad

Hujan November akan sering menyapa, ngiluku akan tersiksa. Sapamu penuh senyum tulus bantu asa selalu bahagia
— @yulialiman

Aku melihat perempuan pagi ini. Dengan semangat, dia hadapi hangatnya mentari. Perempuan itu adalah ibuku.
— @Angz_Abbadie

Setiap hari, jejakjejak kaki yang kukenali menghiasi serambi pagi, rindu masih mencari.
— @biru__langit

Kerinduan adalah dahaga yang tiada terpuaskan oleh larutan apa pun, baik teh maupun kopi. Kecuali ketika mata bertemu mata.
— @MunajatKIRI

Seperti November membasuh wajahku, kubasuh bibirmu dengan lembut doa di bibirku. Tak ada sentuhan seindah gerimis.
— @puisikekasih

Embun mungkin tak pernah tahu, setiap pagi, rinduku lebih dulu menghias daun-daun.
— @biru__langit

Aku suka kau mencintaiku saat pagi, ketika mimpi-mimpi berevolusi suci, dan menawan segala rindu didalam birahi
— @bait_sederhana

Pagi yang dengan sendu kau tangisi, adalah pagi yang dengan rindu kuhiasi.
— @biru__langit

Kubacakan puisi untukmu, tiba-tiba suaraku merdu, seakan burung-burung menitipkan kicaunya padaku.
— @puisikekasih

Pagi dan mentari kita sama, hanya saja kau mencumbu mimpi, sedang aku memeluk nyata.
— @iyanbiyan

Sepasang doa-doa kecil berburu cinta, menelusuri langit sejuk yang mulia, hingga berziarah pada mentari yang sangat bergelora
— @bait_sederhana

Alangkah sejuk, suara sungai dan pohon bambu tertiup angin, namun mengapa, sendu daun-daun, terus berguguran, di sudut hatiku?
— @adityaputu

Sebening embun sesejuk selimut kabut, seperti itulah rindu didadaku, bergejolak untuk kau sambut
— @oomkalis

Disela embun kuselipkan secarik puisi, yang dihiasi sinar mentari, agar ragu tak dapat menelusuri menyamar menjadi sepi
— @bait_sederhana

Tak ada lukisan seindah gerimis. Maka ketika kau tersenyum padaku, aku tahu, siapa bidadari di celah pelangi itu.
— @puisikekasih

Kenangan bagai pohon merangas kena panas, lalu hilang tak berbekas
— @RidaAstuti

Desah gerimis membuka pagi, meniupkan rindu di dada–penyair membangunkan kata, memahat rasa dalam puisi
— @ama_achmad

Tuan, aku menyaru kabut, datang mengendap-endap mengetuk pejammu, mengabarkan pagi, memberitahu masih ada cinta yang terlalu.
— @ama_achmad

Pagi adalah sebait puisi bisu. Ketika embun rindu saling bertemu.
— @ar__one

_@_

Ada

Aku berpikir maka aku ada. Jadi meskipun aku tak nyata, jika kau masih memikirkanku, berarti aku ada. Entah di mana, di suatu tempat di dalam-mu, aku begitu nyata, begitu ada, melebihi waktu, dan usia. Terima kasih.”

CELOTEH KECIL
Sejumlah epigram tentang cinta

/1/

Aku ingin menulis sajak bahagia, tentang bulan di balik celah daunan, tentang kedamaian, ketika hujan mulai turun. Tentangmu.

I want to write a serene poem, about the moon peeking through leaves, about how peaceful the drizzle drops, about you.

/2/

Bertahanlah semusim lebih lama, dan biarkan aku memelukmu lagi, hujanku.

/3/

Seperti tanah memeluk bijian, dan hujan menumbuhkannya, demikianlah kami ingin menjagamu, Nathaniel.

/4/

Aku ingin kau tak mengenalku, hingga ketika aku menangis, kau datang dengan ketulusan paling murni.

/5/

Sejak ada kamu, embun tak lagi membutuhkan daun, ia jatuh teramat lembut, di kedua bolamatamu.

/6/

Sekalipun engkau melemparinya dengan batu, telaga tak pernah menaruh dendam padamu.

/7/

Pada sebuah tahun yang senja, aku saksikan, benih yang kita tanam di halaman, telah menjadi rumah, bagi burung-burung.

/8/

Di halaman rumah, di kotamu, tanamlah pohon pemikat burung-burung, dan kau akan tahu, musim-musim tak pernah menua.

/9/

Lihat, Kekasih, selendang tipis kabut yang menyentuh pucuk pohonan, membuat senja tak lagi takut, kehilangan matahari.

/10/

Akar, kecuali menumbuhkan pohon, tak pernah peduli pada cuaca, musim dan dunia.

/11/

Kolam kecil di sudut taman bagai selendang cahaya, tirai lembut senja, berkilauan di dalamnya. Begitulah aku melukis matamu.

/12/

Nak, sebentar lagi keluarga kita bertambah, sudah dua Minggu burung di pohon halaman rumah, mengeram telurnya dengan sabar.

/13/

Anak rusa mengambil air di sungai, burung kecil mencelupkan sayapnya, kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Begitu beda, begitu mesra.

/14/

Seperti sepasang anak yang duduk bersisian di pematang sawah — cinta pernah muda dan tak menuntut banyak.

/15/

Di pematang, dalam kerinduan masa kanak, kita menerbangkan baling-baling, dan berharap sayapnya mampu, memutar balik waktu.

/16/

Di pematang, kita menangkap sepasang kupu dan belalang. Alangkah lega, ketika menjelang senja kita, melepaskannya.

/17/

Pohon tak pernah menolak takdirnya, ia tumbuh tanpa menghitung usia, mengalami begitu banyak kehilangan dan peristiwa.

/18/

Ucapkanlah terima kasih pada Ia yang memberimu telinga, bukan hanya pada mereka yang menyanyikan musik untukmu.

/19/

Sunyi. Jika di depan rumahmu ada pohon besar, dan kau hanya mampu melihatnya merekah, tanpa bisa menyentuh buahnya.

/20/

Bagaimanapun keras usahamu, kau tak pernah bisa mengembalikan buku menjadi kayu.

/21/

Aroma wangi merayap di udara, dan aku bahagia — meski bunga itu, tak tumbuh di kebunku.

/22/

Di tengah kolam, ada bulan, bulat seperti mochi, kodok pun tergoda, ia melompat. Plung! — dan tak pernah kembali.

/23/

Kekasih, ketika napasku memanggil, adakah hatimu mendengarnya?

/24/

Percayalah, Ia memberimu bahagia, karena kau, berhak memilikinya.

/25/

Terkadang, harapan seperti biji tumbuhan di mulut burung-burung. Lepas dan jatuh di tanah, hanya untuk, dipermainkan cuaca.

/26/

Penghiburan yang baik, justru datang tanpa kesengajaan. Seperti nyanyi burung-burung, di halaman rumah kita.

/27/

Kau memungut sehelai daun, dan memakainya, sebagai pembatas buku. Aku pun sadar, begitulah hidup, menyiasati pertemuan.

/28/

Di sini, kau merelakan seseorang pergi, di sebuah kota, ada yang menyambutnya datang. Hidup hanya soal, menerima dan melepaskan.

/29/

Pesan apakah disampaikan Tuhan pada kita? Hanya dia, yang mampu mendengar bisik embun di tepi daun, dapat memahaminya.

/30/

Senja membuatku mengerti, ternyata kenangan, memiliki jiwanya sendiri.

/31/

Perlahan, aku menutup halaman terakhir sebuah buku, kemudian, aku memulai hidup, dengan membuka pemahaman baru.

Slowly, I closed the final page of a book, instantly, I started living with a new understanding.

Rafael Yanuar (dirangkum pada 29 Oktober 2011)

Garis Waktu Senja

GARIS WAKTU SENJA

Sejak mengenal twitter, saya tak pernah kehilangan senja.

Setiap pukul 16.00, di linimasa, banyak bertebaran potret dan sajak tentang senja. Meski di kota, gurat candhikala, selalu terhalang keramaian dan tertutup atap rumah. Siapapun tahu saya suka senja, namun kemampuan fotografi saya di bawah rata-rata, hingga seindah apapun obyeknya, hasilnya selalu, ehm, saya punya istilah sendiri — bleurgh!

Jadi, hanya di linimasa saya bisa memandang senja, sambil menyesap hangat puisi, dan mensyukurinya. Dan ketika saya pulang ke rumah, meski matahari sudah menambatkan senjanya pada dermaga malam, ada banyak jejak pelayaran senja di linimasa — ada dari Makassar, Jakarta, Yogyakarta, bahkan sampai di kota saya sendiri, Cirebon. Terima kasih, semoga tak pernah bosan berbagi senja di timeline. Saya sangat (bahagia) menikmatinya =).

03 Oktober 2011

Celoteh Kecil

CELOTEH KECIL
Sekumpulan sajak kecil tentang cinta

/1/

Tahan dulu dukamu
rasakan angin segar masuk
dari jendela yang sudah lama tak pernah kita buka.

/2/

Kau menatap rembulan di tenang telaga
sebelum ranting-ranting memancingnya —
dan engkau, menemukan aku.

/3/

Sebab pada suatu malam
cahaya bulan lumer di matamu.
Dan aku tak mau kehilangannya
dengan membuatmu menangis.

/4/

Puisi seolah pasir —
membawa kata-kata, ke kedalaman laut yang misteri.

/5/

“Jika semesta hanya hitam, mengapa langit berwarna biru?” tanyamu, suatu hari.
“Sebab kau membuka mata, Sayang,” kataku.

/6/

Setiap senja adalah pertemuan.
Itulah sebabnya, aku suka memandang senja
dengan senyuman.

/7/

Kau berjanji akan menceritakankan sebuah kisah padaku.
Sebuah kisah tentang hujan.
Tentang kehilangan yang tak pernah kita miliki.

/8/

Aku mencintaimu — seolah tangan-tangan waktu
menjaga usia dengan lembut.

/9/

Setelah berciuman
kita ditakdirkan untuk memilih pedih kita sendiri.

/10/

Ada sebuah sajak yang hanya bisa dibaca jika kita bersama —
sajak yang ditulis di lembar takdir kita sendiri.

/11/

Lonceng kecil di depan pintu, bergoyang tertiup angin.
Menangkap hangat musim kemarau —
dan berhembuslah hari baru.

/12/

Sebelum matahari terbit, aku sudah terjaga —
sebab mengingatmu dengan pikiran segar
selalu membuat hariku lebih tabah.

/13/

Aku menatap langit untuk sesuatu yang tak ada.
Sesuatu yang tak pernah ingin kulupakan.

/14/

Sebuah batu — yang kita lempar
akan berhenti di udara, betapapun singkat.
Begitulah hidup mengartikan harapan.

/15/

Keabadian milik perjumpaan, bukan perpisahan —
dengan itu aku akan mulai menulis sebuah buku
tentang kita.

/16/

Pucuk pohon tak pernah sengaja menjauhi sayap serangga —
begitulah cara cinta memahami takdirnya.

/17/

Cinta — selalu lebih kuat dan kekal dari maut
itulah sebabnya, ia tak pernah bersembunyi dari kematian.

/18/

Seolah batu aku mencintaimu, dengan keyakinan —
angin mampu membantuku menyentuh telaga.

/19/

Pada hujan tengah hari, kita belajar menyendiri.

/20/

Di puncak tertinggi menara katedral —
sebongkah lonceng lupa pada fajar.

/21/

Rindu dapat mengelabui waktu —
bahkan untuk sesuatu yang belum pernah ada.

/22/

Celupkanlah jarimu
pada telaga tempat daun berjatuhan.
Di sana, Tuhan telah menguraikan
luasnya sunyi pada hangat sentuhan.

/23/

Pada tanah tempat daun berjatuhan
aku mencelupkan rindu pada butir embun di dahan
andai Kau mau menyentuhnya, Tuhan.

/24/

Kita bertanya cinta —
seperti burung camar di balik awan
merenungkan bagaimana
langit bisa menyentuh samudera.

/25/

Ada hal — yang kita ingin pahami dari waktu
adalah tahun di mana batu —
yang mengeras di benak kita
pecah oleh setetes maaf.

/26/

Yang mendekatkan kita pada hangat, bukan pelukan
tapi cinta.

/27/

Pada daun jatuh, Tuhan telah menyiapkan musim gugur
— agar segalanya menjadi indah, dan tak sia-sia.

/28/

Dengan menengok masa lalu
kamu tengah membangun jawaban.
Sebab semua pertanyaan
selalu bertolak pada pengalaman.

/29/

Nak, coba tengok, ada burung membangun sarang.
Jika kau tak sabar menunggu
kau tak mungkin mendengarnya bernyanyi.

/30/

Seolah kabut, kau datang menyentuh langit hatiku
dengan lembut ingatan.

/31/

Seolah sejuk pagi, demikianlah udara yang kuhirup
saat mengingatmu.

/32/

Demikian sunyi, birahi pohon-pohon
pada tanah sehabis hujan.
Sedang daun-daun, masih lelap dalam kabut —
kabut pagi.

/33/

Seorang anak yang tersipu pada senja
mungkin serupa jendela yang bahagia menerima
siraman cahaya.

/34/

Jika senja bukan jembatan bagi kesedihan
mungkin sekarang, kita tak pernah berdiri
di seberang ingatan.

/35/

Satu-satu bintang pergi, rindu berdiam menjaga pagi.

/36/

Di larik sajak terakhirmu, kau telah, menyentuh riwayatku.

/37/

Sebuah rindu demi rasa sakit, kumohon tahan dulu senjamu.

/38/

Kata-kata tak pernah abadi
karena itu, aku menuliskannya.

Dirangkum pada 09 September 2011

Kutipan – Gadis Jeruk

Impian tentang sesuatu yang tak mungkin, memliki nama sendiri. Kita menyebutnya harapan.
— Jostein Gaarder