Archive for Mei, 2018


Baby’s Breath

untuk istriku

berdiri di bawah lampu kota
yang nyala selepas petang
aku memilih pulang pada kenangan.
ini masihlah tenang yang sama
bagi sepasang mata
yang rungkuh oleh rindu.

jalan ini tak pernah berubah
rumah dan toko mengatup sudah
bahkan sebelum sabit
terbit di tubir bukit,
hanya usia yang tumbuh semakin renta
dan daun-daun yang gugur tanpa suara.

bila datang masanya
langit yang kaupandang itu
akan sirna jua. namun,
sudikah engkau memberi cahaya
pada segala yang matahari?

kelopakmu mekar di ujung jalan,
putih tak bercela.
menyapa lewat angin sore yang hangat,
aku terharu masih kauingat.

Senin, 6 November 2017

Baca lebih lanjut

aku akan memercayai hal ini
sekalipun kaubilang itu mustahil,
bahwa bintang-bintang yang berkilau
adalah anak-anak malaikat
yang terbang
dengan sayap seredup kunang.

akan kupandangi awan-awan
yang mengambang di langit luas
seolah di sana benar ada
peri yang berlayar
dengan perahu kencana.

barangkali Dia yang kukenal namanya
sedang menangis ketika hujan
turun di bukit-bukit yang jauh.
mungkin di permukaan bulan
memang ada kelinci
yang gemar menumbuk mochi.

saat gemuruh menggetarkan lantai
aku tahu, Thor pasti senewen
karena kepalanya terantuk gunung.
saat terpejam mata ini
di balik lubang tikus, liliput mungil
akan mulai mengintip dapur
—dan esok, aku akan tersenyum
mendapati gula yang berkurang sedikit.

aku akan melupakan
apa yang kupelajari di sekolah,
bahwa embun diciptakan bukan karena cuaca
melainkan permata yang dilahirkan
daun-daun untuk pagi yang sebentar lagi.

akan kubawa mimpi-mimpi itu
ke dalam tidurku
dan menganggap kesepian ini
hanyalah dusta
yang dibisikkan malam
pada segala yang fana.

19 Maret 2014