di bukit itu kita mengejar kelinci,
di sungai itu kita memancing ikan.
sampai sekarang pun masih terbayang,
dalam mimpi terus terngiang
kampung halaman.

bagaimana kabar ayah-bunda,
juga dia sahabat kecilku,
dalam hujan dan dingin
pasti terkenang
kampung halaman.

satu damba tak kunjung terjelang
entah kapan, aku harus pulang,
rimbun gunung di kampung halaman
jernih sungai di kampung halaman.

puisi ini adalah terjemahan bebas lirik lagu tradisional Jepang, Furusato