di jalan ini
hingga sore datang menjelang
dan magrib berkumandang,
kita bercanda menghabiskan hari
dan mengenangkan segala hal
yang esok mungkin tak ada.

di setapak berbatu ini
tanpa sepatu kita berlari
setelah puas bermain air
di sungai sudut desa.

lama sudah tak pulang
aku tak banyak mengingat
hari-hari yang dulu terlewat.
masihkah waktu yang sama
berdetak di sana?

di rumah tua ini
pernah ada ribuan senja
yang kupandang tanpa suara
betapa, apa yang kini tinggal kenangan
sisakan hangat di sudut mata.

selasa 26 september 2017

puisi ini terinspirasi lirik lagu tradisional jepang yang berjudul furusato, ditambah kenangan indah—yang kini semakin samar, di kampung halaman. apa kabar, sahabat lama?

Iklan