suatu pagi.
aku menemukan musim gugur,
dalam secangkir teh
yang kauseduh.

pelan. perlahan.
aku mendengar suara daun
disapu di pelataran rumah.

burung-burung berkicau
di dahan-dahan rendah pohon pinus.

rerumputan pelan berdesir
ketika cangkir mendekat bibir.

bahkan suara kereta. ai, suara kereta,
bergesek dengan rel. samar di kejauhan.
terdengar juga.

di antara sesap, aku merasakan
lembut tanganmu, membelai pipi.

di ceruk yang kosong,
aku menyimpan
segala kenang
yang (mungkin)
pernah ada.

_@_

Tulisan di atas, tersimpan di buku harian yang saya isi dengan hal-hal tak penting—tetapi berharga, pada tahun 2010. Lalu diedit dan diselesaikan pada hari Sabtu, 3 Desember 2016—alias pagi ini. Kata ‘teh’ pada bait satu, awalnya disebutkan sebagai ‘kopi’. Namun, saya ubah jadi ‘teh’ karena itu minuman favorit saya sepanjang masa.

Judul ‘Ibu’ saya pilih karena, entah kenapa, tulisan ini membangkitkan kenangan dalam diri saya. Apa yang tertulis dalam baitnya, adalah pemandangan di rumah panti, yang saya tempati saat saya masih kecil.

Iklan