1.
halo, penyihir.
apa kabar?
apa kabar hogwarts?
selepas harry dan teman-teman
mengalahkan voldemort,
tampaknya di balik peron 9 3/4
tak ada kekacauan lagi.
semoga selamanya begitu.

sesekali, ajaklah aku
ke diagon alley
aku ingin membeli tongkat sihir
dan belajar merapal mantra.
barangkali aku bisa menciptakan patronus
dari hal-hal sederhana,
seperti yang biasa kaulakukan
dengan senyummu.

2.
ada kalanya,
saat memandang langit
aku bertanya,
benarkah di balik awan
yang membentang tanpa tepian
ada ranah yang kita sebut surga?
tempat tak ada kesedihan yang meremuk hati
dan tiada duka yang membuat kita
menyesali diri?
sebab, tahun-tahun yang berlalu
tak lagi mengantarkan
pada getir maut yang mengintip
di balik pintu.

namun, daun-daun yang gugur
di sudut jendela
menyadarkan aku,
sebelum pelukan itu tiba,
akan ada hari di mana
mulut tak dapat menelan,
lidah menolak bicara,
telinga menafik suara,
hidung menepis udara,
dan mata hilang cahaya.

lalu perlahan,
kenangan yang lama bersembunyi
kembali menyentuh ingatan,
seperti hendak mengajak pulang.
tapi, apakah yang akan kutemui?
sebuah peluk, atau
pintu yang terkatup?

3.
suatu pagi.
aku menemukan musim gugur,
dalam secangkir kopi
yang kauseduh.

pelan. perlahan.
aku mendengar suara daun disapu
di pelataran rumah kita.

burung-burung berkicau
di dahan-dahan rendah pohon pinus.

daun-daun bergemerisik pelan
ketika cangkir aku miringkan
mendekat bibir.

bahkan suara kereta. ai, suara kereta,
bergesek dengan rel. samar di kejauhan.
terdengar juga.

di antara manis kopi, aku merasakan
lembut tanganmu, membelai
air mataku.

di ceruk yang kosong,
aku menyimpan
segala kenang
yang (mungkin)
pernah ada.

4.
bila nanti kautemukan dia
dalam bait-bait sajak ini
katakan: aku merindukannya.

Iklan