cintamu, benang-benang bening dirindu
remuk redam kering dahan, kalbuku.
rinduku, kemerisik pelan daun-daun
pendar-pendar ilalang di musim kelabu.
kita, cahaya lampai kunang-kunang
di sembap malam
luka resah kelam tanpa rembulan.

maka tersenyumlah, mata puisi,
seperti lukisan penyair, ketika daun-daun
basah di lansekap lampu malam,
dan bersukalah sepenuh hati,
bagai bintang tak lupa berkedip
memandang elok dan purna karya Tuhan.

Kota Cirebon,
Minggu, 9 Juni 2013.

_@_

Tulisan ini saya temukan terselip di buku harian. Judul awalnya Malam dan Sajak tentang Hening Dirindu—karena terdengar berlebihan, saya ubah jadi Buaian Malam. Dan ternyata, tidak kalah lebai dengan judul lamanya. Saya punya bakat, ternyata. Haha.

Maaf kalau setiap baitnya loncat-loncat kayak kutu. Saya lagi teler kala menulisnya—teler dibuai kantuk. Namun, saya juga terlalu malas untuk mengedit-edit.

Iklan