ketika pemandangan di depan jendela
beranjak kabur dan menghitam,
aku tersadar,
senja telah terbenam rupanya.
pun waktu.

aku meraih ponsel, dan melihat
ada satu sms kaukirim padaku.
dalam debar paling hangat,
kau berkata rindu,
ingin bertemu,
manja, kau minta aku membalasnya.

sayang,
langit hanya lembaran biru bertabur bintang
ketika aku mencari sisa hujan senja tadi
aku ingat, kau kerap berharap
malam selalu dipenuhi bintang,
dan kita tak lupa letak Selatan.

di sini, bintang tak lagi terhitung jumlahnya,
rembulan hanya tinggal bayangan belaka
dan hatiku, sedang diteduhkan kenangan, ketika kau bertanya,
“di sudut bibirmu, masihkah kausimpan
lembut ciumanku?”

sayang,
pesanmu membuat rinduku tak lagi dapat
tertahan di benak.
Kaubawa pikiranku hanyut dalam hangat dekapan.
aku mencoba mengurainya dalam puisi
setiap baitnya seolah mampu
menuntunku dekat denganmu

bus sudah melewati Jalan Cadas Pangeran
ketika aku membalas pesan kecilmu
dan bila nanti aku sampai,
tak peduli jam berapa dan semalam apa
bus tiba di kotamu,
dapatkah kaubayar rinduku,
dengan sebait cium?

Ditulis tahun 2008, sekitar bulan Agustus

Iklan