Tuhan, maafkan aku,
ketika dunia tak lagi memiliki musim,
di mana aku harus menanam bibit pemberian-Mu?

Tanah di bumi telah menjadi bongkahan besi berkarat
rumah tak ubahnya makam-makam peradaban.
Langit tak lagi biru
waktu menciptakan ketakutan demi ketakutan baru.
Malam hanya imajinasi.

Lalu, berapa banyak peristiwa
mesti aku abaikan, Tuhan,
sementara Kau asyik berlama-lama
dengan air mata-Mu sendiri.

— 25 Maret 2012 —

Iklan