Sajak Sepotong Lilin
: @susyillona

Dua cangkir teh
sepasang mata memejamkan cahaya
sebuah kehilangan datang begitu saja—
ketika kita sadar
di masa depan
: segala hal pasti berlalu.

Pemandangan di lepas jendela, begitu jelas
menyiratkan segalanya
: senja telah padam, dan rindu
hanya siluet tak berujud
di redup hidup.

Namun, selama harum musim
tak pernah mampu
dihapus jarak
usia selalu tabah
menziarahi masa lalunya sendiri.

Sekarang
biarlah aku menyala, tanpa memikirkan
apa jadinya nanti
aku hanya ingin, mencintaimu lebih jauh
dan menuliskanmu
sebagai puisi — sebagai aksara
di lengang udara.

Sebelum waktu merengut
kata-kata dalam jiwaku
dan usia — kembali memeluk kesepian
: di rahim ibu.

Selamat meniup lilin
biarkan cahayaku jatuh di dadamu
sebagai doa
dan kita.

8 Maret 2012