Celoteh Kecil
Sejumlah epigram tentang cinta

— November 2011 —

/1/

Konon, di antara rekah bunga, ada air mata Aphrodite. Kekasih, selain cinta, kesedihan mana, mampu menciptakan musim semi?

/2/

Dalam sunyi, aku merasa, engkau hadir dalam setiap helai daun, dan waktu, tak lagi mampu, menghalau apapun dalam hidup.

/3/

Di atasmu, Orpheus, langit malam, tumpah dalam butiran salju. Lalu, haruskah dingin, membangun kembali rasa kehilanganmu?

/4/

Eurydike, pada sisi tenang telaga, aku mengenangmu — namun rindu, masih terus mencari, di mana pagiku, kau sembunyikan.

/5/

Namun, Eurydike, mampukah maut mengalahkan cinta? Kini, meski tak ada cahaya di Hades, jiwaku, alangkah bahagia, menemukanmu.

/6/

Di padang hijau, di mana pepohonan tumbuh dengan rindang, ada seekor burung, mati kelaparan.

/7/

Kekasih, aku ingin merindukanmu lebih lama — melebihi lantunan ombak pada rembulan, melebihi biru danau, pada hijau pohonan.

/8/

Kekasih, percayalah, dari sebagian yang hilang, Tuhan selalu menyisakan, sebagian yang abadi, dan tak tergantikan.

/9/

Evy, aku takut, rinduku hanya seperti sehelai daun — tumbuh hanya untuk dilupakan, bahkan oleh pohon yg dulu merawatnya.

/10/

Sayang, tak ada satupun kenangan yang pantas dilupakan. Bukankah karena ada masa lalu, tidur memiliki mimpinya sendiri?

/11/

Kekasih, kausering kukenang, di antara celah reranting, bagaimana matahari menitipkan pagi, di cerlang embun dan daun-daun.

/12/

Setelah hujan, langit tampak lebih bersih. Seolah hati kita ikut dibasuh, ketika memandangnya.

/13/

Tak seperti mata dan telinga, kau tak bisa menutup hati untuk hal-hal yang tak ingin kau rasakan.

/14/

Seekor camar mengira, di permukaan laut ada kembaran bulan, ia pun terbang merendah. Namun sayapnya merusak mimpinya sendiri.

/15/

Kunang-kunang, cahayanya diliputi fajar. Di tapal batas hidupnya, ia bersyukur tak mati, dalam gelap dan sendiri.

/16/

Setelah nyaris setahun mendekam dalam tanah, kunang-kunang hanya punya waktu seminggu di dunia
: tulus, memberi cahaya.

/17/

Di telapak tanganku, kunang-kunang, kehabisan cahaya. Namun sisa hangatnya, masih terasa, di dada.

/18/

Di tepi jembatan tua, seorang puan menanti tuannya. Di sudut senja, waktu meneteskan air mata, untuk janji yang terlalu fana.

— Desember 2011 —

/19/

Pertemuan memiliki jiwa, dan kita menyebutnya cinta.

/20/

Setelah lelah berkicau di banyak cabang, burung-burung pasti kembali, berumah di satu dahan. Keluarga — tempat ternyaman.

/21/

Adakah yang lebih setia dari bayang-bayang, selalu siap memberi teduh, pada cahaya, tanpa peduli betapa rapuh, keberadaannya.

/22/

Aku mata, menghendaki kau sebagai cahaya, jernih pandang bagai selendang sungai, menangkap adamu, sejak purba.

/23/

Aku butuh kau, sebagai suara, mengisi seluruh sunyi dalam jiwaku. Aku butuh kau, sebagai cahaya, menebang gulita, tiadaku.

/24/

Aku pucuk mendamba pagi, membutuhkanmu sebagai doa, ketika lengan-lenganku lelah, luruh dalam kesia-siaan, menyentuh cahaya.

/25/

Aku ingin duduk di atas bukit, memandang bintang, mencoba merenungi degup jantungku sendiri, dan merasakanmu.

/26/

Dalam puisi, Kekasih, cintaku bergema, menyuarakan sedihnya, menguduskan kebahagiaannya, melipatgandakan rindunya.

/27/

Aku ingin memahami suka-dukamu, supaya kau tak lagi kesepian, ketika bahagia; dan tak pernah sendiri, ketika bersedih.

/28/

Sumur di belakang rumah, sudah lama tak berair. Pada akhirnya, hidup tak pernah menjanjikan apa-apa, selain waktu.

/29/

Senja tersenyum, di sebuah taman, angin dan rumput tak pernah peduli, siapa di antara mereka yang sebenarnya tak ada.

— Epigram Dongeng dan Natal —

/30/

Di sebuah bangku taman, seorang kakek menyanyikan lagu Natal, pada cinta pertamanya. Di sanalah, cinta tak pernah menua.

/31/

Seperti pendongeng, langit selalu mampu, mempertahankan nyala kenangan, di benak kita.

/32/

Di dalam gereja, Patrasche, ada hal-hal tak terkatakan, terbaca di matanya. Nello — hanya padanyalah, waktu, melintas sunyi.

/33/

Gadis kecil, boleh aku pinjam korek apimu, sekadar membakar mimpi dan harapan, di mana waktu, tak pernah menjadi sia-sia.

/34/

Seperti Peter Pan dan serbuk bintangnya, dengan dongeng, kita mampu melampaui waktu, di mana rahasia, mengekal bersama usia.

/35/

Kita tak hidup dalam dongeng, di sini tak ada pembatas di penghujung kisah, dan kenangan, tetaplah karunia meski menyakitkan.

/36/

Di matanya, ada malam Natal abadi, di mana doa memancar bagai bintang, dan langit, menjadi penghayatan hidup tiada batas.

/37/

Langit pendongeng tua, menghendaki kita mengisi sepetak kisah, di lembar-lembar dunia — dan waktu, menjadi tintanya.

/38/

Di balik jendela, sehelai daun tertegun memandang cahaya bulan — aku pun mengerti, selalu ada alasan untuk percaya, pada doa.

/39/

Kau tak sedang membicarakan dongeng, Rosemary, melainkan harapan — yang hidup melampaui keterbatasan manusia.

/40/

Gadis kecil, aku ingin lebur dalam nyala korek api di tanganmu — untuk meyakini, kebahagiaan yang padam, bisa dinyalakan kembali

/41/

Jadilah daun, di batang pohon menjadi rimbun, di liat tanah menjadi yang menghidupkan

/42/

Aku membenci perpisahan sebesar aku mencintai pertemuan.

— Natal —

/43/

Malam kudus, sunyi senyap — damai Natal tumpah dalam butiran hujan, membasahi daun-daun di ranting cemara.

/44/

Di pucuk cemara, satu bintang bersinar terang, membinarkan hangat kenangan — dan malam, terpuisikan dalam bait-bait nan kudus.

/45/

Di sebuah Gereja tua, di mana pintunya berderit ketika kau buka, Natal hadir, di tengah kebersahajaan nan sederhana.

— Januari 2012 —

/46/

Mungkin hanya pohon tua mampu pahami, bagaimana rasanya berada di dasar sunyi, di mana waktu, menjadi senyap melebihi puisi.

/47/

Musim hujan tahun lalu, bertanya pada sumur kering di pekarangan, “Seberapa dalam dapat kau timba, waktu dan kenangan?”

/48/

Aku jam tua, menghendaki kau sebagai jarum, mendetik dalam detak hidupku — sementara waktu, terus menjaga kepurbaan kita.

/49/

Kekasih, pada mendung tengah hari, ketika rindu berada di luar waktu dan kata-kata, hujan pun menjadi sederas sunyi.

/50/

Musim hujan tahun lalu, membasahi kuntum kecil di halaman, hingga berkas matahari pertama, mengawali hangat di kelopaknya.

/51/

Aku membenci perpisahan sebesar aku mencintai pertemuan.

/52/

Meski tubuh kita fana, jiwa tak bermula, tak pula berakhir. Begitulah cinta, jika memiliki Jiwa.

/53/

Di bukit bunga, lampu-lampu menjaga bangku taman tetap hangat, sementara kota hujan, terhampar hening di bawah sana.

/54/

Aku ingin jadi orang yang selalu kaudoakan kebahagiaannya.

/55/

Cara terbaik berdamai dengan rindu, adalah mencintaimu.

Rafael Yanuar — Dirangkum pada 8 Januari 2012