Selamat siang. Selamat mengitari cahaya! Sekarang SP mengambil topik KAYU.

Sebentuk cinta telah melekat di jemari, satukan rindu yang tak pernah lelah kujaga, hingga tongkat kayu temani langkah.
— @HamdaniEva

Terpesona aku menatap pujaan hati, dibalik bingkai kayu antik, dia demikian indah, bagai tak terjamah mentari.
— @citra_cantika

Sebelum cinta memperkenalkan kita, pada kayu meranti sudah kuukir dua nama dalam simbol hati melingkar sempurna. Kita.
— @namjulsawa13

Seperti jamur di musim hujan, besandarlah pada bahuku, sebatang kayu yang rebah tak kuasa menahan pertengkaran waktu.
— @indiejeans

Sarapan tertata di atas nampan kayu. Kegelisahan perempuan menunggu yang pantas ditunggu. Sebentar lagi ia tiba. Rindu.
— @ThiyaRenjana

Sepotong kayu terjatuh dari pohon, hatiku layu terbawa olehnya.
— @uswah_

Kayu menguning, rinduku mengering.
— @fairyz3

Haruskah aku bermuka kayu untuk mendapatkan rindumu, kemana hangat rengkuhan pedulimu berlalu?
— @yulialiman

Seperti kayu, pada akhirnya, rindu pun lapuk diremas waktu.
— @iyanbiyan

Benalu merayapi kayu, tiap jalarnya meninggalkan kisah sendu, meratapi rindu semu, sadar takkan pernah lagi bersua.
— @fairyz3

Kayu jati, di linggar jati. Cintaku sejati, takkan mungkin ingkar janji.
— @ChalanRedRock

Cinta adalah kokohya kayu pada hutan basah, setianya hujan adalah nyanyian semusim pelipur rindu.
— @telukjingga

Kayu-kayu meronta menghiba hujan turun menangisinya, kini kaki bumi tak lagi ramah, kerap membakarnya dalam kekeringan.
— @telukjingga

Milikilah cinta sekuat jati. Semakin tua, semakin kokoh — tak lapuk dimakan waktu.
— @bagustianiskndr

Pada dipan kayu kurebahkan jasad tubuh yang mulai renta, aku tersenyum karena disampingku masih ada nama yang kusebut cinta
— @namjulsawa13

Pada hutan perawan rinduku tumpah bersemak-semak, cinta kupatri pada kokoh kayu raksasa, takkan tumbang tersapu badai.
— @telukjingga

Di hutan hatimu, harapanku telah menempel pada kayu-kayu kering, hendak patah tak tersisa.
— @arriany42

Sepotong kayu pasti tahu kemana ia berlabuh, tak hanya sekadar mengapung lalu mengikuti arus sungai.
— @arriany42

Akulah kayu rapuh, menghendaki kau sebagai tetes hujan yang luluh basahi aku.
— @mikemustamu

Asa kita, pepohonan di hutan tanpa nama, hujan melapukkan kayu, menggugurkan daun-daun harapan, menyisakan serakan kenangan.
— @alithdqueen

Dan kanopi peraduan kita, kayu yang melapuk ditempa waktu, di setiap poles pernis yang meretak, doa-doa beranakpinak.
— @alithdqueen

Aroma kayu manis mengingatkanku pada kebersamaan kita merajut cinta, sebelum kau tinggalkan aku merenungi rindu yang meranggas
— @RobiHerianto

Engkaulah jamur hujan di punggungku. sementara akulah kayu yang menyerahkan segala kerapuhanku, menghidupimu.
— @semut_nungging

Hujan. Kayu-kayu pun basah melengkapi dingin pagi. Kristal bening di sudut mata, membasahi kenangan kita.
— @Susi_SmileKitty

Aku ingin mencintaimu tak seperti kayu, bercabang ke semua tubuh tanpa malu-malu.
— @bait_sederhana

Dirangkum pada 6 Januari 2012