Sekuntum pagi merekah
Tuhan jatuh cinta

Dingin ini mengingatkanku pada hangatmu, hening ini mengingatkanku pada merdu suaramu.
— @omrtw

Jemari fajar mengetuk jendela, kicau murai menyiulkan dongeng tentang harapan yang menggantung di ranting-ranting cahaya
— @ama_achmad

Butiran embun menapak pada daun jendela, terlihat jelas di sana, rindu menggoda dalam tiap titiknya
— @imbycoffecholic

Mawar merekah cantik, kupu-kupu riang menggelitik. Indahnya pagi hari, matahari hangat tanpa hujan merintik.
— @yulialiman

Tuhan sedang jatuh cinta, bulanpun berbentuk hati.
— @aiirsunyie

Aku mengintip cendela fajar, siluet samar cahaya hangat, dan aku terperangah; inikah surga? Sejuk tatapanmu, Ibu.
— @oqhik_

Semburat matamulah yang memekarkan kembali embun di rumpun perdu, tempat segala cinta menentukan takdirnya
— @rizkytp

Gerimis terluka dan sendu bulan. Tuhan ciptakan pagi.
— @aiirsunyie

Fajar telah kembali, namun tak jua mimpi bergegas, ia mengekalkanmu, dalam harmoni pagi.
— @tengahsenja

Kereta malam, kota tua sebelum fajar. Cuma peron lengang menyambut kami yang pulang.
— @7HujanPagi

Kepulan asap rokok membumbung, menyatu dengan udara, menyatu bersama luka. Lelah penat di mata, telan mentah begitu saja.
— @aksarasendja

Bekas hujan semalam, basah di jalanan, dingin menyentuhku. Pagi setia bawa semua keindahan, hilang mimpi buruk semalam.
— @yulialiman

Sebaris embun sekilau warna secerah mentari, semua tersimpul dalam senyummu, menandai dimulainya kehidupan indah hari ini.
— @raffikeave

Mengapa masih menekuri mimpi? Bangunlah, lihatlah pagimu terbengkalai.
— @ratnalaila

Selamat pagi, selamat menunaikan ibadah puisi, Tuan, Puan.
— @MunajatKIRI

Hujan semalam menyisakan dingin, aku pun berselimut rindu, masih tak ada kamu disampingku.
— @miss_heni

Selalu kurindu gerimis, berharap ia mampu melumerkan bayanganmu selamanya!
— @ippang_az

Kuhidangkan sepiring rindu, dan segelas kenangan pagi ini–nikmati saja, lalu sampaikan padaku rasanya
— @ivanriskyy

Tetesan embun menyadarkanku, ada rindu yang teramat indah, bersamamu.
— @ciiputraa

Dibalik dinding malam yang sepi, aku telah menyelipkan sepucuk rindu untukmu, semoga kamu membacanya.
— @nugroho_penyair

Duhai subuh penahbis pagi, butirbutir cahaya telah mengecupku, kabutkabut kian mendekat untuk mengatup kembali hatiku.
— @rizkytp

Aku berjanji, akan mencintaimu sepagi mungkin. Bila ingkar, Sayang, aku rela kau tampar.
— @_priabaik

Pagi datang dengan kesetiaannya menyapa, aku harap ada yang seperti kamu.
— @iimamf

Syair-syairmu bagai secangkir kopi, membuat denyut cinta bergejolak dalam nadi.
— @matthewsevan

Dia adalah kata yang bersajak dalam rindu. Bukan bait, hanya rembulan yang bertarung dalam senja. Dialah kamu!
— @nugroho_penyair

Sampai jumpa mimpi, kunjungi aku lagi malam nanti. Dan kamipun berjabat tangan, berpisah meniti jalan yang tak bersisian.
— @ilalang_biru

Rangkaian puja-puji dan panjatan doa, membuatku terjaga. Matahari menyapa lewat malaikat yang mengetuk kaca jendela.
— @miyaa

Habis malam terbitlah terang. Saat itulah aku merasakan cintamu yang begitu hangatnya.
— @chuaberry

Secangkir kopi tersedia di atas meja. Kamu mengecupku dengan mesra sambil mengucapkan, selamat pagi, kekasih.
— @chuaberry

Mungkin rinduku kepala batu, bahkan dalam udara pagi yang basah, aku masih mencarimu dengan resah.
— @ilalang_biru

Kutitipkan luka pada langit malam, hingga cahaya pagi melebur dan menggantinya dengan ribuan asa baru bersama tetes embun.
— @Flute_Asa

Pagimu membuatku lupa mimpi semalam, hanya embun rindu yang terlihat menetes dan mengalir, di dedaunan cinta.
— @rudykoz

Aku selalu merindu pagi. Hangat sinarnya mendekapku bersama butiran-butiran cintamu
— @Flute_Asa

Mimpipun berlalu, hanya menyisakan rindu yang tak berujung. Semoga nanti malam kita bertemu lagi, dalam angan.
— @miss_heni

Hanya kepadamu, aku sengaja membasahi kembali anak sungai di hatiku, yang bermusim-musim telah mengering oleh teriknya cinta
— @rizkytp

Kenapa mesti pagi? Karena disanalah rindu memecah keheningan dalam cinta yang maha bening.
— @_priabaik

Setiap pagi rindu selalu kembali, sebagai suatu pertanda cintamu masih tersimpan di hati
— @UnguViolet_

Kuracik secangkir kopi dengan hangat rindu, asa, serta kecupan di dalamnya.
— @Flute_Asa

Malam telah menggulung, sabitan mentari samarkan embun. Titian mimpi telah usai, secercah harap kan kusambut.
— @Ar__One

Tuhan menghadirkanmu, dalam hujan semalam; mendekapku hingga pagi kembali, tersisa rindu mendera dalam dada.
— @itsme_thya

Mencintaimu; adalah sinar pagi yang tak pernah redup. Tak lekang oleh waktu.
— @chuaberry

Kan kusambut hangat dekapmu. Melengkapi indahnya pagiku diakhir minggu.
— @VieRe_252

Ini rinduku, ditelan keagungan pagi dari kecemasan-kecemasan fatamorgana.
— @danileinad

Rasanya nyaman melihat dua cangkir bersisian di pagi hari. Satu beraroma teh, satunya beraroma kopi, milikmu
— @ilalang_biru

Liarnya malam, glamour-nya gelap tersucikan dengan datangnya agung pagi.
— @danileinad

Hanya tetesan hujan yang mampu membawaku menyelami kenanganku padamu, saat itulah aku merindukanmu.
— @dheesywhidya

Maaf, Kasih. Sepagi ini aku telah menera keindahanmu dalam sajak. Mengertilah! Hanya seperti itu caraku merayakan rindu.
— @momo_DM

Pagi datang tanpa dibuat-buat, pun dengan rinduku padamu yang datang tanpa harus diminta.
— @momo_DM

Sekuntum embun jatuh tepat di kepalamu, Tuan Rindu — mengaburkan luka satusatu ketika Tuhan merekahkan fajar.
— @keanufathona

Berat rasanya meninggalkan ranjang, tempatku bergulat bersama mimpi. Entah, semesta memaksaku untuk berdiri.
— @danileinad

Di getar nadiku yang terluka, kurasakan matahari mengulurkan tangan hangatnya lebih lama dari sebelumnya
— @rizkytp

Kepadamu, ingin kusampaikan sepucuk surat dalam kotak pensil. Di hadapanmu, hanya kesunyian yang dapat kupanggil.
— @Om_Kelana

Lihat, Sayang. Jemariku liar menari, ingin tunjukkan rindu yang tak terjamah olehmu
— @Flute_Asa

Pagi tak pernah sepi, anak-anak langit berkelana memburu rindu. Mentari belum tinggi, aku terus mereka wujudmu tanpa malu.
— @keanufathona

Tak malukah kau dengan mentari? Sepagi ini dia sudah memberi. Ayo bangkit dan berlari kejar mimpi!
— @namjulsawa13

Mentari mengulum senyum menawan, membangunkan lelapku perlahan. Hangatnya masih sama, meski pagi kemarin ia menangis terluka
— @Aya_zahir

Kasih, umpama daun-daun, rindu dibelai embun, aku ingin melihat senyummu, membasuh kalbuku.
— @edith_tian

Pagiku sempurna memandang gemuruh ombak berkejaran lalu berpelukan di bibir pantai cintamu.
— @VieRe_252

Pagi telah meniup setiap kelabu menjadi hujan yang menggenangi kalbu; seribu rindu yang kutitipkan pada langit malam.
— @Ady_S_Lesmana

Ibu, apa jadinya bila langit itu runtuh? Seperti hatiku yang hancur berkeping-keping, bila kamu menangis, Nak.
— @nugroho_penyair

Cumbui aku, seolah esok tak ada. Biarkan surya cemburu, sebab dekapmu, melebihi hangat sinarnya.
— @VieRe_252

Ada sisa hujan, menggenangkan kenangan di pagi yang lengang. Dan aku memahat bayangmu di langit yang terang.
— @sigit_pam

Tak ada yang lebih puisi dari mentari; mendegupkan debar dalam dada, celupkan asa di getar jiwa, menjiwai pagi tanpa luka.
— @keanufathona

Seperti pagipagi sebelumnya, aku meneteskan embun pada dedaun. Pertanda kehadiranku tetap ada, pelepas dahaga.
— @Aya_zahir

Ada sisa mimpi semalam tercetak di langit-langit kamar, tentang kau dan aku memadu kasih di puncak gunung selumar.
— @namjulsawa13

Malam membisikkan padaku, betapa ia merindukan pagi, sebuah cinta yang tak mungkin terpeluk, seperti juga kita.
— @a_metta

Seolah surya aku ingin mencintaimu, kehangatan yang penuh seluruh, mendekap hati kita penuh keluh.
— @amresza

Kali ini aku yang membangunkan pagi, karena mimpiku masih panjang, takkan kugenggam jika hanya berdiam
— @iyanbiyan

Aku angin yang meniupkan angan saat pagi, dan embun menjadi saksi atas semua angan yang aku tuju padamu.
— @amresza

Sebelum cahaya matahari mengecup kornea mataku, rindumu lebih dahulu menyentuh bibir kesedihanku pagi ini.
— @bagustianiskndr

Masih seperti pagi sebelumnya, secangkir teh hitam dan selepas tawamu dalam ingatan.
— @falafu

Kelak pagi akan terbangun lebih akhir, saat matamu terlalu isak menangisi kepergianku, dari mimpimu semalam.
— @amresza

Kita; sepasang pipit yang terbang menghinggapi reranting takdir, lalu memilih menetap di dahan yang sama, berdua meraya cinta
— @ama_achmad

Hujan November akan sering menyapa, ngiluku akan tersiksa. Sapamu penuh senyum tulus bantu asa selalu bahagia
— @yulialiman

Aku melihat perempuan pagi ini. Dengan semangat, dia hadapi hangatnya mentari. Perempuan itu adalah ibuku.
— @Angz_Abbadie

Setiap hari, jejakjejak kaki yang kukenali menghiasi serambi pagi, rindu masih mencari.
— @biru__langit

Kerinduan adalah dahaga yang tiada terpuaskan oleh larutan apa pun, baik teh maupun kopi. Kecuali ketika mata bertemu mata.
— @MunajatKIRI

Seperti November membasuh wajahku, kubasuh bibirmu dengan lembut doa di bibirku. Tak ada sentuhan seindah gerimis.
— @puisikekasih

Embun mungkin tak pernah tahu, setiap pagi, rinduku lebih dulu menghias daun-daun.
— @biru__langit

Aku suka kau mencintaiku saat pagi, ketika mimpi-mimpi berevolusi suci, dan menawan segala rindu didalam birahi
— @bait_sederhana

Pagi yang dengan sendu kau tangisi, adalah pagi yang dengan rindu kuhiasi.
— @biru__langit

Kubacakan puisi untukmu, tiba-tiba suaraku merdu, seakan burung-burung menitipkan kicaunya padaku.
— @puisikekasih

Pagi dan mentari kita sama, hanya saja kau mencumbu mimpi, sedang aku memeluk nyata.
— @iyanbiyan

Sepasang doa-doa kecil berburu cinta, menelusuri langit sejuk yang mulia, hingga berziarah pada mentari yang sangat bergelora
— @bait_sederhana

Alangkah sejuk, suara sungai dan pohon bambu tertiup angin, namun mengapa, sendu daun-daun, terus berguguran, di sudut hatiku?
— @adityaputu

Sebening embun sesejuk selimut kabut, seperti itulah rindu didadaku, bergejolak untuk kau sambut
— @oomkalis

Disela embun kuselipkan secarik puisi, yang dihiasi sinar mentari, agar ragu tak dapat menelusuri menyamar menjadi sepi
— @bait_sederhana

Tak ada lukisan seindah gerimis. Maka ketika kau tersenyum padaku, aku tahu, siapa bidadari di celah pelangi itu.
— @puisikekasih

Kenangan bagai pohon merangas kena panas, lalu hilang tak berbekas
— @RidaAstuti

Desah gerimis membuka pagi, meniupkan rindu di dada–penyair membangunkan kata, memahat rasa dalam puisi
— @ama_achmad

Tuan, aku menyaru kabut, datang mengendap-endap mengetuk pejammu, mengabarkan pagi, memberitahu masih ada cinta yang terlalu.
— @ama_achmad

Pagi adalah sebait puisi bisu. Ketika embun rindu saling bertemu.
— @ar__one

_@_