CELOTEH KECIL
Sejumlah epigram tentang cinta

/1/

Aku ingin menulis sajak bahagia, tentang bulan di balik celah daunan, tentang kedamaian, ketika hujan mulai turun. Tentangmu.

I want to write a serene poem, about the moon peeking through leaves, about how peaceful the drizzle drops, about you.

/2/

Bertahanlah semusim lebih lama, dan biarkan aku memelukmu lagi, hujanku.

/3/

Seperti tanah memeluk bijian, dan hujan menumbuhkannya, demikianlah kami ingin menjagamu, Nathaniel.

/4/

Aku ingin kau tak mengenalku, hingga ketika aku menangis, kau datang dengan ketulusan paling murni.

/5/

Sejak ada kamu, embun tak lagi membutuhkan daun, ia jatuh teramat lembut, di kedua bolamatamu.

/6/

Sekalipun engkau melemparinya dengan batu, telaga tak pernah menaruh dendam padamu.

/7/

Pada sebuah tahun yang senja, aku saksikan, benih yang kita tanam di halaman, telah menjadi rumah, bagi burung-burung.

/8/

Di halaman rumah, di kotamu, tanamlah pohon pemikat burung-burung, dan kau akan tahu, musim-musim tak pernah menua.

/9/

Lihat, Kekasih, selendang tipis kabut yang menyentuh pucuk pohonan, membuat senja tak lagi takut, kehilangan matahari.

/10/

Akar, kecuali menumbuhkan pohon, tak pernah peduli pada cuaca, musim dan dunia.

/11/

Kolam kecil di sudut taman bagai selendang cahaya, tirai lembut senja, berkilauan di dalamnya. Begitulah aku melukis matamu.

/12/

Nak, sebentar lagi keluarga kita bertambah, sudah dua Minggu burung di pohon halaman rumah, mengeram telurnya dengan sabar.

/13/

Anak rusa mengambil air di sungai, burung kecil mencelupkan sayapnya, kupu-kupu beterbangan di sekitarnya. Begitu beda, begitu mesra.

/14/

Seperti sepasang anak yang duduk bersisian di pematang sawah — cinta pernah muda dan tak menuntut banyak.

/15/

Di pematang, dalam kerinduan masa kanak, kita menerbangkan baling-baling, dan berharap sayapnya mampu, memutar balik waktu.

/16/

Di pematang, kita menangkap sepasang kupu dan belalang. Alangkah lega, ketika menjelang senja kita, melepaskannya.

/17/

Pohon tak pernah menolak takdirnya, ia tumbuh tanpa menghitung usia, mengalami begitu banyak kehilangan dan peristiwa.

/18/

Ucapkanlah terima kasih pada Ia yang memberimu telinga, bukan hanya pada mereka yang menyanyikan musik untukmu.

/19/

Sunyi. Jika di depan rumahmu ada pohon besar, dan kau hanya mampu melihatnya merekah, tanpa bisa menyentuh buahnya.

/20/

Bagaimanapun keras usahamu, kau tak pernah bisa mengembalikan buku menjadi kayu.

/21/

Aroma wangi merayap di udara, dan aku bahagia — meski bunga itu, tak tumbuh di kebunku.

/22/

Di tengah kolam, ada bulan, bulat seperti mochi, kodok pun tergoda, ia melompat. Plung! — dan tak pernah kembali.

/23/

Kekasih, ketika napasku memanggil, adakah hatimu mendengarnya?

/24/

Percayalah, Ia memberimu bahagia, karena kau, berhak memilikinya.

/25/

Terkadang, harapan seperti biji tumbuhan di mulut burung-burung. Lepas dan jatuh di tanah, hanya untuk, dipermainkan cuaca.

/26/

Penghiburan yang baik, justru datang tanpa kesengajaan. Seperti nyanyi burung-burung, di halaman rumah kita.

/27/

Kau memungut sehelai daun, dan memakainya, sebagai pembatas buku. Aku pun sadar, begitulah hidup, menyiasati pertemuan.

/28/

Di sini, kau merelakan seseorang pergi, di sebuah kota, ada yang menyambutnya datang. Hidup hanya soal, menerima dan melepaskan.

/29/

Pesan apakah disampaikan Tuhan pada kita? Hanya dia, yang mampu mendengar bisik embun di tepi daun, dapat memahaminya.

/30/

Senja membuatku mengerti, ternyata kenangan, memiliki jiwanya sendiri.

/31/

Perlahan, aku menutup halaman terakhir sebuah buku, kemudian, aku memulai hidup, dengan membuka pemahaman baru.

Slowly, I closed the final page of a book, instantly, I started living with a new understanding.

Rafael Yanuar (dirangkum pada 29 Oktober 2011)