DOLLY

Di puncak tertinggi menara katedral
sebongkah lonceng lupa pada fajar
begitulah aku —
terlahir di rahim teknologi
berada di tubuh DNA somatik
: tuhanku, ilmu pengetahuan.

Di mataku
langit begitu tabah menyentuh bangunan tinggi
seakan dapat mencapai tangan Tuhan
dengan jemari.
Di sanalah — di sebuah pagoda sains
aku tercipta.

Sekarang aku tak tahu
harus bagaimana memulai sebuah doa.
Aku menghitung waktu
— dengan keping-keping paling fana
dan kadang, kenyataan terasa begitu jauh
jauh sekali.

Kreator menamaiku Dolly
rusuk-rusuk rapuh kehidupan
: muasalku.
Kau bilang aku pembuka kurung mitos-mitos purba.
Namun, kepada siapa
aku harus berdoa
pada akhirnya?

Tu(h)an?

Rafael Yanuar (20 September 2011)

Iklan