LANGIT SENJA DI BULAN SEPTEMBER
: Ama Achmad

Matahari sudah condong ke barat
perlahan-lahan mulai terbenam.
Aku berdiri di pinggir jembatan. Sendirian.
Di balik bukit, awan menari —
kabut-kabut menuruni lembah
— angin kecil menyentuh bentangan sawah.
Aku terhanyut, bagaimana senja dapat
menyandingkan rindu dan semesta, teramat mesra.

Tiba-tiba aku ingin bulan muncul
dan kita bisa bersama di malam purnama,
lantas terpukau
menatap indah langit di bulan September.
Aku tahu selembar tangis pernah
terpecah di satu hari lahir
Ketika kebahagiaan begitu lanut melingkupi semesta.

Di tepian cakrawala, aku pun termenung.
Pada sebuah doa
kita memandang indahnya perjalanan.
Di sanalah aku bertemu dan mengabadikan
perjumpaan denganmu.

Maka biar kutitipkan senjaku pada bunga padma
lewat baris-baris sajak
sebagai doa-doa sederhana
sebab aku tak pandai berkata banyak.

Aku hanya ingin
menenteramkan senyum dan air mata
dan melihatmu bahagia.
Senantiasa.

Senja sudah terbenam — malam meninggi
aku beranjak pulang, berharap bisa menulis
sajak tentang langit di bulan September
: tentang rindu
dan kamu.

=)

Rafael Yanuar (4 September 2011)

Happy Birthday, Amalia Achmad
Wish you all the best =).

_@_

Tambahan:

Happy (belated) Birthday, Ama Achmad. Maaf terlambat (seharusnya tanggal 03 September 2011, ‘kan?) Sebagai kado — dan hanya itu yang bisa aku beri, aku tuliskan sebuah sajak untukmu, tentang langit di bulan September — yang (bukan) kebetulan, sangat indah dan menawan. Mungkin, bulan September memang dapat menambah keceriaan — sekaligus menumbuhkan rasa rindu di benak.

Di negara empat musim, sekarang sedang masa transisi, dari musim gugur ke musim dingin, jadi langit terlihat lebih cerah, tinggi dan bersih. Udara pun demikian sejuknya. Meski sebenarnya, aku belum pernah mengalami musim lain, selain kemarau dan hujan. He-he.

Sekali lagi, Selamat Ulang Tahun, Amalia, bagaimanapun klise, aku suka doa ini, wish you all the best =).