REKAH MAWAR DALAM SAJAK
: @yulialiman

Kilau kuncup di depan jendela
dibasahi hujan kala senja
perlahan-lahan, dalam rintik mengembun
sepucuk daun menjelma kuntum
: kuntum mawar, belum tumbuh durinya.

Detik demi detik berlalu, kelopaknya merekah
: mengaliri sekujur tubuh indahnya.

Perlahan-lahan, aku pun memetik mawar itu —
dan menaruhnya dalam huruf-huruf.
Lalu mulai memilah-milah
mencari senyum pada semburat rindu.
Seandainya bisa, aku juga ingin merangkainya sebagai doa
— yang mengetuk pintu hatimu.

Sampai akhirnya, aku menemukan abjad yang hilang
dalam setiap jejak waktu
ialah namamu.
Sebagai penyempurna sajak ini.

Selamat Ulang Tahun, Yulia
mawar sudah terbungkus kata.
Hidup pun, telah memilih usia
: sebagai jawaban doa-doamu.

Dan tugasmu sekarang
tinggal tersenyum.

=)

Rafael Yanuar (31 Juli 2011)

Saya tulis sajak ini buat pecinta mawar yang sekarang berulang tahun, Mbak Yulia. Berhubung mawar asli sulit dicari –dan, kalaupun ada, bakal susah mengirimkannya (mulai pandai berkilah), jadi saya membungkusnya dalam sajak saja. Semoga dapat terbaca, dan semoga dapat pula diterima. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Mbak Yulia, pokoknya wish you all the best, baik di hari ulang tahun, ataupun bukan. Salam =).