Aku berjalan melenggang angin yang tenang, kala burung-burung pulang ke barat. Mereka mencari kehangatan di sekujur tubuh – meski musim penghujan masih jauh. Aku senang melihat senja dalam keremangan lampu kota, kala malam mulai menanjak. Dan di antara kabel-kabel listrik pembingkai ingatan, kulihat wajahmu bersua. Kakimu melangkah di bentangan jalan, ketika semua lelap dalam pitur bintang. Di relung kamar, kutemukan secarik puisi – berisikan dongeng masa kanak. Lama terpagut debu di kolong meja, berteman kardus pengeja masa.


Itu puisimu, kau tulis dalam lusuh kertas

Iklan