Latest Entries »

Baby’s Breath

berdiri di bawah lampu kota
yang nyala selepas petang
aku memilih pulang pada kenangan.
ini masihlah tenang yang sama
bagi sepasang mata
yang rungkuh oleh rindu.

jalan ini tak pernah berubah
rumah dan toko mengatup sudah
bahkan sebelum sabit
terbit di tubir bukit,
hanya usia yang tumbuh semakin renta
dan daun-daun yang gugur tanpa suara.

bila datang masanya
langit yang kaupandang itu
akan sirna jua. namun,
sudikah engkau memberi cahaya
pada segala yang matahari?

kelopakmu mekar di ujung jalan,
putih tak bercela.
menyapa lewat angin sore yang hangat,
aku terharu masih kauingat.

Senin, 6 November 2017

View full article »

Iklan

aku akan memercayai hal ini
sekalipun kaubilang itu mustahil
bahwa bintang-bintang yang berkilau
adalah kanak-kanak malaikat
yang terbang
dengan sayap kupu-kupu.

akan kupandangi awan-awan
yang mengambang di langit luas
seolah di sana benar ada
peri yang berlayar
dengan perahu kencana.

barangkali Dia yang kukenal namanya
sedang menangis ketika hujan
turun di bukit-bukit yang jauh,
mungkin di permukaan bulan
memang ada kelinci
yang gemar menumbuk mochi.

saat gemuruh menggetarkan lantai
aku tahu, Thor pasti senewen
karena kepalanya terantuk gunung,
saat terpejam mata ini
di balik lubang tikus, liliput mungil
akan mulai mengintip dapur
—dan esok, aku akan tersenyum
mendapati gula yang berkurang sedikit.

aku akan melupakan
apa yang kupelajari di sekolah
bahwa embun diciptakan bukan karena cuaca
melainkan permata yang dilahirkan
daun-daun untuk pagi yang sebentar lagi.

akan kubawa mimpi-mimpi itu
ke dalam tidurku
dan menganggap kesepian ini
hanyalah dusta
yang dibisikkan malam
pada segala yang fana.

19 Maret 2014

Haiku

#1
senja membisu
daun di ujung ranting
menolak jatuh.

#2
terik purnama
di pohon ek, cicada
bergeming parau.

#3
di redup petang
sehelai daun gugur
tertiup angin.

#4
alangkah sunyi
pada terik kemarau
hujan berbisik.

Io

di tepi rawa ini
aku menemukanmu
saat hujan yang turun
menjelma embun.

tapi, kau hilang dalam kabut.

seperti waktu,
aku berjalan mencari
usia yang kaucuri
dari mataku.

2005

View full article »

Di Kebun Biara

di kebun biara ini,
kenangan yang jauh merayuku pulang,
seperti overture sebuah lagu
yang kaumainkan pada mazmur.

di kebun biara ini,
waktu menolak jatuh.
lonceng yang enggan bersuara
bersembunyi di antara nyanyi
dan derik cuaca.

di kebun biara ini,
angin melantunkan adagio
dan aku teringat doa lama
yang diajarkan ibu
di musim yang lalu.

(Kamis, 5 April 2018)

View full article »

KASOU (KEMBANG ZIARAH)

saat pelupuk bunga itu luruh
jadi hujan yang merah
bulan basal menuliskan
cinta usang yang baka.

mataku masih membelangah
meski tubuh itu hancur dan lebur
dalam redup binar yang menolak lipur,
dengan hanya kesadaran yang tersisa
aku padam, bahkan sebelum tiba
musim bunga yang dekat itu.

sayang, hanya engkaulah satu
berangsur beku di pelukan
sambutlah aku dalam lelap
seperti biasa.

di malam yang gugur ini
rekuiem dari hayat yang katam
jelma bunga,
yang terombang-ambing di lautan kelam.
hanya itulah bekal kepergian
yang kupunya.

dan akhirnya,
rasa sakit yang tumimbal
tertelan jua ke dasar bumi,
saat janji terikat di antara kita
saat dunia beranjak lalu.

di bawah langit yang lapuk ini
aku menyerah pada mimpi.
telah lama mataku ingin terkatup.

di malam yang gugur ini …

(terjemahan bebas lirik lagu L’Arc~en~Ciel – Kasou)
lagu / lirik: ken / hyde
album: ray (1.7.1999)

View full article »

Simfoni Pepohonan

adakah kaudengar simfoni itu
yang dilantunkan daun-daun
kala tiada angin mengusik?
bila jauh kakimu melangkah
dialah yang menuntunmu pulang
dari masa lalu yang pilu
juga masa depan yang ragu.

sebab yang benar-benar berarti
ada saat ini. ada hari ini.
di mata kanak yang jernih
dan jauh dari dosa.
di langit malam nan sunyi
saat pendar bulan terpantul
di balik jendela.

rabu, 28 februari 2018

View full article »

aku tahu adakalanya kau lelah
berjuang tanpa hasil yang pasti
tanggal yang kaulingkari itu
tak jarang hanya membuahkan kekecewaan.

aku tahu adakalanya kau marah,
berteriak, dan ingin menyerah,
lalu menganggap segalanya tak berarti—
perasaan putus asa
terlalu berat untuk kaulawan.

aku tahu kau ingin menangis
lebih lirih, lebih pedih dari siapa pun
mungkinkah kau akan bangkit
untuk mencoba sekali lagi—
setelah kejatuhan yang pahit itu?

saat melihat punggungmu yang kokoh
juga langkahmu yang tegap
pada akhirnya nanti, percayalah,
kau akan bersinar
lebih terang
dari siapa pun.

dan bila saat itu tiba
akulah yang akan tersenyum
lebih lebar dari siapa pun.
lebih dari siapa pun.

kamis, 1 maret 2018

Selamat Tidur

saat aku menulis puisi ini
kau sudah terlelap dan mungkin bermimpi
maafkan aku tak pernah bisa menanyakan
nyenyakkah tidurmu semalam
sebab harus bekerja
sebelum kau membuka mata.

pagi selalu datang terburu-buru, anakku,
dengan kesedihan yang itu-itu juga,
dengan kerinduan yang tak kunjung berkurang.
aku memandang punggung mungil
yang jarang sekali kupeluk
dan merasa waktu telah mencuri banyak hal
yang harusnya kita raih bersama,
tapi mungkin akulah
yang terlalu menuntut banyak.

selamat tidur, anakku,
semoga esok harimu menyenangkan
semoga tak ada yang membuatmu bersedih.
menghayati malam yang kian dalam
saat tik tok jam tak berarti apa pun,
aku mengecup keningmu perlahan.

Selasa, 23 Januari 2018

Sesaat Sebelum Pejam

kau mengenal baik jalan ini, bukan?
saat melewatinya, masihkah kaudengar
langkah kaki peri yang tak menginjak
sehelai pun daun di sunyi setapak?
ada kalanya, saat kau mengenang
mimpi-mimpi yang lama menghilang
ada rindu tak terungkap
dari masa lalu.

mungkin denyut yang disembunyikan telinga
sesaat sebelum mata terpejam,
kala segala yang kata berhenti,
dan tak seutas pun angin
memutus waktu; saat sesuatu
yang bukan mimpi, bukan pula nyata,
memeluk kalbumu
dengan kekekalan.

Minggu, 21 Januari 2018