Category: Senyuman Jiwa


Barangkali

Puisi, masihlah sedekat obat nyamuk bakar
di samping tempat dudukmu, ketika di beranda
kau terkenang senyum kekasih
bukankah di situ lonceng-angin masih suka
kemerincingkan sepi musim panas
di mana kita, masih duduk di beranda, dan memandang
langit penuh bintang?

Barangkali, puisi masihlah semerdu suara dapur
ketika kau memasak tumis kangkung kesukaanku
di mana riuh suara spatula dan bunyi pisau di telenan
masih mampu mendamaikan pejamku
—kau tahu, bukan?
Telah lama jiwaku dipenuhi kebaikanmu,
bahkan sebelum kita ada.

Kekasih, ingatkah kau
ketika kita duduk di sini,
dan memandang langit bersama
—betapa waktu telah mencuri banyak hal
dalam hidup kita,
namun, selama puisi masih memberikan harumnya padaku
aku hanya ingin membaginya denganmu.

Sampai selamanya
aku tak mungkin melupakan
pemandangan bunga rumput di balik pagar sekolah
di mana kita biasa duduk dan menghabiskan jam istirahat
sambil berbagi kisah, berdua.

Di sana, ada banyak puisi kita terbangkan
melalui kapal-kapalan kertas
meski sayapnya acapkali tersesat di atap sekolahan
dan tak pernah turun lagi.

Kau pun tersenyum ketika menyadari
aku tak sedang menulis apa-apa
selain sebaris ungkapan sayang
dengan namamu di dalamnya.

Kini, setelah banyak tahun berjalan, adakah kaubertanya
: pada siapa waktu sebenarnya berdetak?

02 Februari 2012

Di Perhentian Berikutnya

Di jendela kereta, langit berubah mendung
hujan pun turun, seperti deras rindu
dalam dadaku.

Di perhentian berikutnya, aku tiba di kotamu
adakah kau menyambutku
dengan senyuman?

Matahari masih bersembunyi entah di mana
ketika suara angkot bapak dinyalakan
dan harum tanak nasi meriap di dapur ibu
mataku masih setengah terbuka ketika ibu membangunkanku
dengan menempelkan tangannya di pipi, sementara
hidungku mencium aroma nasi
begitu lembut di telapak tangannya.

Bapak sudah berangkat kerja ketika aku dan
saudari-saudariku sarapan di meja dengan lauk bersahaja
sepiring nasi goreng terasi dihidangkannya tak
lupa dengan segelas susu, di depan meja kecil kami
dua buah telor ceplok menambah istimewa
menu sarapan kami, meski bundarnya harus dibagi-rata
menjadi empat potongan.

Matahari telah terbit dan ayam terus berkokok
namun kami tak pernah kehilangan kesempatan
menatap panorama maha-indah pemberian semesta
sejak kecil kami sudah sadar, rezeki bukan hanya
berupa materi — menatap matahari pagi
bersama keluarga pun bisa jadi rezeki buat kami.
Sementara ibu menyuci piring di dapur
kami bersama-sama membereskan rumah
dan berusaha membuat
rumah kecil tempat kami menghabiskan hari
menjadi tempat ternyaman bagi hati.

Kini, setelah selesai membereskan rumah
Ibu mengantar kami menuju sekolah
cahaya matahari begitu lembut menyapa kami
hangatnya bertahan selamanya di hati
—seperti cahaya di mata ibu
tak sudah-sudah menyinari, jiwa kami.

Terinspirasi dari novel Ibuk (Gramedia, 2012) yang ditulis dengan penuh rasa haru oleh Iwan Setyawan

Cinta Pertama

di bening september, dua rangkap matahari
datang kembali, daun-daun lerai
angin musim bertiup kencang
langit luas terbentang, kuda-kuda
berderap di padang
siapa mengayun tabir di angkasa?
kelepak angsa melintas berseri.

seruni di tangan gadis kecil harum sekali
bunga-bunga kuning di pegunungan bersemarak
indah pemandangan bak sebuah lukisan
sama teduh sama panas di seluruh dataran
—kenangan di kampung halaman
selembar potret di sebuah album tua.

09 September 2011

Bulan Bunga Mei

Bunga Bulan Mei

Sahabat, mari kita lalui lagi
jalan setapak menuju rumah
tempat kenangan terhampar
bersama rekah bunga bulan Mei.

Dan andai nanti kau mendengar
angin berbisik di lerai daunan basah,
ingatlah kita pernah memiliki
malam selembut suara hujan
dan ketika aku merenung
suara air di sungai, lenguh sapi di kandang,
deru bunyi kereta di kejauhan
kesunyian mana terdengar mesra
bagai hening kersik rumputan, di tepi subuh?

Sahabat, masihkah kauselipkan kisah kita, di tiap perhentian?
Sungguh aku ingin pulang, sekadar bertukar tanya,
masihkah kau peduli dengan kabarku?

Di Bening Subuh

Suara lokomotif di suatu pagi
terdengar bagai perpisahan paling sunyi
—paling puisi
antara waktu, dan detaknya.

Aku pun sadar
di bening subuh
dingin telah sepenuhnya kembali
meninggalkan jejak air di kaca
di mata dan hatiku.

Kota Putih

Dalam ingatanku
di kotamu, musim senantiasa bersalju —
ada bunga-bunga kertas
kaurangkai di depan pohon cemara,
di samping penantian subway
di sanalah aku menjanjikan kepulangan.

Tujuh tahun berlalu, semenjak lambai tanganmu
mengantarku pergi
kini aku kembali, tepat ketika bening salju
tumpah di rambut cokelatmu
ternyata, di kotamu ada musim semi
sebab senyummu masihlah
hangat matahari di pagi pertama

kelak —
ketika salju mencair
setelah rindu membuka waktu kembali
sekuntum bunga kan tumbuh
di telapak tanganmu
dan menjelma kupu-kupu,
dengan sayap
secerah matahari.

Di belantara hening
terdengar suara pagi
berhembus bersama angin dan musim
kanak pun
merayakannya dengan
debar pertemuan
di sekolah.

Tuhan, seandainya boleh aku berharap,
sampai nanti pun, semoga kanak
selalu mampu menjaga subuh
tetap ada, dengan tulusmatanya.

— buat farah dan mumu

Berkunjunglah sesekali
rumahku dibangun di dekat sawah
di depannya ada pohon mangga tua
di mana batangnya sudah banyak berbuah
mari kita urai percakapan
sambil bersantap rujak bersama.

Dan bila langit beranjak merah
tunggulah di sini, di beranda mungilku
berbatang-batang kangkung tumbuh di dekat sungai
sudah siap aku petik seikat —
Sementara aku memasak
dapatkah kaucium harumnya
teracik wangi di wajan hitam?

Berkunjunglah sesekali
sekadar bertemu habiskan hari
di sini, aku punya banyak resep
dan kau, pasti menyukainya.

— 24 Februari 2012 —

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.