— buat luna, tanpa maya
/1/
Aku masih saja teringat,
pada kata-katamu ketika
kau membuatkan sepiring telur dadar
di dapur kecilku
kau bilang aku dapat menirunya
bila nanti kau pergi dan aku
merindukanmu.
/2/
Caranya mudah, kok!
— katamu memulai instruksi.
Pertama-tama
tentu saja, pecahkan cangkang telurnya
kocoklah dalam mangkuk
beri sedikit garam dan merica bubuk
tapi jangan pakai penyedap makanan.
Cincang bawang putih dan bawang bombay
lalu taburkan tumisannya
aduk rata sampai semuanya membaur
dan terlihat lebur
namun ingat
mengiris bawang juga bisa membuat mata terasa panas
dan ingin menangis.
— katamu, sambil menyembunyikan isak
dengan alasan paling biasa.
Lalu, panaskan margarin
masaklah telur dengan api sedang
coba hirup, aroma bawangnya terasa, kan?
— kau pun menyuruhku mengambil napas dalam-dalam.
Harum!
Setelah matang,
sajikan dengan sepiring nasi pulen
ditaburi dua sendok kecap manis di atasnya,
sekarang, coba kaucicip bagaimana rasanya.
— kau pun menaruh sepiring telur dadar di meja
dan memelukku dari belakang.
/3/
Kini, aku sudah mengikuti semua saranmu
namun, ketika mencicipinya
tetap saja aku tak bisa membuat telur dadar
senikmat buatanmu.
Padahal, aku hanya berharap,
dengan meniru resepmu
aku tak pernah benar-benar
kehilanganmu.
Ditulis tahun 2011, sekitar bulan Oktober