Latest Entries »

Barangkali

Puisi, masihlah sedekat obat nyamuk bakar
di samping tempat dudukmu, ketika di beranda
kau terkenang senyum kekasih
bukankah di situ lonceng-angin masih suka
kemerincingkan sepi musim panas
di mana kita, masih duduk di beranda, dan memandang
langit penuh bintang?

Barangkali, puisi masihlah semerdu suara dapur
ketika kau memasak tumis kangkung kesukaanku
di mana riuh suara spatula dan bunyi pisau di telenan
masih mampu mendamaikan pejamku
—kau tahu, bukan?
Telah lama jiwaku dipenuhi kebaikanmu,
bahkan sebelum kita ada.

Kekasih, ingatkah kau
ketika kita duduk di sini,
dan memandang langit bersama
—betapa waktu telah mencuri banyak hal
dalam hidup kita,
namun, selama puisi masih memberikan harumnya padaku
aku hanya ingin membaginya denganmu.

Sampai selamanya
aku tak mungkin melupakan
pemandangan bunga rumput di balik pagar sekolah
di mana kita biasa duduk dan menghabiskan jam istirahat
sambil berbagi kisah, berdua.

Di sana, ada banyak puisi kita terbangkan
melalui kapal-kapalan kertas
meski sayapnya acapkali tersesat di atap sekolahan
dan tak pernah turun lagi.

Kau pun tersenyum ketika menyadari
aku tak sedang menulis apa-apa
selain sebaris ungkapan sayang
dengan namamu di dalamnya.

Kini, setelah banyak tahun berjalan, adakah kaubertanya
: pada siapa waktu sebenarnya berdetak?

02 Februari 2012

Sesekali,
aku ingin mengulang masa kecilku kembali,
ketika kita duduk di dahan pohon, dan melihat
bulan begitu lembut — bercahaya
seperti mimpi-mimpi malam.

Namun cuaca semakin berkabut
tak ada kau, bersandar di lingkar lenganku.
Tak ada merah pipi, dapat dibelai jemariku.
Kunang-kunang beterbangan, di terik malam
cahayanya begitu pias, menembus tubuh.

Jalanan biru
aku menghitung liku dan persimpangan
daun-daun berserakan, merah tanpa disapu
kabut-kabut dimakan batu
isak burung hantu, memeram dongeng-dongeng malam
kesunyian subuh, lampu-lampu beku
aku menatap hening langit di kotamu.

Di bawah langit kelabu, detik mengabu
di terik malam membiru, rindu bertalu –
Kekasih,
lihatlah, hidupku baik-baik saja tanpamu
namun tetap lebih baik
bila kau bersamaku.

Himpunan Syair Pagi

Di hari Jumat, para sahabat @Syair_pagi menulis syair dengan tema nama kota, dan ternyata banyak sekali peminatnya. Mari, Sahabat, kita sama-sama merayakan kenangan =).

Ketika kau memijakkan kaki di sebuah kota, sebagian dari dirimu akan selamanya berada di sana.

♠ @chandragenic: Seperti Bandung–yang mendung, aku menunggui kau kembali, dicekam cemas dan gelisah. Adakah cinta ingat jalan pulang?

♠ @chandragenic: Pada sepasang mata milikmu, ada Jakarta. Kau tak lelah menyimpan kenangan, tentang kita yang cinta.

♠ @Andriany30: Di kota Jogja, syair-syairku bersembunyi di balik kenangan, menyusup di setiap sudut istimewanya.

♠ @PelukisLara: dingin menyergap, rindu membuncah. sendiri di Arjosari Malang, menantimu, kekasih tak terungkap

♠ @is_nna: Di sudut kota Bukittinggi, kenangan tentangmu kembali, seperti puisi yang abadi, membuatku jatuh hati, berulang kali.

♠ @codrz: Seperti cinta, perjalanan Surabaya – Gresik juga mengajarkan ketabahan dan kemungkinan, ketika kita akan mendahului truk besar.

♠ @penyihirhati: Senja di langit Jakarta, aku dan kau berdiam di buram jendela kereta, semata mencatat rindu buat kita.

♠ @RidaAstuti: Dari sana aku datang , kembali kesana aku kan pulang, Magelang tetap kota yang ingin kutinggali, hingga mati nanti.

♠ @codrz: Di sudut kota Surabaya, lampu kota mesra berdendang, kupu-kupu malam sibuk membuka lapaknya. Aku, terdiam bersama sunyi.

♠ @yulialiman: Pertama kali berpijak di kotamu, ada ragu membayang — lama kutinggalkan, rasa senang terus jadi kenangan. Semarang.

♠ @dek_amee: Banyuwangi, tempat kita mengikat hati dengan seuntai janji. Bersama kelak, kita tua dan mati, di sini, di kota ini, Banyuwangi.

♠ @puisikekasih: Apakah aku terlalu mencintaimu, Jakarta, datang begitu pagi menembus kabutmu, pulang begitu senja melewati mega-megamu.

♠ @adzhanihani: Di lembar kenangan, tercatat kota Bekasi, sebagai tempat pertama, kita, memadu kasih.

♠ @sebatangnikotin: Pagi ini, terasa benar kopi tiwusmu, Klatenku. Seperti hangat di dada, yang tak lelah mencintaimu. @kabarklaten

♠ @dqueen__: Adalah aku, mendung yang terusir darasan mantra para tetuha di langit Kutaimu, urung menyampai pesan, jatuh di lain padang.

♠ @anchientha: Biarlah Yogyakarta tetap menjadi bait indah, tempat romansa kita bertabur suka.

♠ @is_nna: Di sepanjang jalan kota Padang, kita tak lelah mengukir banyak kenangan, cipta sajak berlebihan, perihal kita yang berlainan.

♠ @sajakimut: Bertanyalah pada langit Makassar, siapa paling senang ia tudungi–bukan kau, pun aku. “Kalian,” katanya padaku, padamu.

♠ @miss_heni: Jogjakarta, tawa dan airmata mengikat kita dalam rindu. Entah kapan Tuhan mempertemukan kita kembali, di sini.

♠ @puisikekasih: Aku mengenangmu, Cirebon, sebagai kota di pinggir pantai, semerbak garam dan terasi udang, kini kuciumi kamu lewat puisi.

♠ @puisikekasih: Yogyakarta, aku tak dapat melupakanmu, di sini aku memahami, bahwa cinta dan pujangga adalah satu kata.

♠ @dzdiazz: Ada kenangan yang telah karam, di satu sudut malam Semarang. Tinggal abu di dadaku, menjelma rindu, datang diam-diam.

♠ @is_nna: Di tiap jengkal kota ini, ada jejak abadi cinta kita; di jalanan berlobang, di tepi pantai, bahkan di jembatan yang memisahkan.

♠ @MawarApi: Bayangmu pergi, menyusuri tiang lampu Suramadu. Tiang yang dingin. Sedingin lambaian Madura yang kau tinggalkan.

♠ @penakecil: Riuh peluit kereta, pun asap-asap cerobongnya. Di stasiun Bekasi, kita bergandeng tangan, melangkah bersisian.

♠ @is_nna: Ingatan tentangmu membuncah seiring ombak yang mengecup tepian pantai kota Padang, meluapkan kenangan perihal kita yang dulu.

♠ @datudwija: Jogja itu tentang kenangan, yang terbungkus rapi di sudut ingatan. Hingga entah, siapa yang akan membocorkanya.

♠ @_putputrie_: ada rindu nan megah di Serambi Madinah, dan aku menyebutnya rumah. Tunggu aku di Gorontalomu, Sayang, cinta kan membawaku pulang.

♠ @tresnabening_: di setiap sudut Jogjakarta ada kenanganmu. Sejauh apa pun aku pergi, kerinduan selalu memaksaku kembali.

♠ @cuplis_imoet: Sesepi pagi di tepian Sidoarjo, melambungkan asaku kepadamu. Entah ini disebut rindu atau cinta tak berujung.

♠ @dzdiazz: Setiap menjejak Salatiga, debar dadaku selalu sama; lebih cepat dan degupnya rapat. Ada yang terbangun, rindu paling tegun.

♠ @tresnabening_: Tasikmalaya yang anggun, tempat Ibuku mengandung, mencurahkan cinta kasihnya yang tak terhitung.

♠ @didikidd: Menunggu pagi di Bakaheuni Lampung. Bersiap memasuki lambung kapal, mengantar kenangan di seberang. Ibu, aku rindu.

♠ @ichal_elnad: Mungkin, Kekasih, kotamu Malang, ialah gambaran surga. Sebab surga ialah keindahan, dan kotamu, tak pernah membuatku muram.

♠ @chuaberry: Banyak kenangan indah di Bantimurung. Anak-anak pramuka berlarian dengan gembira, dihangatkan tangis dan senyuman.

♠ @AngZONE: Benar, gadis dari Kebumen itu membuatku patah hati. Namun apa daya, aku sudah cinta mati!

♠ @rezajuned: pagi sendu di tepian pekanbaru, ketika rindu tak punya nama tuk dituju.

♠ @Andriany30: Jogja dingin, Sayang, aku masih berselimut rindu, secangkir kopi dan bayangmu kini jadi penghangat pagiku.

♠ @I_Am_BOA: Apa itu Jakarta? Membuncahkan rinduku yang semerta. Mengingatkan sosokmu yang berkelebat. Di pikiran dan hatimu, aku tersesat.

♠ @puisikekasih: Aslinya mana? Tegal. Kadang cinta berawal dari salah sambung.

♠ @chuaberry: Di Kelopak, Bantimurung, sebuah kisah tertulis indah oleh anak-anak pramuka, ia membawa pulang cerita yang tak bisa dilupakan.

♠ @pemuda_tua: Yang mengalir di ingatan tetaplah Barito, sungai dengan segala kehangatan! Juga karat-karat Banjarmasin yang dingin namun tetap diingin!

♠ @is_nna: Tanpamu, kota ini menjelma padang kenangan. Lihatlah, dengan mudah kutemui bayangmu di setiap sudutnya.

♠ @dqueen__: Di gurat pualam pipi perawan yang mandi di batang banyumu, banjarmasinku, rindu berkayuh kenangan. Ah, aku rindu pulang.

♠ @iwan_sf: Masih terngiang nyanian syahdu ibu, di ujung Kotabaru, tempat angan mulai terbang, bersama alunan dalam ayunan.

♠ @dzdiazz: Di terik matahari Berau, aku pernah menitip engkau. Mengirim rindu paling risau. Kini sudah kembali, tiba di peluk ini.

♠ @edelweisbasah: Padamu, Subang, aku ingin kembali sebentar saja, mencicipi kenangan tenang, menyelami lekuk memoar parasmu berbunga.

♠ @torodoang: Ambarawa membawaku kembali muda. Aku selalu tertawa jika ingat tepian rawa di mana siswa-siswa memadu kasih di sana

♠ @indiejeans: Batam, sejumput senyum yang luruh. ascetica rinduku bersimpuh. Pada gadis milik rembulan itu aku gagal mengubur ingatan

♠ @_bianglala: Di sanalah, di Surabaya. Kota kenangan tak kan terlupa. Ibu, bolehkan aku pulang memelukmu, memenuh cawan doamu.

♠ @bagustianiskndr: Di Batam, ada ingatan yang mengaku-ngaku sebagai masalalu, adapula ingatan yang mengkamu-kamu sebagai kenangan.

♠ @fauzi_ojinx: semarang, mengenangnya selalu menyenangkan. mengingatmu pun begitu. ciuman-ciuman pertama kita, masih saja terbayang-bayang.

♠ @is_nna: Kukemasi air mata di batas kota, pergilah sayang, kejar mimpimu. Rinduku masih bisa menunggu.

♠ @indiejeans: Kita mencoba mengemas air mata masing masing. Namun senyummu hanya menjadi epitaph luka. Johor Bahru, aku tak kuasa kembali

♠ @dzdiazz: Di Ambarawa, satu kisah tertulis. Mengenai kita; berbagai tawa dan akhir pulang paling mesra. Kini, masih ada untuk terbaca.

JARAK
oleh @aksara_saja

Pada kangen terdekat, aku mendekapmu erat. Diakhiri satu ciuman, yang akan selalu kau ingat. Pada jejak tak terbaca, aku akan mengingatmu. Melihatmu tanpa mata, sudah cukup bagiku. Menuntaskan kangenku.

Pada jarak yang mengikat, doa adalah isyarat: sebuah nama yang terselip, diantara kangen dan ingin. Pada sebuah sajak tak lengkap, takdir telah dijatuhkan, selamanya. Dan aku akan menuliskanmu di bait penghabisan. []

♠ @indiejeans: Shongkla, bhikkuni itu meredupkan pandangannya padaku. paspor yang sudah tenggat waktu. bisakah menunda kepulangan?

Celoteh Kecil

Celoteh Kecil
Sejumlah epigram tentang cinta

— April 2012 —

(Paskah)

/1/

Tuntun aku, Tuhan, menuju Yerusalem abadi, mereguk nikmat pengampunan sejati, menjadi satu dengan imanku sendiri.

/2/

Kau adalah debar dari darah yang mengalir di tubuhku, yang menyadarkanku bahwa cinta memiliki luka yang hidup.

/3/

Tuhan, luruhkan jiwaku dalam devosi, ajari aku ketabahan dalam memikul salibku sendiri.

/4/

Embun yang menetes di keras bebatuan itu, Sahabat, adalah peziarah yang tak pernah lelah mencari kesadarannya sendiri.

/5/

Dalam hidup, aku belajar melihat perbedaan, dari seorang yang bermata buta.

/6/

“Dalam hidup, apa yang benar dan apa yang tak benar?” tanyaku. Bapak pun menunjuk awan yang sebentar lagi jadi hujan.

/7/

Di bangku kereta, ketika peluit keberangkatan ditiup, aku melihat jalan-jalan yang sebentar lagi jadi kenangan, meniadakan kita.

/8/

Rindu membuat kita tahu, masih ada kesempatan tuk berdamai dengan hidup.

/9/

“Jangan aduk gulanya,” katamu, ketika aku menyeduh secangkir kopi. “Seperti cinta, simpanlah rasa manis di saat terakhir.”

/10/

Sayang, alangkah teduh angkasa, ketika kau bersamaku — dan ketika aku menatapmu, musim pun berhenti, di matamu.

/11/

Lengkung rembulan
secarik kertas haiku
ditulis waktu.

Sumire ungu
lamat-lamat berbunga
dalam lukisan.

Di rerumputan
terbitlah matahari
musim pertama.

Sumire ungu
tumbuh di tepi kabut
melukis subuh.

/12/

Ketika hujan turun, engkau menjelma genangan yang gemar memantulkan wajahku di air.

— Mei 2012 —

/13/

“Adakah yang lebih tajam dari runcing jejarum jam?” Waktu tersentak. Tak ada yang lebih sesak dari tanya yang sia-sia.

/14/

Mari nikmati teh hangat ini bersama, Sayang, dan biarkan waktu memandang kita dengan tatapan teduh seorang kekasih.

/15/

Acap-kali melihat senja, aku teringat pada atap rumah kita. Rumah tempat kau menanti, dengan senyuman sehangat puisi.

/16/

“Bagaimanakah rasanya hidup?” tanya sebuah batu, pada Sang Penziarah. Sebongkah nisan retak, ia tahu namun tak bisa menjawab.

/17/

Aku pernah membayangkan sebuah kota, di mana rumah-rumahnya terbuat dari kayu, dan musim-musimnya berbicara dengan suaramu.

/18/

Aku membayangkan sebuah rumah, dengan jendela menghadap laut. Setiap malam, aku mendengar suara ombak, berdebar dalam pelukmu.

/19/

Di telapak daun basah, di kedalaman sebutir embun — aku pun terhenyak, justru di dalam keheningan, kebeningan tercipta.

/20/

Aku tahu, kita tahu, salah satu jalan terbaik menuju hidup, adalah menerima bahwa cinta, selalu lebih kuat dari takdir.

/21/

Seekor kupu-kupu terbang di antara puing-puing — dan kita masih saja memilih kesunyian sebagai jalan menuju kebebasan.

/22/

Kupu-kupu kuning yang hinggap di tanganmu pagi tadi, adalah anak-anak matahari, yang tak pernah lelah, membuatkanmu cahaya.

/23/

Seorang penyair menulis sajak tentang rumpun bunga dan wangi arak — tiada kawan, tiada kekasih, ia pun mabuk sendirian.

/24/

Cinta. Di antara kicau murai dan selendang cahaya — tersebutlah suatu pagi, kau membuka jendela.

— Juni 2012 —

/25/

Dan bila nanti kau mendengar, angin berbisik di lerai daunan basah, ingatlah kita pernah memiliki, malam selembut suara hujan.

/26/

Mungkin beginilah wujud waktu sebenarnya, seperti deru bunyi kereta, di kejauhan — mengantar kepulangan, dengan kepergian.

/27/

Sahabat, adakah rinduku sampai di rumahmu, sebagai doa, sebagai hidup yang selalu ingin kaupahami, detaknya?

/28/

Cahaya, sama seperti cinta, tak pernah memejamkan mata. Dan rindu, bagai semerbak bunga, di sebuah taman tanpa bayangan.

/29/

Langit tak pernah menaruh belas kasihan pada siapa pun jua, sebab itu ia tak pernah bertambah tua, begitupun cinta.

/30/

Mencintaimu, seperti melewati jalan setapak menuju rumah, sambil menikmati aroma rumput segar — sehabis hujan membadai.

/31/

Sehabis hujan, daun-daun bergeming, jendela tak bersuara, segalanya tampak lebih bening, seperti ketika kautersenyum.

/32/

Pernah kita merasakan dingin kerikil, menyentuh telapak kaki. Namun kenangan hanyalah sebait senja, di stasiun tua.

/33/

Keheningan, seringkali, menjelma sebuah jalan berkerikil, tempat kita biasa berjalan pulang, sambil bergandeng tangan.

/34/

Sukmaku begitu dalam menempa duka, kalbuku tiada lelah menadah suka. Di antaranya, ada engkau memberiku ketabahan.

/35/

Memandang senja membuatku teringat pada air mata Ibu.

/36/

Aku bersyukur telah jatuh cinta, padamu. Sebab aku jadi punya kesempatan, membahagiakanmu.

/37/

Kau tahu bagaimana rasanya bahagia? Rasanya seperti dicintai olehmu.

/38/

Sebab rindu adalah pelukan — tak ada yang lebih hangat, dari debar jantungku sendiri, ketika merasakanmu, ada di dalamku.

/39/

Setiap memandang senja, aku selalu teringat, pada rumah tempat kau menanti, dengan senyuman, paling indah.

— Juli 2012 —

/40/

Pada akhirnya, dunia hanyalah ilusi yang mudah terbakar, dan hidup tak lebih dari kekalahan yang tak sempat kita rayakan.

/41/

Setiap kali melihatmu terpejam, aku tahu bahwa waktu, telah menjadi rahim, bagi ketabahanku — bagi keheninganku.

/42/

Bahkan, jika Tuhan telah mencukupkan hariku sebelum esok tiba, hidupku masihlah tentangmu — dengan kata tak (pernah) cukup.

Dirangkum pada 10 Juli 2012

Himpunan Syair Pagi

♠ @puisikekasih: Tidurlah dalam rinduku. Surga ini milikmu. Peluklah malam yang terhampar di dadaku untuk kaupetik bintang-bintangnya.

♠ @puisikekasih: Pejamkan mata, agar dapat kautafsirkan debar jantungku. Dengarkan kalimat kalbu yang tak dapat ditampung halaman buku.

♠ @puisikekasih: Betapa cantiknya kamu, betapa indahnya pagi, di dada berdebar bahagia, di bibir menjelma doa, di jemari terangkai syair.

♠ @penyaircyber: selamat pagi, ujarnya. menyapa fajar yang mulai tumbuh memanjat langit remang-remang.

♠ @penyaircyber: selamat pagi, ujarnya. menyapa embun yang masih menyimpan mimpi semalam

♠ @penyaircyber: selamat pagi, ujarnya. kepada diri sendiri yang mengeja dirinya sendiri. di mula hari

♠ @hati_bernyanyi: Pagi adalah awal perjudian, di mana pertaruhan tentang harga diri dimulai, jika tak jadi pembunuh, kitalah yang dibunuh

♠ @chuaberry: Cinta, serupa embun yang menetas dengan tenang, dan damai, di pagi nan teduh.

♠ @MawarApi: Selamat pagi. daunan mati jatuh ke bumi. begitu segalanya pergi, rindu di hati iseng sendiri

♠ @MawarApi: Tak ada manusia yang tak terluka. maka biarlah luka itu ada. cinta akan menyembuhkannya seperti bintang pagi pada semesta.

♠ @katakecil: ingin kuselami, tenang laut yang tercipta dari biji-biji airmatamu. Sedang muara di pipimu, tak mampu lagi menampung sedihku.

♠ @AkuSangPencinta: Kecupan adalah matahari, sengatannya terasa hingga di hati.

♠ @Vampir_Sajak: Selamat pagi. Cinta sejati selalu berangkat dari hati.

♠ @katakecil: di antara sunyi telaga, teriakan-teriakan kita menjelma riak. sedang jemari, sibuk menjala kebahagiaan, menjala peruntungan.

♠ @_bianglala: Embun pun berbisik, matahari dan ilalang riuh, mereka tahu rona pipiku, merah jambu disentuh nafas hangatmu.

♠ @bagustianiskndr: Aku selalu heran memelukmu setiap pagi. Ada yang berbeda. Kenapa pelukmu hanya rasa doa?

♠ @puisikekasih: Kubayangkan sebuah pagi, tanpa embun, tanpa kuntum, hanya senyummu, lalu matahari memantulkan sinarnya di bibirmu.

♠ @dek_amee: Kaulah cahaya penyempurna pagi, penyelaras mimpi pada seuntai janji

♠ @puisikekasih: Setiap kesedihan menyembunyikan kebahagiaan, tetapi tak ada yang disembunyikan kebahagiaan, selain kebahagiaan lain.

♠ @andikahabli: Pagi ini senyummu adalah doa.

♠ @puisikekasih: Hangat pagi bukan karena jendela membiarkan matahari menggambar cahaya, namun ketika kecup ikhlasmu memagut punggung doa.

♠ @puisikekasih: Pagi di Prambanan, matahari membelah pahatan, mengungkap siluet tubuhmu semampai menapaki undakan, aku terpana jelma arca

♠ @indiejeans: Puisiku membujuk aku bunuh diri, dia meminta yang paling berharga dari hidupku – sunyi.

♠ @semut_nungging: Nifsu sya’ban. bulan purnama keputihan

♠ @sajak_arjuna: Di kepalaku dinda, rindu ialah harum rerimbun kebun teh, lalu jemariku memungut pucuk dedaunnya, kusedu tiap detik waktu

♠ @indiejeans: Puisi itu harus tidak aku mengerti, katamu. Biar debarku berkeliaran jadi penafsir sepanjang hidupku

♠ @bagustianiskndr: Terima kasih, diam, kau slalu setia menemani kesepianku setiap pagi.

♠ @puisikekasih: Di telingaku, kamu bunyi yang jatuh di atas tust piano, ketika embun runtuh.

♠ @puisikekasih: Bernyanyilah, kekasih, sebab tanpa suaramu, kesepian hanyalah kebisingan yang menyakitkan.

♠ @erie_Nya: dengan doa yang baik, aku merasa bisa menyentuhmu, merasa nyaman sebelum tertidur.

♠ @lampah_hening: Syaban Puan, bunga rindu terselip lembut di dadaku. Menelusup menggeletar di detak denyutku. #1

♠ @lampah_hening: Syahdu menghambur di nadiku. Tetiba dingin gelap begitu gigil. Ratap dalam diam cuma bertalu mendenyarkan sesal. #2

♠ @lampah_hening: Kulihat jejakku yang hitam, yang curang bangkit serupa ibu memburai rinduku pada tentramnya pelukan ghaib. #3

♠ @lampah_hening: Berkata tentang tentram yang jarang sekali kumenangkan. Lalu kurasakan Puan, kamboja hitam digugurkan cahaya. #4

♠ @sugianto_iwan: Katakan, apa yang membuat pagi begitu indah? Sedang segala cahaya ada di matamu, segala rimbun ada di dadamu. Aku memelukmu.

WINTER
oleh @rizkytp

pagi terakhir di bulan Juni, segelas coklat panas, setumpuk kayu bakar, dan sekenang senyummu berpijar membalur hangat ke dinding dan langit-langit ruang tamu.

di atas meja, ada setengah mangkuk krim sup, sendok, garpu, serta pisau, duduk bersampingan ke arah bingkai fotomu, yang berair karena dipenuhi bintik-bintik airmata semalam.

ranting-ranting sulit melihat langit. semesta memutih. seperti hamparan kapas yang lepas dari pohonnya. musim dingin membekukan ingatan-ingatanku yang menggigil di halaman, ia tahu dan paham, kelak jejak-jejakmu yang tertimbun salju akan berbalik ke arah rumah ini, ke arah pelukanku yang lama menjadi bara di pendiangan.

kekasihku, bagaimana mungkin aku mampu menapaki bulan Juli, jika cemara-cemara, taman-taman, dan jalan raya kini menggigil didekap cuaca, serta gedung-gedung, lapangan-lapangan, masjid dan gereja pun masih berusaha memeluk erat alun-alun kota

♠ @cakalangondrong: Bias mentari tersenyum malu-malu. Di belahan dadamu, lidahku terlelap tanpa jemu.

♠ @katakecil: letakkan puisi paling teduh di mataku. kelak saat kehilangan cahaya, tadahi saja tangisku. maka jiwamu hidup, jiwamu redup.

UTARA
oleh @katakecil

Suatu pagi yang hening, pernah kau berniat ke utara, kata orang-orang di sana kebahagiaan bukanlah sekadar bualan. Kata mereka juga, di sana terlahir seorang gadis berwajah manekin, atau barbie, barangkali.

Kaupacu langkahmu, jauh ke utara, ke tempat pertemuan dua muara, dua suara. Kau ikat kudamu ke pohon bidara tua yang tabah, ketempat kesedihan kadang berkeluh-kesah. Tak terkecuali ibu muda bertudung merah. Tak lupa ia berkisah tentang anak lelakinya yang hilang di selatan.

Anak yang hilang di selatan itu bernama utara, katanya. Seketika kudamu terkejut, namun tidak dirimu. kudamu cerita dengan nada serius, perihal anak yg mencari ibunya ke selatan. Anak yang sedari tadi menungganginya. Anak yang sering menyebut dirinya utara. anak yang dicari ibu muda bertudung merah.

Di Perhentian Berikutnya

Di jendela kereta, langit berubah mendung
hujan pun turun, seperti deras rindu
dalam dadaku.

Di perhentian berikutnya, aku tiba di kotamu
adakah kau menyambutku
dengan senyuman?

Matahari masih bersembunyi entah di mana
ketika suara angkot bapak dinyalakan
dan harum tanak nasi meriap di dapur ibu
mataku masih setengah terbuka ketika ibu membangunkanku
dengan menempelkan tangannya di pipi, sementara
hidungku mencium aroma nasi
begitu lembut di telapak tangannya.

Bapak sudah berangkat kerja ketika aku dan
saudari-saudariku sarapan di meja dengan lauk bersahaja
sepiring nasi goreng terasi dihidangkannya tak
lupa dengan segelas susu, di depan meja kecil kami
dua buah telor ceplok menambah istimewa
menu sarapan kami, meski bundarnya harus dibagi-rata
menjadi empat potongan.

Matahari telah terbit dan ayam terus berkokok
namun kami tak pernah kehilangan kesempatan
menatap panorama maha-indah pemberian semesta
sejak kecil kami sudah sadar, rezeki bukan hanya
berupa materi — menatap matahari pagi
bersama keluarga pun bisa jadi rezeki buat kami.
Sementara ibu menyuci piring di dapur
kami bersama-sama membereskan rumah
dan berusaha membuat
rumah kecil tempat kami menghabiskan hari
menjadi tempat ternyaman bagi hati.

Kini, setelah selesai membereskan rumah
Ibu mengantar kami menuju sekolah
cahaya matahari begitu lembut menyapa kami
hangatnya bertahan selamanya di hati
—seperti cahaya di mata ibu
tak sudah-sudah menyinari, jiwa kami.

Terinspirasi dari novel Ibuk (Gramedia, 2012) yang ditulis dengan penuh rasa haru oleh Iwan Setyawan

Besok bila kau kembali
temui aku di stasiun tugu
aku selalu menanti di sana
memerikan kembali sebuah kenangan
tentang kedatangan
sebab katamu
pukul lima selalu menjadi
jam kepulanganmu
meski kau tak pernah menyebutkan
di sore keberapa kau kan datang
dan menjemputku.

Cinta Pertama

di bening september, dua rangkap matahari
datang kembali, daun-daun lerai
angin musim bertiup kencang
langit luas terbentang, kuda-kuda
berderap di padang
siapa mengayun tabir di angkasa?
kelepak angsa melintas berseri.

seruni di tangan gadis kecil harum sekali
bunga-bunga kuning di pegunungan bersemarak
indah pemandangan bak sebuah lukisan
sama teduh sama panas di seluruh dataran
—kenangan di kampung halaman
selembar potret di sebuah album tua.

09 September 2011

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.