Latest Entries »

Kota Putih

Dalam ingatanku
di kotamu, musim senantiasa bersalju —
ada bunga-bunga kertas
kaurangkai di depan pohon cemara,
di samping penantian subway
di sanalah aku menjanjikan kepulangan.

Tujuh tahun berlalu, semenjak lambai tanganmu
mengantarku pergi
kini aku kembali, tepat ketika bening salju
tumpah di rambut cokelatmu
ternyata, di kotamu ada musim semi
sebab senyummu masihlah
hangat matahari di pagi pertama

kelak —
ketika salju mencair
setelah rindu membuka waktu kembali
sekuntum bunga kan tumbuh
di telapak tanganmu
dan menjelma kupu-kupu,
dengan sayap
secerah matahari.

Subuh

Di belantara hening
terdengar suara pagi
berhembus bersama angin dan musim
kanak pun
merayakannya dengan
debar pertemuan
di sekolah.

Tuhan, seandainya boleh aku berharap,
sampai nanti pun, semoga kanak
selalu mampu menjaga subuh
tetap ada, dengan tulusmatanya.

— buat farah dan mumu

Berkunjunglah sesekali
rumahku dibangun di dekat sawah
di depannya ada pohon mangga tua
di mana batangnya sudah banyak berbuah
mari kita urai percakapan
sambil bersantap rujak bersama.

Dan bila langit beranjak merah
tunggulah di sini, di beranda mungilku
berbatang-batang kangkung tumbuh di dekat sungai
sudah siap aku petik seikat —
Sementara aku memasak
dapatkah kaucium harumnya
teracik wangi di wajan hitam?

Berkunjunglah sesekali
sekadar bertemu habiskan hari
di sini, aku punya banyak resep
dan kau, pasti menyukainya.

— 24 Februari 2012 —

— buat Firman Akbar

Ada sebuah kedai kecil
di depan sawah milik pak haji
setiap malam, para petani dan nelayan
senang berkumpul di sana — aku pun kadang
ikut nimbrung bila sedang kebetulan lewat

di tempat tersebut
kami biasa memesan
sepiring pisang goreng, segelas bandrek
dan sebungkus wedang alang-alang
pemiliknya lantas marah-marah
bila ternyata kami berutang dulu

apa boleh buat,
pendapatan kami tak sebesar anggota dewan
lihat, kulit kami saja sehitam nasib kami.

— begitulah biasanya kami beralasan.

Aku acapkali larut dalam percakapan
tentang sawah, laut dan kesibukan sehari
kami lalu bertambah ribut, ketika
Santi si kembang desa
lewat di depan kami
ia sering memakai kebaya hijau daun pisang
dan menunduk malu-malu ketika
banyak pria menyapanya dengan genit
—tidak, kami tak pernah meributkan politik
buat apa?

Aku bukan petani, bukan pula nelayan
aku hanya karyawan kecil di sebuah toko biasa
semenjak punya istri dan seorang putra
aku tak pernah lagi berkumpul di sana
kini aku sangat merindukan
percakapan hangat tentang bumi dan laut
dan para kekasihnya di kedai tersebut.

9 Mei 2012

Telur Dadar

— buat luna, tanpa maya

/1/

Aku masih saja teringat,
pada kata-katamu ketika
kau membuatkan sepiring telur dadar
di dapur kecilku
kau bilang aku dapat menirunya
bila nanti kau pergi dan aku
merindukanmu.

/2/

Caranya mudah, kok!
— katamu memulai instruksi.

Pertama-tama
tentu saja, pecahkan cangkang telurnya
kocoklah dalam mangkuk
beri sedikit garam dan merica bubuk
tapi jangan pakai penyedap makanan.

Cincang bawang putih dan bawang bombay
lalu taburkan tumisannya
aduk rata sampai semuanya membaur
dan terlihat lebur
namun ingat
mengiris bawang juga bisa membuat mata terasa panas
dan ingin menangis.

— katamu, sambil menyembunyikan isak
dengan alasan paling biasa.

Lalu, panaskan margarin
masaklah telur dengan api sedang
coba hirup, aroma bawangnya terasa, kan?
— kau pun menyuruhku mengambil napas dalam-dalam.

Harum!

Setelah matang,
sajikan dengan sepiring nasi pulen
ditaburi dua sendok kecap manis di atasnya,
sekarang, coba kaucicip bagaimana rasanya.

— kau pun menaruh sepiring telur dadar di meja
dan memelukku dari belakang.

/3/

Kini, aku sudah mengikuti semua saranmu
namun, ketika mencicipinya
tetap saja aku tak bisa membuat telur dadar
senikmat buatanmu.

Padahal, aku hanya berharap,
dengan meniru resepmu
aku tak pernah benar-benar
kehilanganmu.

Ditulis tahun 2011, sekitar bulan Oktober

Tadi malam, ketika sedang memikirkanmu
bulan aku bayangkan sebagai pizza
dengan irisan daging domba
dan lumeran mayonaise di permukaannya
lidahku lalu tergelincir saus tomat, dan menyadari
betapa pandainya Pizzaioli meracik rasa

Langit aku bayangkan sebagai cappuccino
dengan lukisan hati di permukaannya
foam lembutnya diracik penuh cinta
terlihat kental dan renyah sekali
aku pun penasaran senikmat apa rasanya
pasti lembut dan hangat di mulut

Aku pun tertidur
memimpikan sebuah kedai
di mana kau dan aku biasa bertemu
barangkali kau masih ingat, pada pejam mata, begitu
bibirku membasuh lumuran saus, di bibirmu.

Ditulis tahun 2012, sekitar bulan Mei

/1/

Siang tadi kamu SMS,
senja nanti aku hendak makan apa,
aku langsung membayangkan
semangkuk sayur asem
dan sepiring ikan petek berlumur sambal terasi
—menu kesukaanku.

/2/

Kini, bahkan sebelum membuka pintu
aku telah melebur
dalam hasrat kepulan tungku
dan aroma pulen nasi
di dalam dapur.

Aku tak mampu lagi menahan senyumku
ketika melihatmu
menanti bagai setangkai kembang
di hadapan pagar bambu
: rumah kita.

Aku pulang, Sayang, maukah kau menyambutku
dengan pelukan hangat?

Ditulis tahun 2012, sekitar bulan Januari

Pagi tadi, sepiring nasi goreng kauhidangkan padaku
di meja makan
ada selembar telur dadar lebar-bulat
di permukaannyanya
kau pun menatapku lembut sekali, seolah
penasaran seperti apa nikmat masakanmu di lidahku.

Sayang, rasanya baru kemarin
aku menikmati nasi goreng buatan Ibu
dan berharap, istriku juga melakukannya
buatku, dan buat anak-anak kelak
—dan ternyata, engkau mampu mengabulkannya
dengan sempurna.

Ditulis tahun 2010 sekitar bulan Maret

Semangkuk Sup

Langit mulai berwarna cokelat
ketika malam membentangkan sayapnya
dan bulan melambung dengan cahaya redup
pemberian matahari.

Cuaca masih dingin seperti hujan senja tadi
ketika harum seledri memenuhi udara
dan rempah hangat tercecap di seluruh ruangan
semangkuk sup telah kauseduhkan padaku
bersama secangkir teh madu, membuat
dingin di depan jendela, hanya menyisakan
rasa tenteram dan menenangkan
di dalam rumah.

Terima kasih, Sayang, kau telah mengingatkan
aku sedang ingin merasa bahagia.

Ditulis tahun 2011, sekitar bulan Juli

—buat F

Ada seorang pria berkacamata setebal tutup botol
duduk di sisi kanan belakang di sebuah bus kota
sehari-harinya ia biasa bercumbu dengan rumus fisika
dan mencicipi berbagai adonan senyawa kimia
tiba-tiba ia hendak menjadi penyair
ketika tak sengaja hatinya luruh
pada perempuan cantik di samping tempat duduknya.

Cinta, ternyata
telah membuat ia lupa
harus turun di terminal mana
ia bahkan tak lagi mengingat
sedang berada di kota apa.

Ada seorang perempuan berkacamata setebal tutup botol
duduk di sisi kanan belakang di sebuah bus kota
di sampingnya ada pria kikuk bersweater hijau tua
dengan kacamata setebal miliknya
ia sedang menenangkan hatinya sendiri
ketika menemukan sebuah teori baru
: Keabadian ternyata bukanlah waktu tak terbatas
namun keadaan tanpa batas

—dan cinta, langsung menguji kebenarannya.

07 Mei 2012

Blog pada WordPress.com. | Tema: Motion oleh volcanic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.